
..."Jadilah kamu sebaik kamu, bukan seburuk mereka jika kamu yakin dengan kebaikan mu, namun orang masih mengkritik, ingat bahwa "dalam pertandingan hanya penonton yang membuat keributan, bukan pemain" jadi jangan ragu percaya diri dan lakukan yang terbaik" Rendra....
Nasyauqi tidak kembali ke rumah dinas Andika saat ini Rendra memintanya untuk recovery di rumah kakeknya, Andika memaklumi baginya tidak masalah yang penting Nasyauqi dalam keadaan baik-baik saja dan berharap cepat kembali pulih terutama keceriaan yang ada dalam dirinya.
Indra yang baru bisa menjenguknya karena kesibukan yang tidak bisa di tinggalkan sebab semua tahu di bulan hanya sibuk praktek tapi juga menjadi ceo yang di bantu Nisrina walaupun dari rumah sebab Indra melarangnya meninggalkan akhtar di bawa asuhan suster.
"Gimana kabarnya mas.." sapa Andika yang melihat Indra sudah berbincang dengan Rendra.
"Alhamdulillah..baik.." balasnya dengan memberikan pelukan.
"Mba..mana.." tanya Andika yang tidak tahu kalau Indra dari acara resepsi pernikahan Rafiq.
"Ga..ikut.." batasnya singkat kembali duduk.
Andika meninggalkan mereka untuk kembali menemani Nasyauqi yang saat ini sedang memandang langit sore dengan pandangan kosong dari atas balkon kamarnya.
"Apa...yang menarik dari langit..sore ruhi.." tanya Andika memeluk dari belakang dan menyadarkan dagunya di pundak Nasyauqi.
"Mas..." balasnya singkat sedikit terkejut.
"Warna jingga yang menenangkan.." ujar Nasyauqi menjawab pertanyaan Andika.
"Ya..itu..lah dirimu..ruhi..selalu menenangkan mas..walaupun sejuta beban memenuhi pikiran mas.." seru Andika makin memeluk Nasyauqi.
"Bukannya mas..yang selalu menenangkan ku.." Nasyauqi memutar tubuhnya hingga keduanya berhadapan.
Keduanya hanya saling menatap tidak saling bicara hanya mata keduanya yang saling berbicara saling memuji bagaimana keduanya saling menenangkan pasangannya.
"Apa...ada yang lucu.." ujar Andika yang melihat Nasyauqi tersenyum dan menunduk malu.
"Ga..." balasnya dengan menyembunyikan senyumnya makin menunduk.
"Kalau ga kenapa harus..malu.." goda Andika dengan menangkup wajah Nasyauqi yang memerah.
"Ternyata...mas..cakep juga..kalau dilihat lebih dekat.." Nasyauqi berkata dengan malu dan terbata-bata.
"Oh..ada yang baru...sadar..kemana aja..selama ini..ruhi.." goda Andika memeluknya hingga keduanya tertawa.
"Mas..kapan kita pulang.." rengek Nasyauqi manja pada Andika.
"Kenapa ga betah.." tanya Andika dengan mengusap kepala Nasyauqi.
"Bukan begitu..kasihan mas terlalu jauh.." Nasyauqi menjelaskan sebab dia tidak ingin Andika juga berlalu cape karena jarak yang ditempuh dari rumah kakek ke tempat dinas lumanyan jauh.
"Asal ruhi..senang..mas ga masalah.." Andika memandang jauh pemandangan didepannya.
"Aku..ingin pulang..mas.." rengek Nasyauqi manja dengan menatap manja pada Andika.
"Ok..mas..akan meminta pada papa.." seru Andika yang membuat Nasyauqi senang dengan memberikan ciuman di bibir Andika yang membuat Andika terkejut sekaligus senang.
__ADS_1
"Sudah..pintar..ya.." goda Andika yang membuat Nasyauqi sembunyi di dada Andika.
"Kenapa harus malu..mas cuma mau tanya siapa gurunya..mau berterimakasih gitu.." Andika makin usil.
"Ih..mas.." rengeknya makin manja.
Andika tertawa yang membuat Nasyauqi makin malu dibuatnya, hingga membuat Andika memegang perutnya karena Nasyauqi mukanya merah menahan malu.
"Serius mas..mau tanya siapa gurunya.." tanya Andika lagi dengan masih menggoda.
Dan kehadiran Rendra yang bermaksud untuk menanyakan soal keadaan Nasyauqi menjadi kesempatan buat Nasyauqi menjawab pertanyaan Andika.
"Ini..gurunya.." seru Nasyauqi yang membuat Rendra bingung, begitu juga Andika yang malu tidak mungkin berterimakasih itu hal yang seperti itu.
"Apa..guru..apa.." tanya Rendra yang bingung.
"Eh...e...itu pa..guru yang mengajari..." ucap Andika tapi sudah ditutup terlebih dulu oleh Nasyauqi mulut Andika dengan tangannya.
"Guru..ngaji..pa.." ujar Nasyauqi dengan malu.
"Oh..bukannya lebih pandai mas mu sayang.." Rendra menjelaskan yang membuat Andika tersenyum menahan lucu dari Nasyauqi yang malu.
"Iya..pa..mas nanya siapa yang mengajarkan aku pertama mengaji gitu..pa.." Nasyauqi menjelaskan dengan malu dan mencubit tangan Andika yang tersenyum penuh arti.
"Ilmu mas mu..yang lebih baik.." Rendra masih terus menjelaskan yang membuat Nasyauqi makin malu.
