
..."Banyak alasan yang tidak dapat ku ungkapkan kenapa aku mencintai mu karena dirimu inspirasi dalam hidupku" Candy....
Pagi menjelang siang ini Andika baru saja pulang dari ladang membawa beberapa hasil kebun yang di taman abi.
Kehidupan ditempat ini sangat bersahaja semua dihasilkan dari hasil menanam sendiri dari padi, tanaman sayur juga buah semua dapat di nikmati bersama anak-anak santri.
Setelah membersihkan diri Andika mencari orang tersayangnya yang asyik mendengarkan anak santri putri yang saling berbagi cerita, hingga dia lupa akan statusnya sebagai istri, memang Nasyauqi kalau berkunjung suka sekali bergabung bersama anak putri.
Andika yang melihat dari jauh hanya tersenyum dan membiarkan istrinya berkumpul bersama anak santri putri, menurut Andika kapan lagi dia menikmati momen seperti ini sebab bila kembali ke dunianya dia akan disibukkan dengan aktifitas yang terkadang lupa akan istirahatnya.
Sebenarnya sore nanti Andika akan mengajaknya ke suatu tempat yang akan selalu dikenangnya sebab menurutnya pasti Nasyauqi belum pernah melakukan kegiatan yang satu ini di sebabkan aturan keluarga pastinya.
Sekembalinya dari tempat santri putri Nasyauqi masuk kedalam kamar Andika, yang terlihat tas ransel besar yang biasa di gunakan untuk anak naik gunung.
"Selepas Ashar nanti kita jalan..yuk..ruhi.." ajak Andika yang mengejutkan Nasyauqi.
"Kita..mau kemana.." tanya Nasyauqi ingin tahu pada Andika.
"Pokoknya..ruhi senang yang pasti belum pernah kesana..pastinya.." ujar Andika yang membuat Nasyauqi bingung.
Ajakan Andika itu bukan bualan ternyata benar Nasyauqi diajaknya ke salah satu tempat yang banyak dikunjungi kaula muda terutama yang mempunyai hobi naik gunung, ya..benar kini keduanya sudah berada di perjalanan mendaki gunung.
Nasyauqi yang tidak biasa berjalan jauh sesekali meminta Andika untuk beristirahat dan Andika tanpa sungkan sesekali menggendongnya membuat para pendaki dibikin iri, terutama yang berpasangan.
Tidak sampai malam keduanya sudah berada di puncak dan Andika mendirikan tenda yang membuat Nasyauqi senang melihat pemandangan dari atas gunung yang menurutnya begitu indah apalagi ini untuk yang pertama kalinya.
"Ruhi..senang.." tanya Andika yang melihat Nasyauqi membersihkan bunga rumput yang melekat di bajunya.
"Iya..mas..aku..suka.." balasnya dengan mata tidak melihat lawan bicaranya.
Pemandangan dari atas memang terlihat indah apalagi langit malam semakin gelap dan nampak bintang yang jauh berkedip begitu juga udara dingin makin terasa menusuk tulang.
Tapi bagi Andika yang sudah terbiasa, biasa saja hanya Nasyauqi terlihat kedinginan walaupun sudah mengunakan baju jaket tebal yang Andika bawakan.
Andika tampak menikmati malam dengan melihat langit malam, keduanya tidak hanya berdua tidak jauh dari tenda keduanya ada beberapa pendaki juga yang sama mendirikan tenda.
Andika membuatkan susu hangat dan beberapa cemilan untuk Nasyauqi yang berada didalam tenda untuk mengurangi rasa dinginnya.
"Ruhi..minumlah.." Andika memberikan susu hangat.
"Ruhi..mas ga bisa memberikan kemewahan..maafkan mas..ya.." Andika memeluk dari belakang Nasyauqi yang duduk depannya.
"Mas..kita tidak memungkiri, kita butuh juga hidup layak tapi kita akan bersama-sama untuk memenuhi itu..mas boleh lihat aku yang menurut mas serba berkecukupan tapi papa tidak mendidik seperti itu kami di didik jadi pribadi yang sederhana jadi mas jangan pernah berpikir yang seperti mas bilang.." pinta Nasyauqi pada Andika.
"Terimakasih sudah menerima mas dengan segala kekurangannya.." ucap Andika menempelkan dagunya dipundak Nasyauqi.
"Sama-sama mas..aku juga banyak kekurangannya..mas belum tahu aja.." ujar Nasyauqi.
"Bukannya banyak..kelebihannya yang mas tahu.." goda Andika yang tidak disadari oleh Nasyauqi.
