
"Bertemanlah dengan orang yang selalu mengajak kebaikan di tiap ucap dan tindakannya sebab semua akan bermuara ke ibadah kepada tuhan-Nya" Rendra.
Hari ini hari yang sangat penting buat Candy sebab ada momen yang tidak ingin dilewatinya yaitu wisuda kedokterannya yang akan di hadirinya berserta keluarga besarnya dari keluarganya juga Rendra sebagai ucapan syukur.
Tapi yang ikut serta dalam ruang wisuda hanya Rendra dan Ainun putri cantiknya selebihnya akan bertemu di sebuah tempat yang telah di pesan Rendra untuk bertemu disana saling berbagi kebahagian bersama.
"Aduh...cantiknya...lucu lagi" ucap salah satu dokter menyapa Ainun yang di gendong Rendra.
"Mungil...pinter ya...kamu...bikin anak" ujar dokter yang lain, yang membuat Rendra dan Candy saling memandang malu.
"Mungil...bocil udah bisa bikin bocah...lucu lagi" ucap yang lain menambahkan yang bikin Candy makin malu menundukkan wajahnya.
"Mas...punya resep apa sih bisa cantik juga lucu lagi" tanya salah satu dokter yang berdiri di samping Rendra.
"Maaf...saya tidak punya resep sebab saya bukan dokter yang memberikan resep" Rendra membalas ucapan dokter yang bertanya padanya dengan tersenyum santai.
"Bener...bener...aku salah tanya ya...harusnya ke istrinya ya..." dengan tawanya dokter itu berucap.
Rendra hanya tersenyum membalas kekonyolan teman satu angkatan Candy yang menurutnya ada-ada saja bikin pertanyaan yang bikin orang bisa tertawa saja.
"Honey...lucu dan aneh ya...temannya" bisik Rendra ke Candy yang mengoda Ainun.
"Maklum Mas...kebanyakan menghirup obat bius, sedikit banyak bikin melayang seperti punya sayap" ucap Candy menjelaskan ke Rendra yang tahu jurusan apa yang diambil istrinya, ( spesialis anestesi yang akan mendapatkan gelar Sp.An) yang akan membuat pasien tak sadarkan diri karena obat bius sebelum di operasi atau di bedah.
"Bener juga ya...Honey " dengan suara pelannya hanya keduanya yang mendengar.
Tawa keduanya pecah tapi tidak sampai yang lain tahu sebab takut menyinggung perasaan.
"Sayang lapar...ya..."Rendra mencarikan tempat untuk Candy menyusui anaknya yang masih belum makan makanan tambahan "Mapasi".
Ainun tertidur seiring pemberitahuan perserta wisudawan memasuki ruangan dan menepati tempat duduknya masing-masing, begitu juga Rendra yang menggendong Ainun masuk ke ruangan dan menepati tempat duduknya yang telah di tentukan.
Setelah beberapa lama mengikuti prosesi wisuda akhirnya acara pun selesai di lalui dengan lega karena sesui harapan semua pihak, begitu juga Rendra dan Ainun yang sudah menanti Candy yang masih sibuk berfoto ria dengan beberapa teman wisudanya.
"Selamat ya...mungil..." ucap salah satu dokter yang kebetulan berpapasan dengan Candy yang matanya sibuk mencari suami dan anaknya.
"Terimakasih...selamat juga" balas Candy dengan tersenyum yang matanya sudah menemukan keberadaan suami dan anaknya.
"Hebat...kamu mungil selamat ya..." ucap salah satu dokter lagi ke Candy uang menjadi lulusan terbaik saat ini.
"Iya...hebat dia sudah cantik, mudah berprestasi lagi.." tambah salah dokter yang lain dengan menepuk pundak Candy.
__ADS_1
"Sebenarnya yang harus di beri selamat itu Mas Rendra...sebab tanpa bantuannya tidak mungkin aku akan mencapai semua ini" ucap Candy yang merangkul salah satu tangan suami tercinta dengan tersenyum bahagia.
"Oh...gitu ya...selamat juga ya..." ucap dokter yang masih bingung dengan pernyataan Candy tentang suaminya.
"Honey...Mas ga bantu apapun ko" Rendra berucap dengan tersenyum ramah ke arah Candy merendahkan dirinya.
"Mas...Can...ga sendiri menyelesaikan semua tugas kampus Mas selalu membantu..." ujar Candy dengan memandang suami tercintanya malu.
"Pokoknya...selamat buat kalian bertiga" ucap salah satu dokter dan berlalu meninggalkan keluarga kecil Candy yang masih saling pandang membuat yang melihatnya di bikin ikut baper karena begitu terlihat hangat dan harmonis.
"Sudah...jangan bikin yang lain jadi iri" ujar yang melewati keluarga kecil itu, dengan mengusap lembut muka Candy agar menyudahi memandang suami tercintanya.
Rendra hanya tersenyum menunduk ikut malu, dan Ainun seakan tahu tidak ingin jadi pusat perhatian merengek minta keluar dari ruangan yang penuh sesak orang lalu lalang, untuk mengambil foto sebagai kenangan yang tidak akan terlupakan.
Candy dan Rendra sepakat meninggalkan acara yang sekedar sesi foto-foto saja karena acara intinya sudah selesai, dan Ainun pun sudah merasa bosan dan benda pipi Rendra bergetar menandakan ada panggilan masuk, panggilan itu dari Mba Ayu.
