
"Jadilah pribadi yang amanah sebab kita akan mempertanggungjawabkan semua apa yang telah kita lakukan" Rendra.
Gemericik air dari kolam ikan yang ada di taman milik mama menambah rasa damai bagi penghuninya, seiring suara burung berkicau pagi ini menandakan pagi akan cerah begitu juga dengan Rendra yang akan dilantik di kedinasannya, Rendra akan menanggalkan sebutan kapten didirinya berganti menjadi letnan yang dia emban didepan namanya.
Keluarga besar Rendra diharapkan kehadirannya saat pelantikan itu, tapi ada yang disayangkan kehadiran kedua buah hatinya tidak dapat ikut serta dikarenakan studinya yang tidak dapat di tinggalkan Ainun yang akan persiapan OSPEK di kampusnya begitu juga Azlan yang sudah masuk pesantren modern yang jaraknya sudah berbeda kota.
Candy yang sudah berbusana istri angkatan darat (persit ) dengan riasan seperti biasa natural, yang menonjolkan kecantikan alaminya dengan mata yang indah miliknya.
Rendra yang sudah mengenakan seragam lengkapnya memperhatikan Candy yang masih bercermin merapikan hijabnya, entah apa yang membuatnya ingin menggoda bidadari yang nyata didepan matanya itu.
"Mas.." ucap Candy yang didekap dari belakang oleh Rendra yang ikut bercermin nampak gambar nyata keduanya.
"Sudah..cantik..ko.." ujar Rendra tepat di telinga Candy mesra.
"Ih..nanti terlambat.." Candy mengingatkan Rendra yang masih mendekapnya.
"Can..mau bareng..mama.." teriak mama dari luar kamar Rendra yang membuat Rendra melepaskan dekapannya.
"Tu..kan..mama udah siap.." seru Candy mengusap pipi suaminya.
"Iya..ma.." balas Candy melangkah meninggalkan Rendra yang tersenyum manis.
Keduanya melangkah meninggalkan kamarnya, menemui mama dan papa Rendra yang sudah menunggu diruangan tengah dengan pakaian yang sudah rapi terlihat serasi keduanya.
"Cie..cie..couple.." goda Rendra ke mama papanya yang hanya tersenyum ke Rendra.
Tanpa terasa keluarga Rendra sudah berada dilingkungan dinas Rendra yang sudah terlihat beberapa tamu undangan memenuhi lapangan dan tiap divisi juga hadir tidak ketinggalan kawan tim Rendra yang ikut serta dalam upacara nanti.
Upacara berlangsung hikmat semua sesuai protokol upacara hingga selesai dan dilanjutkan dengan pemberian selamat kepada Rendra dan istri, terlihat senyum ramah Rendra dengan rendah hati tiap kali terdengar ucapan dari rekan dinas dari tiap divisi maupun tamu undangan, tidak terkecuali komandan dan kawan tim Rendra.
"Selamat..bro..tambah sukses.." ucap Ifan memeluk Rendra.
"Terimakasih..tambah tanggungjawab.." balas Rendra dengan tersenyum.
"Selamat juga..bro..tetap semangat.." tambah Panji yang menyusul dibelakang Ifan.
"Terimakasih..harus ada tenaga ekstra.." Rendra menjawab balik ke Panji yang hanya menepuk pundak Rendra.
Tidak mau ketinggalan bocil dan Farel menyusul memberikan selamat dengan gaya polos dan konyol dari keduanya seperti biasa.
"Selamat..Kapt..eh..gue..salah ya..Let.." ucap polos Alfa.
__ADS_1
"Selamat bro..makan..makan..nih.." ujar Farel dengan gaya salam laki-lakinya.
"Aku..mohon tetap panggil aku seperti biasanya saja..aku ga mau terbebani dengan semua ini.." ucap Rendra dengan santai.
"Soal makan-makan..kapanpun..asal jangan minta yang macem-macem yang sehat dan bergizi ok..sekuatnya perut kalian.." dengan tawa kecilnya Rendra berucap.
"Itu..mah ga istimewa..bro.." balas Farel hanya menggoda kawan timnya.
"Mau..yang istimewa..ok..bro siapin itu..yang dulu..kita makan dipinggir jalan.." balas Ifan mengingatkan wanita setengah pria yang bernyanyi dan bergoyang.
Semua tertawa dengan keras hingga membuat yang lain terheran-heran apa yang membuat kelucuan di kawan tim Rendra.
"Ampun..dah kalau yang istimewanya yang itu.." Farel masih dengan tawa yang tertahan mengingat momen itu.
"Itu..lebih dari istimewa..lagi.." seru Panji dengan terus menjailin Farel yang banyak berubah karena anak-anak yang makin tumbuh besar.
"Ternyata kita sudah banyak melewati momen-momen yang indah dalam perjalanan karir kita.." ucap Rendra seperti mengingat yang sudah lewat.
"Ya..kita semakin..jadi orang tua buat anak-anak..kita" tambah Ifan yang hanya memiliki putra semata wayang.
"Mudah-mudahan kita jadi manusia yang lebih baik lagi.." ujar Alfa dengan menunduk.
"Ya..benar..kita semakin jadi contoh..buat anak-anak kita.." tambah Panji lagi.
"Iya..serius gue pernah ditanya sama anak gadis gue..mama pacar ke berapa..pa? jujur gue malu menjawabnya..gue sendiri melarang anak gue pacaran..kalau boleh gue balik lagi gue..akan jadi lelaki yang paling setia.." ucap Farel menunduk seperti menyesali perbuatannya yang telah lalu.
