
"Suatu hari nanti kita hanya akan menjadi
kenangan bagi orang lain, oleh karena itu berusahalah sebaik mungkin agar kita menjadi kenangan yang terindah" Rendra.
Sore menjelang malam Indra tidak langsung pulang dia memandang dari jauh tepatnya di atas jendela yang tidak bisa dilihat dari luar ruangan miliknya tiap stafnya satu persatu meninggalkan kantor miliknya, begitu juga dengan Nisrina yang sesekali digoda oleh staf Indra agar mau pulang bersama.
Nisrina terlihat hanya tersenyum menolaknya dengan alasan mengunakan kendaraan sendiri yaitu motor matic setianya yang selalu menemani bersamanya kemanapun dirinya pergi yang mengharuskan mengendarainya.
Indra semakin kagum akan kepribadian yang dimiliki oleh Nisrina yang sopan walaupun dia tahu Nisrina cukup aktif dikampusnya dari informasi yang Indra dapat dari salah satu anak senat yang kebetulan Indra kenal dekat.
Kantor yang telah sepi hanya tertinggal orang kepercayaan Indra juga sekretaris orang kepercayaannya yang masih merapikan berkas juga sedikit mengatur jadwal untuk keperluan Indra besok atau hanya diwakilkan seperti biasanya, Indra sendiri tidak mau memiliki sekretaris menurutnya saat ini belum membutuhkannya sebab dia hanya sesekali ke kantor itupun saat dirinya ada di sini.
Setelah berpamitan Indra bertujuan untuk menemui kakeknya sebagai ucapan terima kasih telah membantunya tapi sebenarnya bukan itu saja, ada yang lebih istimewa dari itu kakeknya memberikan jalan untuk lebih dekat dengan Nisrina agar lebih mengenal lebih jauh tanpa ingin mendekati dirinya secara emosi hanya ingin Nisrina nyaman saat bersamanya itu yang saat ini Indra prioritaskan.
Di rumah mega milik kakeknya Indra banyak berbagi cerita tapi tidak memberi tahukan kalau akuntan itu Nisrina biarlah ini profesional kerja saja untuk saat ini.
Disela bincang-bincangnya Indra diminta Ainun untuk menemaninya ke rumah Nisrina karena ada sesuatu hal yang ingin disampaikannya secara tatap muka tidak mau lewat VC katanya ada yang beda bila bertemu langsung itu penjelasannya.
Indra menyanggupinya mungkin ini yang disebut pucuk di cinta ulam pun tiba, Indra tidak mau menyia-nyiakan kesempatan indah ini menurutnya kesempatan tidak datang dua kali.
Tapi Indra meminta Ainun menunggu dirinya membersihkan diri terlebih dahulu dengan baju ganti yang selalu dia bawa di mobilnya, penampilan Indra sekarang lebih santai dengan koas casual yang senada dengan warna celana santai yang menutupi hampir sedikit diatas mata kaki.
Setelah berpamitan kepada seisi rumah kakeknya Indra dan Ainun yang sudah menelusuri jalanan menuju rumah milik keluarga Ainun juga tapi tepatnya kakek Ainun dari pihak mamanya, tidak banyak yang Indra tanyakan soal sosok yang lagi dikaguminya hanya sedikit tapi tepat kesasaran.
"Dek..mas boleh tahu..mba Nis punya teman istimewa tidak.." tanya Indra ke Ainun yang duduk disampingnya.
"Setahu Ai..mba tidak pernah cerita ataupun membahas soal cowok selain cowok kelasnya atau itu..tuh..mas yang senat-senat gitu ga ada yang lain..mba lebih sering pergi bareng Ai..bukannya ketemu mas juga bareng Ai.., mas..ada apa gitu.." Ainun menjelaskan panjang lebar dan berbalik bertanya ke Indra.
"Ga..ada apa-apa cuma pengen tahu aja.." ujar Indra santai tidak ingin Ainun penasaran.
"Mas..sebaiknya jujur deh..sama Ai..biar Ai..bisa bantu.." pinta Ainun ke Indra.
__ADS_1
"Siap...komandan nanti pada saatnya mas akan banyak cerita mohon bersabar dan dukung mas ya..cantik.." Indra mengusap kepala Ainun dengan salah satu tangannya.
Ainun hanya tersenyum melihat tingkah masnya yang tidak biasa tapi Ainun sekan faham dari tiap baris kata yang terucap dari mulut Indra yang tidak biasa menurutnya.
Sesampainya dirumah kakeknya Ainun lari dengan suara khasnya memberikan salam dan jawaban salam juga disambut senang oleh kakeknya yang kebetulan duduk didepan teras berbincang dengan pakdenya siapa lagi yang jelas dia ayah dari Nisrina.
"Cantik..tumben malam-malam ke sini ada yang penting.." tanya Ayah Nisrina dengan memeluknya.
"Ada yang ingin Ai..omongin sama mba Nis..ada pakde.." tanya Ainun dengan melepaskan pelukan dari ayah Nisrina.
"Ada..masuklah.." pinta ayah Nisrina dengan menyuruhnya masuk.
Indra sendiri masih berdiri sopan menunggu di luar berbincang santai dengan kakek dan ayah Nisrina tidak banyak yang mereka bincangkan hal-hal yang umum saja anak sekolah dan kabar keluarga.
