
"Dear seseorang ada rindu yang kutitipkan lewat do'a dalam setiap sujud dan ku berharap kau jaga hatimu untuk ku hingga disatukan dalam waktu yang telah tuhan tetapkan" Candy.
Seperti biasa rutinitas kantor dengan setumpuk laporan yang harus di selesaikan agar tidak diomelin atasan begitu juga dengan Nisrina yang masih fokus dengan benda pipi yang berlayar lebar diatas mejanya, hingga melewatkan jam makan siangnya.
Sekretaris orang kepercayaan Indra yang mengetahui hal itu membawakan makanan sesuai perintah atasannya, Nisrina merasa tidak enak sebenarnya dia membawa bekal hanya saja kerjaan yang dia kerjakan menanggung menurutnya.
"Sudah Nis..dimakan saja.." pinta sekretaris orang kepercayaan Indra.
"Terimakasih bu..saya bawa bekal..buat ibu saja.." Nisrina balas meminta.
"Ini dibeli buat kamu loh Nis.." sekretaris itu menjelaskan lagi.
"Iya..bu Nis tahu tapi saya bawa bekal terus siapa yang makan.." Nisrina menjelaskan tapi tidak diduga seseorang menjawab pertanyaan Nisrina.
"Saya yang makan.." jawabnya tanpa permisi masuk ke ruangan Nisrina.
"Eh..mas..Indra.." ujar sekretaris malu dan meninggalkan keduanya.
"Makan..lah ini sudah lewat jam makan siang mu" pinta Indra dengan sopan.
"Terus..ini.." Nisrina membuka kotak makanan bekal makan siang yang dibawanya.
"Biar mas yang makan..sini" pinta Indra yang mengambil kotak makan dan duduk berhadapan dengan Nisrina.
Keduanya menikmati makan siang bersama, tidak ada obrolan selama keduanya menikmati makanan yang keduanya makan hingga selesai, Nisrina yang lebih dulu mengambilkan air minum untuk Indra, yang membuat Indra semakin mengaguminya.
"Terimakasih..untuk minumnya dan makan siang yang sangat enak menurut seleraku" ucap Indra dengan menutup kotak makan milik Nisrina.
"Sama-sama mas..tumben mas ada disini.." tanya Nisrina dengan memasukan kotak makannya.
"Ya..ada keperluan saja..kebetulan yang punya kantor teman mas.." Indra kembali berpura-pura.
"Oh..Nis belum pernah ketemu..selama Nis magang disini..mungkin lebih baik seperti itu..ga penting juga buat Nis.." ujarnya dengan tangan akan membuka kembali benda pipi berlayar lebar di meja kerjanya.
"Mau..mas..kenalin.." ujar Indra menggoda Nisrina dengan tersenyum menggoda.
"Untuk apa..ga penting juga kali..mas.." ujar Nisrina santai dengan jari tangannya bermain lincah menekan tiap huruf di benda pipi itu.
"Oh..gitu..ya..Kirain mau kenal gitu..maklum dia orang sibuk.." Indra asal ngomong.
"Sudah..lah mas..ga penting..kapan kembali ke amerika " tanya Nisrina seperlunya.
"Kepengennya secepatnya tapi..ada yang bikin berat meninggalkannya.." Indra mencuri pandang ke Nisrina.
"Gitu..ya..kenapa ga dibawa aja.." jawabnya polos asal tanpa tahu siapa yang dimaksud Indra.
"Andaikan semudah yang Nis bilang mas..akan bawa" jawab Indra dengan menuduk.
Nisrina yang melihat ekspresi Indra yang berubah membuat dirinya tidak enak hati hingga merasa bersalah.
"Maaf..mas bila Nis salah ucap.." Nisrina memandang Indra yang hanya tersenyum.
"Ga..ada yang harus dimaafkan..Nis..ga salah ko..kenapa minta..maaf.." balas Indra yang mengaktifkan benda pipinya ada panggilan masuk.
__ADS_1
Sesaat Indra berbicara dengan seseorang yang Nisrina tidak ingin mencuri dengar dengan apa yang dibicarakan menurutnya tidak penting buat dirinya.
Setelah non aktifkan benda pipi miliknya Indra terdiam seperti memikirkan sesuatu yang terlihat gelisah juga bingung.
"Maaf..Nis..boleh mas..minta tolong.." pinta Indra dengan ragu berucap.