"Kelebihan dimananya..sih mas.." Nasyauqi bingung.
"Masih belum nyadar ya.." goda Andika yang masih membuat Nasyauqi berpikir.
__ADS_1
"Dimana..ya..mas.." ucap polos Nasyauqi.
"Di sini...manisnya..nih.." Andika mencium bibir Nasyauqi untuk pertama kalinya yang keduanya langsung menyudahi dan malu.
"Maaf.." ucap Andika pelan.
Nasyauqi menyembunyikan mukanya di dada Andika yang keduanya tertawa tapi saling malu.
Malam mulai menjelang pagi Andika yang sudah menyelesaikan sholat malamnya membangunkan Nasyauqi untuk melihat matahari yang mulai menampakkan sedikit pesona mulai terlihat fajar.
Nasyauqi yang masih mengantuk keluar dari tenda ternyata alam sudah lebih dulu terbangun dari dirinya, dengan malu Nasyauqi memeluk satu tangan Andika.
"Indah..kan.." seru Andika yang masih dipeluk Nasyauqi.
Nasyauqi hanya mengangguk pelan dan masih memeluk satu tangan Andika dengan mata masih memandang pemandangan di depannya yang baru pertama kalinya dilihatnya..
Selepas sholat subuh pemandangan makin indah tapi hawa dingin masih menusuk kedalam tulang walaupun sinar mentari sudah mulai tampak sedikit menghangatkan.
Dengan lembut Andika memeluk Nasyauqi untuk menghangatkan, tidak hanya mentari yang nampak cantik orang yang disebelah Andika juga terlihat makin cantik tanpa polesan itu yang Andika suka.
"Masih..mau mas ajak kesini lagi.." tanya Andika dengan mengusap pipi Nasyauqi yang merah karena kedinginan.
"Mau..mau..kapan.." Nasyauqi senang dan begitu bersemangat.
"Kapan..kapan kalau mas libur..dan belum ada junior.." jawab Andika dengan menggoda.
"Iya..lah..nanti akan ada junior di sini.." Andika mengusap perut Nasyauqi.
"Ih..nanti dulu..kita pacaran dulu..aja..kayak papa mama juga dulu..sudah nikah baru pacaran.." pinta Nasyauqi manja menatap wajah Andika.
"Ok..ikut aja..apa maunya..tuan putri..tapi kalau langsung ada gimana.." goda Andika lagi yang membuat Nasyauqi mencubit pinggang Andika.
"Aw..ya..mas tahan dulu deh...mau sampai kapan siapnya.." Andika menggoda Nasyauqi.
"Ga..gitu juga kali.." ujar Nasyauqi yang mulai merasa bersalah.
"Terus harus gimana..dong enaknya.." goda Andika dengan menangkup muka Nasyauqi yang terlihat imut.
"Tahu..ah.." Nasyauqi malu.
Andika tertawa melihat Nasyauqi yang makin memerah karena malu digoda Andika, keduanya sudah mulai bersiap untuk turun dari puncak dengan beberapa orang yang bersama-sama untuk turun.
Andika dan Nasyauqi berjalan dengan melewati perkebunan sayur dan petani yang baru datang maupun yang akan pulang dari kebun.
Udara pagi begitu segar pantas saja masyarakat disini sehat udara yang belum tercemar aktivitas pagi yang mereka lakukan dengan bermandikan sinar matahari pagi yang kaya akan manfaat.
"Cape.." tanya Andika melihat Nasyauqi yang terlihat lelah.
"Kaki..nya cape.." rengek Nasyauqi pada Andika, Andika memindahkan tas ransel kedepan dan Nasyauqi di mintanya naik ke punggungnya.
Nasyauqi menolaknya dengan alasan malu karena suasana sudah ramai orang lalu lalang, akhirnya Andika memijat kaki Nasyauqi sekalian beristirahat di kedai yang menjual susu segar dan keduanya memesan susu hangat stroberi yang begitu mengiurkan.
Tidak beberapa lama keduanya sudah berada di jalan menuju kediaman keluarga Andika tepatnya pondok pesantren.
__ADS_1
Uma menyambut dengan senang kepulangan keduanya, tapi juga sedikit khawatir sebab Nasyauqi terlihat sangat lelah.
"Mas..mas..kenapa..sih harus naik gunung kasihan tuh..Nasya jadi kecapean.." uma sedikit menegur Andika.
Selepas membersihkan Nasyauqi inginya keluar kamar tapi tubuhnya terasa lelah sekali maklum saja anak sultan biasa naik turun mobil mewah ini naik turun gunung yang butuh tenaga dan bermandikan keringat.
