Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
166


__ADS_3

"Jangan berhenti berdo'a untuk yang terbaik bagi orang yang kau cintai " Candy.


Asrama putri sore ini terlihat ramai maklum saja semua penghuni asrama cewek muda pastilah kalau berkumpul mengalahkan kicau burung pagi hari yang tidak mau kalah satu dan lainnya bila berkumpul.


Apalagi ruang tengah yang jadi tempat favorit mereka selain untuk ngerunpi juga untuk nonton tv sore hari hingga menjelang malam, tapi tidak dengan Ainun memilih di kamarnya sepulang dari praktek di rumah sakit yang menurutnya lebih nyaman berdiam diri di kamarnya.


Berhubung malam ini malam minggu penghuni asrama yang punya pacar siap-siap berdandan cantik sebab wakuncar (waktu kunjung pacar), asrama memperbolehkan tapi hanya di ruang tamu itupun tidak boleh sampai tengah malam hanya sampai jam sepuluh malam.


Setiap asrama punya aturan sendiri-sendiri, asrama yang Ainun tempati memperbolehkan tamu atau pacar berkunjung karena penghuni asrama khusus mahasiswa yang jelas usia mereka bukan abg lagi jadi tidak wajar bila melarang mereka untuk tidak pacaran sebab itu sudah termasuk hak mereka, yang penting tahu batas aturannya.


Penghuni asrama tahu aturan itu sebelum mereka masuk asrama dan setiap tamu atau pacar yang masuk atau datang berkunjung harus mengisi biodata diri sebagai tamu di gerbang utama yang dijaga oleh satpam.


Ketukan suara pintu terdengar yang membuat penghuni kamar membuka pintu dengan malas " Ai..itu ada kak Fatur.." ucap Intan yang masih saja bingung dengan sikap Fatur yang sepertinya tidak mau menyerah.


"Tan..aku cape..banget..deh.." Ainun memang terlihat sangat lelah terlihat dari mukanya yang lesu.


"Tapi..Ai..aku harus bilang apa..lagi.." tanya Intan yang sudah bosan dengan alasan yang selalu di buatnya.


"Please..tan..aku cape..banget.." Ainun memohon dengan sangat.


"Aku..lagi yang kena..Ai..Ai.." Intan melangkah meninggalkan Ainun yang masih berdiri di pintu kamarnya.


Tidak beberapa lama Intan mengetuk pintu kamar Ainun lagi dengan sedikit lesu Ainun bertanya lagi pada Intan.


"Apa..lagi tan.." tanya Ainun yang masih terlihat lesu.


"Ai..ada..." ucap Intan lagi tapi terlihat bingung sebab dia tidak mengenal orang baru saja dia temui.


"Apa..siapa..kak Fatur.." tanya Ainun lagi tapi gelengan kepala yang Intan berikan.


"Bukan..kalau ga salah Rafiq gitu..katanya.." sebaris kata yang terucap dari bibir Intan membuat Ainun sedikit kaget " ko...bisa" itu yang ada dalam benaknya saat ini, Ainun masih dalam diamnya.


"Ai..gimana tuh.." tanya Intan yang masih berdiri didepan kamar Ainun.


"Tolong temui dia dulu..aku ganti baju dulu.." pinta Ainun dengan sedikit rasa kesal.


"Maunya..apa..sih ni..orang" gerutu Ainun seorang diri setelah kepergian Intan.


Tidak berapa lama Ainun menemui tamunya yang terlebih dahulu di temani Intan yang sepertinya keduanya nyambung dan asyik berbincang.


"Hm..maaf..lama..menunggu..ada yang bisa saya bantu pak.." tanya Ainun yang terdengar formal.


Yang mendengar sedikit kaget sebab Ainun begitu formal begitu juga dengan Intan yang tidak biasanya Ainun berkata seperti itu.


"Saya..belum tua..Ainun.." ujarnya dengan tersenyum ramah.


"Bukannya saya mengenal bapak sebagai abdi negara..apa ucapan saya salah.." Ainun lebih terlihat serius dan tegas.

