
"Menjalin persaudaraan satu iman itu lebih baik, sebab di dalamnya selalu saja saling mengingatkan dalam kebaikan, baik dalam suka maupun senang inilah persaudaraan yang akan sampai kesurga-Nya" Rendra.
Ainun yang sudah disibukkan dengan kuliahnya hingga jarang berkomunikasi dengan mama papanya yang dirindukannya, apalagi saat menjelang malam biasanya dihabiskan dengan bercengkrama dengan keluarga yang lengkap walaupun tidak lengkap sebab adik tercinta yang harus menempuh pendidikan di pondok pesantren bersama adik sepupunya adik dari Nisrina.
Selain sibuk menikmati masa-masa perkuliahan juga disibukkan dengan pertanyaan Dinda yang meminta kepastian ada hubungan apa dirinya dengan Fatur, Ainun sudah beberapa kali menjelaskan tetap saja Dinda tidak percaya sebab Fatur selalu saja cari-cari kesempatan ingin bertemu Ainun.
Ainun sendiri benar-benar sibuk sebab disela-sela waktu liburnya dia lebih suka pulang ke rumah atau berkunjung ke panti yang di miliki oleh papanya, sebab dia pikir kapan lagi selagi sempat.
Ainun memilih tidak aktif pada kegiatan yang ada dikampusnya dia lebih senang menghabiskan waktu di perpustakaan bila berada di kampus bersama Intan teman satu asrama putrinya yang dikenalnya lebih dulu dari pada Dinda hanya saja Intan berbeda jurusan dengannya.
Ainun mempercayai Intan sebagai tempatnya bercerita tentang Fatur yang sudah beberapa kali mendekatinya dan sempat menyatakan isi hatinya pada Ainun, menurut Intan Ainun terlalu baik hingga memilih lebih baik berteman saja tidak lebih, Ainun lebih menjaga perasaannya pada Dinda yang menyukai Fatur.
Entah berapa sudah kali Fatur tidak di temuinya bila berkunjung ke asrama putrinya walaupun hanya di ruangan tamu dengan alasan sudah tidur atau tidak enak badan itupun Intan yang menemuinya dan menyampaikannya pesannya pada Fatur.
Fatur sebenarnya anak baik dan sopan hanya saja Ainun memilih persahabatan dari pada mencari musuh itu yang Intan tahu, dan Dinda sendiri makin bebas melenggang mendekati Fatur bahkan sesekali curhat kalau Fatur memperlakukan dengan manja atau cerita yang seakan-akan mengundang cemburu Ainun yang menurut dirinya Fatur memilih dirinya yang jadi teman dekatnya.
Sebenarnya Dinda salah besar Fatur masih sesekali datang ke asrama putri dan Intan selalu saja yang menemuinya hingga pernah bertanya pada Intan sebenarnya Ainun itu punya seseorang yang istimewa atau tidak hingga menolaknya secara halus.
Intan sendiri tidak tahu banyak sebab Ainun sangat tertutup untuk soal yang satu itu dia lebih fokus dengan tugas dan ibadah bila ada di asrama tidak lebih, dia jarang nonton tv bareng yang lain dia lebih memilih menelepon orang rumahnya atau saudara sepupunya.
Sebegitu besarnya rasa suka Fatur pada Ainun hingga melakukan hal yang spontan seperti saat ini dilorong kampus saat Ainun dan Intan berjalan setelah keluar dari perpustakaan kampus dimana Fatur sengaja menyatakan perasaannya pada Ainun yang jelas-jelas sudah menolaknya secara halus yang menjelaskan bahwa diri ingin fokus pada kuliahnya.
Tapi kenyakinan Fatur menyatakan Ainun hanya beralasan agar dirinya bisa menerima Dinda untuk jadi kekasihnya, sebab kedekatan Dinda bersama Fatur sedikit banyak sudah jadi konsumsi publik di kampusnya.
