Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
73


__ADS_3

"Mulailah dari hal yang kecil untuk mencapai kesuksesan bila ada kegagalan akan lebih mudah bangkit lagi" Rendra.


Rumah megah kediaman orang tua Rendra yang biasanya hanya terdengar obrolan santai bahkan cenderung sepi seperti tidak berpenghuni, tapi untuk saat ini diramaikan oleh tangis bayi mungil kesayangan keluarga besar Rendra.


Baby mungil itu sudah diberikan nama yang indah dalam nama itu banyak menyiratkan harapan serta do'a yang tulus dari kedua pasangan yang di berikan amanah dari sang pencipta untuk menjaga amanah itu hingga datangnya masa dimana seseorang berjiwa satria yang akan berani meminta ke sang ayah untuk di jadikannya seseorang yang teristimewa di hati untuk dijadikan pasangan dalam menjalankan yang dinamakan bahtera rumah tangga.


Rendra dan Candy memberikan nama baby cantiknya ★★Calmera Marhel Ainun Anindya (perempuan cerdas cantik pemilik mata yang sempurna) ★★ dalam nama putri cantik ada keinginan agar putri cantiknya menjadi perempuan yang cerdas dalam perjalanan hidupnya kelak dan banyak bermanfaat untuk orang banyak.


Malam menjelang pagi belum juga memasuki waktu subuh, suara tangis Ainun terdengar nama itu adalah panggilan sayang Rendra ke putri cantiknya yang sekarang mengeluarkan suara tangisnya meramaikan kediaman rumah Papa Rendra yang sekarang dirinya lebih suka di panggil Kakek sebagai kebanggaan buat dirinya.


"Sayang....Ainun...cantiknya Papa" sapa Rendra yang akan menggendong Ainun, Candy sendiri masih menutup matanya karena kantuknya menjaga putri cantiknya bergantian dengan Rendra.


"Cup...cup...sayang jangan menangis ya...kasihan Mama baru tidur" ucap Rendra yang sudah menggendong putri cantiknya yang seakan mengerti permintaan Papanya terbukti suara tangis putrinya berhenti dan hanya matanya memandangi wajah Papanya yang berusaha menenangkannya.


"Pinter...cantiknya Papa" ucap Rendra lagi dengan senyumnya yang tidak lepas dari bibirnya.


"Dra...dra.." suara Mama Rendra memanggil dari luar kamar Rendra.


"Iya...Ma.." Rendra menjawab panggilan Mamanya dan membukakan pintu kamarnya.


"Sayang...sudah bangun ya...minta di temani Papa ya..." ucap Mama Rendra menyapa cucu cantiknya dalam gendongan Papanya.


"Biar sama Mama...biarkan istrimu istirahat dulu...pasti dia terjaga semalaman" ujar Mama Rendra mengambil alih menggendong cucunya dari tangan Rendra.


"Iya...Mam...Ainun sayang mimi terus tiap setengah jam" ucap Rendra menjelaskan ke Mamanya.


"Dra mau ikut tidur juga..."tanya Mama ke Rendra yang masih di dekat Mamanya.


"Ga...ah...Ma, mau melanjutkan baca Qur'an lagi" jawab Rendra dengan senyumnya diberikan ke putri cantiknya.


"Memang kamu..ga ngantuk" Mama kembali bertanya ke Rendra yang melangkah mengambil al-qur'an yang akan di bacanya.


"Ga...lah Ma...sudah biasa...Ma" ucap Rendra menjelaskan ke Mamanya dan akan melanjutkan membaca al-qur'an.


"Ya...sudah...biar Ainun Mama bawa ke kamar ya..." Mama berkata dengan langkah kaki meninggalkan kamar Rendra yang sudah membaca al-qur'an, dan hanya anggukan kepala yang Rendra berikan ke Mamanya.


Suara adzan subuh berkumandang keluarga besar Rendra menjalankan sholat berjamaah di mushola keluarganya tidak terkecuali seluruh asisten rumah tangga yang tidak berhalangan.

__ADS_1


Udara pagi yang sejuk begitu segar dan tenang hanya terdengar kicau burung saling bersahutan, Rendra melakukan aktivitas paginya seperti biasanya dengan olah raga tapi ada pengecualian untuk beberapa hari kedepan sebab akan di temani Papa tercintanya.


"Dra...mana cucu Papa?" tanya Papa ke Rendra yang sudah melakukan beberapa gerakan olah raga.


"Lagi dimandikan Pa...sama Honey " ujar Rendra masih melakukan aktivitas olah raganya di sekitaran kediaman Papanya yang luas.


"Kamu...masih cuti" tanya Papa lagi ke Rendra dengan lari-lari kecil mengitari halaman rumahnya.


"Iya...Pa...aku ambil cuti panjang" jawab Rendra menjelaskan dengan napasnya yang tidak teratur.


"Kapan kamu dra...akan mengantikan Papa, apa ga sebaiknya kamu resign saja dari kedinasanmu" tanya Papa santai hanya sekedar berbincang.


"Entah...lah Pa...aku masih ingin mengabdi pada negara terlebih dahulu" Rendra menjawab dengan santun tidak ingin berdebat dengan Papanya.


"Dra...kamu anak laki-laki Papa satu-satunya, siapa lagi yang akan Papa andalkan selain kamu" ujar Papa dengan mengusap punggung Rendra lembut.


