Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
77


__ADS_3

"Lelah wajar, tapi akan ada pencapaian yang tidak sia-sia terus berjuang mencapai ridho-Nya" Candy.


Kicau burung menyambut pagi yang cerah ini tapi tidak seiring suasana hati Candy yang diliputi rasa cemas untuk menghadapi sidang di kampusnya, nampak dari gerak tubuhnya yang ditunjukan lebih terlihat serba salah dan gugup yang membuat Ainun ikut rewel seakan tahu Mamanya sedang gelisah.


"Cup...cup...sayang jangan nangis...biar Papa gendong" Rendra menggendong Ainun dan menepuk-nepuk punggungnya untuk merendahkan tangisnya.


"Ainun tahu Mamanya lagi cemas"Mama Rendra mendekat ke Ainun dan Rendra untuk menenangkan Ainun.


"Can...jangan cemas...Mama tahu bukan sidang yang Can...khawatirkan tapi Ainun, kan...?" Mama juga menenangkan Candy yang duduk di dekat Rendra yang masih menggendong Ainun yang sudah mulai tenang.


"Iya...Ma...takut Ainun rewel Can...tinggal" ucap Candy dengan memandangi Ainun yang sudah tersenyum di goda Rendra.


"Tenang Can...Papa juga ada di rumah ga ke kantor ko, kita main bareng ya...cantik" Papa Rendra mengusap lembut kepala Ainun yang masih tertawa karena candaan Papanya.


"Ainun ga...rewel ko Honey...tenang ada Mama juga Papa yang menemani" ucap Rendra menyakinkan Candy dengan mengusap lembut kepalanya yang tertutup hijabnya.


"Mas...Can...percaya cuma selama ini Ainun ga pernah jauh dari Can..."Candy bersandar di pundak Rendra seperti ingin meringankan kerisauan hatinya.


"Yakinlah Honey...Ainun akan tahu Mamanya bukan meninggalkannya"ujar Rendra mengusap lembut punggung Candy agar lebih tenang lagi.


"Kalau Can...ga tenang Ainun juga sama akan rewel karena anak yang di beri ASI akan satu ikatan jiwa dengan Mamanya" ujar Mama menjelaskan yang dibenarkan oleh Candy yang seorang dokter.


"Maafkan...Can...Ma.."ucap Candy dengan memegang tangan Mama Rendra yang masih di dekatnya dan balasan dari Mama dengan mengusap lembut pundaknya memaklumi.


"Fokus untuk sidang ya...sayang" ucap Mama ke Candy dengan senyum hangatnya menenangkan Candy agar yakin Ainun aman bersamanya.


"Honey...beri hasil yang terbaik ok..." Rendra mengusap lembut pipi Candy tanda memberikan semangat.


Hanya anggukan kepalanya yang di berikan Candy ke suami tercintanya yang masih menggendong buah hatinya yang sudah makin nyaman di gendongan Papanya.


Candy mempersiapkan diri untuk kepergiannya ke kampus guna urusan sidangnya walaupun dengan berat hati meninggalkan putri kecilnya dalam pengawasan Mama dan Papa Rendra.


"Sayang...jangan rewel ya...sama Nenek juga Kakek dulu ya.."ucap Candy membelai putri cantiknya yang tertidur di gendongan Mama Rendra dan mencium pipinya yang halus.


"Ma...maaf sudah merepotkan...mohon do'anya untuk kemudahan sidang Can..." Candy berpamitan dan meminta do'a terbaik dari Mama Rendra.

__ADS_1


"Iya...sayang semoga di mudahkan dan di berikan hasil yang terbaik, tenang Ainun sama Mama jangan khawatir ya..." balas Mama mencium pipi Candy dengan sayang.


"Pa...mohon do'anya yang terbaik buat Can..."ucap Candy ke Papa Rendra yang berdiri di samping Mamanya Rendra.


"Iya...sayang Papa do'akan yang terbaik... tenang ya..." ucap Papa mengusap kepala Candy dan Candy mencium punggung tangannya dan berpamitan meninggalkan kediaman orang tua Rendra.


Candy pergi ke kampus tidak seorang diri Rendra mengantarnya yang terlebih dahulu meminta ijin ke kantor dinasnya.


"Diem...diem...bae...Honey" tangan Rendra menggenggam tangan Candy yang terasa dingin karena rasa gugupnya.


"Tenang Honey...Mas yakin...Honey bisa melaluinya" Rendra menyemangati Candy yang matanya fokus ke jalanan.


"Ehem...ehem...jalan lebih menarik ya...dari pada yang disampingnya" goda Rendra ke Candy yang masih memperhatikan jalan.


"Maklum yang di sampingnyakan cuma sopir..." ujar Rendra menggoda Candy agar tidak gugup menghadapi sidang.


"Iya...Mas...Can...tahu Mas ingin agar Can..ga gugup tapi..." belum selesai Candy berucap Rendra lebih dulu melanjutkan ucapannya.


