
"Bukan karena matanya indah, atau rupawan wajahnya tapi karena keimanan yang menancap dalam hatinya, hingga memberikan ketenangan bagi siapapun yang memandangnya" Rendra.
Sore ini kediaman rumah Mama Rendra ramai dengan gelak tawa yang khas siapa lagi kalau bukan dikarenakan ada kunjungan kawan tim Rendra yang sangat senang juga haru mendengar kabar kembalinya Rendra dan dalam keadaan sehat tak kurang satu apapun, ini benar-benar anugrah buat kawan tim Rendra.
Entah sudah berapa kali mereka berpelukan seakan tidak ingin terpisahkan satu dengan yang lainnya seperti waktu tidak ingin bergulir dari mereka saat ini, bukan kangen tapi lebih dari itu.
Candaan sesekali terdengar tapi juga rasa haru juga terlihat kalah mendengar cerita Rendra yang bisa selamat dari musibah itu.
"Kapt..gue..ga mau ditinggalkan lagi.." seru Alfa seperti anak kecil.
"Itu..rencana Allah bukan aku yang mau.." ujar Rendra bijak terdengar.
"Bikin gue..jadi mewek aja..loe.." Farel ikut menambahkan.
"Emang loe..aja..yang sedih.." protes Panji menepuk pundak Farel.
"Pokoknya ganti rugi air mata gue sangat berharga..." ujar Fadel lagi bercanda dengan tersenyum.
"Serharga apa sih..bukannya..air mata loe air mata buaya buntung.." balas Ifan yang membuat semua tertawa tidak terkecuali Farel yang jadi pembahasan.
"Kapt..gue..ga tega liat mba..sedih banget dia..tapi gue salut..dia bisa nahan sedih itu..gue yang laki-laki saja ga kuat.." ucap Alfa dengan serius seperti mengingat kembali momen yang telah lewat.
"Dia..bisa tenang..walaupun dari matanya..dia yang paling kehilangan.." ujar Panji menambahkan.
"Aku..juga merasa sangat bersalah..sudah membuatnya khawatir.." ucap Rendra menunduk seperti sedih.
"Gimana bro..pertama kali ketemu.." tanya Farel yang konyol tapi penasaran.
"Ya..gitu...Honey nangis..ga percaya kalau aku dalam keadaan baik-baik saja.." ucap Rendra dengan mengingat saat memeluk Candy pertama kali ketemu.
"Cie..cie..senangnya..." Ifan menggoda Rendra yang terlihat santai.
"Momen-momen...indah gimana.." tanya Farel konyol dengan menyenggol tangan Rendra.
"Ada..deh..mau tahu aja.." jawab Rendra dengan tatapan tajam.
"Pengen tahu..lah..lebih dari pengantin baru ga.." goda Farel lagi dengan jailnya ke Rendra.
"Lebih dari pengantin baru..lah..penasaran.. kan.." balas Rendra ga kalah jail dari Farel.
"Ceritain...dong..Kapt.." ujar Alfa merengek dengan muka menunggu.
Rendra terdiam momen semua indah bersama Candy tidak ada yang bikin dirinya emosi semua indah, hangat dan hampir semuanya menyenangkan saat bersamanya.
Rendra memperhatikan semua kawan satu timnya yang seperti menunggu apa yang akan diucapankan oleh dirinya.
"ye..nunguin..ya.." goda Rendra spontan mendapatkan rangkulan dari semua kawan satu timnya.
"Ya...maaf..semua momen indah buat aku..hanya saja aku merasa terlalu membebani Honey..atas kejadian kemarin.." ucap Rendra dengan serius terdengar.
"Gue..ga faham maksud loe..bro.." tanya Ifan penasaran dengan serius memandang Rendra.
"Sedikit banyak akan merubah karakter Honey karena melihat keadaan sekitarnya yang butuh dirinya.." Rendra menjelaskan dengan muka mengkhawatirkan Candy.