"Ai..jujur..adakah orang yang istimewa di hatimu..selain aku.." pinta Fatur di salah satu lorong kampus.
Ainun yang sudah terpojok sebab sudah banyak alasan yang Ainun berikan tapi tidak membuat Fatur mundur selangkah pun.
"Ya..ada seseorang yang istimewa di hatiku.." jawab Ainun tegas dengan menunjuk seseorang yang terlihat sangat jauh berseragam seperti papanya yang kebetulan ada di kampus, entahlah ada keperluan apa seseorang itu di kampus Ainun.
"Kenapa kamu ga jujur dari awal..Ai..hingga rasa ini sudah semakin tumbuh di hatiku.." ujar Fatur terlihat lemas mengusap wajah tampannya.
__ADS_1
"Maaf..kak..dari awal Ai..sudah bilang Ai..ingin fokus kuliah dan agar kakak tidak terluka dengan kehadiran seseorang itu.." ujar Ainun dengan beralasan yang jelas berharap seseorang itu tidak mendengar dan mengetahui apa yang telah dilakukannya sebab hanya di jadikan pengalihan alasan menolak Fatur yang berharap dia jadi orang istimewa di hatinya.
"Ok..Ai..terimakasih untuk rasa yang pernah tumbuh di hatiku tapi bolehkah kita tetap berteman.." pinta Fatur dengan sopan dan Ainun sendiri hanya diam sesaat lalu tersenyum yang dipaksakan.
Fatur meninggalkan Ainun yang masih bingung dengan situasi yang baru saja dialaminya, Intan sendiri terkejut dan ada banyak pertanyaan yang berlari dengan riang dalam otaknya hanya saja tidak mungkin bila dirinya meminta penjelasan sekarang pada Ainun yang juga sama-sama terkejut dengan sikap mendadak Fatur di salah satu lorong kampus dimana saat ini keduanya hanya terdiam.
Dalam perjalan pulang ke asrama Intan hanya diam begitu juga Ainun yang seperti masih shok dengan pernyataan spontan Fatur dan jawaban Ainun yang mengejutkan dirinya juga Fatur sebab selama ini Ainun tidak pernah bercerita kalau dirinya memiliki seorang kekasih sebab selama mengenal Ainun tidak pernah menemui tamu kecuali orang suruhan orang tuanya ataupun hanya supir yang kebetulan menjemput bila waktu libur tiba itu yang Intan tahu.
Setibanya di asrama masih saja keduanya saling diam dengan banyak pertanyaan dalam otaknya masing-masing hingga keduanya berpisah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Ainun yang sudah membersihkan diri duduk sendiri memandang luar jendela kamarnya dengan mengingat kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Tuhan..kalau saja aku bisa memohon seseorang yang ada di kampus itu tidak mendengar apa yang aku ucap.." pinta Ainun dengan mengusap mukanya malu juga sedikit takut.
"Kenapa juga..aku lakukan itu.." Ainun memeluk bantal yang kebetulan ada disampingnya.
"Tapi aku yakin dia ga dengar sebab jauh juga jaraknya.." Ainun menyakinkan dirinya sendiri.
Ainun terdiam sesaat seperti ingin mengingat seseorang yang mengenakan seragam seperti papanya yang kebetulan ada di kampusnya, seperti ingin tahu siapa dia dan ada keperluan apa dia di kampusnya.
"Ih..kok jadi aku kepo..atau penasaran ya.." dalam sendirian Ainun berkata seorang diri.
"Ah..mungkin kebetulan aja kali atau ada keperluan dengan pihak kampus.." ucapnya lagi seorang diri.
"Tapi..siapa dia ya.." tanya Ainun lagi yang kali ini tersenyum malu-malu sendiri.
Itulah yang sekarang Ainun rasakan pada seseorang yang belum dikenalnya tapi ada rasa penasaran juga rasa bersalah telah berbohong pada Fatur yang mengatas namakan seseorang sebagai kekasih hatinya.
