
..."Hidup adalah amanah jadi harus di jalani dengan penuh tanggungjawab sebab akan ada masa kita diminta pertanggungjawaban itu jadi jadilah jiwa yang bisa menjaga amanah itu " Candy....
Enam bulan sudah Azlan menyandang panggilan suami dari istri yang bernama Allea, yang masih membeku laksana gunung es yang beberapa hari lagi akan di tinggalkan Azlan karena tugas ke negara berkonflik dan bukan waktu sebentar dirinya disana.
Azlan sudah mengajukan pengunduran diri sementara pada pihak kampus dan pihak kampus masih berharap selepas dinas nanti untuk kembali berdinas di kampus Azlan belum bisa menyanggupinya hanya bisa berkata selama dia bisa, dan akan dia pertimbangkan bukan soal honor tapi tugas yang lain akan dia emban selepas bertugas di negara berkonflik.
Azlan harus meninggalkan Allea untuk kembali tinggal di rumah dinas eyang selama dirinya berdinas, ini bukan pilihan bagi Azlan tapi yang jelas ini rencana tuhan yang Azlan yakini.
Untuk Allea sendiri dia seperti berdiri pada dua pilihan bahagia atau biasa saja baginya Azlan hanya sosok yang hadir diwaktu yang tidak tepat tapi ada dimana waktu sosok itu berperan mengisi relung hatinya, jadi baginya dia tidak tahu harus senang atau sedih atas kepergian Azlan atau biasa saja.
Berbeda dengan mamanya yang terlihat sangat sedih setelah mengetahui putranya akan mengemban tugas di negara yang jelas-jelas medannya perang namanya juga negara berkonflik, dan berharap putranya berangkat selamat begitupun pulang dalam keadaan selamat.
Rendra yang tahu itu hanya bisa menyakinkan istrinya bahwa ini tugas Azlan harus mengembannya jadi berharap selalu mendo'akannya walaupun jauh tapi lewat do'a semuanya terhubung itu yang selalu Rendra yakinkan pada istrinya, Rendra memaklumi kekhawatiran Candy selaku mamanya namanya juga anak akan bertugas jauh jadi rasa khawatir itu wajar pikir Rendra.
Azlan yang kebetulan yang memimpin misi ini jadi dia yang paling sibuk dalam hal ini, terlihat beberapa hari ini Azlan selalu pulang terlambat dengan banyak diskusi dengan beberapa kawan yang sama-sama akan di kirim ke negara konflik, yang selalu menitipkan pesan agar Allea makan lebih dulu begitupun waktu tidurnya.
Sebenarnya berat bagi Azlan untuk meninggalkan Allea tapi ini tugas yang harus tetap di jalaninya, Azlan berdiri seorang diri menatap langit malam di pusat latihan yang sudah sepi.
"Gue..tahu..loe..lagi sayang..sayangnya..tapi ini tugas.." tepukan tangan di pundak rekan Azlan yang mengejutkan Azlan.
Azlan tidak membalas ucapan rekannya dia masih memandang langit malam yang saat ini tidak banyak bintang yang terlihat, seakan ikut merasakan rasa yang Azlan rasakan.
Seandainya rekannya tahu apa yang Azlan khawatirkan mungkin dia tidak percaya sebab semua terlihat baik-baik saja, yang Azlan khawatirkan adalah apakah Allea akan makin menjauh selepas dirinya bertugas sebab tugas ini bukan memakan waktu sebentar paling sebentar satu tahun.
Saat ini saja dirinya di dekatnya dia hanya memperlakukan dirinya tidak bedanya dengan kawan kampusnya hanya bedanya satu rumah, satu tempat tidur itu saja tidak lebih apa lagi nanti dirinya jauh dalam waktu yang tidak dapat di tentukan lagi.
"Udah..bro tenang..bini loe ga kemana-mana ko..soal rindu, kangen wajar..jangankan jauh dekat aja kalau lagi sayang..sayangnya bilang kangen..padahal jelas-jelas ada di depan mata..bucin.." rekan Azlan dengan tertawa menggoda, Azlan yang hanya memperhatikan tingkah konyolnya tanpa berkomentar.
