Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
146


__ADS_3

"Memilikimu adalah hal terindah dalam hidupku, ku ingin memilikimu hingga di surga nanti" Rendra.


Sore menjelang malam ini lembayung memperlihatkan warna mempesonanya hingga memberikan kesan romantis bagi penikmatnya tidak terkecuali Rendra yang sudah duduk manis dalam mobil miliknya.


Tanpa memberi tahu terlebih dahulu Rendra menjemput teristimewanya dengan seragam gagahnya melewati lorong rumah sakit, hanya senyum ramah yang dia perlihatkan bila ada yang menyapanya.


"Assalamualaikum.." ucapnya kepada suster yang kebetulan masih berjaga.


"Waalaikum salam..ibu..ada..sebentar saya panggilkan " sapanya tapi Rendra memberikan kode dengan jari telunjuknya ke bibirnya untuk tidak memberi tahukan keberadaannya disini.


Suster itu mengerti maksud dari isyarat yang Rendra inginkan dengan tetap melanjutkan kerjanya tanpa ikut terlibat tapi hanya sesekali melihat tingkah Rendra yang seperti abg yang lagi kasmaran.


Rendra jalan bertahan memasuki ruangan Candy, dia berniat memberikan kejutan ke Candy yang sedang merapikan diri sebelum meninggalkannya ruangan dinasnya.


"Assalamualaikum...honey.." ucap Rendra setengah berbisik di telinga Candy, yang membuat Candy sangat terkejut sebab tidak sedikit pun terdengar langkah kaki Rendra, wajarlah siapa Rendra yang seorang tim khusus hingga langkah kakinya tidak terdengar sedikit pun.


"Waalaikum salam..mas.." Candy memegang dadanya yang masih belum normal.


"Maaf.." Rendra mencium pipi Candy dengan lembut.


"mas.." ucap Candy pelan menerima ciuman dari Rendra.


"Masih..ada tugas honey.." tanya Rendra dengan menatap mesra Candy.


"Tidak..ada mas..ini waktunya Can..pulang..." balas Candy dengan menjelaskan ke Rendra.


Keduanya berjalan beriringan dan seperti biasanya keduanya jadi pusat perhatian beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengan keduanya.


"Serasi banget..ya.." ujar salah satu pasien yang duduk diruang tunggu bersama temannya.


"Iya..cantik dan gagah..bikin syirik aja.." balas yang lain yang sedikit terdengar oleh Rendra yang melingkarkan tangannya di pinggang Candy.


Keduanya sudah berada didalam mobil, tidak banyak yang Candy dibincangkan dengan Rendra yang masih dengan fokus kedepan jalan yang dilaluinya.


Candy yang memeriksa benda pipi miliknya, Candy baru menyadari jalan yang dilaluinya berlawanan dengan jalan pulang ke rumah mama Rendra membuat Candy bertanya.


"Mas..kita mau kemana ini.." tanya Candy ke Rendra yang hanya tersenyum manis.


"Mas..Can..butuh jawaban bukan senyuman" ucap Candy dengan penasaran.


"Kita..jalan-jalan dulu..bolehkan.." jawab Rendra ingin menyenangkan Candy yang sibuk dengan rutinitasnya.


Tidak beberapa lama keduanya sudah berada di pinggir pantai dengan pemandangan yang memanjakan mata juga memberikan kesan romantis buat yang berpasangan.


Senja yang akan berganti peran dengan munculnya rembulan malam menambah kesan yang dalam buat insan yang jatuh cinta, semilir angin laut yang bertiup perlahan dengan pemandangan ombak laut menggulung berlahan seirama saling bergantian, sungguh indahnya ciptaan tuhan dengan segala detailnya sehingga nampak serasi.


Seperti keduanya yang duduk menikmati pemandangan alam sebagai bukti syukur kepada penguasa alam, bahwa kita tidak punya daya dan kekuatan semuanya milik-Nya.



"Terimakasih..mas sudah menemani Can.. selama ini hingga hari-hari begitu indah.." ucap Candy memecahkan kesunyian.

