Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
69


__ADS_3

"Biarkan masa lalu berlalu jadikan pelajaran tapi masa depan harus jadi lebih baik lagi" Rendra.


Kondisi kehamilan Candy sesudah memasuki bulan kelahiran babynya, begitupun Rendra sudah membaik bahkan bisa disebut sangat baik sebab dia yang paling tidak sabaran menantikan buah hatinya hadir ke dunia ini.


"Bedah...deh yang mau jadi dady baru mah" goda Farel saat latihan bersama di lapangan seperti biasa.


"Iya...lah...siapa sih yang ga mau melihat anaknya yang selama ini di nanti" ucap Ifan yang sudah memiliki buah hati yang sudah hampir dua tahun umurnya.


"Ya,aku jadi ga sabar deh..."ujar Rendra dengan tangan mengelap keringat yang mengucur dari tubuhnya.


"Tenang Kapt...nanti juga keluar" ucap Alfa dengan senyumnya ke Rendra.


"Kalau bisa aku intip...tuh boca lagi ngapain" ujar Rendra santai dengan senyumnya terlihat tidak seperti biasanya.


"Emang selama ini ga di tenggokin tuh boca sama loe" tanya Ifan penasaran meminta jawaban ke Rendra.


"Apaan...sih, mau tahu aja...emang harus aku bilang kalau aku baru nenggokin itu boca" Rendra berkata dengan malu ke kawan satu timnya.


"Ga...gitu sebab dari omongan loe bro seperti ga pernah gitu" Ifan juga dibikin malu dengan ucapannya ke Rendra.


"Biasa aja kali bro...kita juga jadi bisa belajar" ujar Farel dengan tawa mengoda keduanya.


"Belajar...memang udah ada yang jadi tempat prakteknya" protes Ifan ke Farel dengan penekanan.


"Memang belajar enaknya langsung praktek ya...bang" dengan polosnya si bocil Alfa ngomong.


"Ha..ha...ha..gue jadi malu"Ifan menutup mukanya sendiri dengan kedua tangannya.


"Makanya kalau ngomong mikir seribu kali apa, kena batunyakan" ujar Rendra dengan tawa kecilnya terdengar.


"Harus gerak cepat ini mah...biar cepat praktek" ucap Panji yang dari tadi jadi pendengar saja.


"Enak aja...harus memang ada calonnya" Farel menepuk pundak Panji yang di dekatnya.


"Ada...lah tinggal tunggu kata sah" ucap Panji dengan pedenya ke Farel.


"Jadi bener kamu serius...bro" Rendra dengan memandang serius ke Panji.


"Serius...lah bro dan gue yakin ko sama tuh anak" ujar Panji ke Rendra yang masih memandangnya.


"Bagus...lebih cepat lebih baik"ucap Rendra lagi tapi buat yang lain masih bingung.


"Bang...gue ko ga tahu sih" dengan muka polos Alfa seperti meminta penjelasan.


"Panji udah mau kawin alias teman hidupnya udah ada dan siap di ajak enak-enak"ujar ifan yang mulai paham dan menjelaskan ke bocil.

__ADS_1


"Oh...gitu selamat bang, kapan nih" Alfa menyalami Panji dengan senyumnya ikut senang.


"Terimakasih...insyaallah secepatnya ini lagi proses"Panji menjelaskan ke semuanya.


"Gue...kapan ya...bang" ucap Alfa dengan muka menunduk lesu.


"Tenang akan ada waktunya nanti" Rendra mengacak kepala Alfa dengan tersenyum.


"Loe...masih muda santai aja yang tuwir aja santai malah masih ngonta-ganti belum menemukan yang cocok" goda Ifan ke Alfa tapi menyindir Farel.


"Nyindir gue...ni ceritanya" ujar Farel yang merasa tersindir dengan ucapan Ifan.


"Loe...merasa ga.."ucap Panji terdengar jelas berharap Farel berubah.


"Ga...cuma kayanya itu ucapan pedes ke gue sasarannya" Farel menjelaskan apa yang dirasakannya.


"Ya...udah kalau ga merasa santai aja kali" jawab Alfa yang ikutan ngomong dengan senyumnya polos.


"Sudah-sudah kita do'akan saja biar cepat menentukan pilihannya dan cepat nikah dia, biar ada yang mengikat tangannya" Rendra menenangkan situasi yang terdengar sudah mulai panas.


"Pakai apa Kapt ngiketnya" ucap Alfa polos ke Rendra.


"Rante...kapal aja yang gede" ujar Ifan yang mulai santai.


"Ih..gue jadi geli...masih normal gue" ucap Farel melepaskan tangannya dari Panji.


"Ih...apalagi gue lebih normal lagi, buktinya udah ada yang mau gue aja nikah" ujar Panji menjauh dari Farel.


Akhirnya semuanya tertawa dengan tingkah konyol Panji dan Farel yang saling menepuk pundak menyudahi kekonyolan keduanya dan mereka berjalan bersama menuju ruangan lain untuk membersihkan tubuh mereka agar lebih bersih dan segar.


Candy yang sudah berada dirumah dinas merasa sepi karena Rendra belum pulang dari latihannya yang sebelumnya sudah meminta ijin untuk pulang terlambat.


