
..."Jadilah pribadimu yang baik sebab dari situ orang lain menilai jadi berusahalah tetap jadi yang baik dan jadilah dirimu sendiri yang akan tetap dikenal hingga akhir hayat" Candy....
Pagi menjelang siang ini semua pegawai toko sibuk sebab banyak yang memesan dan meminta diantar ke tempat langsung membuat Nasyauqi harus merangkap menjadi salah satu pegawai dengan sangat terpaksa dia lakukan untuk turun melayani pelanggannya.
"Assalamualaikum..mba.." ucap salam dari seseorang dengan melangkah mendekat meja kasir.
"Waalaikum salam.." balas Nasyauqi dengan sedikit menunduk sebab terdengar suara dari orang yang dikenalnya.
"Mba..saya mengambil pesanan saya.." pintanya seperti biasa dengan sopan.
"Sentar saya ambil.." Nasyauqi menuju tempat penyimpanan kue khusus, lelaki itu tanpa sengaja sekilas melihat mata yang sama seperti orang yang sangat dirindukannya.
"Tuhan..mata indah..itu..diakah.." dalam diam lelaki itu mengingat seseorang yang telah lama meninggalkan dirinya.
"Maaf..ini..pesanan bapak.." ucap Nasyauqi dengan menunjukkan beberapa kotak kue, yang membuyarkan lamunan lelaki itu.
"Sama..yang ini.." ujarnya lagi menunjukkan kue yang dipesan, lelaki itu masih dalam diamnya tidak menjawab hanya mendengarkan saja.
"Yang ini..juga..kan.." Nasyauqi menunjukkan kue yang lain tapi lelaki itu masih tetap diam.
"Ya.." jawabnya singkat masih dalam ingatan mengingat seseorang.
Dengan rapi Nasyauqi membungkusnya, tidak ada perbincangan dari keduanya hanya saling diam sebenarnya ada rasa ingin menanyakan tentang gimana kabarnya tapi hanya haru yang kini Nasyauqi rasakan.
"Maaf..menunggu..ini..pesanannya.." ucap Nasyauqi memberikan kotak kue.
"Maaf..mba..yang ini..kelebihan saya kan pesanannya tiga.." ucapnya menjelaskan setelah melihat kotak kue yang bukan pesanannya.
"Ini..hadiah buat yang berulang tahun.." ucap Nasyauqi yang memang sengaja ingin memberikan kue tambahan.
"Oh..maaf..mba orang baru ya..sepertinya saya..baru lihat.." ujarnya dengan tersenyum ramah.
"Tuhan kenapa dia harus tersenyum.." dalam batin Nasyauqi berkata.
__ADS_1
"Mba..saya tanya ko..malah menunduk..saya salahnya.." serunya dengan sedikit merapikan kotak kue, yang sebenarnya dia ingin tahu lebih banyak.
"Oh...iya..ya..bapak saya..orang baru..mohon maaf.." ucapan Nasyauqi dengan gugup.
"Jangan panggil bapak..saya belum bapak-bapak..mas saja.." pintanya dengan menjelaskan.
Belum bapak-bapak pikir Nasyauqi lalu kue-kue ini untuk siapa kalau bukan untuk seorang anak yang bukan anaknya, tapi itu bukan urusannya pikir Nasyauqi lagi dengan berusaha ramah.
"Terimakasih sudah berkunjung ke toko kami.." ucap Nasyauqi sopan dengan tersenyum semanis mungkin.
Dari senyum dan suara seseorang yang dilihatnya didepan mata, dirinya makin merasa sangat mengenal siapa pemiliknya tapi yang terlihat nyata bukan dia yang sudah mencuri hatinya yang sudah mengisi hari-harinya dengan membuatnya semangat ingin cepat bertemu sosoknya yang manja tapi selalu dirindukannya dan selalu bersahaja walaupun dari kalangan berada.
Apakah dirinya terlalu merindukannya pikirnya hingga seseorang yang lain menurutnya itu seseorang yang selama ini dirindukannya.
"Sama-sama..mba..saya juga terimakasih nanti saya sampaikan pesanan mba buat yang ulang tahun.." napasnya tersenyum ramah.
Nasyauqi hanya memandang tanpa berkata hanya mata yang sudah menahan tangisnya tidak kuat menahan sapaan ramah dari lelaki itu untuk menanyakan apa kabarnya, kemana saja dan apakah dirinya merindukan dirinya?.
Lelaki itu melangkah meninggalkannya tapi sebelum sampai pada pintu keluar Nasyauqi berlari dengan suara tangis yang terdengar oleh lelaki itu.
"Ada..apa dengannya.." ujarnya dengan banyak pertanyaan yang ada dalam hatinya.
Kenapa juga tuhan masih mempertemukan dirinya dengan seseorang yang sangat dirindukannya itu dan apa rencana tuhan untuk dirinya dalam pikirnya banyak pertanyaan yang belum dia temukan jawabannya.
Nasyauqi masih dalam ruangannya, suara ketukan pintu dan sapaan khas dari seseorang yang sangat dirindukannya mengusir rasa sedihnya.
"Assalamualaikum..mba.." Azlan memeluk dan mencium mba tersayangnya.
"Waalaikum salam..libur.." tanya Nasyauqi dengan melepaskan pelukannya.
