
"Kalau kita rindu seseorang yang pasti ketemu obatnya, tapi jika Allah rindu kita diberinya ujian agar kita bersujud dalam kerinduan pada-Nya" Candy.
Melupakan itu tidak ada dalam benak Candy, dia cinta pertama setelah ayahnya, bersedih pastinya tapi untuk terus meratapi tidak ada dalam kamus Candy, orang tersayang Rendra butuh dirinya untuk terlihat tegar dan kuat menerima takdir dari tuhannya.
Belum juga hilang rasa kehilangan, Rendra sudah memberikan banyak kejutan yang diluar dari apa yang dipikirkan Candy seperti siang ini.
"Non..banyak tamu yang nunggu non.." assisten rumah tangga mama sengaja menjemput Candy di pintu masuk utama.
"Ya..terima kasih..bu." Candy melangkah ke ruang tamu, dia baru saja pulang dari kedinasannya dirumah sakit.
Candy masih ingin terus bekerja agar sedikit pikirannya terbagi tidak terus menerus mengggigat seseorang itu, tidak ada maksud lain hanya tidak ingin terpuruk dimata orang kesayangan Rendra.
"Siang..bu.." sapa beberapa orang yang ada di ruang tamu, tidak ada seorang pun diantara mereka yang Candy kenal.
Salah seorang mulai memperkenalkan diri disusul dengan yang lain jumlahnya lebih dari depan orang, mereka berpakaian rapi dan cara mereka bicara sopan dan seperti hormat ke Candy.
"Sebelumnya..saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu saya Candy nur Aini..apa yang bisa saya bantu" Candy berbicara formal dan sopan.
Salah satu dari mereka adalah seorang pengacara yang selama ini Rendra percayakan untuk mengurusi apapun yang menyangkut urusan yang melibatkan hukum, dia menjelaskan kedatangannya dan menjelaskan semua yang hadir adalah orang-orang kepercayaan Rendra yang mengurusi aset kepemilikan Rendra secara pribadi bukan milik orang tuanya, dari beberapa perusahan yang dia miliki, tanah serta sejumlah deposito juga dua buah panti asuhan, satu rumah dhuafa dan satu panti jompo.
Seorang pengacara itu menjelaskan dengan detail, pengacara hanya menyampaikan amanah dari Rendra diantaranya untuk keuangan perbulan akan diberikan untuk keperluan dalam sebulan dari uang sekolah anak, belanja kebutuhan bulanan, uang pembayaran assisten yang ada dirumah mama yang mengurusi keperluan keluarga kecilnya, serta keperluan yang tidak diduga itu saja, soal pengurusan perusahaan, panti dan rumah dhuafa itu sudah ada yang mengurusi hanya sesekali butuh tanda tangan Candy, yang membuat Candy sedikit tercengang biaya sekolah anak sudah disiapkan hingga jenjang master oleh Rendra.
"Bu..soal hunian kapan pun ibu siap ingin hunian baru kami sudah akan siapkan, salah satunya tanah yang letaknya tidak jauh dari rumah tuan besar juga ayah ibu itu tanah milik bapak" ucapnya yang membuat Candy makin terkejut ternyata tanah yang luas yang sering dilewatinya itu milik Rendra tanpa sepengetahuan Candy.
"Dan soal uang bulanan akan kami kirim perawal bulan..atau sesuai permintaan ibu kami siap selalu tinggal ibu konfirmasikan saja" ucapnya lagi, Candy mendengarkan semua yang disampaikan oleh pengacara itu, bukan rasa senang yang Candy rasakan tapi semakin merindukan sosok yang terbaik yang dia miliki itu.
Setelah sudah cukup penjelasan dari pengacara Rendra dan tidak ada sedikitpun pertanyaan dari Candy yang ada hanya ucapan yang mengejutkan semua yang ada diruangan itu.
"Maaf..menurut saya ini terlalu dini, saya yakin suami saya masih baik-baik saja hanya saja belum ditemukan, bukan saya tidak butuh itu semua tapi untuk sekarang ini saya rasa masih cukup dan saya masih bisa memenuhi kebutuhan keluarga kecil saya" penjelasan Candy membuat semua yang hadir terkesima, dia begitu tegar dan tenang yang lebih mengejutkan Candy menyakini Rendra masih hidup hanya belum memberikan kabar dimana keberadaannya saat ini.
"Tapi bu...itu pesan bapak jika sesuatu terjadi dan bapak berharap secepatnya memberikan penjelasan semua ini" ujar salah seorang di antara mereka.
__ADS_1
"Kalau soal..perusahaan, panti dan rumah dhuafa silakan saja tapi untuk kebutuhan kami biarlah jadi tanggung jawab saya" Candy seperti menolak.
"Itu..semua milik suami saya...bukan milik saya kalau saja semua itu bisa ditukar dengan kehadiran suami saya disini, saya akan memilih kehadiran suamiku disini" ucap Candy serius terdengar hingga membuat semua yang ada diruangan sedikit terkejut, dan mereka semua seperti satu pemikiran yang sama dalam pemikiran mereka" Pantas saja Rendra begitu menyayangi dan mengagumi istrinya bahkan dari apa pun" pikir mereka dalam diamnya.
"Soal hunian sebaiknya tidak usah sebab saya tidak ingin melihat orang tua dari suami saya merasa semakin kehilangan biarlah saya tinggal disini dengan menjaganya sebagai tanggungjawab saya kepada suami saya" Ucap Candy dengan tersenyum yang dipaksakan untuk ramah.
Secara pribadi pengacara Rendra dibikin salut dengan kepribadian yang Candy miliki, begitu juga semua yang ada diruangan mereka berpikir dibuat dari apa hati Candy dan pendidikan apa yang orang tuanya berikan hingga memiliki hati yang mulia serta rendah hati ini.