"Selama Nis bisa bantu..akan Nis bantu.." jawab Nisrina santai dengan tetap fokus ke benda pipinya.
"Nanti sepulang kerja..bisa temani mas..menghadiri launching produk baru teman mas.." sedikit ragu Indra meminta.
"Nis..bisa bantu tapi ga tahu ayah ijinin atau tidak.." ucap Nisrina yang selalu meminta persetujuan orang tuanya.
"Ok..mas..akan meminta ijin ke ayah..bisa mas hubunginya sekarang" Indra tanpa takut menunjukkan sikap laki-laki yang bertanggungjawab.
"Bisa..biar Nis yang hubungi.." tangan Nisrina menghubungi nomor ayahnya.
★★ "Assalamualaikum..sayang.." ucap ayah Nisrina dengan lembut terdengar.
★★ "Waalaikum salam..maaf om..saya Indra mohon ijin ingin meminta Nisrina menemani saya untuk menghadiri suatu acara..apa di ijinkan.." bukan takut hanya takut tidak diberikan ijin oleh ayah Nisrina.
★★ "Eh..nak Indra..boleh tapi jangan sampai malam ya..nak" ayah Nisrina rasanya tidak enak bila tidak memberikan ijin sebab, Indra keponakan dari Rendra.
★★ "Siap..terimakasih..om" ucap Indra sopan dan tidak berapa lama benda pipi itu sudah tidak bersuara.
Indra terlihat begitu senang sebab ini pertama kalinya dirinya bisa jalan berdua dengan Nisrina, berbeda dengan Nisrina yang terkesan biasa saja.
"Nis..terimakasih sudah mau menemani mas.." ucap Indra dengan senyum senang.
"Sama-sama..mas.." balas Nisrina tanpa memandang ke Indra.
Waktu bergulir begitu lama yang Indra rasakan tapi tidak dengan Nisrina yang masih sibuk memindahkan beberapa berkas kedalam benda pipinya dengan jari-jari yang menari dengan lincah hingga tanpa jedah.
Indra seakan tidak sabar menantikan momen untuk mengenal Nisrina secara langsung hingga tiap beberapa menit melihat jam kepulangan karyawannya.
Di depan lobby Indra seperti orang yang tidak sabar dengan berjalan kemudian duduk kembali itu dilakukan berulang-ulang hingga membuat karyawan yang menjadi represionis penasaran apa yang membuat Indra seperti itu.
Yang dinanti akhirnya datang, pembawaannya yang tenang dan senyum ramah membalas sapaan siapa saja yang menyapanya membuat rasa semakin yakin dalam hati Indra untuk memilikinya.
"Siap..Nis.." singkat Indra berkata tapi membuat Nisrina hanya membalas dengan anggukkan kepala.
Ternyata sosok ini yang membuat Indra bertingkah tidak jelas pikir represionis, pantas saja dia sosok yang sempurna jangankan laki-laki perempuan juga suka akan sosok ini.
"Oh..ya..mas..motor Nis gimana.." sebelum jauh meninggalkan pintu lobby.
"Biar..disini saja.." jawab Indra dengan langkah yang sama dengan Nisrina.
"Terus besok..Nis.." Nisrina seperti berpikir.
"Mas..jemput..mas masih ada yang diurus di sini.." balas Indra yang masih saja menutupi jati dirinya.
Nisrina yang mengerti hanya diam mengikuti Indra dari belakang hingga suara klakson mengejutkan dirinya.
"Ayo..masuk.." pinta Indra yang sudah dalam mobil mewah khas anak cowok.
__ADS_1
Indra membukakan pintu mobil miliknya, dan hanya ucapan singkat dari bibir Nisrina.
"Terimakasih.." Nisrina sedikit memberikan jarak dirinya dengan Indra, Indra faham akan hal itu tapi buatnya tidak masalah sudah ada di dekatnya saja sudah suatu anugrah buatnya.
"Nanti kita mampir ke butik dulu ya..sebelum ke tempat undangan.." pinta Indra yang masih memegang kemudi dan kebetulan jalanan cukup ramai sore ini.
"Nis..ikut aja..mas.." ucapnya cuek yang membuat Indra sedikit terkejut " kenapa ga ada nolaknya sih ini..anak" gumamnya dalam hati.
"kenapa..mas..jangan-jangan mas mikir kenapa Nis ga nolak ya..kalau iya..ini alasan Nis..sebab mas yang ngajak jadi yang diajak harus ikut sama yang ngajak ga lebih..ya.." Nisrina menjelaskan yang membuat Indra mati gaya sebab sudah mikir Nisrina sudah ada sedikit rasa ke dirinya.
