
Rendra tahu diri dunia Candy bukan miliknya semata anak-anak butuh dirinya juga, dengan rasa berat hati dia harus mengajaknya pulang ke rumah milik orang tuanya dalam perjalanan pulang ajudan Rendra dibikin ingin cepat miliki pasangan hidup.
Apalagi kalau bukan kebucinan yang Rendra perlihatkan, keduanya duduk di bangku belakang dan ajudan Rendra sebagai pemegang kemudi yang sesekali melihat dari kaca depan ke belakang yang ditegur Rendra.
"Kalau jadi supir..supir yang baik..jangan curi pandang..aku tahu.." ujar Rendra yang menyindir ajudannya yang tersenyum santai, ucapan Rendra hanya bercanda.
Rendra sesekali mengusap pipi Candy yang bersandar dipundaknya, ajudan Rendra tersenyum dan Rendra tahu itu.
"Jangan syirik...nanti aku cariin buat kamu.." goda Rendra lagi hingga membuat ajudan Rendra tersenyum lebar.
"Apa..sih..Kapt..ga boleh gitu gue..lihat kebelakang" ujarnya santai membalas Rendra.
"Boleh..cuma pandangannya beda gitu..jangan kamu..bilang aku..bucin seperti yang lain.." seru Rendra dengan tersenyum tipis.
"Kalau memang bucin kenapa.." tanya ajudan Rendra seakan ingin ada teman ngobrol dalam perjalanan ini.
"Entah aku sendiri bingung mana..yang mereka semua bilang bucin itu..semua dalam koridor yang wajar aku sama pasanganku bukan sama pacar.." Rendra menjelaskan dengan memandang Candy yang sudah terlelap dalam pelukannya.
Hampir tengah malam Rendra sampai di kediaman mama, Rendra tidak ingin membangunkan Candy dari tidurnya hingga dia menggendong hingga kamar.
Ajudan Rendra sendiri bermalam di kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh assisten rumah tangga mamanya.
"Istirahatlah..kalau perlu baju ganti di lemari tamu ada..baju..semua masih baru..handuk juga..pakai saja..pilih sesuai ukuranmu.., oh..iya bila perlu makanan..ke dapur saja cari sendiri anggap saja bukan..rumah sendiri.." canda Rendra diakhir ucapannya dan hanya gelenggan kepada yang ajudan Rendra tunjukkan.
"Selamat istirahat...mimpi yang indah..sebelum tidur jangan lupa berdo'a.." ujar Rendra lagi sebelum meninggalkan ajudannya.
"Ga..sekalian..disuruh cuci kaki sama cuci tangan..bobo yang manisnya.." goda balik ajudan Rendra yang membuat Rendra menepuk pundaknya.
Sepeninggal Rendra ajudan masih dengan senyum konyolnya mengingat ucapan Rendra sebelum meninggalkannya " Pantas orang memanggilmu bucin mempelakukan gue aja kaya..anaknya..mimpi indah, jangan lupa berdo'a gimana anak istrinya..bucin..bucin..hanya bentuk fisiknya saja satria hatinya malaikat...Kapt..nyamannya orang bersamamu.." ajudan Rendra senyum-senyum sendiri.
Rendra sudah membersihkan dirinya, dipandangnya istri tercintanya dengan sesekali dirapihkannya rambutnya yang menutupi Sedikit matanya.
"Honey..maafkan..mas ya.., terima kasih sudah mengerti dunia..mas" ujarnya pelan mengusap pipi Candy.
__ADS_1
Rendra menuju balkon kamarnya, dilihatnya bintang-bintang dilangit malam nampak salah satunya paling bersinar " Honey..seperti itu dirimu..dari banyaknya bintang dilangit malam yang gelap hanya dirimu yang paling bersinar dihati..mas" ucap Rendra seorang diri, dengan hembusan angin malam menerpa wajah gagahnya.
"Ga..baik..angin malam..mas..Istirahatlah.." Candy memeluk dari belakang tubuh gagah milik suaminya yang berpakaian santai.
"Honey..kenapa terbangun.." tanya Rendra yang masih membelakangi Candy.
"Can..belum bersih-bersih..ga enak.." ucapnya masih memeluk Rendra yang nyaman menurutnya.
"Mau...mas temani.." Rendra sudah menggendong Candy yang meronta menolak tapi apa daya tubuhnya tidak sekuat Rendra yang gagah.
Rendra menghidupkan kran shower hingga keduanya basa, Candy yang malu hanya bisa menunduk sebab pakaian yang digunakan basa dan melekat ditubuhnya hingga membentuk tubuhnya, mata Rendra menatap lekat sosok istrinya yang masih tidak berubah secara fisik walaupun sudah memiliki dua buah hati.
Candy bingung harus bagaimana sebab dia tidak nyaman harus berbagi kamar mandi walaupun dengan suaminya, Rendra tahu itu hingga mempersilakan Candy terlebih dahulu membersihkan diri, tapi Candy kasihan juga melihat Rendra kedinginan.
Candy dengan tergesa membersihkan tubuhnya, hingga sebagian sabun tercecer di lantai kamar mandi hampir membuat dirinya terjatuh karena Rendra masih disitu dengan cepat tangannya menangkap tubuh Candy yang malu dilihat Rendra.