Tapi dilain sisi seseorang itu sebagai pahlawan yang menolongnya yang datang diwaktu yang tepat, sebab sudah banyak alasan yang di sampaikan jadi alasan apa lagi yang bisa menyakinkan Fatur agar tidak lagi memintanya untuk jadi kekasih hatinya.
Ada rasa bersalah pada seseorang itu tapi apa daya mungkin ini jalan tuhan juga yang telah menghadirkan seseorang yang jadi penolong untuk Ainun itu juga sekilas terlintas dipikirkan Ainun saat itu.
__ADS_1
Sebenarnya itu sesuatu hal konyol yang baru Ainun lakukan yang sebelumnya Ainun selalu mengunakan akal dan logikanya apakah karena terdesak hingga akal sehatnya hilang pikir Ainun dengan tawa yang ditahan karena seorang diri di kamarnya.
Ainun yang masih mengingat kejadian yang baru dilewatinya, dikejutkan dengan suara ketukan dari pintu yang memintanya ke luar kamar karena waktunya makan bersama.
Seperti biasa ramai suara gadis penghuni asrama yang sudah duduk ditempatnya masing-masing diselingi obrolan ringan dan sapaan dari penghuni asrama yang baru luar dari kamarnya masing-masing itulah salah satu momen yang di rindukan dari penghuni asrama bila telah meninggalkan asrama nanti.
Selesai makan bersama Ainun memilih taman belakang untuk tempatnya bersantai sebelum malam tiba, Ainun pikir hanya dirinya yang akan bersantai ternyata Intan lebih dulu disana dengan mendengarkan musik dari benda pipi miliknya.
"Hai..sendiri.." sapa Ainun pada Intan yang tidak mendengar sebab dia menutup telinganya dengan sesuatu yang menghasilkan suara, hanya senyuman yang penuh arti mewakili.
Ainun memandang langit yang belum berbintang hanya warna gelap terlihat, semilir angin sejuk menerpa dedaunan dari pohon rindang di taman belakang.
"Ai..benar..yang siang tadi pacarmu.." tanya Intan mengejutkan Ainun.
"Ya...gitu..deh.." balasnya yang sebenarnya takut ketahuan berbohong.
"Kenapa ga nemui kamu.." tanya Intan lagi menyelidik.
"Katanya..ada yang harus..di urus..tadi dia kirim pesan.." balas Ainun takut ketahuan berbohong.
"Dia..orang penting ya..sampai ga bisa ketemu sebentar saja sekedar..hai sayang.." tanya Intan dengan tangannya memperagakan orang menyapa.
"Ya..seperti itu..tapi ga masalah buatku..yang penting sosok itu selalu ada buatku.." Ainun menjelaskan dengan pura-pura memandang jauh, sebab matanya akan berkata yang sebenarnya.
"Tapi..kesannya kamu yang butuh dia.." Intan sepertinya sedikit paham cara pacaran yang cowoknya ada dalam setiap waktu dengan pacaran yang cowoknya masa bodoh lebih mementingkan dirinya.
"Kita..saling mengerti..kesibukan kita itu saja.." Ainun sebenarnya tidak ingin menjelaskan lebih jauh lagi.
"Ko..bisa ya..." Intan semakin bingung dalam diamnya.
Ainun seperti tahu akibat dari kebohongannya akan ada lagi dan ada lagi kebohongan yang lain untuk menutupi tiap kebohongan yang dia lakukannya itu, tapi mau bagaimana lagi dia lebih memilih pertemanan dari pacaran yang jelas-jelas seandainya menerima Fatur disukai temannya.
__ADS_1
Menurutnya pertemanan susah dicari tapi pacar bisa di cari asalkan nyaman sudah langsung jadian, itu setahu Ainun tapi dia sendiri belum pernah pacaran.