Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
214


__ADS_3

..."Dear seseorang yang masih dalam rencana tuhan, semoga bisa menerima segala kekurangan dan bisa berjuang bersama mencari ridho Allah dalam suka dan duka" Rendra...


Kita tinggalkan dulu sejenak keluarga kecil Andika Nasyauqi yang makin kompak dalam mendidik si kembar yang makin bikin gemas.


Sesuai janji Azlan pada eyang hari ini dia akan menjawab permintaan eyang dan akan menyanggupi permintaan itu, Azlan yang sudah bijaksana dalam rentang waktu yang singkat itu dia berkonsultasi dengan mas Andika juga papa tercintanya dan kedua orang yang di anggap sangat bijak itu hanya bisa memberikan gambaran selebihnya dia mengembalikan pada Azlan tapi ada penekanan dari keduanya libatkan tuhan pada persoalan ini.


Azlan sudah berserah diri pada zat yang maha pengatur terbaik dalam segala urusan baik dengan sholat istiqoroh juga banyak membaca al-qur'an serta berpuasa agar keputusan yang dia ambil bukan semata-mata desakan apa lagi ambisi semata yang berujung penyesalan di kemudian hari.


Azlan tidak mau urusan pribadinya di bahas di tempat dinas selepas magrib Azlan berkunjung ke rumah eyang dengan membawa bingkisan berupa buah dan kue yang di pesannya lewat online di toko mba Nasyauqi yang khusus untuk eyang di buat langsung dengan tangan Nasyauqi sendiri, yang tahu tidak banyak gula sebab tahu di usia eyang tidak jauh berbeda kakek tercintanya.



Azlan disambut dengan baik oleh eyang yang kebetulan juga baru selesai menjalankan sholat magribnya, Azlan menaruh bingkisan di meja yang membuat eyang merasa merepotkan Azlan.



"Kenapa..harus repot-repot..langsung saja kalau mau main..ke rumah.." ujar eyang dengan mempersilakan Azlan duduk.


"Terimakasih..yang..tidak merepotkan ko yang.." balas Azlan dengan tersenyum dan duduk dimana eyang mempersilakan dirinya duduk.


"Bagaimana kabarnya.." eyang mulai berbicara yang sepertinya tahu apa jawaban dari permintaan dirinya pada Azlan.


"Alhamdulillah..seperti yang eyang lihat..sehat tidak kurang apapun.." seru Azlan sopan.


"Kata siapa tidak kurang.." goda eyang dengan tersenyum yang membuat Azlan bingung.


"Kurang pendamping..masih sendirikan.." goda eyang lagi yang membuat Azlan langsung mati gaya dan hanya mengangguk memang benar dia masih single belum double.


"Eyang harap kedatangan cucu eyang membawa angin segar buat kehidupan cucu eyang yang lain.." dengan raut wajah sedih eyang berucap.


"Insyaallah..kedatangan saya tidak mengecewakan eyang.." balas Azlan dengan senyum menyemangati eyang yang duduk tidak jauh darinya.


"Benar..kah.." terlihat wajah bahagia dari eyang dengan tersenyum penuh harap.


"Benar..eyang..saya Azlan Calixto Hibrid binti Rendra Himawan Wijaya dengan segenap hati menerima permintaan eyang untuk melamar cucu eyang dengan segenap jiwa.." ucap Azlan yang membuat eyang mengelap mata rabun tuanya dengan jari telunjuknya di ujung matanya.


"Perwira bodoh...kamu tidak bertanya terlebih dahulu..seperti apa cucuku.." bentak eyang pada Azlan, yang Azlan tahu itu hanya menggoda bagi seorang perwira buka marah yang sebenarnya.

__ADS_1


"Saya..yakin eyang sudah mempertimbangkan baik buruknya..untuk cucunya.." balas Azlan yang membuat eyang terharu.


Dalam benak eyang tuhan memang benar yang terbaik untuk yang terbaik, dengan memberikan senyumnya pada Azlan.


"Baiklah kalau kamu sudah yakin..saya akan jelaskan dan akan saya kenalkan langsung cucu eyang..dan dia sendiri sudah terima perjodohan ini.." serunya dengan lebih serius.


Eyang mulai menceritakan siapa cucunya dia seorang mahasiswa semester tujuh kurang lebih di universitas yang eyang sebutkan yang membuat Azlan sedikit terusik dengan nama universitas itu sebab dirinya mengajar di situ, Azlan kembali mendengarkan penjelasan eyang yang saat ini berubah jadi sedikit emosional.


Nama cucu eyang Allea Kirana Syakira (perempuan rendah hati yang cantik dan selalu bersyukur), dia sudah ditinggalkan oleh calon suaminya melalui perjodohan oleh ayahnya beberapa tahun yang lalu dengan alasan yang tidak jelas yang membuat ayahnya di permalukan oleh calon dari besarnya itu hingga ayahnya jatuh sakit dan tidak lama harus berpulang pada sang memilik kehidupan, begitu pun dengan ibunya yang tidak kuat menahan malu menyusulnya belum lama ini.


Kini dia harus seorang diri sebab kakak tertuanya yang melanjutkan kembali bisnis milik ayahnya dan menitipkan Allea pada eyangnya yang kebetulan juga seorang diri ditempat dinasnya.


"Itu..sedikit banyak yang harus kamu pertimbangkan sebelum kamu menyanggupi keinginan eyang.." eyang memberikan penjelasan pada Azlan yang terlihat prihatin pada gadis yang eyang ceritakan dengan masa lalunya.


