
..."Dia yang merajai alam semesta, tapi kenapa kita takut akan takdir-Nya pasrahkan saja karena Dia sebaik-baiknya tempat bergantung" Rendra....
Waktu seakan berpihak pada Ainun yang hari ini berniat pulang bukan karena libur saja tapi kangen dengan kebersamaan keluarganya.
Sopir dari keluarganya sudah menunggu didepan gerbang kosnya dengan setia sesuai permintaan kakeknya untuk menjemputnya, sebegitu khawatirnya beliau pada cucu kesayangannya.
Tapi Ainun bingung kenapa dia tidak langsung di bawah ke rumah milik kakeknya tapi ke jalan menuju kediaman keluarga besar mas Indra, ada banyak pertanyaan didalam otaknya dan sopir yang menjemputnya pun tidak bisa menjelaskan.
Ainun hanya bisa diam dengan tangannya membalas beberapa chat dari teman masa sekolah menengah atasnya yang mengajaknya pertemuan reuni, ada juga dari Intan yang masih dengan pembahasan yang sama seputar Fatur dan Rafiq.
Betapa terkejutnya Ainun sesampainya di kediaman Indra ternyata keluarga besar dari papa dan mamanya sudah berkumpul disana.
Banyak buket dari beberapa kolega yang dikirim ke rumah mama Indra yang masih ada di luar yang membuat Ainun sedikit kecewa sebab tidak ada yang memberi tahu tentang kelahiran dari putra Indra dan Nisrina.
Setelah mengucapkan salam Ainun masuk dengan wajah cemberut dia memeluk kakek dari papanya.
"Kenapa..sayang.." tanya kakeknya dengan mengusap kepalanya.
"Ko..ga ada yang kasih tahu..Ai..sih.." Ainun protes dengan muka di buat sejelek mungkin.
"Ih..nanti jeleknya..nambah..." goda papanya yang gantian dipeluk Ainun.
"Ih..papa.." seru Ainun dengan manja.
"Bukan ga mau kasih tahu..tapi ade lagi sibuk..lagian memang mau gantiin mules.." ujar Nisrina yang dipeluk Ainun.
"Mba...selamat ya..lucunya..mirip siapa ya..jangan mirip papanya ya..jeyek.." goda Ainun pada mas Indra yang merangkulnya.
"Benar..kah..jeyek.." ujar Indra mencubit hidung Ainun.
"Iya..jeyek..nih..jeyek.." Ainun gantian mencubit pipi Indra lalu berlari meminta perlindungan pada ayah Nisrina.
"Pak..de..mas..tuh.." ujar Nisrina bersembunyi dibalik punggungnya.
Semua tertawa melihat tingkah keduanya yang sangat dekat hingga suasana ramai di rumah mama Indra, ternyata buket didalam juga sudah banyak terkirim dari beberapa teman dekat Nisrina juga Indra.
Sepertinya semua kolega ingin memberikan ucapan pada keluarga kecil mas Indra sebab rumah jadi penuh dengan buket.
Baru saja Ainun duduk diantara keluarganya asisten rumah mama Indra sudah membawa lagi buket baru yang diterima dan kiriman itu dari kolega papa mas Indra yang ikut memberikan ucapan bahagia atas kehadiran cucu tercintanya.
Ainun yang duduk ditengah-tengah keluarga besar dari papa mamanya, dia lupa menon aktifkan benda pipi miliknya alhasil bunyi dari kiriman chat menggangu suasana hatinya.
"Mba..bunyi terus tuh.." ujar papanya yang kebetulan di dekatnya.
Ainun membuka isi chat yang terlihat cukup banyak terkirim dan paling banyak dari Intan dengan isi chatnya sedikit banyak cukup membuat hatinya mau tidak mau harus membalas dan melakukan tindakan.
isi chat yang paling bikin Ainun sedikit prihatin yang menyatakan kalau Fatur mengalami kecelakaan saat selesai sidang untuk perjalanan pulang, kondisinya dalam keadaan kritis dan hanya nama Ainun yang selalu dipanggilnya.
Ainun seperti bingung saja kenapa harus dia sedangkan yang selalu di dekat Fatur bukan dirinya tapi Dinda terus bagaimana reaksi Dinda nanti bila dirinya kalau harus menengok di rumah sakit nanti.
Ainun manusia biasa yang tidak mungkin tidak punya hati mendengar orang yang dikenalnya dalam keadaan sakit, tapi tidak mungkin bila ke sana seorang diri atau hanya berdua dengan Intan saja pasti Dinda akan makin marah padanya.
__ADS_1
Saat dirinya dalam keadaan dilema, tanpa disadari seseorang disana mengirimkan pesan yang sepertinya jawaban dari dilema itu, dan isi chat itu seperti penolong untuk Ainun.
