Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
115


__ADS_3

"Banyak diantara kita tidak menyadarinya bahwa kesehatan adalah nikmat tuhan yang paling berharga diatas segalanya" Candy.


Hari ini hari ulang tahun korps kesatuan angkatan dimana Rendra bernaung, untuk meramaikan banyak sekali lomba diadakan bukan hanya untuk tiap devisi saja tapi buat keluarga dan juga perorangan.


Ainun yang hanya bisa mengikuti lomba anak-anak tapi tidak dengan keluarga karena Candy tidak di ijinkan oleh Rendra terlibat hanya menyaksikan pun dari jauh sebab Rendra tidak ingin sesuatu terjadi pada istri tercintanya.


"Cantik...juara..ga?" tanya salah satu ajudan Rendra ke Ainun yang duduk di pinggir lapangan di temani Nisrina dan adik laki-lakinya di pinggir lapangan yang diajak oleh Rendra hanya untuk membuat mereka senang saja.


Nisrina sendiri sedang tidak sibuk karena sedang menunggunya pengumuman penerimaan mahasiswa baru.


"Ga...om, Ainun...kurang semangat" ujarnya dengan menundukkan mukanya.


"Nanti kalau mau hadiah..., hadiah om...buat cantik ya..." ucap ajudan Rendra yang temani beberapa orang temannya menghampiri Ainun.


"Ih...ga boleh...om...nanti Papa marah..." ucap Ainun yang sangat akrab dengan ajudan Rendra.


"Ga...cantik om yang mau kasih..ko" ujar ajudan Rendra dengan tersenyum.


"Cantik...kenalin dong...Mba yang disebelahnya.." goda salah satu teman ajudan Rendra yang membuat ajudan Rendra malu.


"Ih..jangan bikin gue...malu apa.." ucapnya ke temannya yang masih penasaran.


"Oh...ini...Mba..Nis...Mbanya..Ainun"ujar Ainun menjelaskan tapi Nisrina hanya memberikan senyum datar ke teman ajudan Rendra, ajudan Rendra yang sedikit banyak dikenalnya sebab sering mengantarkan Ainun atau Candy sebagai tantenya ke rumah.


"Mba...mahal amat senyumnya..."ucap salah satu diantara teman ajudan Rendra.


"Ngomong apa sih...loe.." ujar ajudan Rendra yang tidak ingin anak dan keponakan Kaptennya di goda kawannya sebagai tanggungjawab menjaganya.


"Alah...sok..jaga wibawa..ga ada atasan loe..ini" ucapnya yang membuat ajudan Rendra kesal.


"Ada..ga ada itu tugas gue.." serunya dengan muka sedikit kesal di buat naik darah.


"Papa..." teriak Ainun yang melihat Rendra yang ikut meramaikan lomba.


Rendra hanya melambaikan tangannya ke Ainun dan kedua keponakannya yang masih asyik melihat beberapa lomba untuk meramaikan hari jadi korpsnya.


Tanpa disadari oleh ajudan Rendra dan beberapa orang temannya yang masih ingin mengoda Nisrina, Alfa yang memantau dari jauh dan melihat ketidak nyamanan Nisrina yang ingin meninggalkan acara tapi di larang oleh salah prajurit yang masih ingin menggodanya.


"Mau...kemana..Mba, bukannya di sini lebih nyaman ada kita-kita.." ujarnya dengan konyol terdengar menurut Nisrina, mungkin bagi Ainun sudah biasa melihat orang berseragam mengodanya seperti mengakrabkan diri seperti Papanya tapi tidak dengan Nisrina yang hanya mengenal Rendra sebagai omnya yang sopan tidak genit serta penuh wibawa dan berkharisma.


Nisrina hanya tersenyum datar dan menggandeng tangan Ainun juga adik lelakinya tetap ingin meninggalkan acara lomba yang masih berlangsung.


"Dah...om..." ucap Ainun yang akan meninggalkan ajudan Rendra.


"Dah...hati-hati...cantik" ucap ajudan Rendra ke Ainun yang memilih panggilan cantik ke Ainun.

__ADS_1


Salah satu teman ajudan Rendra tangannya memegang salah satu tangan Nisrina yang membuat Nisrina naik darah.


"Maaf...ya..Mas...yang sopan..." ucapnya dengan muka nampak merah karena marah.


"Maaf...jangan jual mahal...cantik.." ujarnya mengoda yang membuat ajudan Rendra marah dan menjelaskan dengan sopan ke Nisrina.


"Maafkan...kelancangan..teman saya..Mba" ucap ajudan Rendra sopan dan merendahkan diri.


"Iya...tolong...jangan etika" ucap Nisrina kesal.


"Hu...sayang...cantik-cantik..jual mahal" sontak bikin Nisrina naik darah dan menghampiri lelaki yang tidak bisa menjaga mulutnya.


Plak...lelaki itu di tampar Nisrina yang membuat ajudan Rendra terkejut dan Alfa yang dari tadi memantau mendekat ke arah Nisrina.


"Ada...apa cantik..." tanya Alfa yang di kenal oleh Nisrina.


"Maaf...om...dia tidak sopan mulutnya" ucap Nisrina dengan gemetar berkata dan ingin menangis.


"Ada...apa ini..." tanya Rendra yang tergesa berlari mendengar keributan dimana anak dan keponakan berada.


Nisrina memeluk Rendra dan menangis didadanya merasa di lecehkan, sontak membuat Rendra dan timnya naik darah terutama ke ajudan Rendra yang tidak bersalah tapi menurut Rendra terlibat.


"Siapa...yang bertanggungjawab...mohon penjelasannya..." ucap Rendra ke ajudannya dan menyerahkan penyelesai kasus ke kawan satu timnya Rendra sendiri meninggalkan lokasi menenangkan Nisrina juga membawa Ainun juga adik Nisrina pulang, yang terlebih dulu menjemput Candy di rumah dinas.


