Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
144


__ADS_3

"Tuhan memberikan rasa tapi juga dengan akal agar nafsu tidak memberikan kontrol diluar akal sehat..begitu seimbangnya tuhan ciptakan hanya kita terkadang lebih memberikan porsi lebih ke nafsu...yang berujung kita tersesat dijalannya tanpa tersadar" Rendra.


Rasanya berat meninggalkan negara kelahirannya yang Indra rasakan saat ini, hingga selepas sholat subuh Indra lebih berdiam diri di kamarnya, ini bukan kebiasaannya lebih tepatnya bukan Indra yang dikenal oleh keluarganya.


Seandainya saja dirinya tidak berjanji kepada Nisrina ingin rasanya berdiam diri di kamarnya untuk menenangkan galau hatinya "tuhan inikah rasanya merindu" Indra bicara seorang diri dengan kedua tangannya memegang kepalanya menunduk.


Indra merasakan nyaman saat bersama dengan dirinya walaupun Indra tidak pernah berlama-lama menatap wajah ayu dengan mata indah milik Nisrina "kapan aku bisa memandangnya tanpa harus ada larangan yang menghalanginya" masih dalam posisi yang sama Indra berbicara seorang diri.


Waktu bergulir begitu cepat hingga terdengar suara khas mama memanggilnya yang menyadarkan Indra dari sedikit lamunannya.


"Mas..jadi..mau mama siapkan bekal atau sarapan bersama..sayang" pinta mama dengan suara khasnya.


"Iya..mas..sebentar turun.." balas Indra yang akan berganti pakaian resmi.


Tidak beberapa lama Indra turun dengan pakaian yang sudah rapi tapi tidak setali raut wajahnya, mamanya seakan tahu ada sedikit perubahan dari anaknya.


"Mas..mas..sehat.." mama menyentuh pipi Indra yang tidak panas hanya terlihat tidak nyaman saja.


"Mas..sehat..kenapa gitu..ma.." balas Indra ke mamanya.


"Mas..kalau tidak sehat istirahat saja..soal kerjaan biasanya juga ada yang urus.." tambah papa Indra yang sudah terlebih dulu duduk di meja makan bersama adik Indra.


"Tidak bisa pa..ini hari terakhir mas di kantor minggu mas harus kembali..sidang sudah ditentukan tanggalnya mas ga mau harus menunggu lagi.." Indra menjelaskan dengan penjelasan yang cukup beralasan.


"Terus kenapa..itu muka..ga semangat gitu..janga-jangan mas..." goda adik Indra asal ngomong.


"Ada yang bikin nyaman ya..." goda Papa Indra dengan senyum menggoda Indra.


"Iya..nih..pa..tapi dia punya rasa yang sama ga ya sama mas.." Indra mengungkapkan isi hatinya.


"Jagoan kok..menyerah..sebelum perang " papa menyemangati Indra.


"Peped..terus mas jangan kasih kendor mas.." ujar adik Indra menepuk pundak masnya.


"Bisa..aja..kamu dek.." ujar mama yang membawa makanan dari dapur.


"Cantik..mas.." tanya papa dengan mengambil makanan untuk sarapan paginya.


"Gimana..sih papa pasti cantik..lah kalau ga cantik mana mungkin mas jadi galau gini.." protes adik Indra ke papanya.


"Semua cewek pasti cantik..dek.." sahut mama dengan memberikan sepiring nasi putih ke Indra.


"Ga..gitu mama, tahu sendiri ma..selera mas seperti apa.." adik Indra menjelaskan.


"Mama..jadi penasaran..seperti apa sih calon mantu mama.." ujar mama dengan senyumnya.


"Mama tahu kok.." ucap Indra yang akan menyuap makanannya.


"Nis...mas.." mama sedikit terkejut.


Indra hanya mengangguk tanpa menjelaskan ke mamanya yang masih bingung dengan ucapan Indra.


"Nis..kerja..di kantor mas.." tanya papa yang mulai penasaran juga.

__ADS_1


"Ya..papa tapi dia bukan kerja tapi magang dari kampusnya.." ujar Indra yang masih menikmati makanannya.