"Bagus..lah tandanya mba tambah dewasa..masalahnya dimana bro.." ujar Farel yang tidak sesuai dengan harapan Rendra.
__ADS_1
"Bro..semua akan normal lagi..bukannya loe sudah ada didekatnya lagi.." Panji menenangkan Rendra dengan menepuk pundaknya.
Rendra hanya tersenyum, ada rasa bahagia Candy makin merasa memilikinya tapi ada rasa bersalah juga yang Rendra rasakan kepergiannya kemarin walaupun tidak lama.
"Mohon dukungannya buat aku..yang sudah diberikan kesempatan kedua..oleh Sang pencipta.." pinta Rendra dengan tersenyum hangat.
"Apaan...sih bro..loe sudah jadi yang terbaik..buat kita semua.." ucap Panji dengan memeluk Rendra sedikit terharu.
"Kapt..segalanya..buat kami.." tambah Alfa dengan senyum ramahnya.
"Oh..ya..gimana kabar keluarga kecil kalian.." tanya Rendra ingin tahu.
"Alhamdulillah..kami semua baik...malah akan ada anggota baru.." ujar Panji yang terlihat senang.
"Oh..ya..siapa..? tanya Rendra penasaran.
"Tuh.." Alfa menunjuk Ifan yang tersenyum diperhatikan oleh kawan satu timnya.
"Akhirnya..bisa menyusul juga.." ujar Rendra ikut senang mendengarnya.
"Loe..yang awalin loe..juga yang akhirin.." ujar konyol Farel yang membuat Ifan malu dengan menggaruk kepalanya.
"Masalah awal akhir bukan masalah yang penting..sudah berusaha..ya..kan..bro" tambah Panji yang terdengar bijak.
"Semua..tuhan yang atur..usaha..tiap hari kalau tuhan belum kasih percaya mau bilang apa.." ujar Alfa yang bocil ikut ngomong.
"Ih..tambah pinter ya..loe.." Ifan merangkul Alfa yang malu.
"Apa..sih bang.." ujar Alfa yang dipeluk Ifan.
"Mau..lah..biar ramai masa tuaku.." seru Rendra dengan serius.
"Serius..bro.." tanya Panji yang tidak percaya.
"Iya..lah, aku ga mau seperti mama papa yang kesepian.." ujar Rendra menjelaskan.
"Bener juga..ya..anak-anak pergi satu persatu dengan kehidupannya" kata Panji seperti membayangkan masa depan.
"Memang mba setuju Kapt.." tanya Alfa dengan tersenyum malu.
"Soal..kaya..gitu..istri harus mau lah.." ucap Farel tegas terdengar.
"Memang istri harus ikut kata suami tapi kalau kondisi dia tidak memungkinkan ga baik juga buat psikologisnya..semua harus kita bicarakan terlebih dahulu..siap atau tidak sebab akan berpengaruh juga kejanin yang dikandungnya..aku ga mau itu.." ucap Rendra menjelaskan dengan ilmu yang dia tahu.
"Tapi...bikinnya tetep kan..bro.." goda Panji yang membuat Rendra tersenyum.
"Paling bisa kalau ngebahas gituan..." ujar Ifan ga mau kalah sama Panji.
"Gimana..cil..masih semangat.." tanya Rendra yang tidak biasa ke Alfa.
"Bukannya kata..Kapten selama ada kesempatan hajar..ble.." balas Alfa yang membuat semua tertawa.
"Tambah..pinter..aja..loe.." ucap Rendra dengan tersenyum membuat Alfa malu.
"Sudah..Kapt gue..jadi malu..nih.." ucap Alfa yang tidak biasa terdengar.
__ADS_1
"Tumben malu...biasanya dikantongin..tuh malu" balas Ifan ke Alfa yang makin tertunduk.
"Lupa..bang ga bawa kantong" jawabnya polos semakin bikin tertawa kawan satu timnya.