__ADS_1


"Mas yang harus berterimakasih..honey yang selalu membuat momen yang indah disetiap harinya.." Rendra dengan menjelaskan dan senyum ikut serta beriringan menambah handsome Rendra.


"Honey..maafkan mas..ya.." ucap Rendra memegang tangan Candy.


"Mas..maafkan Can..juga.." keduanya saling memandang.


Keduanya memang sedikit memiliki waktu untuk bisa menikmati waktu berdua, rutinitas yang keduanya lakukan cukup menyita waktu terutama Rendra yang akan diajukan untuk menempati jabatan barunya.


Rendra ingin rasanya meninggalkan rutinitas yang dia geluti tapi Candy melarangnya, dengan alasan Rendra masih dibutuhkan di kedinasannya.


Di tempat seperti ini Rendra merasa jadi dirinya sendiri yang ingin dimanja dan memanjakan pasangannya, walaupun sesekali orang lalu lalang tapi dirinya tanpa mengemban beban sebagai seorang yang harus sesuai protokol.


Canda tawa keduanya terlihat lepas, meninggalkan setumpuk rutinitas yang harus dijalani keduanya, memang keduanya tidak terbebani tapi keduanya manusia biasa yang butuh penyegaran agar bisa selalu terlihat baik dan nyaman dalam kedinasannya.


"Mas..Can..ko merasa seperti anak abg yang lagi kasmaran aja.." ucapnya dengan malu.


"Memang kita..lagi kasmaran honey.." jawab Rendra mendekap Candy yang malu.


Kedua tertawa dengan memandang laut lepas, keduanya terlihat begitu bahagia hingga terdengar suara dari surau memanggilnya, letaknya yang tidak jauh dari keduanya agar segera bersimpuh dalam kerendahan hati bahwa kita kecil dimata-Nya.


Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling bergandengan, selesai keduanya mengambil air wudhu terdengar suara iqkomah tanda sholat akan didirikan.


Namun imam yang biasa menjadi imam berhalangan hadir, jama'ah sepertinya bingung siapa yang akan menjadi imam sholat magrib ini, saling tunjuk pun terjadi hingga salah seorang menunjuk Rendra.


"Saya.." Rendra menunjuk dirinya sendiri.


"Iya...pak..silakan.." ujar salah seorang menyakinkan Rendra.


"Kami..semua percaya..pak lebih pantas.." hampir semua jama'ah mempercayakan Rendra sebagai imam.


Rendra tidak ingin saling tunjuk mungkin yang maha kuasa memilihnya hanya saja Rendra ada rasa yang tidak nyaman sebab dia berpakaian dinas, tapi bukan maunya Rendra juga dan dia hanya bisa menyakinkan dirinya bahwa seragam hanya simbol tapi dimata tuhan dirinya manusia biasa yang penuh dengan kekurangan.


Dan Rendra melakukan ini bukan untuk siapa-siapa hanya karena lillah, dengan berat hati Rendra menyanggupi permintaan jama'ah.


Rendra sudah berdiri di tempat imam dan meminta makmumnya merapikan barisannya dengan rapi agar lebih khusyuk dalam sholatnya nanti, dan suara takbirpun terdengar tanda sholat sudah dimulai.


Tiap baris surat dibacakan Rendra dengan fasih dan lantang terdengar hingga semua jama'ah ikut khusyuk dalam sholat hingga salam sebagai tanda akhir sholat.


Rendra sendiri masih khusyuk dalam dzikir dan do'anya tapi sebagian jama'ah sudah melangkah ke luar surau untuk kembali ke rumahnya.


"Tidak..disangka ya..suara dan bacaannya bagus.." ucap salah seorang paru baya sebelum ke luar dari surau.


"Iya..sayang dia bukan orang sini..biar bisa gantiin pak kyai bila berhalangan.." tambah yang satunya lagi.


Sesudah selesai dari do'a dan dzikir jama'ah yang tersisa saling bersalaman begitu juga dengan Rendra, salah seorang memberanikan diri bertanya.


"Pak..seperti pak bukan orang sini.." tanyanya dengan sopan.


"Benar..pak saya hanya lewat dan kebetulan masuk waktu sholat.." Rendra menjelaskan.


"Oh..seperti itu.." dengan mengaggukkan kepalanya orang itu mengerti.