"Secara pribadi saya tidak keberatan yang saya takutkan..bagaimana dengan cucu eyang..maukah dia menerima saya yang tidak memiliki apa-apa.." Azlan mengembalikan kesanggupan eyang menerima dirinya.


"kamu sudah datang kesini sudah jadi bukti kamu..orang yang pantas bersama dengan cucu eyang.." balas eyang yang terlihat matanya berkaca-kaca mendengar kesederhanaan Azlan.


"Baik..lah jika kamu bersedia.." eyang meninggalkan Azlan di ruang tamu yang cukup besar dan tidak lama betapa terkejutnya Azlan gadis dalam mimpinya nyata ada di depan matanya, dan benar dia salah satu mahasiswanya.


"Nak Azlan kenalkan ini cucu eyang.." dengan memberikan kesempatan Allea berkenalan.


"Azlan.." balas Azlan sama seperti Allea hanya menangkupkan tangannya.


Dalam hati masing-masing keduanya berbicara " ini kan dosen ku..ada kepentingan apa dia disini.." pikir Allea dalam diam.



"Kenapa harus selalu berhubungan dengan mata indah dalam hidupku.." Azlan mengingat semua orang terdekatnya dari mama, mba Ainun dan mba Nisrina memiliki mata yang indah di tambah ini satu lagi ini pikir Azlan dengan tertunduk.



Dengan alasan apa cowok itu meninggalkan dirinya yang terlihat sholeha dan lebih terlihat pendiam dalam benak Azlan membatin.


"Maaf..eyang bukan saya tidak mau belama-lama disini tapi eyang juga butuh istirahat jadi saya undur diri.." pinta Azlan dengan sopan.


"Baiklah..terimakasih atas kunjungannya.." balas eyang dengan menepuk pundaknya.

__ADS_1


Azlan tanpa minta ijin undur diri pada Allea yang masih bingung dengan kunjungan Azlan ke rumah eyangnya.


Eyang mengantarkan Azlan hingga gerbang rumah dinasnya yang terbilang paling besar diantara yang lain maklum saja dia perwira tinggi di kedinasan.


"Untuk menindaklanjuti soal lamaran saya akan kabari eyang secepatnya.." ucap Azlan yang membuat eyang sangat senang.


Dalam rumah eyang langsung menjelaskan kedatangan Azlan untuk meminta kesiapan Allea menjadi pendamping hidupnya, ada rasa sedih pada Allea mengingat peristiwa yang telah di lewatinya yang meninggalkan kesan yang dalam dalam kehidupannya.


Bukan soal sakit hati tapi apa kesalahan yang telah dia perbuat, dia tidak menolak perjodohan itu dan sudah mulai mengenal siapa calonnya itu tapi apa yang dia dapat penolakan sepihak dan membuat ayahnya sakit karena rasa malu yang bukan disebabkan oleh kesalahan dari pihaknya begitupun dengan ibunya.


Tapi menolak permintaan eyang bukan pilihan yang tepat sebab hanya beliau satu-satunya orang tua yang dia miliki pada siapa lagi dia harus bersandar.


"Bagaimana..Al.." seru eyang yang menunggu jawaban dari Allea.


"Al..ikut apa yang terbaik menurut kakek.." jawabnya dengan memainkan jari tangannya yang menandakan dirinya bukan menolak tapi belum nyaman dengan situasi ini.


"Baiklah..nak azlan akan datang beberapa hari lagi bersama keluarganya.." eyang menambahkan yang membuat Allea tertunduk lemas tapi apa daya dirinya tidak memiliki kuasa untuk menjelaskan keinginannya dan kepada siapa dia harus mengadu keresahan hatinya.


"Al..ikut yang terbaik saja..yang.." Allea menggenggam tangan eyangnya.


"Dia baik..Al..eyang yakin bisa membahagiakan mu Al.." ucap eyang dengan tersenyum menyakinkan Allea.


"Pilihan eyang yakin yang terbaik..ko.." Allea ingin eyangnya senang.


"Tapi..Al..masih ada waktu bila Al..menolaknya.." pinta eyang yang sepertinya tidak ingin cucunya menerima perjodohan ini karena terpaksa.


"Tidak..yang..pilihan eyang pasti yang terbaik.." Allea masih ingin eyangnya senang sebab hanya dia orang terdekatnya dan tidak ingin terjadi apapun padanya.


"Al..eyang hanya ingin Al..bahagia jadi bila tidak sesuai pilihan hati Al..jujurlah pada kata hati Al..jangan pertimbangkan keinginan eyang, eyang hanya bisa memberikan jalan dan pilihan tapi tidak memaksa Al.. eyang tunggu jawaban Al.." seru eyang yang meninggalkan Allea seorang diri di ruang keluarga yang ditemani tv layar lebar.


"Gimana..mbok.." tanya Allea pada asisten rumah tangga eyang yang sudah lama mengurusi eyang yang kebetulan merapikan gelas bekas Azlan dan eyang.


"Pikirkan baik-baik..ndok.." pinta mbok dengan kembali membawa bingkisan masuk dari ruang tamu.


"Bantu saya..mbok.." pinta Allea yang melihat layar lebar mempertontonkan produk minuman.


"Bicara..saja dulu sama mas yang melamar..kali aja dia punya pertimbangan biar ndok makin yakin.." ujar mbok yang ada benarnya juga pikir Allea tapi bagaimana caranya itu yang bikin Allea mikir.

__ADS_1


Mungkinkah ada cara yang baik yang akan membuat Allea bisa bicara empat mata dengan lelaki yang jadi pilihan eyang itu yang harus Allea pikirkan, dan berharap kesempatan itu ada padanya.


__ADS_2