~ Assalamualaikum..Ai..kapan ke kampus..
Dan tidak mau menunggu lama Ainun langsung membalas chat dari seseorang yang selalu datang diwaktu yang tepat, tepat dalam artian bukan Ainun ingin memanfaatkan sosok ini, memang sosok ini selalu membantu Ainun dimana saat dirinya sedang dalam kesulitan.
~ Waalikum salam, kak..Ai..belum aktif..di kampus..tapi bisa Ai..minta tolong.
Beberapa saat chat sudah terkirim tapi belum ada balasan dari seseorang disana, Ainun tahu dia orang yang sibuk tapi ini penting pikir Ainun yang terlihat gelisah.
"Sayang..ada apa.." tanya mamanya yang kebetulan melihat Ainun yang duduk sendiri di ruang makan.
"Ma..teman Ai..ada yang mendapatkan kecelakaan Ai..ingin menengoknya boleh..kan.." pinta Ainun menjelaskan maksudnya.
"Boleh..lah..masa menengok orang sakit ga boleh apalagi teman boleh..sayang " jawab Candy dengan mengusap kepala Ainun.
Dari benda pipi Ainun terdengar suara yang menandakan ada pesan yang masuk, Ainun seperti tidak sabar ingin melihat pesan itu dan berharap dari seseorang yang diharapkannya.
Dan benar saja ternyata dari sosok yang diharapkannya yang membalas chat dari dirinya.
~ Dengan sepenuh hati..apa yang bisa di tolong..dan kebetulan kak..sedang free dinas..
Berhubung saat ini sosok yang diharapkan siap membantu Ainun dan terlihat di benda pipinya sosok disana juga sedang online dan Ainun kembali memberikan balasan padanya.
~ Kakak bisa..tolong temani Ai..menengok teman Ai..yang dirawat dirumah sakit.
~ Siap..86..mau di jemput dimana tuan putri..
~ Apaan..sih..kak.., kita ketemuan saja di rumah sakit..jl siliwangi no.7..Ai..tunggu ya..kak..jangan pake..telat
~ Ok..meluncur..siap..
Sopir keluarga yang mengantarkan Ainun memenuhi perintah kemana tujuan perjalanan yang akan Ainun tujuh dan Ainun tidak meminta untuk di tunggu sebab takut lama namanya juga ketemu teman juga setidaknya pasti ada obrolan, dan sopirnya menuruti permintaan Ainun.
Mobil mewah kakek Ainun yang sudah meninggalkan Ainun itulah yang dilihat oleh sosok yang sudah menunggu dengan setia, sepertinya dia merasa minder sebab siapa dirinya hanya orang biasa tidak layak harus berharap memiliki Ainun yang anak sultan sedangkan dirinya rakyat jelata rasanya tidak pantas saja.
"Assalamualaikum..kak.." sapa Ainun langsung duduk disamping sosok yang selalu tampil rapi dan sederhana.
"Waalaikum salam.., Ai..gimana kabarnya?" sapa balik darinya yang seperti biasa dia selalu ramah tidak terlihat diwajahnya beban terlihat sangat santai.
"Alhamdulillah..baik..kakak..gimana..?" tanya Ainun pada sosok yang terlalu baik menurutnya.
"Alhamdulillah..seperti apa yang Ai..lihat dan sedikit terobati rindunya" godanya pada Ainun.
"Oh..ya..Ai..baru tahu.." balas Ainun dengan malu.
"Oh..iya.Ai..di ruangan mana..teman Ai...dirawat ?" tanya Andika dengan langsung berdiri.
"Kakak mau kemana..?" tanya Ainun dengan penasaran.
"Katanya mau nengokin teman..Ai.." jawab Andika.
"Kita tunggu dulu..ada teman Ai..yang mau bareng." Ainun menjelaskan pada Andika yang kembali duduk.
"Kakak..ga telat ya.." ucap Andika sesaat memandang Ainun.
"Ya..Ai..yang telat.." balas Ainun merasa bersalah, tiba-tiba suara khas meramaikan suasana.
"Ai...maaf..maaf...Intan telat.." serunya dengan sedikit berlari.
__ADS_1
"Iya..tan..Ai..maafin tapi sebenarnya kita harusnya minta maaf sama..yang sudah nungguin kita..lama lagi.." Ainun menjelaskan dan menunjukkan sosok disampingnya.
"Oh..ya..tan kenalkan..ini kak..Andika " ucap Ainun pada Intan dan Intan sedikit mengerti ini sosok yang istimewa yang selama ini Ainun tutupi darinya.
"Oh..iya..Intan.." ucap Intan memperkenalkan diri dan Andika hanya tersenyum tidak banyak berkata menurutnya sudah cukup penjelasan dari Ainun.