"Kasihan..istri cantik..ku.." sapa Andika pada Nasyauqi yang masih malas-malasan di kasur.
"Maafin Nasya..ya..mas.." ucapnya menyadarkan kepala di bahu Andika yang duduk di ujung tempat tidur.
"Ga..ada yang salah kenapa harus minta maaf.." balas Andika yang mengusap kepala Nasyauqi yang masih tertutup hijab.
Andika memangku kepala Nasyauqi diusapnya dengan lembut hingga membuat hijabnya tidak lagi membuat nyaman Nasyauqi, saat Nasyauqi hendak merapikan hijabnya ikat rambutnya terlepas dan terlihat rambut panjang Nasyauqi yang ternyata sangat panjang hitam dan lebat.
"Ruhi..indahnya rambutmu.." Andika berlahan membuka hijab Nasyauqi yang terlebih dulu meminta ijin Nasyauqi dan memperbolehkannya.
"Subkhanaallah ..ruhi.." Andika dibikin terpesona bukan saja indah rambut Nasyauqi tapi juga cantiknya wajah Nasyauqi.
"Apaan..sih mas.." Nasyauqi sembunyi dibalik punggung Andika karena malu di puji.
Andika baru pertama kali melihat kecantikan wanita yang selama ini di kaguminya, ingin rasanya Andika menyembunyikan kecantikan istrinya dari mata yang akan membuatnya berpikir jahat padanya.
Malam semakin larut tapi keduanya belum tertidur masih saling bercerita dari hal paling santai sampai yang paling serius, padahal besok pagi Andika harus menggantikan abi untuk mengisi ceramah di pernikahan salah satu donatur pondok yang menikahkan anaknya yang tempatnya tidak jauh dari pondok dan Nasyauqi dimintanya untuk ikut serta.
Sebelum Azdan subuh Andika sudah berada di masjid Nasyauqi sendiri belum terbangun dengan badan yang demam tanpa sepengetahuan Andika.
Selepas dari masjid Andika melihat umat yang sibuk di dapur tanpa di temani Nasyauqi, yang membuat Andika curiga.
"Mas..isterimu..mana.." uma bertanya yang menurutnya Nasyauqi ikut serta ke masjid.
"Ada..uma.." balas Andika yang langsung melihat kedalam kamar, dilihatnya Nasyauqi masih dalam tidurnya tapi terlihat pucat.
"Ruhi.." panggil Andika lembut tapi begitu tangannya menyentuh pipinya terasa panas yang Andika rasakan.
"Ruhi.." panggilnya lagi dan Nasyauqi terbangun dan hanya berucap lemah.
"Mas..perut..ku sakit.." ucapnya yang membuat Andika cemas dan langsung menemui umanya.
Uma masuk dan bertanya dan Nasyauqi berucap dia datang bulan ditambah kelelahan jadi demam, dan uma berlari ke dapur membuatkan ramuan tradisional berupa air jahe dan kunyit sebagai pereda rasa sakit saat datang bulan yang membuat Andika banyak bertanya.
"Kenapa..ruhi uma..kenapa.." tanya Andika cemas.
"Biasa..mas..namanya juga perempuan ya..pasti kedatangan bulan.." uma menjelaskan yang sedikit dimengerti Andika.
"Berikan ini..sudah uma tambahkan madu..ga pahit ko..minum selagi hangat.." uma menjelaskan dengan memberikan gelas berisi ramuan tradisional.
"Minumlah..kata uma ga pahit..ko.." Nasyauqi yang seorang dokter tahu itu tapi ini baru pertama kalinya buat dirinya.
Nasyauqi demi menghormati uma diminumnya hingga habis padahal ini tidak biasa baginya tapi Nasyauqi melihat usaha uma ingin dirinya baik-baik saja.
"Pahit.." tanya Andika dengan serius.
"Ga..setelah lihat mas..." balas Nasyauqi yang membuat Andika mencium pipi Nasyauqi gemas ternyata bisa ngegombal.
Dan alhamdulillah kondisi Nasyauqi sedikit membaik tapi uma melarangnya ikut ke acara yang akan Andika hadiri jadi terpaksa Nasyauqi menghabiskan waktu dikamar dengan memberikan kabar pada keluarga bahwa dirinya baik-baik saja.
Yang Nasyauqi rasakan saat kebersamaan dengan orang yang sangat menyayanginya dengan tulus itu yang kini Nasyauqi di pondok yang jauh dari rutinitas yang terasa membosankan.
__ADS_1