
"Senyummu sehangat mentari pagi, tapi rasa malumu lebih membiusku , terimakasih tuhan telah mengirimkan bidadari dunia yang nyata dalam kehidupanku " Rendra.
Letak matahari saat ini tepat berada di atas kepala sehingga membuat orang enggan berajak dari tempatnya berada tapi tidak dengan kawan tim Rendra yang saat ini ingin melepaskan segala beban yang hampir memecahkan isi kepalanya.
"Siang...Kapt " ucap ajudan Rendra tidak lupa memberi hormat dan akan mengambil berkas sesuai perintah Rendra.
"Siang...duduklah " Rendra memerintahkan ajudannya agar menunggu.
Kawan tim Rendra masuk kedalam ruangan Rendra dengan muka sebagian besar tidak bersemangat, nampak terlihat beban yang ingin dibagi ke Rendra.
"Berikan berkas ini sesuai perintahku" ucap Rendra ke ajudan yang siap meninggalkan ruangan Rendra seperti biasa memberikan hormat terlebih dahulu.
Setelah ajudan Rendra meninggalkan ruangan, Rendra hanya diam memperhatikan kawan satu timnya yang duduk memainkan beberapa buku tapi tidak dibaca.
"Jelek...amat itu muka...belum juga punya anak sudah hampir jadi kakek-kakek" goda Ifan ke Alfa yang diam tanpa mau bicara.
"Gue...baru tahu pengen punya anak susahnya"ujar Farel yang isrinya hamil juga.
"Susah apaan...bini loe sudah hamil loe bilang susah...aneh" ujar Panji yang suka berlawan arus dengan Farel walaupun keduanya satu kedinasan.
"Iya...awal-awalnya mau kalau gue ajakin...tapi sekarang beda gue diusir suruh tidur di bawah...katanya gue bau..padahal gue sudah mandi dua kali sampe perih badan gue sebab gue gosok biar ga bau seperti maunya" ucap Farel menjelaskan dengan muka kecewa nampak di perlihatkan.
Ucapan yang keluar dari mulut Farel membuat kawan satu timnya tertawa sebab siapa yang tidak tahu Farel buaya yang pandai menaklukkan wanita.
"Akhirnya...buaya ketemu juga sama pawangnya " ujar Ifan dengan tawanya menjailin Farel.
"Busyet...deh hebat Nafandra bisa naklukin loe...gue kasih jempol deh.." ujar Panji yang ikut senang Farel bisa di kalahkan.
"Kenapa gue yang curhat tapi gue juga yang jadi tersakiti...nyesel gue" ucap Farel mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sabar...demi buah hati kamu..."ucap Rendra yang masih tersenyum mengingat ucapan Farel.
"Iya...demi anak gue tahu tapi bagaimana dengan yang satu ini..." ucap Farel menunjukkan kepemilikannya.
"Emang ga bisa tahan dikit apa..." ujar Ifan yang sepertinya gemas ke Farel yang ga sabaran untuk soal yang satu ini.
"Itu yang gue bingung semakin besar kehamilan bini gue...dia terlihat seksi di mata gue..." ucap Farel tanpa malu mengungkapkan apa yang dia rasa.
"Woi...woi...soal yang ini loe ga harus terbuka seharusnya jadi rahasia loe sebab akan ada pemikiran yang membuat imajinasi seseorang menjadi liar...jadi cukup kamu yang tahu..." ucap Rendra menjelaskan membuat kawan satu timnya bingung.
__ADS_1
"Sorry...bro...gue...ga faham...maksud loe...akan ada salah satu dari kita naksir bininya gitu" ucap Panji masih bingung.
"Ya...hampir seperti itu...ya..aku tahu kalian tidak akan ada rasa sama pasangan kawan kita...tapi kalau dia bercerita ke kawan lain yang hanya teman biasa akan jadi penasaran dengan apa yang loe ungkapkan" ucap Rendra tanpa memojokkan kawan satu timnya hanya menyampaikan apa yang harus di sampaikan nya.
"Ya...benar gue satu pemikiran dengan loe..Kapt, yang jelas dari cerita loe...akan banyak yang mencari tahu siapa bini loe" ucap Ifan ke Farel yang membuat Farel spontan menutup mulutnya dengan tangan.
"Kalau kamu...gimana udah baikan..." Rendra bertanya ke Alfa yang dari tadi hanya diam menjadi pendengar.
"Belum...Kapt masih saja muntah...kasihan lemas banget melihatnya, Ki...hanya bisa tiduran saja biasanya Ki...sangat lincah..ga pernah mau diam" ucap Alfa menjelaskan keadaan istrinya.
"Itu tandanya anaknya ga mau seperti emak bapaknya yang super heboh...biarlah anaknya yang kalem" ucap Ifan yang terlihat senyum-senyum.
"Memang seperti itu Kapt..." ujar Alfa yang masih saja polos belum banyak berubah padahal mau jadi Ayah.
Rendra hanya tersenyum tidak memberikan jawaban yang menurutnya ga masuk akal.
"Loe...ga percaya gue...cil..." ujar Ifan masih ingin mengoda Alfa.
"Bukan...begitu bang...gue kan belum berpengalaman..." ujar Alfa yang sedikit takut disalahkan oleh seniornya.