"Tolong yang...merasa terlibat..datang menghadap" ucap Panji yang ikut marah dengan muka sangat galak.


Setelah menghadap ajudan Rendra beserta teman-temannya dan menceritakan setiap detail apa kronologisnya.


"Oke...sekarang yang merasa...paling bertanggungjawab maju ke depan" ucap tegas Panji yang di dampingi Alfa.


"Kamu...kenapa tidak bisa menjaga...keluarga Kapten.." tegur Alfa ke ajudan Rendra yang sangat merasa bersalah.


"Siap..saya salah...mohon di maafkan dan siap menerima hukuman..."ucap ajudan Rendra yang makin bersalah.


"Kamu...apa tujuan kamu...berkata seperti itu kepada perempuan...kamu punya saudara...perempuan..." tegur Alfa ke teman ajudan Rendra yang mengoda Nisrina.


"Siap..hanya iseng..punya..Let.."ucapnya dengan tatapan muka menghadap Panji.


"Kamu...mau saudara kamu di goda...he..."ucap Panji yang ingin menamparnya karena kesal.


"Bikin malu..perusak...moral.." ucap Panji lagi yang sudah ga sabaran.


"Udah...dijadiin ikan asin..aja..." ucap Farel yang baru merapat dengan tampang sangar dilihat oleh para pembuat ulah.


"Enak...amat..jadi ikan asin...kita filet aja...biar tahu rasanya di bikin malu di depan orang banyak" ujar Ifan yang sebenarnya hanya menggertak.

__ADS_1


Ajudan Rendra yang merasa bersalah hanya pasrah berbeda dengan teman-temannya yang diliputi rasa takut apa yang atasannya bilang untuk hukumannya itu apakah benar.


"Siap...menerima hukuman..." ujar Panji dengan suara menggelegar keras membuat telinga sakit.


"Siap..." jawab ajudan Rendra dan beberapa temannya yang ikut terlibat.


Beberapa teman ajudan Rendra sudah melaksanakan hukuman dengan bertelanjang dada berlari dan tanpa alas kaki diterik matahari siang ini.


Sedangkan ajudan Rendra masih di interogasi oleh kawan tim Rendra yang tahu dia melindungi keluarga Kaptennya tapi apa daya dia juga tetap di hukum dengan cara berbeda yaitu menghibur kawan Rendra.


"Let...boleh tidak...saya di suruh yang lain hukumannya...saya tidak bisa bernyanyi..." ucapnya dengan tatapan menghadap ke Panji.


"Oke...kamu saya suruh...bikin kita ketawa..." ujar Ifan konyol ke ajudan Rendra.


"Aduh...Let..saya tidak bisa melucu Let..." ucap ajudan Rendra polos sebenarnya mereka kenal dekat jadi bingung memberikan hukumannya dan dia juga tidak bersalah.


"Enak...amat di hukum tapi bisa milih...hu.." ucap Panji meninju tangan ajudan Rendra, yang kena tinju hanya nyengir menahan sakit.


"Terserah...nanti Kapten yang akan hukum kamu..." ucap Ifan dengan tersenyum datar.


"Sekarang kamu...menghadap Kapten di kediaman Ayah mertuanya...ini perintah" seru Alfa yang baru saja menerima telepon dari Rendra.


"Siap..laksanakan "ucap ajudan Rendra dengan memberikan hormat terlebih dahulu lalu meninggalkan kawan satu tim Rendra.


Sepeninggal ajudan Rendra kawan satu tim Rendra tertawa puas sebab ajudan Rendra tidak bisa bernyanyi merdu, suaranya fals membuat sakit telinga.


"Gue..bingung mau kasih hukuman apa tuh ke bocah.." ujar Panji yang tahu ajudan Rendra memang sangat disiplin dan bertanggung jawab seperti Rendra.


"Apalagi gue...bang..bocah ini penurut..ga banyak tingkah..gue..ga tega aja" ucap Alfa yang terlihat serius ke seniornya.


"Didikan...Rendra melekat banget di dirinya" ucap Ifan yang tahu siapa Rendra kawan sejawat saat pendidikan dulu tapi dia punya nilai plus yang tidak di punya Ifan kecerdasan dalam pencapaian pendidikan dan masih ada nilai plus lainnya dalam kedinasannya.


"Tapi...kalau ga di hukum...ga ada efek jerah...tuh" ucap Farel santai tapi tidak dengan kawan-kawannya.


"Oh...jadi sekarang sudah sadar...kemana aja...bambang" ujar Ifan mengacak kepala Farel.


"Sorry...." ujarnya singkat terucap dari mulut Farel.


"Ternyata kehadiran Nafandra juga si kecil...membuka mata hatinya..." ucap Panji yang terlihat senang.


"Gue...tahu gue...salah...gue takut kesayangan diperlakukan seperti gue...ke salah satu gadis yang buat kesenangan semata" ucapnya terlihat serius dari tiap kata yang diucapkan Farel.


"Loe...takut kena batunya...ya..eh...kena karma ya...karena ulah loe" ujar Ifan ke Farel yang sekarang sudah jadi Ayah buat gadis kecilnya yang makin tubuh besar.


Farel yang hanya diam menyadari kesalahannya yang telah lewat, tapi membuat kawan satu timnya sangat senang melihat perubahan di diri Farel.

__ADS_1


Kalau saja Rendra ada di antara mereka mungkin dirinyalah yang paling senang sebab dia bukan hanya saja sebagai Kapten tapi juga kawan yang lebih tepatnya memberikan contoh baik dalam menghargai mahluk termanis di dunia siapa lagi kalau bukan wanita.


__ADS_2