Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
111


__ADS_3

"Serasa hancur duniaku bila senyum darimu hilang, sebab senyummu bagaikan mentari yang selalu menyinari bumi" Rendra.


Selesai makan malam Rendra berbincang ringan dengan Papanya di depan taman milik Mamanya, ditemani pemandangan lampu taman dan wangi bunga yang mulai bermekaran seperti bunga sedap malam, melati, mawar juga bunga kenanga.


"Dra..apa ga sebaiknya kamu ambil cuti buat istrimu senang...ajak liburan kemana gitu" ucap Papa yang terdengar benar juga menurut Rendra.


"Benar...juga ya...Pa..." ucap Rendra dengan terlihat senang menerima usulan Papanya.


"Kali...aja bisa nambah cucu..." goda Papa ke Rendra dengan tawa jailnya ke Rendra.


"Kebiasaan deh...Papa...tetep aja...ujung-ujung penerus harus di tambah.." balas Rendra dengan ga mau kalah sama Papanya.


"Memang...Papa...salah..." balas lagi Papa ke Rendra yang masih senyum-senyum.


"Ga...salah...tapi ga harus di momen liburan juga...itu mah...bisa kali Pa..." ujar Rendra yang tanpa sungkan membahas produksi bocil.


"Bukannya Mas-Mas Candy juga sudah nambah anak" ujar Papa dengan tertawa kecil ke Rendra.


"Iya...Pa...dra..bicarain dulu ke Honey " ucap Rendra yang tidak ingin memaksakan ke Candy.


"Can...akan sama kayak Papa percaya...deh.." ujar Papa yang sepertinya yakin akan ucapannya.


"Paling bisa deh...kalau ngebahas cucu..." ujar Rendra dengan tawa yang ga kalah sama Papanya.


"Buat apa Papa banyak usaha kalau bukan buat anak cucu" ucap Papa dengan terdengar serius di telinga Rendra.


"Rendra tahu itu...Pa..." ucap Rendra yang tahu bisnis Papanya.


"Makanya...banyakin anakmu...biar banyak yang jadi penerus Papa" ujar Papa yang masih ingin Rendra meneruskan bisnisnya.


"Honey...bukan pabrik...Pa...yang sekali produksi semau kita" ucap Rendra dengan tertawa mengingat kelinci yang banyak anaknya.


"Kamu...dra...kalau ngomongin Candy ga mau kalah..." ujar Papa yang tahu banget anaknya bucin tingkat dewa.


Rendra hanya tersenyum datar memang benar apa yang di ucapannya Papanya, Ainun menghampiri keduanya dan duduk manis dipangkuan Kakeknya.


"Sayang...kalau...Mama sama Papa mau keluar kota sama Kakek ga apa-apa ya..." ucap Papanya Rendra ke Ainun dengan mengusap punggungnya.


"Memang Ainun ga boleh ikut ya...Kek" ucap Ainun yang terlihat sedih ke Papanya.

__ADS_1


"Siapa bilang ga boleh...ikut.." ujar Rendra yang ingin selalu bersama orang yang di cintanya.


"Asyik...Ainun boleh ikut...Pa...ajak Mba Nis boleh?"ucap Ainun yang sangat dekat dengan anak gadis Mas Dimas.


"Ya...nanti kita bicarakan dulu dengan Mama yang sayang" ucap Rendra dengan senyum yang menghangatkan anak semata wayangnya.


Ainun berlari menghampiri Candy untuk bertanya rencana liburannya, Papa Rendra yang tidak sepaham dengan Rendra langsung menegur Rendra.


"Gimana sih...kamu..dra bukannya ingin liburan berdua...ini mah sama aja bohong..." ucap Papa yang sedikit kecewa karena rencananya tidak sesuai harapan.


"Pa...kalau kita berdua aja...Honey ga akan pernah mau dia pasti mengkhawatirkan keadaan anaknya" ujar Rendra menjelaskan ke Papanya fakta yang sebenarnya.


"Papa...tahu itu dra...apa Papa ajak Ainun ke luar negeri aja bareng Mama ya..biar kalian bisa berduaan" ucap Papa yang masih ingin Rendra bisa berduaan dengan Candy.


"Honey ga bakal kasih ijin begitu juga Ainun ga akan mau pisah sama mamanya..." ucap Rendra menjelaskan lebih jelas lagi seperti apa kedekatan Ainun dan Mamanya.


"Papa kasih yang terbaik aja..deh.." ucap Papa dengan bangkit dari tempat duduknya yang sudah merasakan kantuk.


"Dra...Papa tinggal ya...sudah ga kuat ngantuk nih..." ucap Papa dengan menutup mulutnya karena menguap.


"Ya...istirahatlah..." ucap Rendra yang juga masuk ke dalam untuk memeriksa beberapa berkas tugasnya juga beberapa laporan bisnis yang di milikinya.


Malam semakin larut Rendra masih saja memeriksa beberapa laporan yang di diperiksanya.


"Sedikit lagi Honey..." ujar Rendra yang masih saja memeriksa laporan tanpa melihat Candy.


"Enak ya..jadi kertas...bisa di pandengin lama-lama...di pengang lama juga, dan di bolak di balik lagi"ucap Candy yang duduk di ujung tempat tidurnya dengan tangan mengusapkan pelembab ditangan dan kakinya.


