Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
94


__ADS_3

"Orang-orang masih sering bertanya mengapa aku mencintaimu, tapi jawabannya selalu sama yaitu karena aku menemukan diriku sepenuhnya utuh saat bersamamu" Rendra.


Suasana hati keluarga kecil Rendra saat ini diliputi kegembiraan sebab kepulangan mereka ke tanah air tercinta sangat di nantikan baik oleh mereka terlebih dari kedua keluarga besar mereka yang sangat dirindukannya.


Ainun yang sudah tumbuh jadi anak-anak terlihat sibuk merapikan sepatu yang akan di kenakannya.


"Sudah...cantik ko...sama warnanya dengan bajunya" ujar Rendra yang melihat Ainun senang di puji Papanya.


Ainun melihat gambar dirinya di cermin untuk menyakinkan dirinya sudah rapi, siap menuju bandara untuk kepulangannya ke kota kelahirannya.


"Ma...bener kita pulang" tanya Ainun dengan senyum terlihat senang akan ketemu orang yang menyayanginya.


"Iya...cantik...kita akan ketemu semua orang yang kita sayang" ucap Candy yang masih merapikan barang-barang yang akan di bawanya.


Mobil yang menjemput sudah berada diparkiran, Rendra mengangkat beberapa koper juga tas yang lainnya.


"Hore...kita pulang" teriak Ainun senang di dalam mobil, Candy hanya memperhatikan tingkah lucu Ainun.


Tanpa terasa mobil yang mereka naiki telah sampai di bandara, Rendra mulai mengurus semua kebagian pemberangkatan sedangkan Candy dan Ainun menunggu.


"Ma...Ainun...lapar" Ainun merengek ke Candy dengan memegang perutnya.


"Ya...sabar ya..kita tunggu Papa..ya" ucap Candy dengan mengusap kepala Ainun yang tertutup hijabnya.


Rendra menghampiri keduanya yang menunggu, Candy meminta ke Rendra untuk membelikan makanan untuk Ainun yang merasa lapar.


"Honey...waktu keberangkatan masih cukup lama, bagaimana kalau kita makan di restoran aja" ujar Rendra yang memberikan pilihan.


"Ainun...setuju..." dengan jari telunjuknya Ainun memberikan tanda setuju.


Rendra dan Candy tertawa melihat putri cantiknya sangat senang dan berani mengungkapkan pendapatnya.


"Siap...kita berangkat..." ucap Rendra dengan menggandeng tangan kedua bidadarinya.


Rendra dan Candy hanya memberikan pilihan restoran yang halal tanpa terkecuali ke Ainun.


"Kenapa ga yang itu" tanya Ainun menunjukkan restoran yang lain yang menurutnya lebih menarik.


"Kita...muslim sayang"ujar Candy menjelaskan agar Ainun mengerti tapi dalam bahasa yang cukup di mengerti Ainun.


"Kenapa..." tanya Ainun lagi seperti belum mengerti apa yang Candy maksud.


"Tuhan kita melarangnya, Ainun ga maukan tuhan marah sama kita karena melanggar aturannya" ucap Candy agar Ainun makin mengerti apa penjelasan dari Mamanya.

__ADS_1


"Ya...Ma...Ainun tahu" ujar Ainun yang masih menunggu pesanannya datang.


"Anak pintar..." ucap Rendra mengusap pipi Ainun dengan lembut.


Setelah menikmati makanannya keluarga kecil Rendra kembali ke ruang tunggu keberangkatan tapi Ainun memintanya untuk ke toilet karena sakit perutnya.


Setelah menunggu beberapa lama Candy dan Ainun belum kembali ke ruang tunggu sedangkan pesawat yang akan dinaikinya sudah memberikan pemberitahuan agar penumpang dengan pesawat yang akan di naiki keluarga kecil Rendra akan segera berangkat.


Rendra melangkahkan kaki panjangnya menuju toilet di lihatnya Candy masih menunggu putri cantiknya yang masih berada didalam toilet.


"Kenapa Honey..." tanya Rendra ke Candy yang penasaran, bukan muka marah yang Rendra tunjukan tapi khawatir dengan keadaan putrinya.


"Ainun...masih pengen BAB...Mas..gimana nih" Candy takut Rendra akan marah ke Candy dan Ainun.


"Ya...sudah harus gimana lagi" Rendra dengan senyumnya terlihat sabar di mata Candy.


"Tiketnya...."Candy bertanya ke Rendra yang masih berdiri didepan pintu toilet wanita.


"Gampang...yang penting Ainun ga apa-apa" ujar Rendra dengan senyumnya di perlihatkan ke Candy menenangkan.


Pesawat yang seharusnya membawa keluarga kecil Rendra sudah lepas landas, Rendra akhirnya memesan tiket keberangkatan dengan pesawat yang lain, sementara menunggu Rendra dan keluarga kecilnya menikmati suasana kota boston dengan jalan-jalan.



"Kapt..." tubuh lemas Alfa roboh tak berdaya dengan matanya menahan tangis, sebab Rendra sudah seperti kakak buatnya.