Rendra yang tahu Candy malu dengan cepat mariah handuk dan membungkusnya tubuh Candy dengan handuk besar miliknya.
Candy menunduk malu untuk hal yang satu ini, entah kenapa walaupun dia tahu Rendra adalah yang berhak atasnya termasuk tubuhnya, Rendra tidak mau orang tersayang akan kedinginan.
"Honey...berganti pakaianlah..." pintanya dia sendiri akan berganti pakaian.
Keduanya sudah bersandar dibantalnya masing-masing, Candy masih diam merasakan dingin tubuhnya saat akan menarik selimut tangan Rendra lebih dulu memeluknya.
"Dingin..ya..mas peluk ya.." Candy dalam pelukan Rendra yang lebih hangat dari selimut.
"Honey...kenapa tidak menyetujui permintaan orang yang mas..suruh ke rumah beberapa waktu yang lalu.." tanya Rendra penasaran.
"Can..ga butuh semua itu..Can..hanya butuh mas.. disini.." Candy menatap intens mata Rendra menanda dia serius.
"Honey...love you.." Rendra makin memeluk Candy hingga tubuh mungil itu hilang tertutup tubuh Rendra.
"Mas..Can..ga bisa napas.." ucapnya hingga Rendra melepaskan sedikit pelukannya.
__ADS_1
"Can..terima mas..bukan karena mas ada apa-apanya..tapi mas yang apa adanya..tidak lebih" Candy terlihat berucap dengan serius hingga Rendra berkata dalam benaknya "terimakasih tuhan Kau kirim bidadari untuk ku..dengan segala kerendahan hatinya" Rendra semakin dibikin bersyukur memiliki Candy.
Keduanya saling memberikan pujian kecil yang terdengar sepele tapi yang sepele itu terkandang diperlukan dalam sebuah hubungan sebagai bumbu dalam ikatan perkawinan.
Candy tidak terasa sudah terlelap dalam pelukan Rendra dan hanya senyum Rendra memandang wajah istri tercintanya terlihat polos dan damai saat ini dilihatnya.
"Honey..kau terlalu sempurna dimata mas.." Rendra membenarkan posisi tidur Candy dan menyelimuti tubuhnya hingga satu selimut dengan dirinya.
"Mimpi indah ya...Honey..mas sudah didekatmu.." Rendra mencium bibir Candy lembut sebelum dirinya memejamkan mata.
Mempertahankan sebuah hubungan tidak semudah saat meminta untuk menjadikan pelengkap hubungan, butuh kesabaran dalam hubungan itu seperti halnya Rendra lakukan selama ini.
Rendra tidak pernah meminta Candy mengatakan mencintainya, hanya saja Rendra lebih menunjukkan rasa cintanya bukan memaksa Candy mencintai sebab cinta tidak bisa dipaksakan akan datang diwaktu yang tepat.
Bagi Rendra biarlah pasangannya melihat dengan mata, dirasa dengan hatinya karena bahasa cinta susah diminta dengan paksaan, sikap Rendra yang romantis dan hangat membuat Candy nyaman didekatnya itu sudah lebih dari cukup buat Rendra.
Terbukti berkhat kehangatan dan romantisnya Rendra membuat Candy menumbuhkan rasa cintany ke Rendra walaupun perlahan tapi pasti makin cinta, itu hebatnya seorang Rendra dengan sabar membantu Candy menumbuhkan rasa cintanya untuk dirinya seorang.
Ternyata benar apa yang diatur oleh agama yang dianut Rendra " Cintailah seseorang karena ketaat pada tuhannya itu lebih utama" sebab terhadap tuhannya saja dia taat apalagi kepada ciptaannya.
Dan lewat agamanya Rendra memperlakulan pasangannya sebagai wanita istimewa hingga membuat nyaman berada di sisinya, karena hati wanita sangat lembut karenanya perlakukan dengan lembut juga.
Karakter tegas itu yang Rendra perlihatkan dalam kedinasannya tapi dalam kehidupan keluarga kecilnya ada toleransi itu hal yang satu ini.
Pasangan ini menyatukan dua karakter yang berbeda tapi perbedaan ini jadi sesuatu yang saling melengkapi, Candy yang malu Rendra tegas itu baru sebagai kecil yang terlihat.
Setelah dalam ikatan perkawinan keduanya lebih banyak mengenal karakter masing-masing tapi yang lebih membuka diri Rendra sebab dia lebih dulu mempunyai rasa ke Candy.
Yang lebih mendominasi dalam hubungan adalah Rendra sebab Candy cinta pertama yang harus diperjuangkan dan Rendra lebih banyak memulai berbeda dengan Candy yang masih malu untuk lebih memulai.
Tanpa disadari Rendra banyak yang terinspirasi dari sikap Rendra terhadap pasangannya terutama kawan satu timnya yang tampa sungkan meminta pendapatnya bila ada masalah dalam menjalankan hubungan suami istri, Rendra pun tampa sungkan mau menjadi pendengar terlebih dahulu bila diminta dia akan memberikan masukkan tanpa memaksa menuruti pendapatnya.
Perjalanan hidup yang membentuk karakter Rendra hingga seperti sekarang ini bukan instant semua harus melalui proses dan bagaimana menyikapi proses itu,"selamat datang kesempatan kedua" itu yang sekarang menjadi semangat untuk Rendra.
__ADS_1