Malam makin larut Azlan masih belum tidur dia menyiapkan semua perlengkapan untuk keberangkatan esok siang, keluarga besarnya sudah dia beri tahukan jadwal keberangkatan dan ingin mengantarkan keberangkatannya.
Di pandangannya istri tercintanya dengan air mata yang tidak terasa jatuh tepat di pipi Allea yang membuat Allea terbangun dan membalas pandangan Azlan.
Azlan membangunkan Allea di peluknya tubuh Allea hingga tidak berjarak diantara keduanya, hanya isak tangis Azlan yang terdengar Allea sendiri masih diam harus melakukan apa pikir Allea tidak memberikan balasan pelukan dari Azlan.
"Mulai besok..qalbii tinggal di rumah eyang..sesekali boleh di rumah dinas mas tapi jangan bermalam disini tidak baik sendiri.." seru Azlan pelan masih dalam memeluk Allea.
__ADS_1
"Qalbii harus bisa jaga diri..selama mas jauh..ingat jangan malam-malam tidur, jangan telat makan..kalau sakit jangan sungkan bilang biar ga bikin khawatir eyang.." serunya lagi dengan sudut mata yang masih terlihat air mata.
Allea masih dalam diamnya yang dia rasakan hanya seperti ini rasanya akan di tinggalkan oleh orang yang selama ini menemaninya tanpa ada rasa khawatir atau sedih yang berlebih.
"Sesekali bermalam di rumah kakek biar mama ada teman bicara..ya qalbii.." pinta Azlan pada Allea dengan melepaskan pelukannya.
"Maaf..kan mas yang belum jadi suami terbaik..buat qalbii.." Azlan memegang tangan Allea erat.
"Mas..mohon selalu dirindukan mas.." pinta Azlan dengan tertunduk, sepertinya ada sedih yang sangat dalam dia rasakan.
"Istirahatlah...maaf..sudah membangunkan qalbii..selamat istirahat..qalbii.." ucap Azlan yang keluar kamar.
Allea masih membuka matanya seperti ada rasa bersalah tapi apa yang salah itu pikirnya, dimana letak salahnya terus harus bagaimana dia bersikap yang menurutnya semua berjalan wajar selama ini.
"Ko..belum tidur.." tanya Azlan yang naik ketempat tidur berbaring disamping Allea.
"Boleh mas peluk malam ini.." pinta Azlan dan Allea hanya mengangguk.
"Tidur..lah..oh..iya besok tidak usah ke kampus mas sudah ijin sama dosen qalbii.." Azlan memeluk Allea dalam tidur, keduanya dalam posisi berhadapan.
"Sudah tidur..jangan memandang terus ga akan..bikin kenyang..sebab bukan makanan.." ujar Azlan dalam mata tertutup.
Allea hanya tetap diam, tapi belum bisa menutup matanya dan kembali menatap wajah orang yang sudah enam bulan ini menemani tidur malamnya.
"Masih belum tidur..apa baru tahu kalau selama ini punya suami ganteng.." goda Azlan yang tidak ingin membuka matanya agar tidak melihat Allea yang malu.
"Ih..kepedean.." balas Allen dengan menarik selimut untuk menutup kakinya.
"Mau ngajakin.." goda Azlan pada Allea yang dibalas asal ngomong dari Allea.
"iya..lah ngajak tidur.." ujarnya dengan menutup matanya dengan bantal yang di peluknya.
Azlan hanya tersenyum baginya itu sudah hal yang biasa jadi tidak diambil hati dan dia kembali memeluk Allea tanpa penolakan itu sudah lebih dari cukup untuk Azlan tidak ingin minta lebih.
Angin pagi terasa menusuk kedalam kulit, seperti biasa Azlan sholat malam tapi kali ini dia tidak banyak ayat suci yang Azlan baca, dia keluar rumah di pandangnya langit menjelang pagi ini masih terlihat bintang yang masih menunjukkan sinarnya.
__ADS_1
Suara adzan membuatnya tersadar kalau dirinya sudah lama termenung memandang langit yang mulai menampakkan warna terangnya.
Langkah yang setiap hari bersemangat itu terlihat gontai tidak seperti biasanya, begitupun setiba di rumah dinasnya dia lebih terlihat jadi sosok yang tidak lagi ceria walaupun selama ini dia diterpa banyak ujian terbesarnya dalam hubungan dengan istri yang baru di nikahinya.