"Ini makanya gue ajarin..." ujar Ifan lagi yang masih ingin Alfa di godanya.
"Itu...Kapt...yang susah sebab katanya semuanya ga enak..." ujar Alfa dengan sedikit rasa khawatir dia tunjukkan.
"Soal kaya gitu mah...santai kali..cil..." ujar Farel yang menurutnya biasa saja.
"Ya...biasa orang hamil tapi ini tidak seperti biasanya menurutku...apalagi maunya nempel terus kalau gue di rumah ga boleh gue pindah dari sisinya"ucap Alfa yang malu menjelaskan ke kawan satu timnya.
"Enak dong...kalau kaya loe..." ucap Farel yang berbanding terbalik dengan keadaannya.
"Udah di syukuri aja...prosesnya...akan ada hikmah di dalamnya"ucap Rendra yang mengingat dirinya saat Candy hamil dirinya yang di bikin ga enak badan.
"Loe...bisa bicara begitu...sebab loe ga ngerasain yang seperti gue rasain" ujar Farel yang masih saja ga mau terima kondisi istrinya saat hamil.
"Loe...lupa ya...waktu Mba Can...hamil..Kapten yang mabok..."ucap Alfa yang masih mengingat Rendra selalu pusing dan muntah saat bau parfum.
"He...he...maaf...iya...ya.." ujar Farel malu di hadapan kawan satu timnya.
"Hu....dasar...emang loe aja yan punya problem soal bini hamil.." ucap Ifan makin gemes ke Farel.
__ADS_1
"Kalau boleh jujur yang menang dalam masalah ini hanya Panji...sebab bini dia ga mabok dan hamilnya ga ada keluhan" ucap Rendra yang bertujuan menjelaskan.
"Ya...benar itu...bini gue...doyan makan ga pernah ngomel soal bau apapun tapi...bagi gue...anak adalah titipan jadi prosesnya harus di nikmati dengan suka cita" ujar panji yang terlihat bahagia menanti kelahiran bajunya yang tinggal menunggu hari.
"Sebegitu istimewanya ya...kita menanti tangis si mungil menghiasi seisi rumah..." ucap Alfa yang masih harus banyak belajar.
"Tambah...pinter ya...loe..."ujar Panji yang senang Alfa makin dewasa dalam sikap.
"Tanpa nya akan sepi...apalagi kalau sudah berceloteh...ih bikin gemes " ucap Rendra yang sepertinya mengingat putri kecilnya yang makin tumbuh besar.
"Kapan nambah lagi Kapt..."tanya Alfa yang ikut senang membayangkan akan kehadiran si kecil di rumahnya.
"Maunya secepatnya...." ujar Rendra serius terdengar.
"Tapi prosesnya teruskan..tanpa jedah.." ucap Ifan yang sama-sama sudah memiliki buah hati.
"Harus itu..." ujar Panji yang ingin mengoda Rendra yang hanya tersenyum.
"Siapa yang ga tergoda liat mata indah dan sikap malunya itu...ih..."ujar Alfa yang ingin mengoda Rendra.
"Hai...bocil..loe masih jadi pengagum rahasianya...ha...ha.."ucap Panji yang memang tidak bisa di dipungkiri Candy sangat sempurna buat laki-laki yang lebih mengenal dunia laki-laki yang sangat keras dan kejam.
"Hoi..hoi..kalian ga ada malu ya...aku masih ada disini tapi yang kalian omongin itu isteriku...loh.." ucap Rendra tanpa tersenyum boleh di bilang sangat serius.
"Sorry...Kapt...gue hanya mengagumi saja...tidak lebih" ucap Alfa dengan tangan seperti orang minta maaf.
"Tapi...bro kalau boleh gue jujur...benar kata Alfa istri loe..terlalu mendekati sempurna dari sisi manapun...hampir tidak ada cela..."ujar Ifan yang hanya ingin menenangkan situasi.
Rendra hanya diam menundukkan kepalanya, membayangkan wajah imut istrinya dengan pesona mata indahnya di tambah sikap malu-malu bila di pandang oleh Rendra.
Wajah imutnya selalu dirindukan saat jauh dari sisinya, tapi bila di dekatnya ada rasa menyenangkan dan tenang.
"Hallo...kita semua masih di sini...bro" ucap Panji yang melihat Rendra senyum-senyum sendiri entah apa yang ada dalam benaknya saat ini.
"Sorry-sorry...aku lagi ga fokus..." ujar Rendra yang tidak menjelaskan alasannya.
"Gimana mau fokus yang ada di pikiran loe cuma satu nama..."ucap Ifan yang tidak kalah mengoda Rendra.
"Sok tahu..."ucap Rendra yang tidak akan memberikan penjelasan sebab semua tahu memang hanya Candy seorang yang ada di hati Rendra yang sangat di cintai dari pertama mengenal sosok perempuan.
__ADS_1
Kawan satu tim Rendra mengakui Rendra dan Candy adalah pasangan yang super perfect tapi keduanya tidak pernah mau bila di bilang seperti itu, keduanya jarang menunjukkan keromantisan di depan orang banyak tapi dari bahasa tubuh dan sikap terhadap pasangan dia tunjukkan dalam bentuk perhatian yang sangat sederhana tapi menyenangkan pasangannya buat yang melihatnya.