Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
222


__ADS_3

..."Allah itu adil akan ada langit cerah setelah hujan, akan ada kemudahan setelah ada kesulitan, akan ada kebahagiaan setelah kesedihan" Candy....


Hari ini harusnya jadi hari bahagia buat Allea karena setelah kepulangannya dari rumah sakit dia di hadapkan dengan prosesi wisuda tapi sepertinya enggan dirinya untuk menghadiri acara itu, dia hanya ingin di rumah saja tanpa ingin menghadiri acara itu.


Selepas sholat subuh Allea kembali ke tempat tidurnya menarik selimutnya, walaupun matanya tidak tertutup hanya bermalas-malasan di kasur empuknya.


"Ko..belum bersiap diri.." tegur Azlan mencium ujung kepala Allea selepas olahraga paginya.


"Malas.." balas Allea singkat yang masih tertutup selimut.


"Ini..hari yang di nanti semua mahasiswa loh.." ujar Azlan mengambil handuk dan meninggalkan Allea.


Tidak lama Azlan keluar dari kamar mandi, Azlan masih melihat Allea di atas kasur, ingin Azlan memaksanya tapi masih ada rasa khawatir Allea terluka dan senjata jitu dari Azlan hanya menggodanya.


"Bener nih..mau di rumah saja..ga nyesel.." goda Azlan dengan masuk kedalam selimut Allea.


"Ih..ko ikutan sih.." rengek Allea pada Azlan yang sudah memeluk Allea.


"Mas..awas..ih..awas.." protes Allen dengan mengusir Azlan.


"Katanya males..ya udah mas temenin.." goda Azlan masih memeluk Allea dan sesekali mencium Allea dan mencubit hidung mancung Allea lembut.


"Iya..ya..Al..mau datang ke acara wisuda.." serunya langsung berlari ke kamar mandi.


Cukup lama Allea di kamar mandi hingga Azlan bisa mempersiapkan surprise yang akan dilaksanakan bukan di rumah dinas tapi di suatu tempat yang Allea belum pernah kunjungi bersamanya.


Allae berdandan cantik tapi sepertinya dia enggan pergi, terdengar suara eyang berbincang dengan Azlan di ruang tamu rumah dinas Azlan.


"Oh..oh..cantik..bener..cucu eyang.." seru eyang yang melihat Allea yang baru keluar kamar.


"Apaan..sih eyang..biasa aja..ko.." balas Allea yang masih berdiri.


"Ayo..nanti terlambat.." ucap eyang meminta pada keduanya.


Mereka meninggalkan rumah dinas menuju lokasi wisuda, terlihat ramai orang memenuhi gedung wisuda tapi hanya Allea yang merasa tidak nyaman di suasana ini.


Acara wisuda berlangsung hikmat, tanpa terasa kini giliran pengumuman siapa saja mahasiswa berprestasi satu persatu di panggil ke depan salah satunya nama Allea yang membuat Allea tidak percaya itu.


"Al..ayo..tuh nama loe disebut.." tegur salah satu teman Allea.


Allea melangkah menuju podium dengan perasaan enggan tapi demi eyang apapun Allea lakukan, dengan langkah yang Allea paksakan tapi Azlan dari jauh memberikan tanda dengan menunjukkan agar dirinya tersenyum.


Allea tertunduk malu dengan tersenyum dan tepuk tangan mengiringi langkah Allea hingga ucapan selamat di berikan oleh dekan dan rektor untuk Allea.


Sesi foto-foto berlangsung meriah tapi tidak dengan Allea yang memilih meminta pulang pada Azlan, permintaan Allea dikabulkan Azlan dan eyang yang tahu rencana Allea memilih pulang bersama kakak Allea yang kebetulan juga hadir.


Allea merasakan ke anehan sebab jalan pulang berbeda jalur, dengan gaya protesnya dia bertanya pada Azlan.


"Sudah lupa jalan pulang..ya mas.." dengan menghadap pada Azlan yang hanya bisa memberikan senyum manisnya.


"Sabar..qalbii..kita jalan-jalan dulu..bukannya qalbii bosan tiduran terus..kita jalan-jalan dulu..ok.." balas Azlan menjelaskan dengan sedikit menggoda.


"Ga..ah..mas Al..di rumah aja males.." seru Allea dengan cemberut.


"Lihat dulu.." ujar Azlan singkat terlihat Allea memilih tidur dari pada berdebat dengan Azlan pikir Allen.


Azlan hanya sesekali memandang Allea yang tertidur, hingga tidak menyadari dirinya sudah ada di kamar sebuah rumah besar, kamar yang tertata rapi serta bersih.



Azlan keluar dari kamar dimana Allea tertidur pulas, untuk mengambil barang-barang yang di bawanya dari rumah dinas di bantu asisten villa milik kakek.

__ADS_1


Allea terbangun dari tidurnya dan mencari Azlan dia merasa ketakutan sebab dia merasa di tempat yang asing menurutnya.


"Non..sudah bangun.." sapa wanita paru baya dengan membungkukkan badannya.