"Kenapa harus seperti ini..."ucap Panji memeluk tubuhnya sendiri karena sedih.


"Kapt...kami masih butuh loe" ujar Ifan dengan menutup mukanya dengan kedua tangannya.


Farel sudah tidak bisa berkata apa-apa hanya diam mematung seakan tidak percaya kabar yang di dengarnya.


Kantor kedinasan Rendra ramai dengan kabar kecelakaan pesawat yang Rendra dan keluarga kecilnya yang mereka tumpangi.


Begitu juga dengan keluarga Rendra yang sangat terpukul dengan adanya kabar ini.


"Pa...ini ga benerkan...?" tanya Mama dengan tangisnya bertanya ke suaminya.


"Sabar...Ma...kita berdo'a yang terbaik saja" ujar Papa dengan memeluk tubuh istrinya yang masih lemas mendengar kabar duka buat keluarganya.


"Pa...coba...tanya sama orang yang Papa kenal di boston" ucap Mba Ayu yang menggendong bayi mungilnya, dengan mata sembabnya bekas menangis.


"Sudah...kita tunggu...ya...Mba" ujar Papa lagi menenangkan orang-orang tercintanya.

__ADS_1


Tidak berbeda dengan keluarga Candy yang lebih tenang mendapatkan kabar duka ini.


"Kita do'akan yang terbaik saja..." ucap Ayah sepertinya dia ikhlas tapi ada rasa sedih dalam ucapannya.


"Kesayangan kita...yah"ujar Mas Dimas dengan mata merahnya masih belum percaya akan kabar duka ini.


"Iya...Mas..katanya mau pulang tapi..." Rahma menangis dalam pelukan suaminya seakan tidak percaya sahabat sekaligus iparnya akan pergi dengan cara seperti ini.


"Tante...Can..."ucap Nisrina mendekap salah satu tangan Kakeknya yang mengusap kepalanya.


Kabar duka menyelimuti seluruh orang-orang yang mengenal keluarga kecil Rendra yang semakin membuat mereka mengenang semua kebaikan dan kebersamaan mereka selama ini.


Kediaman Mama Rendra menjadi rumah duka dan saat ini sudah di banjiri orang-orang yang mengenal mereka.


Rumah mega itu tidak terlihat seperti biasanya lebih terlihat banyak pelayat yang datang untuk memberikan ucapan bela sungkawa yang dalam untuk keluarga yang mereka tinggalkan.


"Ma...ini ga benerkan" ucap Alfa memeluk Mama masih dalam kondisi lemas merasa sangat kehilangan.


"Mama...juga belum bisa menerima ini" ucap Mama memeluk tubuh Alfa yang menurutnya seperti anaknya.


Tangis pecah seiring datangnya beberapa orang kedinasan Rendra diantaranya Komandannya, menyalami Papa Rendra dengan memberikan ucapan bela sungkawa.


Seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak baik dari Rendra maupun Candy berkumpul di kediaman Rendra untuk menunggu kejelasan dari pihak Maskapai tentang kondisi jenazah anak dan cucu mereka.


Papa Rendra mendapatkan kabar bahwa Rendra dan keluarga kecilnya memang memesan tiket dan tertera nama-nama mereka dalam penumpang yang telah cek-in.


Semakin membuat Mama menangis dan pingsan tidak sadarkan diri karena terkejutannya seakan tidak menerima keadaan ini sebagai takdir dari yang kuasa.


Rendra sendiri tidak mengetahui kabar berita ini sebab Hand phone keduanya lupa diaktifkan setelah cek-in tadi, merek sibuk dengan menikmati kuliner juga jalan-jalan sebelum kepulangannya, tanpa disadari oleh mereka di belahan dunia lain merek jadi orang yang sangat di khawatirkan dan di tunggu keberadaannya saat ini.


Senyum dan tawa Ainun tidak luput jadi pusat perhatian Candy dan Rendra yang sangat menikmati momen ini di negara yang belum tentu akan di dikunjunginya lagi dalam waktu dekat dan momen Ainun sekarang akan berbeda bila datang kembali ke kota ini, sebab Ainun akan tumbuh jadi anak abg, gadis remaja bahkan jadi wanita dewasa.


"Lucunya...anak Papa" Rendra mencium pipi Ainun ngemas dengan tingkahnya yang semakin aneh-aneh saja khas anak perempuan.


"Honey...seperti itu juga dulu" tanya Rendra ke Candy dengan senyum menunggu jawaban dari Candy.


"Entahlah...Can...lupa..." Candy malu melihat ke arah Rendra lebih melihat ke arah lain.


"Kenapa ga bila saja iya ..." goda Rendra ke Candy yang masih melihat ke arah orang lalu lalang.


"Mas...malu apaan sih" ucap Candy dengan mencubit pelan pinggang Rendra karena malu di pandang oleh Rendra mesra.


Rendra...Rendra sempat-sempatnya mengoda istri di lain tempat orang tersayangnya menangis takut kehilangan kalian karena kebaikan yang kalian berikan selama ini pada mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2