
"Mengikhlaskan adalah obat terbaik untuk hati yang terluka karena kecewa, akan ada yang datang sebagai penawarnya di waktu yang tepat" Candy.
Kebahagiaan saat ini yang dirasakan Candy berserta segenap keluarga besarnya baik dari dirinya maupun dari keluarga suami tercintanya, penyebab kegembiraan itu adalah Candy telah dapat menyelesaikan sidangnya tapi bukan itu saja dari pihak Rendra mendapatkan kabar baik bahwa Mba Ayu mengandung anak keduanya buah cintanya dengan Mas Rudi, sedangkan dari pihak Candy mendapat kabar baik juga Mas iqbal akan mendapatkan momongan lagi ini merupakan kabar yang sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan karena datangnya bersamaan.
"Hebat...ya bisa berbarengan sih.."ucap Candy yang sedang menyusui Ainun yang mulai memejamkan matanya.
"Alhamdulillah...ya Honey" ucap Rendra duduk disisi Candy membaca buku yang dibawanya dari perpustakaan keluarganya.
"Iya...Mas...keluarga kita akan tambah ramai" ujar Candy menepuk- beluk pantat Ainun dengan lembut.
"Udah...bobo sayangnya Papa" ucap Rendra ke Ainun yang masih ditepuk Candy.
"Mas...pelankan suaranya..." Candy memberi tanda ke Rendra dengan menempelkan jari telunjuk ke bibirnya agar suaranya di pelankan.
"Oh...maaf...Honey..." Rendra menutup mulutnya dengan tangannya.
Setelah dirasakan Ainun sudah tidur pulas Candy bangun dari posisinya yang sehabis menyusui putri cantiknya.
"Honey..." Rendra mendekat ke Candy dan merapikan kancing bajunya yang masih terbuka tampa sungkan.
"Maaf...Honey..." ucap Rendra sopan agar Candy tidak risih diperlakukan seperti ini oleh Rendra.
"Can...yang maaf...lupa...merapikan" ujar Candy merasa malu dipandang penuh arti oleh suaminya.
"Yang jelas...saat ini Mas maafin sebab masih di kamar dan hanya bersama Mas.." ucap Rendra yang membuat malu Candy.
"Honey...bisa ga untuk beberapa bulan ini jangan membuat Mas tergoda" Rendra mengusap lembut pipi Candy dengan rasa sayang.
"Can...ga menggoda loh...Mas" Candy malu dengan berkata lirih hampir tidak terdengar bila saja Rendra sedikit saja agak menjauh.
"Mas...tahu cuma Mas yang jadi tergoda" ujar Rendra sedikit berbisik di telinga Candy.
"Ih...Mas...geli tahu..."Protes Candy dengan suara cukup keras yang membuat Candy spontan menutup mulutnya.
Rendra tertawa kecil tanpa di sadari keduanya ada suara yang datang mengejutkan keduanya yang berasal dari luar kamarnya yang kebetulan pintu kamar Rendra tidak tertutup sepenuhnya.
__ADS_1
"Dra...belum waktunya kamu mendekati istrimu loh..." ucap Mama dari luar kamar yang membuat Rendra mati gaya karena malu ketahuan Mamanya.
"Iya...Ma...ketahuan deh...ah.." ujar Rendra dengan tersenyum malu masih dipandangi Candy yang ikut senyum-senyum melihat suaminya malu.
"Kalah deh...kuping intelijen dengan kuping Mama" ucap Rendra dengan tertawa yang ditahan agar putrinya tidak bangun.
"Kasian...deh...Mas..." ucap Candy mengoda Rendra yang akan menutup pintu kamarnya.
"Tunggu waktunya ya...pembalasan Mas..." goda Rendra yang sudah duduk disisi Candy yang masih tersenyum-senyum.
"Ih...Mas...Can...salah apa" rengek Candy dengan suara liriknya yang hanya terdengar di keduanya.
"Mau tahu apa salahnya..." ucap Rendra mengusap lembut pipi istrinya yang merajuk.
"Iya...lah emang ada orang ga salah harus masuk penjara...harus bela diri dulu dong"ujar Candy dengan memanyunkan mulutnya tanda protes.
"Sini lebih dekat ke Mas..." tangan Rendra merangkul pundak Candy dengan mesra.
Candy hanya pasrah lebih mendekatkan dirinya ke sisi Rendra tanpa mempunyai rasa curiga sedikitpun ke Rendra yang mempunyai maksud terselubung.
"Kaya...ginikan enak..." goda Rendra dengan tangan masih merangkul istrinya.
"Oh...iya...ya...Honey pokoknya bersalah suka mancing-mancing Mas jadi pengen..." rengek Rendra di akhir kata yang diucapkannya.
"Tacian....sini Can...peluk" balas Candy merentangkan tangannya akan memeluk Rendra yang benar menyambut tangan Candy untuk di peluk.
