Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
139


__ADS_3

"Do'akan saja yang baik-baik saat rindu dan tak perlu sampai dia tahu biarlah Allah yang menjaganya untukmu, apa ada yang lebih romantis dari itu? " Rendra.


Sore menjelang malam ini Rendra duduk di taman ditemani papa yang berbincang santai seputar perusahaan yang dimilikinya, hingga dikejutkan dengan kedatangan seorang yang sangat dikenalnya yang tidak biasanya datang dengan tergesa menghampiri keduanya dengan sapaan khasnya bila datang berkunjung.


Setelah memberikan salam kepada kedua orang yang dituakan olehnya yang menjawab salam darinya, dengan tanpa melupakan tradisinya dia mencium tangan dan memeluk keduanya dengan sopan dan hangat seperti biasanya.


Keceriaan yang selalu dia tampakkan sesuai dengan jiwa mudanya yang terlihat semangat seiring dengan jiwa bisnisnya yang mengalir dari keluarga besar mamanya.


Indra Pramudya Bagaskara itu nama yang disandangnya yang saat ini ikut duduk bersantai di sore menjelang malam ini, tapi dari raut wajah cerianya terlihat ada yang sedikit kegelisahan yang membuat kakeknya bertanya dengan menggodanya.


"Mana..calon..mantu..buat kakek.." goda Papa Rendra dengan menepuk pundaknya.


"Masih susah kek..dijinakkan.." jawabnya menutupi kegelisahannya.


Rendra dan papa tersenyum mendengar jawaban dari Indra yang terlihat masih sedikit menutupi kegelisahannya.


"Libur..mas.." tanya Rendra seperti ingin tahu.


"Iya..om..sebenarnya ingin cepat mengajukan sidang..tapi disini ada masalah.." ujar Indra menjelaskan.


"Jadi..jagoan..jangan cepat menyerah.." sang kakek memberikan semangat Indra.


"Semua..masalah pasti ada jalan keluarnya mas.." Rendra menambahkan agar Indra semangat lagi.


"Ada yang bisa kakek bantu..sayang.." pinta kakeknya dengan mengusap Indra.


"Kek..boleh mas pinjam karyawan kakek yang terbaik dibagian akuntan.." Indra meminta dengan serius terucap.


"Bisa tapi sepertinya untuk waktu dekat ini mungkin tidak bisa mas, sebab dia sedang kakek suruh mengurus kerjaan kakek di luar kota..tapi.." seperti kakek sedang memikirkan sesuatu.


"Oh..ya..kata assisten kakek..di kantor pusat ada anak magang dari kampus terbaik dia siswa terbaik dan kerjanya teruji cukup bagus..coba nanti kakek tanyakan..dulu.." kakek langsung melangkah meninggalkan kedua generasi penerusnya yang berbeda umur.


Rendra dan papa tahu Indra memiliki bisnis yang cukup bagus prospeknya dimasa depan sesuai dengan jiwa mudanya yang berhubungan dengan otomotif dan sudah memiliki cabang ini yang mengagumkan buat keluarga besarnya sebab Indra masih muda sudah hebat tidak mengandalkan orangtua.


Rendra sangat mendukungnya untuk menikah muda karena dia sudah mapan secara materi tapi tidak itu saja, dia yang lulusan pesantren modern sangat memahami bagaimana untuk menjadi imam yang baik itu yang lebih utama buat Rendra.


Keduanya saling bertukar pendapat baik masukkan maupun kritik buat Rendra yang sudah lama berbisnis tidak masalah harus dikritik oleh anak muda baginya untuk pemasukan yang lebih baik kenapa tidak.


"Kesayangan..kakek..siap besok dia akan langsung ke kantor..siapkan saja tempat untuknya.." kakek menjelaskan dan Indra paham maksud kakeknya.


"Terimakasih..kek.." Indra memeluk kakeknya.


"Yang lama kemana..memangnya.." tanya Rendra santai hanya ingin berbincang.


"Cuti..hamil..om..tapi kemungkinan dia risen om..sebab suaminya sayang banget sepertinya.." ujar Indra menjelaskan.


"Memang sebaiknya seorang ibu ada dirumah bersama anak-anaknya.." ujar Papa Rendra dengan tidak bermaksud memojokkan siapapun sebab anaknya sendiri Ayu juga bekerja di rumah sakit juga buka klinik sendiri.

__ADS_1


"Om..bantu dong..lebih dekat dengan Nis.." pinta Indra ke Rendra tanpa malu.


"Gampang..deketin terus ayahnya..itu kuncinya.." Rendra seperti mengajarinya.


"Serius..om..sebab Nis ga boleh mas..main ke rumahnya" ucap Indra menjelaskan yang sebenarnya.


Rendra tahu itu sebab Candy juga sama dulu seperti itu, dia tidak mengijinkan tiap kali dirinya ingin ke rumahnya untuk bertemu ayahnya dengan alasan belum waktunya dan tidak ingin jadi fitnah itu yang selalu dia tekankan.


Dengan mengingat itu Rendra tersenyum membuat Indra sedikit bingung sebab menurutnya aneh saja dia yang curhat omnya yang senyum-senyum seperti mengingat sesuatu.


"Om..apa ada sesuatu yang aneh dari mas.." ujarnya penasaran ke Rendra.


"Mas..mas..seperti tidak tahu ommu saja.." ujar papa seperti tahu apa yang ada dalam otak Rendra.


"Ajak adikmu buat jadi alasan biar bisa ambil hati ayahnya mba Nis.." Rendra memberikan ide ke Indra yang seperti setuju ide dari Rendra.


"Oh..iya..ya..kenapa ga kepikiran ya..om.." Indra dengan memegangi kepalanya.


