Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
37


__ADS_3

"Janganlah berlebihan mencintaiku , aku takut jika Allah cemburu , hingga Ia tak ridho jika kita bersatu " Candy.


Selama perjalanan pulang Candy banyak memperhatikan Rendra walaupun hanya dengan curi - curi pandang, sebesar itu kah keinginannya untuk memiliki dan berharap cepat menuju halal, sedang Rendra sendiri fokus menyetir dan masih ada kegelisahan dalam dadanya dengan belum adanya kepastian kapan kedatangan keluarganya Rendra melamar Candy ke keluarganya.


"Mas....boleh Can...tahu apa yang menjadikan Mas...ingin cepat melamar Can..?" suara Candy memecahkan keheningan diantara keduanya.


"Banyak hal... Honey " Rendra dengan tetap fokus kejalanan.


"Boleh...Can...tahu" Candy dengan rasa penasaran.


"Boleh...tapi menurut orang lain akan terdengar aneh atau konyol mungkin" Rendra berusaha menjelaskan dengan suara santai.


"kenapa begitu...Mas" Candy makin penasaran.


"Honey...gadis pertama yang membuat Mas terpesona, Honey...Mas yakin Honey jodoh Mas, Honey...dari kejadian itu Mas tidak pernah mengenal gadis mana pun, dan yang jadi motivasi Mas sehingga menjadi seperti ini adalah Honey, Mas tidak pernah menceritakan semuanya kepada keluarga tentang enak dan ga enaknya dari masuk Akademi hingga lulus di luar negeri tanpa bantuan Papa, dalam berkarir pun Mas lakukan sendiri untuk mendapatkan posisi seperti sekarang ini, sebenarnya bisa saja minta bantuan Papa, tapi Mas ingin bangkit dari trauma yang pernah Mas alami dan tidak ingin jadi orang yang tertindas, Mas ingin seseorang bangga sama Mas yang dulu rapuh tapi sekarang jadi orang yang bisa dibanggakan, dan bangga berada di sampingnya, Honey....mau kan...selalu bersama selamanya...." Rendra menghentikan mobil berlahan tanpa membuat Candy terkejut.


Candy menangis tersedu mendengar semua kegetiran hati yang selama ini Rendra rasakan seorang diri, dia berjuang tanpa mengelu untuk suatu hal yang di yakininya yang menurutnya pantas di perjuangkan. Siapa yang tidak kenal status keluarga Papa Rendra tetapi semua itu dia tanggalkan demi seorang Candy yang hanya butiran debu, namun berbeda dimata Rendra seorang Candy adalah inspirasinya, motivasinya,kecintaannya intinya sangat berarti dalam hidupnya .


Rendra panik melihat Candy menangis dan bingung apa yang menyebabkannya hingga menangis.


"Honey...ada yang dirasakan "suara Rendra terdengar panik.


Candy hanya memeluk dadanya dengan kedua tangannya dan butiran bening terus meluncur di kedua pipinya.


Rendra terus berusaha mencari tahu dan menenangkan Candy yang mulai tersedu dari tangisnya.


"Honey....you...ok" Rendra masih khawatir melihat Candy.


beberapa saat kemudian Candy sudah kembali tenang dan tersenyum kecil,menandakan dia baik - baik saja.


"Honey..." Rendra dengan panggilan lembutnya memastikan Candy sudah ok.


"Bisa..cerita sedikit..kenapa dengan Honey " Rendra ingin Candy bicara.

__ADS_1


"Iya...Mas" ucap Candy dengan suara masih terdengar bekas menangis.


"Kenapa Mas...harus sendirian merasakan itu"Candy menunduk dan benda bening ikut tanpa permisi.


"Itu sifat Mas...tapi mulai sekarang ada Honey yang akan mendengar semua kelu kesa Mas...mau..."Rendra mendekati Candy hampir tidak berjarak, sesaat candy menahan napasnya, ada rasa yang malu dia rasakan.


"Honey...kita pulang atau menenangkan diri dulu?" Rendra meminta persetujuannya ke Candy , membuat Candy bernapas lega.


"Terserah...Mas" Candy masih dengan suara yang belum normal.


"Tapi...Mas janji sama Ayah...bisa Mas hubungi Ayah" Rendra tidak ingin mengingkari janji sama Ayah Candy.


Candy mengambil benda pipi dari dalam tasnya dan mencari nama Ayahnya, setelah terhubung memberikan benda pipinya ke Rendra.


«Rendra » "Assalamualaikum, Ayah...maaf ini Rendra ".


«Ayah» "Waalaikum salam, ya ada apa...nak".