"Gue..ga bisa bayangin kalau loe ngomong serius sama bini..loe.." seru Panji ingin tahu.
"Ya..ngomong aja..kenapa harus ditahan..bikin penyakit.." ucapnya lagi dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Nah..kaya..gini..nih..gue ga bisa bayangin.." ucap Panji lagi dengan menunjukkan muka polos Alfa.
"Ya..elah..bang memang kudu gimana muka gue.." balasnya lagi membuat semua tertawa.
"Ya..pasang tampang serius gitu..loe..mah serius sama ga sama aja..datar gitu.." Ifan menjelaskan ke Alfa.
"Tapi gue..salut sama anak-anaknya tahu bapaknya serius sama ga..kalau jadi gue..bakalan semau gue aja..habis bokap gue santai gitu.." ujar Fadel dengan senyum santai.
"Makanya..jadinya kayak gini..nih..oranganya.." Panji menunjuk Farel yang mati kutu.
Semua tertawa termasuk Farel yang merasa semau sendiri saja termasuk bersikap, tapi dalam penyelesaian masalah dalam tim dia termasuk orang yang mau diperintah tidak egois kepada kawan timnya.
Kalau sudah berkumpul ada saja yang mereka bahas hingga waktu tidak terasa berlalu terlalu cepat hingga harus berpisah, untuk kembali ke rumah masing masing meninggalkan Rendra kembali berkumpul dengan keluarganya lagi.
Rumah mama jadi tidak sepi lagi karena kehadiran keluarga kecil Rendra, mama papa juga senang tidak merasa kesepian lagi, terutama suara Azlan dan Ainun yang saling usil tapi mama papa suka dan memaklumi namanya juga anak-anak.
"Can..mau kasih adik..Azlan kapan sudah gede..dia.." tanya mama ke Candy.
"Gimana..ade..mau punya ade..ga " tanya Candy ke Azlan yang santai menikmati acara tv.
"Boleh..ma..ya..mba.." meminta persetujuan Ainun yang disebutkannya.
"Ya..biar ada yang belain mba kalau di usilin ade.." ujar Ainun yang langsung di peluk oleh Azlan.
"Ade...sakit..de.." protes Ainun yang dipeluk terlalu erat.
Rendra yang melihat langsung mendekat merangkul dan duduk diantara keduanya yang membuat keduanya terkejut.
"Papa..." ucap keduanya bersamaan ke Rendra.
"Bener..nih..mau..ade.." tanya Rendra memastikan kedua anaknya.
"Iya..lah.." keduanya kompak juga terlihat bersemangat.
"Asyik..nenek..akan punya cucu baru.." teriak mama Rendra senang.
"Gimana.., siap.." tanya Rendra ke Candy yang hanya mengangguk malu.
"Siap..ok..kerja keras..nih.." seru Rendra sesaat dan langsung menutup mulutnya sendiri membuat kedua anaknya bingung.
"Sebagai sambutan awal nenek..punya sesuatu.." mama Rendra mengalihkan situasi, Candy sendiri sudah malu bukan kepalang terlihat memerah mukanya Rendra sendiri hanya tersenyum dan menundukkan matanya.
Sebelum mama meninggalkan keluarga kecil Rendra, mama menggelengkan kepalanya ke Rendra tanda peringatan untuk Rendra jangan asal ngomong didepan kedua anaknya.
Seperti itulah kehangatan dirumah mama dengan kehadiran keluarga kecil Rendra yang sangat disambut dengan gembira oleh papa Rendra dimasa tuanya ingin ada kehadiran anak, menantu juga cucu meramaikan rumah megah miliknya.
Candy sendiri hanya istri mengikuti kemanapun suami pergi sebagai tanda baktinya kepada suaminya, Rendra hanya ingin Candy nyaman bersama dirinya juga keluarga besarnya, sebab kebahagian keluarga adalah kebahagian dirinya juga.
__ADS_1