Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
40


__ADS_3

"Allah tahu kamu kuat makanya ujiannya lebih berat " Candy.


"Mungil...sudah sampai dulu ya..." sapa salah satu dokter senior yang kuliah bareng Candy.


"Tidak...Dok,baru saja sampai " jawab Candy santai dengan memainkan benda pipi miliknya.


"Mungil...aku lihat..kamu lelah" ucap Dokter seniornya yang terus memperhatikan Candy.


"Iya...Dok, kurang tidur semalam membantu Mba melahirkan" Candy dengan muka tampak belum tidur walaupun sudah berusaha ditutupinya dengan riasan naturalnya.


"Ya...itu sudah jadi makanan kita ya...kan" salah satu Dokter senior yang baru datang ikutan ngomong.


Tidak beberapa lama Dosen datang menyampaikan beberapa materi yang disampaikannya tidak sama seperti waktu kuliah pertama Candy ini hanya pendalaman materi yang Dosen sampaikan selebihnya kami menyelesaikannya dalam praktek langsung, hanya tugas dan konsultasi langsung ke Dosen.


Kelas berakhir dengan memberian tugas dari Dosen yang akan di kumpulkan tugasnya minggu depan.


Sebelum meninggalkan kampusnya Candy bingung harus pulang atau ke Rumah Sakit, kalau ke Rumah Sakit dia belum istirahat dari semalaman, akhirnya Candy menghubungi Ayahnya untuk meminta pendapatnya, yang ada di Rumah Sakit.


Benda pipi yang dimiliki Ayah berdering dan Ayah melihat di layar tertera nama Candy, Ayah menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum, Cantik..." Ayah yang sedang menonton TV di ruangan Rahma.


"Waalaikum salam,Yah... Can..ke situ apa istirahat dulu di rumah?" Candy dengan badan mulai merasakan lelahnya.


"Cantik...di rumah saja dulu istirahat, nanti sudah enakan baru ke sini tapi kalau bisa ajak Rendra ya...Cantik" ucap Ayah masih dengan acara nonton TVnya.


"Ya...Ayah nanti Can..sampaikan ke Mas Rendra bisa atau tidaknya...Can..sayang Ayah...Assalamualaikum " Candy mengakhiri teleponnya tanpa terdengar suara Ayahnya menjawab salam Candy terlebih dahulu.


Dengan mengunakan Ojek online Candy menuju rumah Ayah, yang sepi karena semua penghuninya ada di Rumah Sakit kecuali Candy yang baru sampai, setelah merapikan rumah juga membersihkan diri Candy masuk kedalam kamarnya saat akan memejamkan matanya teringat pesan Ayahnya untuk mengajak Rendra ke Rumah Sakit bersamanya, Candy mengambil kerudung instan yang langsung dipakaiannya tapi tetap dengan merapikan penampilannya sebab Rendra selalu mengharapkan VC setiap ada waktu telpon.


Benda pipi Candy menghubungi nomor Rendra tanpa menunggu beberapa lama benda pipi itu terlihat ada balasan dari nomor yang dihubungi.


«Candy » Assalamualaikum...Mas.


«Rendra »Waalaikum salam,Honey...you ok. Candy baru pertama menghubungi Rendra dan ini membuat Rendra senang tapi juga khawatir, Rendra saat ini masih di ruangan dinas dan bersama timnya.


«Candy » Can...baik cuma menyampaikan pesan Ayah ke Mas.

__ADS_1


«Rendra » Honey Mas ganti VC ...ya.


«Candy» Hmmmm...


«Rendra » Honey apa pesan Ayah untuk Mas.Sudah dalam keadaan VC Rendra melihat Candy dari benda pipinya terlihat lelah tapi masih terlihat imut dengan mata yang masih penuh dengan pesonanya.


«Candy » Maaf Mas sebenarnya Can.. tidak enak sebab ini masih jam kerja, maaf menggangu, Ayah minta mas kalau bisa setelah pulang kerja datang ke Rumah Sakit ada yang mau Ayah omongin katanya.


«Rendra » Siap...Mas bisa, Honey...ada di rumah kan?.


«Candy » Hmmm ya..Mas.menahan kantuknya yang mulai berat di rasakan Candy.