Tangan Candy yang memijit kakinya yang mulai bengkak bila lama duduk, terdengar dari luar seseorang mengucapkan salam tapi dari suaranya tidak asing terdengar di telinga Candy, setelah menjawab salam Candy berniat menghampirinya tapi seseorang yang dirindukan itu sesudah berdiri diharapkannya dan mencium lembut ujung kepala Candy yang masih tertutup kerudung.


"Sudah...duduk manis saja mau kemana?" ucap Rendra dengan senyum manisnya terlihat gigi rapihnya.


Candy hanya tersenyum membalas dan memeluk satu tangan Rendra memintanya duduk di dekatnya.


"Kangen ya...sama"ucap Rendra lagi ke Candy dengan tangan ingin menurunkan tas yang di gendongnya.


"Baby ga nakalkan...sama Mama" tangan Rendra mengusap perut Candy dengan lembut.


"Alhamdulillah...ga Mas...hanya sedikit menendang kalau lapar" ujar Candy menjelaskan ke Rendra.


"Baby ingin mengingatkan Mamanya kalau sudah waktunya makan ya..." Rendra yang sekarang sudah duduk bersimpuh di bawa Candy dengan bibir mencium perut Candy dan mengusap-usap sesekali.

__ADS_1


"Terkadang tanggung Mas..." Candy dengan manja ke Rendra menjelaskan.


"Kapan mulai cuti...liat nih kaki udah mulai bengkak ke capean Honey"ucap Rendra dengan lembut terdengar dan menunjukkan kaki Candy.


Rendra lalu bangun dari duduknya menuju dapur, tanpa menunggu lama Rendra sudah membawa air hangat yang sudah di berinya sedikit garam untuk merendam dan memijat kaki Candy, serta handuk kecil untuk mengelap kaki, Candy sendiri sudah berpindah tempat duduk sesuai intruksi Rendra, dengan lembut tangan Rendra memijat kaki Candy.


"Mas...geli..."protes Candy ke Rendra dengan tawa kecilnya.


"Emang diapain geli...cuma dipijit ko "Rendra mengoda dengan tangan sesekali memberikan rasa geli di kaki Candy.


"Lah...itu tadi apa...Mas..." ujar Candy terdengar keras membuat Rendra memberikan tanda di mulut dengan jari telunjuknya.


"Ups...maaf" Candy menutup mulutnya malu dengan manja memeluk satu tangan Rendra.


"Honey...masih siang nanti di Kirain lagi ngapain lagi" ucap Rendra mengoda Candy yang masih malu.


"Honey...secepatnya mengajukan cuti biar banyak waktu istirahat di rumah"ujar Rendra memintanya dengan ucapannya terdengar tegas tapi untuk kebaikan Candy.


"Oh...ya Honey gimana skripsi..."tanya Rendra ke Candy agar cepat selesai sebelum proses kelahiran.


"Tinggal merapikan yang kurang-kurangnya saja Mas" ucap Candy ke Rendra yang masih memijat kaki Candy.


"Biar Mas yang mengerjakan, tinggal Honey tunjukkan saja bagian mana ok" ujar Rendra ke Candy dengan senyumnya.


"Mas...biar Can..aja, Mas juga sudah banyak membantu juga banyak tugas Mas sendiri" Candy meminta Rendra untuk tidak membantunya.


"Tugas apaan...biar lah Mas yang menyelesaikan biar Honey bisa istirahat, Mas lihat Honey kurang waktunya untuk diri sendiri" Rendra yang sekarang sudah duduk sejajar dengan Candy.


"Mas...Can...malu selalu merepotkan Mas" ucap Candy dengan menyandarkan kepalanya di bahu Rendra.


"Apaan sih Honey...selama Mas ada dan bisa Mas ingin selalu bisa bantu Honey, Mas mau Honey banyak waktu untuk diri sendiri sebelum direpotkan baby"Rendra mengusap lembut pipi Candy dengan sayang.


"Tapi...Mas Can...jadi keenakan di manja terus" Candy berkata dengan malu menyembunyikan mukanya di dada Rendra.


"Kalau manjain istri memang ga boleh, apalagi yang suka melayani Mas dengan malu-malu tapi Mas suka" Rendra mengangkat wajah Candy dengan kedua tangannya dengan lembut mata keduanya saling memandang.


"Mas..."Candy memanggil nama Rendra dengan lembut.


"Ya...Honey..." Rendra dengan lembut mencium bibir Candy tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu.


Candy hampir kehabisan napas, Rendra yang tahu itu menyudahi ciumanya dan dengan ujung jarinya mengusap bekas ciumannya di bibir Candy dan tersenyum melihat Candy yang mulai mengatur napasnya yang terlihat tidak teratur.


"Maafin Mas...Honey" dengan tangannya Rendra mengusap pipinya.


Candy hanya menunduk malu seperti biasanya, Rendra hanya tersenyum suka bila Candy malu-malu bila di cium atau di perlakukan manja oleh Rendra, walaupun sudah dalam ikatan pernikahan Candy masih malu tapi Rendra sangat menikmati itu sebagai nilai lebih yang di miliki Candy.

__ADS_1


__ADS_2