"Iya..lah.." ujarnya dengan mencari tempat duduk.
"Mba..kita jalan..yuk.." ajak Azlan yang ingin mbanya tidak mengurung diri saja.
Azlan saat ini menempuh pendidikan di AKMIL dia tidak memilih bangku kuliah terlebih dahulu seperti papanya sebab ada alasan yang sangat mendasar dia memilih AKMIL, kasus Ainun sampai saat ini dianggap sudah ditutup dalam arti pelaku pandai menghilangkan jejak dengan rapi dianggap kecelakaan sedangkan Rendra sebenarnya sudah mengetahui siapa dalangnya tapi banyak pertimbangan untuk mengungkapkan semua itu.
Hal ini yang menjadi alasan Azlan masuk AKMIL dia ingin mencari tahu sendiri sebab bila bertanya soal kasus Ainun papanya selalu saja mengelak dengan banyak alasan, Azlan sendiri sebenarnya harapan dari kakeknya untuk meneruskan bisnis kakeknya tapi Azlan ingin membuktikan mbanya orang baik sampai-sampai harus berganti identitas untuk menjaga agar dirinya aman.
Sebegitu memprihatinkan hidup mba tercintanya, di waktu libur Azlan selalu menghabiskannya dengan menyenangkan mba tercintanya kemanapun dia mau Azlan selalu menurutinya agar dia merasa keluarga ada untuknya.
Saat ini keduanya menikmati nonton bioskop yang jadi kesukaan Nasyauqi yaitu film komedi yang banyak mengundang tawa hingga lepas.
__ADS_1
Keduanya begitu akrab hingga orang yang melihatnya mengira keduanya sepasang kekasih yang mengumbar kemesraan, seperti saat ini keduanya saling merangkul dengan tawa lepas, hingga mengudang iri yang jomblo.
"Woi..kira-kira apa kalau mau pacaran di tempat lain apa.." tegur seseorang usil pada keduanya.
"Ha...ha ha haa haaa...huk..huu...k" tawa Azlan hingga terantuk-batuk, mendengar komentar orang yang tidak tahu kalau keduanya kakak adik.
Keduanya saling berpandangan dan tertawa kembali kali ini ditutup mulut Azlan agar tidak mengganggu yang lain.
Selesai menonton keduanya jalan lagi kali ini jajanan kaki lima yang jadi sasaran keduanya apalah itu, salah satunya bakso bakar, martabak telor, es kelapa dan bubur ayam.
"Aduh..dek..kenyang.." ujar Nasyauqi dengan memeluk satu tangan Azlan manja.
Tanpa disadari keduanya ada beberapa orang melihat keduanya terutama pada Nasyauqi yang begitu cantik dan terlihat terawat menurut mereka keduanya bukan orang sembarang tapi mau jajan dan antri di pinggir jalan.
"Sudah puas..ni.." tanya Azlan yang siap mengajak jalan lagi.
"Kita pulang aja ya.." pinta Nasyauqi manja pada Azlan.
"Siap.." tangan Azlan menggandeng Nasyauqi menelusuri jalan menuju mobil mewah milik kakeknya di parkir.
"Dek..sampai kapan libur.." tanya Nasyauqi yang sudah bersandar di kursi.
"Seminggu mba..kenapa gitu.." balas Azlan menunggu Nasyauqi yan sudah sedikit mengantuk.
"Kita..ke pondok pesantren yuk.." pinta Nasyauqi pada Azlan.
"Ayo..kita sudah lama tidak kesana ya..mba.." ujar Azlan yang satu pendapat dengan mbanya.
"Kita..tanya papa dulu mba..boleh ga.." ucap Azlan tanpa ada balasan dari Nasyauqi yang sudah terlelap.
"Ih..malah tidur.." ujar Azlan yang sudah membawa mobil menuju ke rumah.
Kedua anak Rendra memang terlihat aneh menurut orang lain sebab anak sultan orang menyebutnya tapi suka sekali ke tempat-tempat yang dihindari oleh anak seusianya seperti ke kampung salah satunya ke pondok pesantren yang cukup terpencil, panti asuhan, rumah dhuafa dan panti jompo, jajan di kali lima atau taman kota.
Anak sultan seusianya biasanya menghabis waktu luangnya dengan nongkrong di cafe berkelas, jalan-jalan keluar negeri dan menghabiskan duit orang tuanya belanja yang bermerk hanya untuk di jadiin pajangan semata.
Sebegitu pandainya Rendra memberikan ilmu agama pada keduanya yang lebih memilih jadi orang yang apa adanya dan lebih suka berbagi pada sesama.
Dalam berteman keduanya tidak pernah membedakan berdasarkan status dan kelas keduanya lebih berbaur dan lebih banyak mengalah dan menjaga perasaan orang lain.
Pantas saja keluarga Rendra dikenal sebagai dermawan oleh banyak kalangan tanpa meminta itu penilaian orang diluar sana yang jelas menurut Rendra selama masih bisa berbagi tidak masalah baginya tuhan memberikan rizki pada dirinya ada hak orang lain yang perlu kita bagi dan bukannya dengan berbagi itu tidak mengurangi rizki kita, pastinya berbagi itu indah.
__ADS_1