«Rendra » "Rendra mohon ijin ini sudah pulang dari rumah Mba Ayu, dalam perjalanan pulang tapi Rendra lapar banget boleh Honey Candy menemani ?" Rendra melihat kearah Candy yang bingung dengan ucapan Rendra.


«Rendra » "Terimakasih...Ayah,ya Rendra janji,Assalamualaikum,ayah".


«Ayah » "Sama - sama,waalaikum salam".


Telepon pun dimatikan keduanya,hanya Rendra yang mengepalkan tangannya dan Yes keluar mulutnya tanda gembira, Candy hanya memandang aneh dalam batinnya dan dengan senyumnya yang tertahan dengan muka menunduk.


"Honey..."Rendra tahu Candy malu melihatnya melakukan hal konyol.


"Maaf...in...Mas...Honey " Rendra merasa bersalah melakukan ini kepada Ayah Candy.


"Kemana kita Honey..." ucap Rendra meminta persetujuan Candy.


"Warung lesehan aja...gimana Mas?" ujar Candy memberikan pilihannya.

__ADS_1


"Ok...siap" Rendra melajukan mobilnya kearah yang Candy mau.


Mereka menikmati makan malam lesehan dengan menu yang cukup enak di nikmati tapi tidak menguras kantong, yang di temani lagu - lagu yang dinyanyikan pengamen jalanan yang lumayan asyik terdengar dan lalu lalang pejalan kaki menikmati suasana malam.Tapi bukan itu poin utamanya kebersamaan keduanya yang sangat jarang bisa terwujud.


"Masih...mau tambah lagi... Honey " ucap Rendra dengan pelan.


"Sudah...Mas..ga..kuat kenyang " ucap Candy masih menikmati sisa makanannya.


Rendra tersenyum melihat Candy yang tidak bisa makan banyak, Rendra jadi teringat akan teman satu timnya yang tidak pernah makan sedikit pada saat kumpul.


Waktu tidak bisa bersahabat dengan mereka yang mengharuskan pergi dari tempat kebersamaan keduanya.


Tiba waktunya di rumah Ayah, terlihat dari luar Mas Dimas cukup cemas dengan langkah kaki yang sebentar ke keluar lalu masuk lagi kedalam rumah.


"Assalamualaikum,..."ucap Candy dan Rendra bersamaan.


Terdengar langka kaki yang tergesa dan terlihat panik.


"Waalaikum salam...syukur kesayangan Mas datang" Mas Dimas dengan suara sedikit tenang.


"Kesayangan Mas...tolong Sayangnya Mas dari tadi sudah sakit perutnya" Mas Dimas meraih tangan Candy untuk masuk ke kamar nya yang tidak di perdulikan kehadiran Rendra.


"Tunggu...Mas tunggu di sini" Candy memerintah Rendra duduk, Candy sendiri masuk ke kamarnya Mas Dimas melakukan apa yang Mas Dimas perintah memeriksakan kondisi Rahma, Candy terlebih dahulu melakukan cuci tangan dan mengunakan alat yang biasa di gunakan seorang Dokter dalam memeriksa pasien.


Rendra hanya duduk sendirian diruang keluarga Candy tapi dengan rasa khawatir seperti yang dirasakan Mas Dimas, sesekali dia meremas kedua tangannya yang saling bertautan.


Candy keluar dari kamar Mas Dimas, dengan langkah kaki kecilnya menghampiri Rendra.


"Mas...bisa antar kami ke Rumah Sakit, Mba Rahma waktunya persalinan sudah pembukaan empat " Candy dengan suara yang terdengar asing di telinga Rendra seperti orang yang memerintahkan, tapi Rendra tahu ini situasi prosedur medis.


"Siap...laksanakan " Rendra dengan suara serius yang membuat Candy tersenyum malu dan melangkah masuk ke dalam kamar Mas Dimas untuk mempersiapkan keperluan di Rumah Sakit.


Ayah saat ini tidak di rumah ada pengajian di masjid dan acara berlanjut pembentukan kepengurusan masjid yang baru.

__ADS_1


Dalam perjalanan ke Rumah Sakit, Mas Dimas sangat sabar memperlakukan istrinya dengan kata - kata yang lembut dan memberikan semangat serta do'a yang keluar dari mulutnya tampa henti. Untuk seorang Rendra ini bukan yang pertama dia melihat ini, ini yang kedua dan bersama Candy juga tapi ini beda Candy yang sekarang telah mengenalnya dan melihat perlakuan Mas Dimas ke istrinya membuat Rendra kagum bukan panik yang Mas Dimas tujukan tapi memberikan semangat dan ketenangan untuk pasangannya.


__ADS_2