Menurut Indra ayah Nisrina asyik bukan yang berkesan menyeramkan apalagi galak lebih cenderung tegas tapi dalam porsi yang santai masih dalam kadar wajar seorang ayah.
Wajah ayu yang ingin dilihatnya muncul dengan membawakan minuman dan makanan ringan sebagai teman bincang-bincang mereka saat ini.
Indra hanya memberikan senyumnya dan anggukkan kepalanya tidak lebih, menurutnya itu sudah mewakili ucapannya.
"Maaf..saya permisi.." ucap Nisrina sebelum meninggalkan Indra.
Indra kembali berbincang dengan kakek dan ayah Nisrina hingga Ainun mengajaknya untuk mengantarkan dirinya kembali pulang kerumah besar milik kakeknya.
Setelah berpamitan ke keluarga Ainun dari pihak mamanya Indra dan Ainun pun melanjutkan perjalanannya yang tidak ingin terlalu kemalaman dijalan tidak baik juga buat keduanya.
"Mas..ada salam dari mba Nis.."Ainun menyampaikan amanah dari Nisrina yang kebetulan tidak terlihat saat Indra dan Ainun berpamitan.
"Waalaikum salam.." balas Indra senang mendapat salam dari Nisrina yang hanya salam tapi membuat dirinya senang bukan kepalang.
"Kenapa..mba..ga keluar tadi.." tanya Indra penasaran.
__ADS_1
"Mba..banyak kerjaan yang harus di selesaikan mas..dari kantornya dia magang..orang magang kayak orang kerja aja..sampai tugasnya harus di bawa pulang.." sewot Ainun ke seseorang yang membuat Nisrina sibuk.
"Oh..siapa sih..bosnya..kalau kenal mas omelin tuh..bos.." serunya dengan tawa tertahan, tapi ada sedikit kesal yang Indra rasakan kepada orang kepercayaan yang telah membuat Nisrina jadi sibuk diwaktu istirahatnya.
"Coba..mas cari tahu bukannya mas banyak teman yang CEO muda-muda itu, kali aja mas kenal bilangin Ainun marah mbanya harus kerja juga dirumah..hu.." dengan gaya orang marah Ainun melipat tangannya didadanya dengan muka sewotnya ga enak dilihat.
"Ok..mas cari tahu..awas..aja..kalau mas ketemu akan mas cubit pipinya.." ucap Indra konyol yang membuat Ainun protes.
"Ko..cuma cubit pipinya sih..laki-laki mah tonjok lah..bukannya mas sudah sabuk hitam taekwondo.." pintanya ingin membalas kekesalan kepada seseorang itu.
"Oh..gitu..ya..tapi ga baik juga dek..sama orang yang kita kenal main baku hantam tanpa tahu dulu maksudnya apa.." Indra ingin Ainun bisa membedakan mana urusan pribadi dengan proporsional kerja.
"Tapi..kan..mas..kasihan mba Nis.." rengek Ainun yang sayang dengan Nisrina.
"Ya..nanti mas tegur dulu kalau masih membebani mba Nis baru mas..main cara laki..ok..cantik.." Indra ingin Ainun tersenyum.
"Terimakasih..masku yang cakep dan baik hati lagi.." ujar Ainun mendekap salah satu tangan Indra yang tersenyum tanpa melihat ke Ainun dia melihat jalan.
Indra hanya tersenyum mendengar pujian dari Ainun yang menurutnya sudah mulai pintar menyenangkan orang lain.
"Ih..mas ko..senyum-senyum aja..Ai..jadi malu.." Ainun menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Ade..mas hanya senang ade tambah pintar bikin mas senang.." ucap Indra dengan mengusap tangan Ainun yang masih menutupi mukanya.
"Mas..paling bisa..deh.." balas Ainun yang sudah membuka tangannya.
Sepanjang jalan keduanya saling bertukar cerita dari seputaran sekolah Ainun sampai soal apa yang baru saja dibicarakan dengan Nisrina yang membuat Indra senang, sebab Ainun bukan saja sebagai adik sepupu tapi sudah seperti adik perempuan buat dirinya yang manja ke kakak laki-lakinya juga terkadang butuh perlindungan disaat-saat tertentu.
Ainun juga nyaman bersama Indra yang sangat hangat juga melindunginya walaupun terkadang menggodanya sesekali hingga Ainun berlari menghindar darinya itu bukti kedekatan keduanya yang terpaut jauh dari segi umur tapi pembawaan Indra yang supel membuat perbedaan itu tidak terlihat di keduanya.
Rendra juga terkadang tidak begitu khawatir bila Ainun ada bersama Indra menurutnya Indra yang sudah bisa dibilang dewasa dapat diandalkan saat Ainun bersamanya, hingga Rendra menghilangkan kecemasan keberadaan Ainun bila bersama Indra.
__ADS_1
Indra sendiri tidak menyalah gunakan kepercayaan Rendra yang menurutnya sebagai amanah yang harus dijalankan dengan segenap jiwanya untuk menjadi pengganti papanya Ainun, itu yang Indra ditunjukkan kepada keluarga besarnya.