"Maaf..bu saya ada dimana ya.." tanya Allea dengan tangan berkeringat seperti dia takut.


"Oh..ini di villa tuan besar..non.." ujarnya menjelaskan, siapa juga tuan besar pikir Alleayang masih merasa takut.


"Ibu..tahu mas Azlan.." tanya Allea yang semakin takut walaupun kamar itu nyaman tapi merasa dirinya berada di tempat asing baginya.


"Ya..qalbii mas disini.." Azlan masuk dan tersenyum pada ibu yang keluar dari kamar Allea.


"Ih..mas jangan tinggalin Al.., Al takut " Allea memukul dada Azlan dan memeluknya erat.


"Siapa juga yang mau ninggalin..qalbii yang tidurnya terlewat pulas.." balas Azlan mendekap tubuh Allea yang memang takut Azlan rasakan.


"Ayo..mas tujukan saat ini kita dimana.." Azlan menggandeng tangan Allea untuk memperkenalkan semua sudut villa kakek.


Di mulai dari beberapa kamar, yang semua baru saja kakek dekorasi sesuai maunya Azlan di bantu pihak WO papanya yang mengurus.



Yang itu baru salah satunya, dari kamar yang tadi Allea tempati tapi ada kamar yang di minta Azlan di dekorasi yang ternyaman mungkin selama dirinya tinggal untuk menghabiskan masa libur dan gurunya, untuk menyenangkan istrinya yang baru sembuh juga membayar waktu yang terpisah selama tugasnya.



"Itu kamar kita.." ucap Azlan menunjukkan satu pintu dan betapa terkejutnya Allea kamar itu cukup besar dan sangat mewah menurut Allea.


"Ga..salah mas.." tanya Allea dengan melihat sekeliling kamar.


"Ga..lah siapa lagi yang ada disini selain kita..kalaupun ada masih banyak ko kamar yang lebih besar lagi dari ini..kamar utama milik kakek mau kita tidur disana.." Azlan menjelaskan pada Allea.


"Ga..lah mas ini saja udah besar..buat kita berdua.." Allea membalas penjelasan Azlan.



Dalam hati Allea seperti apa besarnya villa ini, sebab semuanya besar dan luas, begitupun ruang tamunya.



Semua benar-benar kejutan buat Allea di tempat yang baru di Lihatnya dan ternyata memang Azlan memiliki keluarga yang sangat kaya, Azlan kembali mengajak ke ruangan lain tepatnya ruang makan.



Tapi ini meja makan yang mininya, berhubung hanya berdua dirinya saat ini berkunjung ke villa.


"Enak.." tanya Azlan pada Allea yang sudah menghabiskan menu makanan yang sudah disiapkan asisten villa.


Azlan kembali mengajak Allea ke ruang baca tepatnya disitu terdapat banyak buku juga terdapat tempat duduk santai di ruangan itu.



Allea cukup mengagumi seisi villa ini, tapi Azlan tetap menjadi orang yang bersahaja yang Allea rasakan selama ini sebab tidak terlihat dirinya membanggakan keluarganya di hadapan Allea yang di buat kagum saat kakinya berada di bagian villa ini entah apapun itu namanya teras atau bagian depan villa yang jelas mewah banget yang Allea lihat.



"Udah..yuk..kita bersih-bersih.." ajak Azlan menggandeng tangan Allea untuk kembali ke kamar mereka.


Selepas sholat magrib Azlan memanggil semua asisten yang mengurus villa kakek, semuanya lima orang hanya sepasang suami istri yang sudah paruh baya masih setia mengurus villa kakek yang lainya masih muda dua lelaki dan satu orang wanita, setelah di kenalkan oleh Azlan pada Allea mereka kembali ke tempatnya yang kakek siapkan untuk beristirahat.


Kini keduanya menikmati waktu santai menunggu waktu sholat isya dengan membaca di ruang baca yang tersedia banyak buku yang menurut Allea semuanya menarik untuk di baca.

__ADS_1


Azlan tiba-tiba mengeluarkan kotak kecil dan di bukanya terlihat benda kecil sedikit panjang dan tiba-tiba Azlan melingkarkan di leher Allea yang membuat Allea terkejut.


"Apaan..ini mas.." ujar Allea dengan menyentuh benda itu yang sudah melingkar di lehernya.



"Maaf..hanya ini yang bisa mas kasih.." ucap Azlan pelan dengan menunduk.


"Ini sudah istimewa ko..mas.." balas Allea pada Azlan dengan memegang tangan Azlan.


"Terimakasih..mas..sudah mau menerima Al..yang belum bisa jadi istri yang baik untuk mas.." ucap Allea yang sudah berkaca-kaca.


"Siapa bila belum jadi istri yang baik..sini berhadapan dengan mas..yang bilang seperti itu.." Azlan pura-pura marah mencari tahu orang yang berkata seperti itu.


"Al..yang bilang.." ucapnya dengan menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Yang tahu baik buruknya itu mas qalbii.. mas tahu semua tentang qalbii jadi mas berharap biarlah semua berjalan sesuai alurnya begitupun dengan rasa..mas ingin qalbii merasa nyaman dengan kehadiran mas disaat yang belum tepat..jadi biarlah rasa itu jadi pelipur lara itu sendiri.." Azlan menjelaskan dan semua ucapan Azlan tidak ada yang salah Allea mengakuinya dirinya masih terluka dengan hal itu.


