Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
17


__ADS_3

Di rumah Ayah


Kicau burung yang saling bersautan pagi ini menandakan siang hari akan cerah, tapi tidak dengan susana hati Candy, harus senang atau sedih atau keduanya yang sekarang dia rasakan dalam hatinya, hanya Candy yang tahu itu.


Penghuni rumah sudah pergi mengikuti aktifitas rutinitasnya seperti biasa kecuali Candy yang belum masuk masa dinasnya.


Sudah beberapa hari ini Candy mendapatkan telpon dan chat wa yang dari orang tidak dikenalnya yang membuat dirinya kesal, Candy tidak merespon sebab menurutnya tidak penting, sebenarnya sangat terganggu tapi Candy tidak mau ambil pusing dengan semua itu.


Banyak yang harus Candy siapkan untuk keberangkatannya ke tempat penempatan dinas yang sudah ditentukan daerahnya dan lumayan jauh dari tempat tinggal Candy, yang jarak tempuhnya lima sampai enam jam lamanya.


Kota penempatan dinas Candy merupakan kota kecil tapi rumah sakit yang besar dengan fasilitasnya sangat modern karena di kota itu ada pelabuhan yang cukup ramai.


Ayah yang merasakan sikap Candy tidak seperti biasanya, ada sesuatu yang disembunyikannya ini jelas membuat pertanyaan di benak Ayahnya yang tahu kebiasaan dari Candy.


"Cantik...bisa nanti bicara dengan Ayah" ucap Ayah di meja makan yang terdengar tidak biasa dan tegas terdengar.


Yang jelas membuat Candy, Rahma dan Mas Dimas juga bertanya-tanya ada apa dengan Candy hingga Ayah berbicara seserius itu.


Setelalah makan malam, Candy, Rahma dan Mas Dimas seperti biasa merapihkan kembali bekas makan malam, mencuci piring dan merapikan kembali meja makan hingga terlihat rapi seperti semula.


Sesuai permintaan Ayah, Candy menghampiri Ayah yang duduk santai nonton TV yang di temani Mas Dimas dan Rahma yang duduk berdampingan.


"Ayah...perlu sama Can..?" Candy duduk mendekati Ayah yang telah bersantai.


"Cantiknya...Ayah...ada yang mau disampaikan " ucap Ayah yang seakan tahu isi hati Candy dan apa yang di rasakannya.


"Maafin...Can,yah..."Candy mulai menata kata untuk di sampaikan kepada keluarganya.


"Minggu depan Can...udah harus penempatan dinas" Candy belum melanjutkan bicaranya.


"Can...berat meninggalkan semua ini "Candy yang mulai menangis mengeluarkan beban yang selama ini di dirasakannya.


"Sudah jadi tugasmu...Cantik" Ayah memeluk tubuh mungilnya untuk menenangkan Candy.

__ADS_1


"Kerjakan dengan penuh tanggungjawab"Ayah menjelaskan dan memberikan pengertian akan tanggung jawabnya.


"Soal...Ayah..tidak usah dikhawatir ada aku disini" Rahma ikut bicara dan menenangkan Candy.


"Kesayangan Mas...kamu mau ada Rahma di sini sebelum penempatan dinas, sudah ada di sini sayangnya Mas masih aja khawatir, gimana sih" Mas Dimas mengoda Candy agar menyudahi rasa sedihnya.


Candy menahan tangisnya, Rahma mendekati Candy dan memeluknya dan benda bening itu akhirnya meluncur juga tanpa seijin pemiliknya, Candy membalas pelukan Rahma dengan erat dan keduanya saling memeluk.


Setelah melepaskan pelukan mereka, terdengar suara yang berisik dari hp Candy sangat menggangu kebersamaan keluarga mereka.


"Siapa...sih..berisik tahu"Candy dengan kesal mematikan tanda panggilan masuk yang terus mengganggunya dalam beberapa hari ini yang menurutnya dari orang yang iseng.


"Ko...ga di jawab"ucap Rahma penasaran dengan siapa penelepon itu.


"Can..ga kenal" Candy jawab dengan muka kesel dengan si penelepon iseng itu.


"Sudah beberapa hari sih.."Candy menjelaskan dengan muka menampakkan kekesalannya.


Tapi tidak beberapa lama hp Candy berbunyi lagi dan Candy menyerahkan hpnya ke Mas Dimas untuk menjawab panggilan masuk itu.


Tampa menunggu lama Mas Dimas menekan tanda telpon di jawab.


"Assalamualaikum...hallo" ucap penelepon yang menelepon Candy dengan suara terdengar tegas tapi sopan.