"Akan ada waktu yang tepat Pa.."ucap Rendra sopan tidak ingin mengecewakan Papa dengan jawaban yang di berikannya.


"Ingat...Papamu sudah tua, sudah waktunya menikmati masa tuanya dengan ibadah bukan dengan urusan bisnis" Papa menjelaskan kondisinya ke Rendra untuk menyakinkan agar anaknya mau menjalankan usahanya yang sudah di jalankannya bertahun-tahun.


"Memang semua ini belum cukup membuatmu puas untuk suatu pencapaian" Papa masih meminta penjelasan ke Rendra.


"Belum Pa...ada yang harus dra...kejar biarkan ini jadi suatu kebanggaan buat dra...sebelum melepas semuanya" Rendra mengusap lembut salah satu punggung tangan Papanya berusaha menyakinkan.


"Ya...sudah Papa akan tunggu datangnya waktu itu" Papa tersenyum ke Rendra dan dibalas pelukan dari Rendra.


Setelah membersihkan diri Rendra dan keluarga besarnya menikmati sarapan paginya tidak terkecuali kehadiran putri kecil Rendra yang ada di gendongan Candy.


"Mau...makan sama apa Honey...biar Mas ambilkan "tanya Rendra yang tidak sungkan membantu istrinya.


"Biar Mas...Can...ambil sendiri" Candy merasa tidak enak ke orang tua Rendra.


"Can...biar Rendra bantu jangan berpikir tidak enak, Can...lebih butuh banyak asupan gizi buat Ainun" ucap Mama Rendra ke Candy yang merasa malu di perlakukan berlebihan oleh keluarga suaminya.


"Makan yang cukup...biar cepat pulih" ujar Papa yang ikut menambahkan.


Rendra lebih dulu membantu Candy makan dengan menyuapinya dengan telaten sebab Ainun juga tidak mau diam tangannya selalu bergerak, sepertinya ingin ikut serta kedua orang tuanya menikmati sarapan pagi.

__ADS_1


"Mas...biar Can...sendiri saja" Candy malu Rendra menyuapinya dengan tangannya.


"Can...ga usah malu...Papa juga dulu sama seperti Rendra, menyuapi Mama bahkan lebih semua urusan rumah Papa yang kerjakan termasuk bergantian jaga malam dan menggantikan popok" Papa menjelaskan agar Candy tidak malu dan tersenyum melihat Mama.


"Kita kan pasangan jadi harus saling melengkapi bukan membiarkan pasangannya tersakiti" ucap Papa lagi masih dengan menikmati makan paginya.


Rendra hanya senyum melihat keharmonisan kedua orang tuanya, walaupun sudah tidak muda lagi tapi masih terlihat sisi romantis keduanya saat berdua ataupun saat kumpul keluarga, nampak nyata perlakuan Papa yang lebih mendahulukan kepentingan istrinya begitupun sebaliknya Mama selalu ada di dekat Papa dimana pun.


"Cantiknya...Ainun cucu kakek" ucap Papa Rendra ke Ainun yang di gendongnya.


"Matanya...ini loh bikin ingin terus memandangnya" ucap Mama Rendra yang di dekat suami tercintanya menikmati udara pagi.


"Ga...ke kantor Pa..." tanya Rendra yang duduk santai di kursi taman.


"Libur...ah...kerja terus, kita senang-senang ya...cantiknya kakek" ucap Papa Rendra ke Ainun cucunya.


"Ini...mah bakal jadi saingannya Mas Indra" goda Mama Rendra ke suaminya yang masih bermain dengan Ainun.


"Iya...bener...Ma.."ujar Rendra yang masih duduk santai.


"Dra...apa ga sebaiknya kalian pindah saja ke sini" Mama berharap Rendra setuju dengan pendapat Mamanya.


"Ga..bisa Ma...Rendra masih harus tinggal di rumah dinas" ucap Rendra menjelaskan ke Mamanya.


"Terus gimana Ainun nanti kalau Mamanya kerja" tanya Mama Rendra ke Rendra.


"Can...akan risegn dulu Ma..." ucap Candy datang dari dalam membawa beberapa cemilan untuk teman ngobrol pagi.


"Honey...ko Mas ga di beritahu dulu" ujar Rendra terkejut mendengar penjelasan Candy.


"Can...ingin fokus ke Ainun dulu untuk tumbuh kembangnya bolehkan" pinta Candy memeluk satu tangan suaminya.


"Apa..sih yang ga boleh buat Honey, tapi Mas ga melarang Honey berkarir loh..." ucap Rendra mengecup pipi Candy dengan sayang.


"Can...tahu tapi Ainun yang lebih penting saat ini Mas" ucap Candy lagi dengan masih bersandar di satu tangan Rendra.


Rendra makin yakin bahwa dia tidak salah memilih dan memiliki Candy sebagai pendamping hidupnya, Candy tidak egois untuk kepentingan anaknya dia lebih memilih menjadi guru pertama anaknya dalam mengenalkan dunia, Rendra mendekap tubuh mungil Candy tanpa berkata tapi Candy tahu bahasa tubuh Rendra ingin menyampaikan terimakasih yang tulus untuk semua hal yang Candy lakukan.

__ADS_1


__ADS_2