__ADS_1


"Terimakasih..sudah berkenan menjadi iman di surau kami yang kecil ini.." dengan senyum ramah seseorang itu ke Rendra.


"Saya yang harus berterimakasih..sudah diberikan kesempatan.. dan mohon maaf bila ada salah.." Rendra merendahkan diri.


"Tidak..kami yang berterimakasih..mohon bila ada waktu..datanglah kembali.." ucap seseorang itu dengan sopan.


"Insha allah..dan saya mohon diri.. melanjutkan perjalanan.." pamit Rendra melangkah keluar surau.


Tidak begitu jauh mobil Rendra terparkir dan keduanya sudah ada dalam mobil miliknya untuk kembali melanjutkan perjalanannya.


"Mas..kalau ga salah dengar imam sholat tadi seperti suara mas.." tanya Candy penasaran.


"Dari suaranya aja sudah dapat dikenalin apa lagi rupanya.." goda Rendra bukannya menjawab pertanyaan Candy.


"Ih..mas..Can tanya.." Candy merengek meminta penjelasan dari Rendra.


"Iya..honey itu..mas.." jawab Rendra dengan mengusap pipi Candy.


"Ko..bisa..mas.." Candy masih butuh penjelasan dari Rendra.


"Imam yang biasa mengimami tidak bisa datang karena ada keperluan dan tidak bisa datang..dan mereka mempercayakan mas untuk menjadi imam..begitu honey.." Rendra menjelaskan dan dengan mata tetap fokus ke jalan yang keduanya lalui.


Hanya jalan berduaan seperti ini keduanya sudah senang bisa makin saling sayang dan saling mengenal lebih dalam lagi apa yang ada dalam diri pasangannya, hingga menghilangkan ego yang biasanya tiap pasangan lebih mendominasi hingga muncul pertengkaran yang timbul dari hal yang sangat sepele, di karena tidak mau mengetahui apa kekurangan pasangan kita.


Candaan Rendra yang membuat Candy tertawa lepas walaupun sesekali masih menyembunyikan wajah ayunya karena malu digoda Rendra makin terlihat keduanya saling melengkapi.


Keduany tidak menyadari sudah berada didepan gerbang besar milik keluarga Rendra, hingga seseorang membuka gerbang itu yang memperlihatkan senyum ramahnya.


"Terimakasih..pak.." ucap Rendra yang melanjutkan perjalanannya memasuki halaman luas yang terlihat asri.


Hanya senyuman yang bapak paru baya itu berikan ke Rendra dan Candy berikan, hingga keduanya sudah memasuki rumah mega milik papa Rendra.


Sapaan manja dari gadis cantik yang dirindukan keduanya, yang sedang menikmati acara tv yang menarik menurutnya.


"Papa...mama..kok pulangnya telat sih.." Protesnya dengan manja.


"Kemana..sih.." tanyanya lagi dengan sedikit cemberut.


"Ada..deh..mau tahu aja.." goda Rendra dengan mengusap kepalanya.


"Ih..papa.." teriaknya dengan memeluk satu tangan Rendra.


"Mba..suatu saat mba..akan mengerti setiap pasangan butuh waktu untuk privasi berdua" kakeknya menjelaskan dengan duduk disampingnya.


Ainun seperti mengerti penjelasan dari kakeknya walaupun dengan pemikiran yang masih sederhana yaitu butuh waktu berdua itu yang dicerna oleh Ainun.


Orang tua Rendra memang memberikan Rendra waktu hanya berdua saja, tidak harus jauh dan bukan harus juga di tempat yang mewah tapi hanya jalan berdua saja untuk saling mendekatkan diri kepada pasangan itu sudah hal yang cukup.


Hal yang kecil itu yang selalu dilupakan tiap pasangan, papa mama Rendra tidak ingin kesibukan membuat keduanya lupa akan niat awal dari sebuah pernikahannya.


Apalagi Candy yang pemalu perlu waktu untuk berdua saja mengungkapkan perhatiannya pada suami tercintanya, jadi dengan berdua momen awal menikah akan selalu keduanya ingat.

__ADS_1


__ADS_2