"Waalaiku salam, hallo juga"Mas Dimas balas mengerjai penelpon dengan muka santai tanpa dosa.


"Malam...maaf mengganggu"ucap penelepon masih dengan suara yang sopan namun terdengar tegas.


"Malam juga, ga terganggu tuh"Mas Dimas menjawab mengikuti penelepon tapi masih dengan santai tanpa ekspresi tapi ingin mengetahui apa maksudnya dia menghubungi adik kecilnya.


"Apakah ini nomor telepon nona Candy " ucap Penelepon dengan bahasa yang formal terdengar di telinga.


"Benar, ada hubungan apa anda dengan pemilik nomor telepon ini"Mas Dimas juga dengan bahasa formal namun terdengar tegas.

__ADS_1


Candy, Rahma juga Ayah tertawa geli melihat situasi ini, Mas Dimas mengusilin penelepon.


"Ingin mengenal lebih dekat dengan nona Candy " jawab Penelepon mulai terdengar santai.


"Dari mana anda mendapatkan nomor ini dan dari mana anda tahu pemilik telepon ini masih nona atau sudah..."Mas Dimas tidak melanjutkan ngomongnya.


"Maaf nomor ini dapat dari seorang teman dan setahu saya dia masih nona"ujar Penelepon terdengar kecewa dengan apa yang baru saja di dengarnya.


"Kalau begitu maaf dan terimakasih sudah mengganggunya...assalamualaikum dan selamat malam" telpon di tutup sepihak dengan suara terdengar kesel dan kecewa.


Mereka tertawa puas sudah ngerjain anak orang mereka tidak tahu orang yang mereka kerjain itu dalam keadaan kecewa yang sangat dengan hati yang sangat terluka karena kejailan mereka.


"Yah...tapi dari nada suaranya sepertinya dia seorang militer deh.." Mas Dimas menjelaskan kepada Ayahnya sambil mengingat-ingat suara penelepon yang baru saja mereka kerjain.


"Ya...sudahlah...untuk saat ini cantik Ayah tenang"Ayah melangkah masuk ke kamarnya.


"Coba...Can...ingat-ingat punya teman yang anak angkatan ga atau sekedar kenal gitu" Rahma bertanya agar Candy mengingat-ingat.


"Jangan-jangan tanda jodoh"goda Mas Dimas kepada Candy yang masih bersama mereka.


"Sudah..lah Can...masih banyak tugas di depan mata menunggu dan waktunya..fokus...fokus.." ucap Candy santai sambil melangkah masuk kamarnya, yang tidak mau memikirkan siapa penelepon itu untuk saat ini.


Candy dalam kamarnya mulai memeriksa ulang perlengkapan yang akan dibawa ke tempat dinas barunya, sebab akan sulit untuk kembali lagi kerumah kerana akan butuh waktu untuk pulang lalu kembali lagi ke tempat dinas, belum lagi jadwal dinas belum diketahui ketentuannya, sebab jam jaga tiap Rumah Sakit pasti berbeda-beda.


Di tempat yang berbeda, seorang Rendra yang mendengar penjelasan itu hanya diam tidak berpindah dari tempat duduknya masih tidak bisa di percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya sebab menurut informasi yang didapatnya nomor Candy yang terakhir di hubungi Rendra, dari nomor yang lain Rendra banyak memperoleh banyak informasi tentang siapa "permen" dan statusnya dengan sangat detail tanpa ada yang terlewatkan.


Ini masih jadi teka teki dan tanda tanya besar buat seorang Rendra yang sangat ditakuti musuh, sampai tidak bisa memecahkan persoalan seperti ini sangat terlihat konyol bukan, cinta emang bikin orang cerdas bisa jadi dibikin paling bodoh karenanya. ***Dasyatnya Rasa Cinta***


Rendra bukan orang yang mudah terbuka untuk persoalan yang bersifat pribadi hanya diri dan tuhan yang tahun tidak terkecuali keluarganya, itulah salah satu kehebatan seorang Rendra bisa setenang ini dalam menyimpan beban hatinya.


Bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan beban hati ini, sudah banyak hal yang dia lalui tapi tetap ingin bertahan dengan keinginannya untuk bisa bertemu Pemilik mata indah itu masih dengan keyakinannya akan bertemu dengannya.


Walaupun sudah ada kabar yang di dengarnya secara langsung tapi keyakinannya berkata lain dan seperti satu ikatan hati dan akalnya untuk tetap berjuang hingga dapat titik kepastian yang jelas tentang Pemilik mata indah itu.

__ADS_1


__ADS_2