__ADS_1


"Tan..teman kamu lucu ya.." ujar Rafiq yang sepertinya ingin mengakrabkan diri.


"Maaf..ya..pak saya serius..apa yang bisa saya bantu..sebab saya butuh istirahat.." ucap Ainun yang tidak menampakkan senyumnya sama sekali.


"Oh..maaf bila kedatangan saya mengganggu istirahat Ainun.." Rafiq masih santai berucap.


"Ok..bila tidak ada kepentingan saya mau undur diri untuk melanjutkan istirahat saya..maaf...bila ada sikap saya yang kurang nyaman menurut bapak.." dengan santai Ainun menyampaikan apa yang ada di pikirannya.


"Mohon maaf..Ainun..saya datang tidak memberi tahukan terlebih dahulu.." Rafiq sedikit serius berucap, Intan sepertinya tahu diri ingin memberikan kesempatan Rafiq untuk bicara berdua dengan Ainun tapi tidak dengan Ainun.


"Mau..kemana..tan.. temani saya disini..tidak baik bila berduaan..tan.." pinta Ainun yang membuat Intan mengurungkan niatnya.


Mau tidak mau Ainun menerima Rafiq untuk berkunjung yang ditemani Intan, yang paling menarik saat ini Ainun hanya jadi obat nyamuk buat Rafiq dan Intan sebab keduanya seperti nyambung dalam perbincangan dan terlihat akrab.


Ainun sendiri sibuk membalas chat dari Nisrina yang baru saja pulang berbulan madu beberapa minggu yang lalu dengan benda pipi milik Ainun, walaupun sesekali tersenyum membaca tulisan balasan dari Nisrina menurutnya ini lebih menarik dari apa yang Rafiq ucapakan.


"Iya..ya..kan Ai.." tanya Intan yang membuat Ainun bingung sebab tidak fokus dengan obrolan keduanya.


"Maaf..apa..ya..saya tidak dengar.." tanya Ainun yang membuat Rafiq sedikit kesal.


Mungkin tuhan berpihak pada Ainun, tiba-tiba sopir pribadi kakeknya datang membawakan paket yang baru saja di kirim dari koleganya sesuai permintaan Ainun.


"Maaf..non..Ainun ada tamu..katanya sopir keluarga non.." ucap salah satu satpam penjaga gerbang asrama.


"Maaf..saya permisi dulu.." Ainun terlihat senang meninggalkan keduanya.


Dia memanfaatkan sopir pribadinya untuk jalan bersama keliling kota saja, atau sekedar kopi-kopi di cafe bareng sopir menurutnya lebih asyik apalagi malam minggu.


Ainun hanya menitip pesan untuk Rafiq dan Intan lewat satpam bila meminta ijin langsung akan mengganggu acara keduanya itu yang ada dalam pikiran Ainun soal Intan tidak masalah dia akan membawakan makanan untuk obat ngomel Intan itu yang ada dalam otak Ainun yang tersenyum konyol masuk kedalam mobil mewah milik kakeknya.


Alun-alun kota terlihat menarik mata Ainun yang ingin membeli jajanan kaki lima yang berbaris di pinggir jalan, setelah memilih tempat parkir yang nyaman Ainun yang ditemani supir pribadi kakeknya duduk santai ditemani jajanan kekinian anak jaman sekarang yang lagi buming.


"Non..enak juga ya..rasanya.." ujar sopir dengan mencicipi makanan yang keduanya pesan.


Ainun hanya tersenyum melihat ke polosan supirnya yang seperti menikmati tiap suap makanannya, dan suara seseorang mengejutkan keduanya.


"Asyik bener.." sapa Andika yang kebetulan bersama beberapa rekannya melewati keduanya.


"Ih..kakak..kaget..tahu.." Ainun memegang dadanya.


"Kumpul-kumpul..sudah kumpul.." ucap Andika pada Ainun yang membuat Ainun tersenyum menurutnya lucu saja.