"Bersyukur..lah istri loe..orang baik yang menyadarkan loe ke jalan yang benar.." balas Ifan menepuk pundak Farel.
"Loe..benar..bro dan yang bikin gue bersyukur lagi bini gue ga pernah cerita ke anak-anak kalau gue paling brengsek.." Farel mengusap air matanya di sudut matanya karena haru.
"Semua akan..indah pada waktunya..tinggal gimana..untuk kedepanya semangat ok..bro " seru Rendra menepuk tangan Farel yang tersenyum yang dipaksakan.
"Gue..bersyukur tuhan..mempertemukan gue dengan loe-loe pada, orang yang baik..sedangkan gue..apa.." ujar Fadel lagi dengan berkaca-kaca.
"Loe..juga orang baik bang..cuma lagi tersesat aja..belum tahu jalan pulang.." ucap polos Alfa yang membuat kawan satu timnya menggacak kepala Alfa.
"Loe..kira..gue..nyasar di gunung.." balas Farel dengan tawanya.
"Bener..bro loe lagi nyasar di gunung..terus ketemu nenek lampir..terus dikasih ajian jaran pemikat pelempuan..eh salah perenpuan jadi begini..nih" Ifan menjelaskan dengan konyolnya yang membuat kawan satu timnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Boro-boro gue bisa balik udah mati duluan disana karena udah jadi tumbal mak mampir kali.." balas Farel ga kalah konyol.
__ADS_1
"Bang..bukanya mak mampir bakal naksir abang..biar memperbaiki keturunan gitu..loe..kan bening mak lampirkan gosong kali aja nanti anaknya jadi bersihan dikit gitu.." ucap Alfa ga kalah konyolnya.
"Gila..loe nyuruh gue..nikah sama mak mampir.." balas Farel dengan tawanya.
"Bro..loe bakal dikasih ajian awet muda dan awet idup.." ujar Ifan menambahkan kekonyolan ke Farel.
"Ampun..dah gue ga mau awet sebab gue bukan ikan asin..dan bukan makanan kalengan" balas konyol Farel lagi yang membuat tawa makin pecah kawan tim Rendra.
Ada saja yang menjadi bahan candaan bila kawan satu tim Rendra berkumpul dari yang santai, serius, konyol sampai pembahasan kehidupan untuk jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat hingga Candy harus kembali lebih dulu dengan papa mama Rendra, karena Rendra sendiri masih harus menyelesaikan beberapa prosedur yang lain dan masih harus berada di kedinasannya.
Rendra yang masih bersama ajudan yang lamanya sedikit bersantai di ruangannya, hanya berbincang seputar anak-anaknya yang sekarang mulai sibuk di studinya, ajudan Rendra sendiri sudah menikah dengan orang kepercayaan Rendra di salah satu perusahaan miliknya.
"Let..kalau ga salah dengar..cantik sudah mulai kuliah ya.." tanya ajudan Rendra yang dipanggil om oleh Ainun.
"Ya..gitu..lah ga terasa anak-anak makin besar..kita sendiri masih merasa mereka masih anak kecil.." balas Rendra dengan membaca file.
"Cantik ambil jurusan apa..Let.." tanya ajudan Rendra lagi.
"Mba..minta seperti mamanya..dan kebetulan juga dia pandai.." Rendra menjelaskan.
"Ih..cantik hebat..ya.." ajudan Rendra yang cukup mengenal Ainun dari kecil.
"Sebenarnya aku sedikit..khawatir mba jauh dari kami..dan tidak bisa kalau harus pergi dari rumah terlalu cape..ujung-ujungnya mba nanti sakit..ya..terpaksa demi masa depannya" Rendra menjelaskan ke ajudannya.
"Do'a kan saja..Let..cantik baik-baik saja dan tetap sehat walaupun jauh.." ajudan Rendra menenangkan Rendra.
"Gimana kabar istrimu..aku dengar dari honey..kemarin ke rumah sakit..kenapa?" tanya Rendra ke ajudannya.
"Alhamdulillah..Let sehat..hanya memeriksakan kehamilannya.." jawab ajudan Rendra dengan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah..kenapa kamu ga mengantarkan.." tanya Rendra sedikit marah.
"Let..saya harus jaga.." jawabnya dengan tegas.
"Bisa..ijin dulu atau tukar jaga..lain kali bilang aku akan tugaskan yang lain..ingat dia mengandung anakmu..loh jangan biarkan dia menanggung seorang diri aku ga mau lihat itu lagi.." Rendra dengan tegas.
"Siap..Let.." jawab ajudan Rendra dengan serius.
Rendra tidak hanya bijak tapi juga merangkul kepada yang lebih muda, dia memang panutan tapi Rendra tetaplah Rendra dengan segala kerendahan hatinya tetap jadi dirinya sendiri tanpa ada yang berubah itu yang dirasakan oleh kawan satu timnya dan ajudan Rendra tapi juga oleh semua orang yang mengenalnya tanpa terkecuali.
__ADS_1
Dan dukungan keluarga juga Candy sedikit banyak membuat Rendra semakin jadi pribadi yang disegani di mana pun, Rendra sendiri merasa takut akan tanggungjawabnya yang semakin besar bukan hanya dunia tapi juga kepada pemilik kehidupan, dalam tiap do'anya dia berharap dijadikan orang yang amanah dalam menjalankan tugas yang di embannya.