"Oh...jadi benar yang di sebelahnya cuma sopir...sejak kapan Mba"Rendra makin menjadi menggoda Candy dengan senyumnya yang termanis dia tunjukkan.


Tidak butuh lama Candy sudah berada dalam lingkungan kampus, Rendra seperti pangeran yang ada di film-film turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobilnya.


"Terimakasih banyak Mas...mohon do'anya untuk di mudahkan urusan Can..."Candy mencium punggung tangan suaminya dan apa balasan Rendra mencium dan memeluk istrinya dengan erat dan berbisik di telinga Candy.


"Do'a Mas menyertaimu Honey...Insyaallah di mudahkan dan hasilnya sesuai harapan" Rendra mengusap lembut punggung Candy agar tenang.


"Terimakasih...Mas" ucap Candy lepas dari pelukan Rendra dan tersenyum penuh semangat dia tunjukkan ke suami tercintanya.


Candy melangkah meninggalkan Rendra yang sudah mulai menyalahkan mesin mobilnya untuk berdinas seperti biasanya.


"Cie...cie...si mungil diantar pangerannya...bikin syirik aja..yee.."ucap salah satu rekan satu angkatan Candy yang sama-sama akan masuk ke dalam kampus.


"Baik banget ya...Can...suamimu" ujar yang lain ke Candy dengan senyumnya ikut senang melihat ke kemesraan Candy.


Candy hanya tersenyum dan menyembunyikan mukanya malu merasa di perhatikan semua orang.

__ADS_1


"Kenapa harus malu Mungil...harusnya kamu senang suamimu perhatian" ujar yang lain menambahkan yang membuat Candy makin salah tingkah jadi pusat perhatian.


"Suamiku...boro-boro mau antar ke sini, kerjaan rumah saja semua serba sendiri"ucap salah seorang dokter rekan Candy dengan cueknya menceritakan masalah pribadinya.


"Curhat...nih ceritanya" ujar yang lain dengan tertawa kecil tapi di respon hangat oleh yang lain.


"Kita terlalu mandiri sebabnya jadi di anggap mampu oleh pasangan kita" ujar yang lain seperti menjelaskan penyebabnya.


"Habis kalau mengandalkan dia kapan kerjaan kita beres ujung-ujungnya kita lagi yang kerepotan benarkan?" balas yang lain mempertegas dengan penuh penekanan di tiap katanya.


"Jadi tersindir deh..." ucap salah satu dokter cowo yang kebetulan duduk tidak jauh dari semua yang hadir.


"Gerasa...ga..." ucap yang di dekat dokter cowo dengan tawa jailnya.


"Ga..." ucapnya polos dengan senyum datarnya apa adanya ditunjukkan.


"Kalau ga...santai Mas bro..." dengan diiringi tawa yang bersamaan dari yang lain membuat suasana jadi cair bagai es yang meleleh kena panas.


"Maklum laki-laki terkadang kurang peka" ujar dokter cowo lagi dengan tujuan menjelaskan.


"Gimana dong...caranya biar peka" ujar yang lain meminta penjelasan.


"Perhatian ekstra kali dari pasangannya" jawab dokter cowo yang lain ikut mengungkapkan jawaban.


"Kurang ekstra apa...kita dari semua hal kita perhatikan" ujar salah satu dokter dengan sedikit esmosi...eh...emosi.


"Bukan begitu sis...maksudnya, perhatian khusus kepasangannya gitu...kalau urusan yang lain pasti istri-istri pasti sudah sangat memperhatikan kami tahu itu" ucap salah seorang lebih memperjelas.


"Sudah...yang jelas membahas pasangan ga akan ada habisnya sebab harus pakai bahasa pengertian dari masing-masingnya dan inisiatif dari lawan pasangan kita harus bisa menghilangkan rasa ego yang tinggi dan mau memulai dari diri sendiri, mengerti apa yang di mau pasangannya...bener ga" ucap salah seorang yang terlihat lebih dewasa dalam pemikirannya.


"Betul, betul, betul...." semua berucap kompak dan diiringi gelak tawa membuat suasana seru dan ramai.


Berbeda dengan seorang Candy yang ada dalam benaknya adalah rasa bersalah yang sangat besar ke Rendra suami tercintanya yang sangat menyayanginya dan tulus mencintainya dengan sukarela tidak pernah enggan memperhatikan dan membantu Candy dalam segala hal, dalam lubuk hatinya Candy ingin membalas semua kebaikan dan ketulusan Rendra dengan mengungkapkan rasa cintanya dalam bentuk nyata yaitu memberikan perhatian tiap kepentingan dan keperluannya.


Oh...cinta begitu indah caramu untuk merubah seseorang menjadi sesuatu yang mempunyai nilai dihadapan yang lainnya hingga tidak ingin jauh dari sisinya serasa takut kehilangannya.

__ADS_1


__ADS_2