Sebenarnya batin Rendra dibikin bingung tapi rasa senangnya yang tidak dapat di sembunyikan karena mendapat balasan kasih sayang dari Candy yang menurutnya momen ini sangat ditunggu-tunggu sebab Candy bukan seperti perempuan yang seperti pada umumnya, dia cenderung malu dan hanya menerima saja tidak pernah meminta apalagi yang aneh-aneh.
"Mas...maafin Can...harus lebih fokus ke Ainun hingga Mas harus jadi yang di nomor duain" Candy mengusap lembut kepala Rendra yang sekarang sudah tiduran di pangkuan Candy.
"Mas...yang harus tahu diri Honey..."ucap Rendra matanya memandang Candy dengan rasa sayangnya.
"Honey...sudah berkorban meninggalkan karir untuk Mas juga Ainun" Rendra masih memandang Candy masih dalam posisinya.
"Ga...Mas...Can..hanya ingin lebih berguna untuk kelurga, buat apa bermanfaat untuk orang lain tapi keluarga sendiri hancur" Candy menjelaskan maksud dan keinginannya.
__ADS_1
"Terimakasih Honey...."ucap Rendra bangun dari posisi mencium bibir Candy dengan spontan hingga cukup lama dirasa Candy membuat Candy tersedak.
"Ups...maaf...Honey" Rendra menyudahi ciumannya dan mengusap lembut bibir Candy.
Sesaat keduanya saling memandang seakan banyak arti yang tidak harus di ucapkan hanya bahasa kalbu yang mereka rasakan tapi seperti ada chemistry yang ada di keduanya.
"Mas"..."Honey" keduanya berucap bersamaan yang membuat keduanya tertawa bersama.
"Honey...duluan deh" Rendra mempersilahkan Candy terlebih dulu menyampaikan maksudnya.
"Mas...dulu lah..."balas Candy ingin suaminya terlebih dahulu menyampaikan keinginannya maksudnya.
"Mas...persilakan Honey lebih dulu" ujar Rendra mempersilakan Candy.
"Ok...Mas...Can...minta maaf selama ini belum membalas rasa Cinta dan sayang Mas, sebab Can...masih malu sama Mas"ucap Candy menunduk menunjukkan rasa malunya.
"Mas...mau kan bersabar untuk rasa yang Can...punya seiring waktu yang terus berputar" ungkapan perasaan Candy dapat terucap dari mulut mungilnya.
"Honey...Mas tidak memaksa untuk hal itu karena rasa tidak bisa dipaksakan, tapi Mas yakin Honey punya rasa untuk Mas walaupun saat ini masih merangkai untuk menjadi untaian yang akan indah pada waktunya...Honey sudah mau menerima Mas menjadi pendamping saja sudah merupakan ungkapan rasa yang ada di diri Honey..." ucap Rendra memeluk tubuh mungil Candy dengan sejuta rasa senang, Candy sudah mau membuka diri untuk membalas cintanya tapi dengan bahasa tubuhnya sendiri dan hanya Rendra yang bisa mengetahuinya.
"Mas...sendiri mau menyampaikan apa ke Can.." tanya Candy ke Rendra yang sudah melepaskan pelukannya.
"Honey...mau kan ikut Mas...beberapa bulan atau tepatnya setahun atau lebih ke luar negeri" ucap Rendra dengan berharap Candy mau ikut serta mendampinginya di negeri orang.
"Mas...Can...akan ikut kemana Mas...melangkah selama Mas minta, tapi Mas untuk keperluan apa"tanya Candy dengan mengusap lembut tangan Rendra menyakinkan suaminya bahwa dirinya ada untuk suami tercintanya.
"Terimakasih Honey...Mas harus melanjutkan studi yang dipersiapkan oleh kedinasan ke luar negeri mungkin lebih tepatnya di boston, amerika" ujar Rendra menjelaskan ke istrinya.
"Sebenarnya Mas...dengan berat hati meninggalkan kawan dinas Mas yang saat ini lagi butuh Mas apalagi ada persoalan yang sifatnya personal " Rendra mengusap kasar mukanya yang Candy tahu Rendra gelisah.
"Kalau Can...bisa bantu akan dengan senang hati Mas" Candy mengusap punggung tangan Rendra dengan lembut ingin menenangkan.
"Benarkan...Honey..."dengan tersenyum Rendra seperti tidak percaya respon dari istrinya di luar dari dugaannya, dan ini merupakan support dari istrinya yang diharapkannya.
Rendra akhirnya menceritakan kasus yang sekarang sedang menimpa Farel karena ulahnya yang harus dicarikan jalan keluarnya sebab akan berdampak juga ke dalam kedinasan semua kawan satu tim Rendra.
__ADS_1
Candy menyimak semua apa yang Rendra sampaikan dengan detail, dan siap membantu menyelesaikan masalah yang melimpah Farel dengan bantuan dirinya.
Rendra pun berterimakasih kepada Candy dan dengan rendah hati Rendra mengakui bahwa dibalik keberhasilan suami yang hebat ada sosok yang lebih hebat di belakangnya siapa lagi kalau bukan seorang istri yang hebat yang selalu mensupport baik dari tindakan langsung dan ada yang lebih penting lagi do'a tulus untuk kemudahan di setiap langkahnya.