"Mas..sarapan sudah tersedia.." Allea menjelaskan dan hanya anggukan yang Azlan berikan dia memilih masuk kamar untuk bersiap diri dan memeriksa perlengkapan yang akan di bawahnya.
Selepas sarapan bersama Azlan seperti biasa membersihkan peralatan makan dan merapikan meja makan, Allea sendiri membersihkan diri dan bersiap mengantarkan keberangkatan Azlan yang ditemani eyangnya.
Tepatnya di lanud terlihat pesawat yang akan mengantarkan Azlan dan beberapa personil lainnya entah berapa jumlah keseluruhannya yang pasti saat ini banyak istri dan keluarga dari para perwira yang haru biru karena akan melepaskan salah satu anggota keluarganya untuk bertugas di negara orang.
Azlan yang datang bersama eyang juga Allea, terlihat papa mama, nenek beserta kakek tidak lama kemudian mas Andika dan mba Nasyauqi tidak ketinggalan si kembar ikut serta melepaskan kepergian Azlan.
Candy dan neneknya yang tidak berhenti menangis, seakan berat melepaskan kepergian putra dan cucu tercintanya walaupun Azlan sudah menyakinkan bahwa dirinya akan menjaga diri baik-baik di sana dan akan selalu memberikan kabarnya disana.
Tapi tetap saja tidak mengurangi rasa sedih kedua orang yang sangat mencintainya, Allen sendiri lebih jadi sosok pendiam seperti bingung dengan apa yang dirasakan oleh hatinya, mau menangis tapi tidak bisa tidak peduli rasanya tidak masuk akal ini suaminya yang akan pergi meninggalkannya apa tanggapan orang tentang dirinya yang jelas akan mempermalukan eyangnya juga.
Setelah upacara pelepasan Azlan berpamitan pada keluarganya satu persatu dan menitipkan Allea kepada semua anggota keluarganya yang hadir terutama pada eyangnya.
Azlan memeluk satu persatu keluarganya dengan berat hati, yang paling lama Azlan memeluk Allea tidak banyak yang Azlan pinta hanya jaga diri dan kesehatan.
Kini langkah Azlan meninggalkan Keluarganya, baru beberapa langkah Azlan melangkah dia kembali dengan sedikit berlari kembali memeluk Allea yang saat ini dia menangis entah dirinya juga bingung apa karena melihat keluarga dari Azlan yang menangis atau ada hal lain yang jelas pelukan Azlan saat ini terasa hangat dan membuat dadanya sesak yang membuat Azlan semakin berat meninggalkan Allea.
"Pergilah..kami akan menjaganya.." Rendra seperti menyakinkan Azlan bahwa semua akan baik-baik saja.
Genggaman tangan Azlan begitu erat hingga membekas ditangan Allea yang berkulit putih "tunggu mas..ya..sehat selalu.." ucap Azlan dengan mencium pipinya tapi entah dorongan dari mana Azlan memberanikan diri mencium Allea tepat di bibirnya tanpa berpikir apa nanti reaksi Allea juga keluarganya baginya dia miliknya.
Begitupun Allea seperti menerima tanpa merasa dia terpaksa yang jelas dia merasakan nyaman menerima ciuman itu.
"Terimakasih kasih qalbii.." Azlan berucap selepas menyudahi ciuman itu.
"Assalamualaikum..dah..baik..baik selalu..ya..bag kesehatan.." teriaknya dengan berlari menuju pesawat yang siap mengantarkannya.
Candy memeluk Allea yang memerah wajahnya bekas menangis juga malu karena mendapatkan ciuman mendadak oleh Azlan yang tanpa di duga oleh semuanya.
Ternyata benar ciuman pertama yang Allea rasakan itu menghangatkan relung jiwanya, sejauh mata memandang Allea semakin ditinggalkan oleh Azlan di dalam pesawat yang sudah lepas landas tepatnya di atas langit lanud.
__ADS_1
Akan kan ada kerinduan yang terpendam yang dirasa atau hilang terbawa angin lalu, kita tunggu apakah waktu yang akan berpihak pada keduanya satu yang pasti selamat datang cinta yang datang di waktu yang tidak bisa kita tebak.