"Ayo..kita ke ruangan kak..Fatur.." ajak Intan pada keduanya.
Mereka berjalan menuju ruangan ICU dimana Fatur dirawat, didepan ruangan mereka bertemu keluarga Fatur dan bertanya adakah salah seorang dari mereka yang mengenal Ainun karena anaknya membutuhkannya.
Ainun yang biasanya ceria dan terlihat cuek saat ini dibuat serba salah, Andika seperti tahu apa yang dirasakan Ainun.
Andika memulai mencairkan suasana dengan memulai bertanya terlebih dahulu.
"Maaf..pak..menurut bapak..apa dengan kehadiran Ainun dapat berpengaruh pada kondisinya" Andika sopan bertanya.
"Saya juga tidak tahu hanya saya ingin bertanya ada hubungan apa dengan anak saya.." tanya bapak dari Fatur.
"Ini..Ainun..dan saya calon suaminya.." Andika seperti pasang badan untuk Ainun.
"Oh..maaf..jadi neng Ainun sudah punya calon..suami bapak kira pacar Fatur.." ujarnya sedikit malu.
"Maaf..boleh bapak minta tolong neng bisa kan melihat kondisinya di dalam" pinta bapak Fatur dengan sopan.
Andika hanya memberikan tanda lewat matanya yang memberi isyarat mempersilahkan Ainun kedalam melihat kondisi Fatur didalam.
Dan Ainun masuk dengan terlebih dahulu menggunakan baju khusus, Ainun masuk seorang diri terlihat Fatur terbaring lemah dengan beberapa selang menempel di beberapa bagian tubuhnya.
"Assalamualaikum..kak..saya..Ainun.." Ainun berkata seorang diri.
"Kak..memang ga cape tidur terus..diluar sana keluarga kakak..nungguin..loh, mereka mau kakak bangun..dan teman-teman senat..nungguin diomelin sama kakak..dan ada yang special Ai..pengen liat kakak wisuda..kak..please bangun..orang tercinta kakak nunggu kakak bangun dan ingin kakak di wisuda..kak......kak Fatur.." teriak Ainun spontan sebab melihat mata Fatur terbuka, Ainun menekan tombol untuk memanggil perawat atau dokter.
Tidak beberapa lama dokter datang bersama perawat dan bertanya kenapa Ainun bisa melakukan prosedur pada pasiennya, dan Ainun menjelaskan kalau dirinya mahasiswa kedokteran dan kebetulan sedang KOAS juga, dokter berterimakasih dan Fatur pun sudah dalam keadaan sadar tinggal perawatan.
Tapi masih butuh banyak istirahat dan belum bisa banyak diajak berinteraksi karena masih masa pemulihan.
"Neng..terimakasih sudah mau datang dan Fatur bisa kembali sadar..dan maaf juga terimakasih mas sudah mengijinkan neng Ainun untuk bertemu Fatur.." seru bapak sebagai orang tua Fatur.
"Sama-sama pak..kita wajib menengok teman sakit selama ada kesempatan silaturahmi harus terjalin.." balas Andika berdiri disamping Ainun yang hanya diam tapi memberikan senyumnya.
Intan yang hanya diam seperti tidak percaya saja dengan apa yang dilihatnya mana ada calon suami yang mau menemani calon istrinya bertemu orang menyukai calonnya, ko bisa seluas itu hati Andika pikir Intan.
Dan tidak lama Dinda datang masih dengan seragam KOAS yang menandakan dirinya baru pulang dinas.
"Hai..Ai.." dapatnya dengan sedikit senyum.
"Hai.." balas Ainun singkat.
"Maaf..pak kami tidak bisa lama..kami langsung pamit saja..saya harap semoga mas Fatur cepat pulih..sekali lagi kami mohon pamit..mari..pak.." ucap Andika menggenggam erat tangan Ainun.
"Oh..iya sekali lagi mohon maaf dan terimakasih kasih..mba dan mas.." balas bapaknya Fatur dengan ramah.
Intan yang masih ingin bersama dengan beberapa teman Fatur yang kebetulan baru saja datang, hingga keduanya meninggalkan ruangan dimana Fatur dirawat.
Setelah kepergian Ainun Dinda banyak bertanya pada Intan tentang sosok yang bersama Ainun dan Intan menjelaskan sesuai yang dia dengar dan saksikan betapa baiknya Ainun dan Andika yang mengijinkan Ainun untuk bertemu Fatur.
Dinda merasa malu selama ini selalu menyangka Ainun memiliki rasa pada Fatur, ternyata ada sosok yang selalu ada buat Ainun dan sosok itu bukan Fatur.
Apalagi Intan makin bingung bagaimana dengan Rafiq yang merasa Ainun menyukainya padahal ada sodok nyata yang selalu ada buat Ainun.
__ADS_1