Setelah dirasa cukup semua minta undur diri berpamitan kepada Candy dan siap kapanpun bila diperlukan Candy dalam hal apapun sesuai permintaan Rendra dalam wasiatnya.
Candy dengan ramah mengantarkan hingga kedepan pintu utama rumah mewah milik orang tua Rendra, sepertinya semua orang kepercayaan Rendra dibuat heran dan acungkan jempol dengan sikap yang Candy tunjukkan walaupun baru pertama kalinya mereka bertemu sudah dibikin nyaman ada di dekatnya.
Candy sendiri hendak membersihkan diri tapi dia ingat belum bertemu mama papa Rendra, dengan langkah yang sedikit lelah yang dia rasakan menuju kamar mama papa Rendra.
Setelah mengucapkan salam, dan bertanya bagaimana keadaannya setelah dirasa cukup Candy berpamitan untuk membersihkan diri.
Suara gemericik air yang keluar dari kram kamar mandi bisa menyamarkan suara tangis Candy yang pecah dikamar mandi milik Rendra, mengeluarkan semua rasa kehilangan yang sangat dia rasakan selama pertemuan dengan orang-orang kepercayaan Rendra.
Hingga terdengar ketukan pintu kamar mandi dan panggilan lembut dari mulut kecilnya yang menjadikan dirinya kuat.
"Ma..ma..ade lapar..ma.." rengeknya dengan muka lucunya.
Candy yang membuka pintu kamar mandi, tersenyum dan mencium pipi lembutnya yang tembem mirip bakpao.
"Ma..ma jangan nangis ade sayang mama.." ucapnya semakin mengingatkan seseorang.
"Ga..ga..nangis..ko..mama juga sayang ade.." dengan mencium lagi pipi Azlan.
"Kenapa mata..mama merah.." tanyanya polos ke Candy dengan menangkup wajah ayu mamanya dan melihat mata mama berkali-kali.
"Ade..laparkan.." tanya Candy mengalihkan pembahasan ke Azlan.
__ADS_1
Dengan wajah polosnya dia menganggukkan kepalanya tandanya benar lapar, dengan menggenakan hijab rumahnya Candy menggandeng Azlan ke meja makan yang biasanya Rendra selalu mengambilkan untuk dirinya.
"Ma..ade mau yang itu.." pinta Azlan tapi Candy seakan tidak mendengarnya.
"Ma...ade..mau yang itu.." Azlan mengulang permintaannya Candy masih tetap yang sama terdiam, tanpa disadari oleh Candy mama Rendra melihatnya setelah memberikan apa yang Azlan mau mama memeluk Candy.
Candy yang terdiam terkejut dipeluk mama Rendra tanpa disadarinya bulir itu meluncur bebas tanpa Candy minta.
"Menangis..lah mama tahu Can..kamu kuat didepan kita semua tapi tidak saat Can..sendiri..menangislah..agar berkurang beban yang ada di dalam dadamu.." Candy tak sedikitpun menjawab hanya air matanya yang terus mengalir seperti sungai yang tidak tertahankan dirasakannya.
Ainun yang baru saja pulang dari sekolahnya langsung memeluk mamanya seakan ingin menguatkan Candy bahwa dia tidak sendiri ada Ainun juga Azlan, kedua buah hati Candy memeluknya.
"Ma..ade..sama mba..ada buat mama.." ucap Azlan yang membuat mama Rendra menghapus air matanya, dia ingin menguatkan Candy tapi dia sendiri tidak kuat melihat kehangatan kedua cucunya yang menguatkan mamanya.
"Maafkan...mama ya..sayang..tidak bisa menjaga papa untuk tetap disini..bersama kita.." ucap Candy masih dalam pelukan dua buah hatinya.
"Mama sudah yang terbaik..ko buat kita.." ucap Ainun yang sangat kuat mama Rendra lihat, walaupun awal-awal dia tidak terima akan keadaan ini.
"Kita berdua akan jaga..mama, nenek juga kakek.." ucap keduanya dengan mengusap air mata di pipi Candy dan neneknya.
"Mama jangan sedih lagi ya..ade ingin mama yang suka tersenyum bukan yang suka nangis.." ucap polos Azlan yang hampir semua yang melekat didirinya persis Rendra.
"Iya..sayang..mama akan banyak senyum buat ade.." ucap Candy yang melihat kepolosan dari tiap baris kata dari mulut mungilnya.
Tapi tidak dengan hati Candy yang sangar merasa kehilangan sosok yang memanjakannya dengan candaannya sesekali menggodanya, dia bukan hanya sosok suami tapi bisa jadi seorang kakak, teman bahkan seorang ayah juga sahabat.
Kepadanya Candy berani menolak, berdebat bahkan sedikit marah tapi dia tidak pernah membalas dengan kemarahan, meninggikan suaranya saja belum pernah, melebarkan matanya pun tidak pernah apalagi berkata kasar.
Sosok Rendra dimata Candy sempurna hampir tidak ada celah walaupun mba Ayu selalu mengatakannya bucin tapi dia tidak berubah baik saat berdua, bersama keluarga kecilnya bahkan bersama keluarga besar terlebih didepan orang banyak dia tepat Rendra yang bucin untuk seorang Candy nur aini.
Kedua buah hati Candy seakan ingin menjadi penguat untuk Candy yang pasti sangat kehilangan tapi sesuai janji pada dirinya Candy akan kuat dan berharap ada keajaiban yang tuhan kasih untuk keikhlasan menerima sebentuk ujian dalam dirinya.
__ADS_1