"Apa..sih kak..memang tadi kabur kemana disuruh kumpul.." tanya Ainun yang membuat sopir pribadinya tersedak.


"Minum..pak..tuh..tandanya bapak belum kumpul..iya..kan pak.." canda Andika yang membuat rekannya geleng kepala.


"Ngapain..berduan..saja kayak sendal.." goda Andika pada Ainun yang masih tersenyum.

__ADS_1


"Ih..kakak.." Ainun protes yang membuat rekan Andika terhibur menurutnya lucu.


"Enak..nih.." ujar rekan Andika melihat makanan yang masih tersaji di meja taman.


"Oh..iya...silakan..kakak tawarin tuh.." ucap Ainun masih dengan polosnya.


"Ada keperluan apa ko..masih di luar.." tanya Andika serius terdengar.


"Ai..mau cari makan kak.." Ainun sebenarnya berbohong.


"Bukannya di asrama ada yang menyiapkan" seperti Andika tahu Ainun berbohong.


"Ingin yang berbeda saja..bosan kak.." Ainun masih menutupi alasan yang sebenarnya.


"Tapi..ini sudah mulai malam..Ai.." seru Andika sepertinya khawatir.


Rekan Andika masih menikmati makanan yang baru saja dipesan sesuai pilihan masing-masing memang mereka bertujuan mencari makan malam, sopir pribadi Ainun juga masih menikmati makanan yang sudah dipesan Ainun.


Andika seperti tahu apa yang Ainun rasakan, dia mencari alasan agar bisa berdua agar Ainun mau berkata yang sebenarnya.


"Ai..ada yang enak..loh itu disana.." Andika menunjukkan kedai yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.


"Masa..awas ya..kalau kakak bohong.." ujar Ainun dengan mengikuti Andika berjalan setelah berpamitan pada sopirnya.


Saat keduanya berjalan beriringan Andika bertanya pada Ainun dengan serius yang membuat Ainun terlihat senang tapi juga sedih.


"Ai..bohong ya..sama kakak.." ujar Andika dengan serius berucap tanpa melihat wajah Ainun.


"Kakak..Ai..sebenarnya menghindar dari seseorang yang Ai..ga suka.." Ainun memperlihatkan wajah sedihnya.


"Kenapa..Ai..tidak bilang saja apa adanya akan..lebih baik..Ai.." seru Andika yang ingin Ainun baik-baik saja.


"Harusnya dia peka dong kak..dari sikap yang Ai tujukkan.." ujar Ainun dengan mengikuti Andika.


"Biar ga galau..pilih yang coklat saja..ya.." pinta Andika yang membuat Ainun tersenyum.


"Coba..kakak ada mungkin Ai..ga jalan kesini.." ucap Ainun dengan menundukkan wajahnya.


"Ya..sudah boleh kakak minta nomor Ai.." pinta Andika dan Ainun setuju.


Pertemuan ini membuat Ainun bisa melupakan rasa kesal dalam hatinya, begitupun Andika senang melihat Ainun sudah bisa terbuka dengan dirinya dan tersenyum menandakan dirinya sudah tenang tidak galau lagi terlihat lebih santai.


Malam semakin larut walaupun belum masuk jam sepuluh Andika menyuruh Ainun pulang tapi Ainun sedikit khawatir bila Rafiq masih ada di asrama.


"Sudah lebih baik Ai..pulang..untuk saat ini temui saja..lain kali kakak yang akan hadapi.." Andika ingin Ainun pulang dan berharap bisa menghadapi masalahnya dengan baik tidak untuk menghindarinya, Andika sendiri siap membantu kapanpun Ainun minta.


Ini salah satu sikap yang Ainun suka dari Andika, dia begitu tenang dan bisa menenangkan Ainun menghadapi masalah bukan menghindari masalah.

__ADS_1


Dan tidak beberapa lama keduanya berpisah ketempat tujuannya masing-masing walaupun Andika sedikit khawatir dengan apa yang Ainun ceritakan tapi Andika yakin Ainun bisa menghadapi masalahnya.


__ADS_2