"Bukannya enak juga jadi pelembab...nempel terus di kulit" ucap Rendra yang sudah bersandar manja di bahu Candy dan tercium aroma pelembab milik Candy.


"Ih...Mas...ini acaranya ngebales nih..."ucap Candy dengan jari telunjuk mencolek hidung Rendra yang mancung.


"Sapa bilang mau ngebalas...bukannya Honey yang cemburu sama kertas dan setumpuk laporan Mas..."goda Rendra ke Candy yang masih ingin Candy tersenyum.


"Ih...siapa yang cemburu...sama kertas juga setumpuk laporan Mas...ih" Candy berlari untuk menghindar dari Rendra yang ingin Candy tersenyum, Rendra mengeja dan saat tubuh mungil itu dapat di raihnya tanpa penolakan Candy dipeluk dari belakang dan membuat keduanya tertawa hingga suara salah satu asisten Mama menghentikan tawa keduanya.


"Ehm...ehm..." suara itu melewati depan pintu kamar Rendra.


"Mas...tuh...udah malam nanti ada yang marah...loh" ujar Candy yang masih senyum-senyum karena malu.

__ADS_1


"Kebiasaan...ada aja...ga bisa apa liat orang seneng dikit..." gumam Rendra dengan berniat keluar kamarnya untuk memastikan siapa yang lewat tadi.


"Udah...Mas...mau kemana sih...istirahatlah" ucap Candy yang masih terlihat senang melihat Rendra marah karena ulah seseorang.


"Ada yang seneng nih..." ucap Rendra mengoda Candy lagi, karena lepas dari pelukan Rendra.


"Udah Mas nanti ada yang datang lagi bikin Mas tambah esmosi...salah ya...es...apa ya" ujar Candy yang masih bingung menyebutkan nama.


"Yang benar...es...campur...cinta...Honey " ucap Rendra yang makin ingin membuat Candy senang bersamanya.


"Honey kapan ya...kita jalan..berdua mengingat momen bersama seperti dulu kita baru ketemu..."ucap Rendra yang duduk bersimpuh di lantai sedangkan Candy duduk di ujung tempat tidur.


"Kapan pun bisa Mas...tinggal Mas atur waktunya saja...sebab semua momen bersama Mas...sangat berkesan dan penuh makna buat Can..." ucap Candy dengan mata menunduk menatap mata Rendra yang menurut Rendra ini tidak biasa.


"Honey...kalau Mas bisa tulis ulang perjalanan hidup Mas...akan Mas tulis yang ada bersama Honey...sebab...semua penuh cerita dan semangat untuk tetap menatap kedepan, Honey...sangat berarti buat Mas..selama, selama..lamanya....Honey milik...Mas" ucap Rendra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas...jangan sedih..." ucap Candy yang memeluk Rendra yang membalas pelukan Candy.


"Mas...ga sedih...Mas...senang..Honey hadir di kehidupan Mas" ucap Rendra yang makin erat memeluk Candy.


"Mas...Can...ga sesempurna itu..." ucap Candy dalam pelukan Rendra.


"Ga...ada yang sempurna Honey tapi, Honey...melengkapi kehidupan Mas jadi berwarna" ucap Rendra yang masih juga memeluk Candy.


"Mas...bisa mendapatkan yang lebih dari Can...Mas yang terlalu sempurna buat Can..."ucap Candy yang sudah bersandar di dada bidang Rendra.


"Mas ga butuh Honey...yang lain Mas hanya mau Honey yang Candy Nur Aini Ahmad Hidayat" ucap Rendra yang terdengar sangat serius oleh Candy.


"Mas...Can..tahu Mas sangat sayang sama Can...tapi..." belum sempat Candy melanjutkan ucapannya Rendra sudah menutup mulut Candy dengan bibirnya.


Rendra seakan tahu Candy akan merendahkan dirinya, Rendra tidak ingin Candy yang selalu menilai diri tidak punya nilai lebih tapi berbeda di mata Rendra, Candy sangat sempurna untuk menutupi kekurangannya.


Candy hampir sesak karena ciuman Rendra, tapi Rendra sengaja memancing Candy dengan cara apa yang akan Candy lakukan, benar saja Candy yang sangat mengerti dirinya hanya mengusap lembut pipi Rendra dengan perlakuan itu Rendra menyudahi ciumannya dan merasa bersalah.


"Maaf..." itu kata yang sudah tidak asing terdengar di telinga Candy yang tahu Rendra sangat menyayanginya.


"Mas..." ucap Candy yang terdengar manja di telinga Rendra.


"Tidurlah...Mas...akan membersihkan diri" ucap Rendra mengusap lembut pipi Candy dan menutup tubuh Candy dengan selimut.

__ADS_1


Seandainya Candy itu kertas kosong Rendra ingin melukiskan gambar yang sesuai dengan suasana hatinya yang senang akan kehadirannya dalam kehidupannya.


Bila kertas kosong itu harus di tulis, maka kata-kata pujian yang akan menghiasi tiap baris tulisan itu, sebegitu mengaguminya Rendra kepada sosok Pemilik mata indah itu.


__ADS_2