"Mas..ga ingin memaksakan suatu hal apapun untuk qalbii..sebab mas menikahi qalbii karena ibadah pada Allah bukan atas dasar yang lainnya..mas hanya ingin rasa itu tumbuh dengan sendirinya tanpa ada paksaan..mas yakin qalbii suatu saat akan memiliki rasa yang sama seperti mas sama qalbii..dan merasa bangga ada di samping dan bersama mas..entah itu kapan waktunya yang jelas..mas akan tunggu waktu itu.." ucap Azlan mencium tangan Allea yang saat ini sudah menangis pilu mendengar semua pengakuan Azlan yang sangat terdengar tulus.


Azlan berniat keluar dari ruangan memberikan waktu untuk Allae sendiri namun baru beberapa langkah, pelukan dari tangan seseorang menghentikan langkanya terdengar semakin pilu tangisnya yang sudah menyadarkan kepalanya di balik tubuh gagah Azlan.


"Maafkan..Al..mas yang selama ini..belum menyadari ketulusan mas pada Al..maafkan..Al.." makin dalam tangisnya Azlan bukan lelaki yang tidak peka apalagi egois.


"Ga..ada yang salah hanya mas datang di waktu yang tidak tepat..itu saja.." seru Azlan yang masih berdiri membelakangi Allea yang masih memeluknya.


"Mas..tolong hukum Al..agar Al bisa memperbaiki ini semua.." pinta Allea dalam isaknya berucap.


"Mas..yang harusnya menerima hukuman.." balas Azlan yang membuat Allea berhenti menangis karena bingung.


Azlan membalikkan tubuhnya karena bingung tangis Allea berhenti mengkhawatirkan keadaannya, tapi apa yang dilihatnya Allea menatap kosong Azlan seakan bingung siapa yang salah dalam masalah ini.


"Qalbii..ok..qalbii.." Azlan memanggil Allea yang masih memandang kosong Azlan.


Setulus ini kah seorang Azlan yang eyang kirimkan untuknya menjadi suaminya penuh dengan cinta kasih pada dirinya yang jelas-jelas memberikan syarat untuk menerima perjodohan ini dengan tidak melakukan apapun saat berduaan, dan informasi yang dia dengar dari eyang Azlan akan di promosikan menjadi kapten selepas bertugasnya yang beberapa bulan nanti akan di lantik.


Allea semakin berdosa pada Azlan yang sudah memberikan cinta yang sangat besar padanya yang rapuh, dan hanya menerima balasan tidak keperdulian dari dirinya, akan kehadirannya yang nyata dengan kasih sayang tulusnya dia berikan tanpa sedikitpun ingin balasan, rasanya tidak adil menurut Allea dirinya pada Azlan atas perlakuannya selama ini.


Harusnya Azlan mendapatkan wanita yang lebih baik darinya pikir Allea, tapi berbeda dengan Azlan yang memikirkan keadaan Allea.


Makin dalam rasa bersalah Allea pada Azlan hingga tanpa sadar Allea menutup matanya pingsan karena tekanan dalam batinnya yang dalam belum lagi kondisi yang baru pulih.


Beberapa menit kemudian Allea membuka matanya yang di lihatnya Azlan yang masih menangis memegang tangannya.


"Maafkan..mas ga lagi-lagi berkata apapun yang bikin qalbii makin terluka..maafin mas ya.." pinta Azlan dengan mencium tangan Allea berulang-ulang.


"Mas..Al..yang salah mas boleh Al berkata jujur.." Azlan mengangguk tanda memperbolehkan.


"Mas..harusnya dengan wanita yang baik bukan Al..orangnya.." Azlan makin menangis dengar tiap kata yang Allea ucapkan.


"Mas..hanya ingin qalbii..bukan yang lain.." Azlan makin dalam tangisnya saat ini dia jadi lelaki tercengeng.


"Ga..mas..mas terlalu sempurna untuk Al.." Allea makin merasa bersalah.


"Itu karena ada qalbii mas sempurna.." Azlan ingin menyakinkan Allea.


"Mas..Al..harus dari mana memulainya bila harus tetap disamping mas.." Allea seperti meminta Azlan meminta dirinya harus melakukan apa.


"Kita sama-sama mulai..dari nol..ok.." pinta Azlan dengan memberikan senyum termanisnya.


"Maaf..mas ini rasa bukan isi bensin.." keduanya tertawa bersama ini awal keduanya membuka hati, ada kehangatan yang tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata dan pelukan keduanya hangat dapat dirasakan oleh keduanya yang sudah saling mengakui ada rasa dalam relung hati keduanya.

__ADS_1


β˜…β˜…Noteβ˜…β˜…


Maaf membuat menunggu, terimakasih untuk semua masukan dan komentarnya sekali lagi terimakasih πŸ™πŸ’•


__ADS_2