"Itu..tandanya yang muda masih kalah ilmu dengan seniornya" ujar Papa Rendra dengan tawa kecilnya jail ke Indra.


"Benar..juga..ya..kek..waktunya harus berguru ini..kek..biar tambah ting.." Indra menjentikkan jarinya seperti menandakan tambah pinter.


Mereka tertawa bersama hingga suara adzan berkumandang dan menyudahi bincang-bincang mereka untuk melaksanakan kewajibannya kepada sang pencipta sebagai bentuk ketaatannya.


Setelah selesai melaksanakan kewajibannya dilanjutkan dengan membaca beberapa ayat dalam al-qur'an di mushola kecil milik keluarga papa Rendra.


Candy menyuruh Ainun untuk memanggil semua anggota keluarganya untuk makan malam bersama dengan tambahan Indra saat ini yang berkunjung ke rumah.


Semua anggota keluarga saat ini menikmati menu makan malam dengan hikmat hingga tidak banyak yang terucap dari mulut mereka.


Tidak beberapa lama mereka sudah berpindah tempat duduk santai diruang keluarga dengan begitu akrab terutama Indra dengan Ainun walaupun terpaut jauh umurnya tapi Indra sangat hangat bila bersama orang tersayangnya.


"Ade..mas..tambah cantik..aja..nih.." goda Indra dengan mengusap punggungnya.


Ainun tidak membalas godaan Indra hanya diam menikmati acara tv yang lebih menarik dari godaan Indra.


"Sudah..ada yang naksir..dek.." tanya Indra ke Ainun yang bereaksi membalas godaan Indra.


"Mas..jangan mulai..Ai..bukan cewek seperti itu.." ujarnya ingin membuat Indra bersalah.


"Maaf..cantik..mas..salah..maaf..maaf.." pinta Indra menangkupkan kedua tangannya didadanya tanda bersalah dan minta maaf.


"Maafnya ga Ai..terima.."Ainun pura-pura memalingkan badannya tidak mau melihat Indra.


Semua anggota keluarga yang melihatnya tertawa jail membuat Indra makin bersalah ke Ainun dengan rayuannya Indra memohon.


"Mas..diminta apapun ga masalah asalkan..ade maafin mas.." dengan dua jari yang ditunjukkan Indra berucap hingga membuat Ainun menghadap ke Indra.

__ADS_1


"Ok..Ainun..mau mas..ajak Ainun jalan kemanapun..sanggup.." ucap Ainun dengan muka serius lebih terlihat jutek.


"Ok..bukan masalah..kapan.." pinta Indra dengan senang tapi takut Ainun belum memaafkanya.


Mohon dimaklumi keluarga besar Rendra mewariskan kebucinan kepada generasinya jadi jangan aneh, mereka tidak ingin orang tersayangnya tersakiti oleh ucapan maupun perbuatannya.


"Se..ka..rang.." ucap Ainun tegas dan ini membuat Candy menegurnya.


"Mba..mau kemana..ini udah malam ga baik buat kalian.." ujar Candy dengan sedikit rasa khawatirnya.


"Tenang..tante..jalan sama mas ini.." seru Indra menenangkan Candy.


"Bolehkan..om.." tanya Indra ke Rendra yang melihat ke Candy yang tidak ingin berbeda persetujuan.


Rendra tahu Candy mengijinkan hanya tidak lama, dengan sedikit kata tapi Indra faham maksud dari omnya.


"Ingat..waktu..mas.." ucap Rendra tegas kepada kedua orang tersayangnya.


"Siap..om..ayo..dek.." ajak Indra ke Ainun yang sudah berdiri di dekatnya.


Candy memberikan baju hangat untuk Ainun yang sudah memakai gamis setelan bunga-bunga dengan hijab polos dengan warna senada.


Keduanya sudah berada di mall yang kebetulan Ainun ingin mencari buku untuk referensi tugasnya, Indra yang sabar mengikuti tiap langkah Ainun menelusuri tiap rak buku hingga membuat orang yang melihat terkagum.


"Senangnya..kalau gue..punya someone yang ga protes kalau lagi diajak cari buku.." gumam salah seorang yang melihat keduanya.


"Itu..mah..seneng bener..tuh cewek.." tambah yang lain dengan memperhatikan keduanya.


Tanpa terasa sudah beberapa buku berada di tangan Indra hingga si pemilik tangan menggoda Ainun.


"Dek..kenapa ga sekalian aja tokonya di beli.." ucap Indra pelan tapi membuat Ainun tersadar.


"Oh..iya..maaf..habis bagus semua..Ai..bingung.." ujarnya dengan senyum rasa bersalah.


"Bantu pilih..dong..mas.." pinta Ainun dengan manja ke Indra.


"Ok...ini yang lebih tepat..dek " Indra memberikan salah satu buku yang Ainun mau.


Keduanya melanjutkan dengan berkeliling mall hingga membuat Ainun lelah dengan sedikit merengek Ainun meminta Indra memegang tangannya.


"Mas..Ai..cape.." Ainun merengek ke Indra yang muka memelas.


"Sini..mas pijat.." pinta Indra ke Ainun yang disusunnya duduk disalah salah satu bangku yang disediakan pihak mall.


Indra memintanya yang dilihat oleh beberapa orang yang melewati keduanya sesekali ada yang memandang bucin ada yang jutek tapi itu menurut penilai mereka yang jelas buat Indra tidak masalah begitupun dengan Ainun.


Begitulah kedekatan Indra dengan Ainun yang sangat di sayangnya hingga mengusir semua rasa malu juga gengsi untuk membuat orang tersayangnya nyaman bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2