Sepanjang perjalanan Nisrinan lebih sibuk memainkan benda pipinya dari pada orang yang disampingnya yang menurutnya benda pipinya lebih menarik, sesekali tersenyum dengan benda pipinya, hingga mengundang Indra ingin menggodanya.
"Mau..deh rasanya jadi benda pipi yang Nis penggang" ujar Indra tanpa ingin ada balasan dari Nisrina.
"Ga..lucu mas.." balas Nisrina singkat tapi membuat Indra senang.
"Nis..memang ga lucu tapi ngemesin.." balas Indra dengan serius berucap.
"Apaan..sih..mas..jangan yang aneh-aneh ya..mas..Nis bakal batalin temani mas..nih.." ancam Nisrina yang membuat Indra sedikit takut.
"Maaf..maaf mas ga bermaksud apa-apa hanya mengatakan yang sebenarnya kok.." Indra sedikit malu mengatakan yang sebenarnya.
Keduanya terdiam hingga mobil berhenti di butik mewah yang Nisrina sedikit bingung sebab Indra meminta memilih salah satu pakaian yang sesuai acara dan sesuai pilihan Nisrina sendiri yang lebih tahu soal gaun yang jelas Indra hanya meminta pada pemilik butik tidak yang terbuka sebab Nisrina berhijab.
Pilihan Nisrina ternyata sesuai juga dengan selera Indra, memang Nisrina mengenakan apa saja sudah pasti cantik tapi ini bedah yang Indra lihat semakin anggun saja dimata Indra dengan gaun yang dikenakan saat ini.
"Cantik.." ucap Indra singkat di dekat Nisrina.
"Mas.." Nisrina seakan ga ingin di puji oleh Indra yang tersenyum.
"Bener..kok mas ga bohong.." ujar Indra yang ingin menyakinkan Nisrina.
"Nis..mas sholat dulu ya.." pinta Indra sebelum melanjutkan perjalan selepas keluar dari butik.
"Ya..mas..Nis juga biar tenang..takut acaranya lama.." balas Nisrina yang selalu membawa mukena dalam tasnya.
Keduanya berhenti disebuah masjid yang kebetulan belum memulai melaksanakan sholat berjama'ah.
Tidak beberapa lama keduanya sudah berada di parkiran masjid, terlihat beberapa orang meninggalkan masjid untuk pulang kerumah masing-masing terkecuali yang masih ingin melanjutkan tadarus atau berbincang santai di luar masjid.
Keduanya sudah dalam perjalanan ke tempat undangan seperti biasa tidak ada obrolan dari keduanya hanya bincang singkat seperlunya saja dari mulut keduanya.
Saat ini keduanya sudah mengisi daftar tamu dengan menunjukkan undang yang Indra tunjukkan, banyak mata yang memperhatikan keduanya tapi kenapa semua itu dianggap biasa saja oleh Nisrina yang sudah terbiasa berhadapan dengan banyak orang.
Keduanya hanya berjalan beriringan saja tidak lebih, walaupun banyak yang menilai keduanya pasangan serasi sebagai tamu undangan saat ini.
Sapaan khas dari orang yang mengundang Indra, terlihat keakraban keduanya dan Indra tidak lupa memperkenalkan Nisrina dengannya, Nisrina yang ramah membuat teman Indra sedikit menggodanya.
"Terimakasih sudah hadir..di acara saya.., kok..mau sih menemani bujangan super sibuk..ini..Nis.." ujarnya yang membuat Nisrina sedikit terkejut sebab setahu dirinya Indra hanya liburan saat ini yang dimaksud sibuk itu apa Nisrina belum faham.
Nisrina tidak membalas pertanyaan teman Indra dia lebih banyak tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan dari teman Indra.
__ADS_1
Nisrina lebih banyak jadi pendengar yang baik tidak lebih walaupun sesekali ada candaan yang dilontarkan untuk dirinya di karena ulah Indra yang cuek hingga Nisrina menjadi imbasnya, disinilah saat ini keduanya berada dan hanya banyak basa basi yang didengar oleh Nisrina bukan kehangatan yang Nisrina rasakan tapi sudahlah nikmati saja sebab dia hanya di mintain tolong juga oleh Indra untuk menemaninya tidak lebih.