«Rendra »Biar Mas jemput, Honey ke Rumah Sakitnya bareng Mas ok.


«Candy » Hmmmm Mas..Can sudah dulu ya...ngantuk banget.


«Rendra » Istirahatlah...(Benda pipi Candy memperlihatkan Candy yang sudah masuk dalam alam mimpinya tanpa memperdulikan Rendra yang belum menyelesaikan bicaranya, Rendra hanya tersenyum melihat Candy ).


"Tidur lah !!!


Jiwamu butuh istirahat agar dapat beraktifitas, jangan lupa bersyukur untuk segala yang terjadi hari ini" dalam diamnya Rendra.


"Honey....lembut banget Kapt" Panji mengawali, yang dibalas senyuman Rendra.


"Tumben...kangen ya..Kapt" Alpa penasaran sebab Rendra tidak pernah bertelepon ria didepan rekannya.


"Tidak...ada yang penting saja" Rendra hanya menjawab seperlunya saja.


"kok...ga kangen...kapt " Ifan masih ingin Rendra menjelaskan gadisnya.


"Sudah...semalam kangennya " Rendra masih dengan santai menjawabnya.


"Kapten....jadi semalam berduaan gitu" Alpa si bocil terkejut mendengar penjelasan Rendra.


"Iya...tapi di Rumah Sakit dan jangan mikir yang liar ya..." Rendra masih dengan santainya.


"Tapikan...berduaankan "Alpa masih dengan penasaran belum mengerti.

__ADS_1


"Iya...tenang hanya sholat berjamaah aja" Rendra menggelengkan kepalanya.


"Kapt...kenapa cuma sholat doang di Rumah Sakit lagi" Farel dengan gaya mengurui.


"Ya...harusnya di Rumah Sakit masalah gitu" Rendra jawab dengan apa adanya.


"Kapt ga keren kencannya " ucap Panji sambil mengoda.


"Buat kalian kita aneh dan apalah, tapi buat kita ada berdua dalam keadaan apapun sudah menyenangkan "Rendra dengan santai tersenyum.


"Kapt...asli bucin banget..." Ifan mengacungkan jari jempol nya.


"Waktu bagi kita sangat berharga " Rendra masih dengan muka santainya.


"Gaya apa ya...namanya"Fatel dengan muka seperti orang mikir.


"memang ada nama gaya dalam pacaran" Ifan ikutan berkomentar.


"Gaya...dikira kodok kali ya.." Panji menjitak kepala Farel.


"Pasti...diem-diem bae dah" ucap Ifan berlaga tahu apa yang di lakukan Rendra.


"Jangan kebanyakan gaya ya...Kapt " Alpa dengan suara tidak mau kalah.


"kalau kebanyakan gaya nanti cepet punya dede "Rendra mengeluarkan jurus usilnya.


"Parah...kapt kita sudah mulai pasang bendera perang ini mah " Panji dengan menepuk pundak Ifan.


"Siapa musuhnya..."Alpa dengan muka polos nya tidak mengerti.


"Bini...nya...lah.." Ifan mengacak rambut Alpa yang masih polos.


Semua tertawa melihat kepolosan Alpa yang memang paling muda diantara mereka, tapi dia tidak merasa paling muda terkadang suka paling pinter tapi semua suka itu dari diri Alpa sendiri yang tanpa di bikin- bikin, dengan gaya polos dan sok tahunya itu bikin geregetan tapi semua itu di luar tugas dan misi tidak ada kepolosan, semua sesuai koridornya.


"Jadi penasaran seperti apa dede juniornya " Alpa masih dengan nada polosnya.


"Hus....bocil belum bisa dengerin yang gituan" Ifan denga nada seperti menasehati Alpa.

__ADS_1


Alpa hanya tertawa dengan tampang tidak bersalahnya yang bikin semua jadi ngemes- ngetes gimana gitu, mau di habiskan ini anak orang stoknya langkah lagi, ga dihabisin bikin salah fokus mendengar kepolosannya, sebab susah cari yang sama modelnya maklumlah limited edition dari mamanya,masih perlu di lestarikan dan dikembang biakan.


__ADS_2