★★Assalamualaikum, Mba...(Rendra ).
★★Waalaikum salam, De...mau sampai kapan disitu..(Mba Ayu).
★★Iya...Mba...sebentar lagi sampai ini sudah di jalan ko...(Rendra).
Rendra sebenarnya sudah berada di dalam Resto yang dipesan oleh keluarga besar Rendra dan Candy yang sudah menunggu dengan tidak sabar.
"Waalaikum salam" jawab semuanya kompak ke keluarga kecil Rendra dan Candy.
"Selamat...ya...sayang" ucap Mama Rendra memeluk dan mencium Candy dan memberikan buket bunga yang indah ke Candy sebagai tanda selamat.
Belum sempat Candy membalas ucapan Mama datang Mba Ayu bersamaan Mba Salma dan Mba Rahma yang sama tujuannya memberikan ucapan selamat ke Candy.
"Terimakasih...Can..ucapkan untuk do'a dan dukungannya yang selama ini buat Can.." ucap Candy ke semuanya dengan tersenyum malu.
"Ma...kapan makannya " ucap Indra anak Mba Ayu mengusap perutnya.
"Aduh...kasihan...laparnya" ujar Candy mengusap kepala Indra merasa bersalah karena lama menunggu kedatangannya.
"Maafin....om ya...Mas" Rendra berucap ke Indra yang sudah mengambil piring dan sibuk memilih menu.
"Ayo...ayo silakan" Papa Rendra mempersilakan Ayah Candy mengambil makanan dengan ramah.
"Ya...silakan lebih dulu..." ujar Ayah Candy yang masih menggandeng tangan Nisrina yang tidak mau lepas dari sang kakek.
__ADS_1
"Sini...yah...biar sama Rahma" Rahma menghampiri Ayah Candy untuk mempersilahkan Ayah lebih dulu makan.
"Na...mau sama kakek...bunda" ucap Nisrina yang sudah pintar bicara, dia sudah jadi anak-anak bukan balita lagi, dia sangat imut dan cantik lagi.
Semua menikmati makanan yang tersedia dengan saling bercengkrama semakin menambah keakraban di keluarga besar Rendra da Candy yang sangat dekat dengan keluarganya.
"Ma...cantik ya..." ucap Indra ke Mamanya menunjuk ke Nisrina yang masih nempel sama kakeknya yang asyik ngobrol dengan Papanya Rendra yang berarti kakeknya Indra.
"Oh...itu Nisrina namanya Mas" ujar Mamanya menjelaskan ke Indra yang sudah mulai abg.
"Memang...ada apa Mas" tanya Mamanya yang penasaran dengan Indra yang biasanya cuek.
"Mas...suka aja" ucapnya polos dengan malu menyandarkan kepalanya di bahu Mamanya yang sudah hamil besar.
"Rahma...anakku naksir loh...sama anakmu.." ucap Mba Ayu tidak mau menutupi rahasia anaknya.
"Ma...aku kan jadi malu" ucap Indra memanyunkan mulutnya dan menyembunyikan mukanya di balik punggung Mamanya.
"Rahma...aku bayar dimuka...ya...biar ga diambil orang nantinya"Mba Ayu dengan tawanya becanda ke Rahma.
"Beneran Mas Indra..." ujar Rahma mengoda Mas Indra yang masih dibuat malu oleh keduanya.
"Mas...sekolah dulu yang pinter ya...sayang" ucap Papanya dengan mengusap lembut kepala jagoannya.
"Waktu begitu cepat berlalu ya...berarti sebentar lagi cucu kita akan memiliki pasangannya" Papa Rendra berucap dengan tersenyum bahagian.
"Ya...mudah-mudahan kita sampai di waktu itu untuk bisa menyaksikan mereka bahagia" balas Ayah Candy dengan senyumnya ikut senang.
"Can...apa ada rencana kerja lagi dalam waktu dekat ini" tanya Mas Rudi ke Candy yang masih mendengarkan pembahasan Mas Indra.
Candy hanya menggelengkan kepalanya tanpa berucap sepatah katapun untuk membalas pertanyaan Mas Rudi.
"Kami...akan tinggal di luar Mas"ucap Rendra seperti ingin menjelaskan ke semuanya.
"Loh...ko Mama ga di kasih tahu sih" Mama Rendra sedikit terkejut mendengar ucapan Rendra.
"Maaf...Ma...ini masih dalam proses waktunya tidak dalam waktu dekat ini ko" Rendra memeluk salah satu tangan Mamanya merasa bersalah tidak membicarakannya terlebih dahulu.
"Oh...gitu Kirain mau secepat ini, Mamakan masih belum puas main sama Ainun"ujar Mama dengan mengucap lembut pipi Ainun.
Rendra merasa bangga memiliki dua keluarga yang begitu dekat dengan dirinya, hingga sangat peduli satu dan yang lainya membuat dirinya sangat bersyukur.
__ADS_1
Dunia seakan damai bila orang tersayang kita saling merangkul dengan suka cita seakan ingin bisa berlama-lama untuk menikmati momen ini tanpa ingin berlalu begitu saja tapi sang waktu tidak bisa di hentikan terus bergulir mengikuti alurnya untuk sampai di peraduanya.