"Gimana..sayang..sudah lebih baik.." tanya Rendra pada Nasyauqi.
"Pa..boleh ya..besok ikut mas ke rumah dinas.."rengek Nasyauqi meminta dengan manja.
"Boleh..tapi papa ga mau dengar sampai kecapean lagi.." Rendra terdengar tegas.
"Siap..letnan.." balas Nasyauqi yang membuat Rendra mengusap kepala Nasyauqi.
"Mas..jaga baik..istri manja mu.." pinta Rendra yang akan keluar dari kamar keduanya.
"Ih..papa.." rengek Nasyauqi yang sudah di cubit pipinya oleh Rendra.
"Siap..pa.." jawab Andika sopan dengan tersenyum ramah.
"Oh..jadi..ruhi..manja..ya..pantas..sedikit bau.." goda Andika dengan gaya mengendus.
"Ih..mas..aku ga bau..dan manja apa..an..sih.." protes Nasyauqi dengan gaya melipat tangannya di dada dan cemberut.
"Aduh..lucunya.." Andika mengusap pipi Nasyauqi.
"Iya..ga manja..tapi sekarang lagi bau..bau " Andika mencium pipi Nasyauqi tanpa henti hingga Nasyauqi meminta ampun.
"Iya..mas..ampun..sudah mas..sudah.." teriak Nasyauqi yang membuat orang baru masuk ke dalam kamarnya hanya bisa menyaksikannya dengan sedikit menggoda.
__ADS_1
"Hm..mmm..kita ngontrak nih..ceritanya.." Indra dengan menggoda.
"Eh..mas.." seru Andika malu tapi Nasyauqi hanya manja di tangan Andika.
"Aku mau pamit..habis..di cuekin disini.." protes Indra hanya ingin menggoda keduanya.
"Ih..mas..bukannya mas tadi ngobrol bareng papa" protes Nasyauqi sama Indra.
"Ya..udah..mas Andika..tolong temani mas Indra ku..kasihan nanti ngadu sama mba Nis..aku..kan jadi nggak enak dan aku juga berhubung bau kata suami tersayang ku jadi mau bersih-bersih biar wangi.." Nasyauqi dengan menggoda meninggalkan keduanya.
"Oh..jadi adik tersayang mas di bilang bau.." Indra pura-pura marah pada Andika.
Nasyauqi hanya nyengir kuda yang makin menjauh meninggal keduanya menuju kamar mandi dengan merasa menang di bela Indra selaku masnya.
"Dari mana mas.." tanya Andika untuk memulai perbincangan.
"Dari memenuhi undangan Rafiq.." balas Indra santai tapi ada sedikit rasa simpati.
"Ko..aku ga di undang ya..mas..terus ko papa ga cerita ya.." Andika seperti berpikir.
"Om..tadi cerita bukan tidak ingin memenuhi undangan tapi kondisi om tidak ingin meninggalkan adik ku apalagi loe..pasti ingin di sampingnya kan.." Indra memahami korosi keduanya.
"Iya..sih mas..gimana Rafiq mas.." tanya Andika ingin tahu.
"Sepertnyai dia tidak bahagia..dengan pilihannya.." jawab Indra yang sedikit banyak tahu Rafiq.
"Ko..mas bicara seperti itu.." ujar Andika seperti membayangkan wajah Rafiq beberapa saat yang lalu.
"Ya..terlihat dari senyumnya yang sepertinya terpaksa.." Indra menjelaskan.
"Kasihan ya..mas.." ujar Andika sepertinya ikut prihatin.
"Ya..tapi kita tidak tahu bagaiamana..aku berharap dia bahagia.." ucap Indra dengan menarik napas.
"Ya..mudah-mudahan..seperti itu.." Andika ikut menambahkan.
Itulah perbincangan keduanya tanpa sepengetahuan Nasyauqi tentang Rafiq yang harus menikah dengan wanita bukan pilihannya tepatnya orang tuanya yang menjodohkan Rafiq dengan wanita yang sama-sama menikah atas permintaan orang tuanya.
Tanpa keduanya tahu siapa wanita yang di jodohkan dengan Rafiq yang jelas Rafiq tidak bahagia dia hanya ingin orangtuanya bahagia dengan menuruti permintaannya.
Rendra datang ikut bergabung dan berkata baru saja menerima kabar dari kawan satu timnya bahwa ada keributan di pesta pernikahan yang berasal dari tamu undangan yang mengakibatkan acara pesta jadi kacau dan pesta berakhir lebih awal.
Ketiganya semakin prihatin dengan Rafiq dengan apa yang telah menimpanya, dan Andika juga Indra semakin penasaran dengan sosok pengagum rahasia Rafiq yang semakin menggila dalam melakukan tindakan di luar nalar pengagum rahasia.
Indra yang seorang ceo muda dan dokter jadi berpikir ternyata ketampanan tidak membuat orang nyaman serta tidak dapat mencintai seseorang sesuai keinginannya.
"Bro..serumit..itu ya..hidupnya.." ujar Indra prihatin.
"Jalan hidup memang tidak bisa di tebak.." seru Andika santai.
__ADS_1
"Yang jelas ada rahasia tuhan di balik semua ini.." ucap Rendra yang tidak ingin menyalahkan siapa pun dalam hal ini yang jelas ada rahasia di balik semua ini.
Mereka masih asyik berbincang hingga petang menjelang, dan Indra pamit untuk pulang begitu pun keduanya bersiap untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah, hingga menyudahi bincang santainya.