"Ko..bisa.." tanya papa lagi masih dengan rasa penasarannya.


"Atas..rekomendasi kantor kakek..mas juga ga tahu..kalau yang kakek kirim ke kantor..Nis.." Indra menjelaskan yang membuat mama papanya senang sebab mereka kenal siapa Nisrina.


"Pantas..galaunya tingkat akut.." adik Indra memberikan komentarnya.


"Nis..tahu itu kantor mas.." tanya papanya lagi.


"Ga..tahu pa..biarlah..berjalan sesuai alurnya saja untuk yang satu itu..tapi kerjaan dia bagus pa.." Indra menjelaskan.


"Kenapa ga percayakan saja sama Nis.." papa seperti sejalan dengan Indra.


"Iya..mas..bukannya jadi ada alasan buat dekat dengan Nis.." mama ikut menambahkan.


"Iya..mas..apa salahnya di coba.." ujar adik Indra menambahkan.


"Akan..mas coba..terimakasih untuk dukungannya buat mas.." balas Indra yang sudah terlihat lebih baik.


Kehangatan yang selalu mereka tunjukkan walaupun Indra tidak selalu ada di dekat keluarganya, dukungan yang selalu mereka berikan kepada dirinya.


Selesai menikmati makan bersama Indra tidak lama berpamitan kepada keluarganya untuk lebih dulu meninggalkan rumah milik papanya.


Ada rasa senang dalam dadanya seperti ada suntikan energi baru bila melihat sosok yang satu ini, belum juga Indra turun dari kendaraan miliknya sosok yang ingin di miliki dengan halal sudah menghampirinya.


"Ih..mas..Nis..telat ni.." celoteh Nisrina yang takut akan mendapatkan sangsi dari keterlambatannya.


"Maaf.." Indra sudah membukakan pintu mobilnya.


"Kita ga pamit dulu..nih.." ujar Indra yang menahan tawanya yang baru melihat Nisrina banyak bicara.


"Ga...usaha..cuma..ada kakek..mas jemputnya telat..gimana..nih.." Nisrina masih dengan rasa cemasnya.


"Maaf..biar mas..yang akan bilang..kalau Nis..telat karena mas..terlambat jemput.." ucap Indra dengan pura-pura ikut merasa bersalah.


Dalam perjalanan Indra curi pandang, yang melihat Nisrina meremas tangannya merasa cemas atas keterlambatannya.


Ingin rasanya Indra menjelaskan bahwa kantor itu miliknya tapi akan ada kejadian yang tidak inginkannya, yang pertama Nisrina akan memberinya jarak dan yang kedua Nisrina makin menjauhinya dalam hal ini Indra tidak ingin kejadian itu terjadi.


Hanya sepi yang terasa dalam mobil mewah milik Indra, mungkin ini yang lebih baik pikir Indra sebab dia berharap sosok disampingnya tidak menjauh darinya tanpa alasan yang tidak jelas.


Sebelum mobil memasuki gedung miliknya Indra sudah terlebih dulu menenangkan sosok manis itu.


"Biar..mas yang akan menyampaikan alasannya..maafkan..mas ya.." ucap Indra yang sudah menghentikan mobilnya.


"Janji..ya..mas " pinta Nisrina yang lebih dulu turun dan setengah berlari menuju gedung milik Indra.


"Sebegitu bertanggungjawabnya..pada pekerjaan..Nis.." gumam Indra yang sudah ditinggalkan seorang diri.


Nisrina yang tergesa membuat sekretaris orang kepercayaan Indra menyapanya dengan sedikit menggoda.


"Tumben..kesiangan..memang semalam pulang jam berapa.." bisanya yang membuat Nisrina malu memerah pipinya.

__ADS_1


"Maaf..bu..mas Indra tuh..telat jemputnya.." sambil berlalu menuju meja kerjanya.


Sekretaris yang tahu Nisrina akan datang terlambat sebab Indra terlebih dahulu menghubunginya.


Nisrina yang malu dengan menunduk membuka benda pipi lebar di meja kerjanya, hanya senyuman dan gelengan kepala yang sekretaris berikan ke Nisrina.


Indra yang memandangi dari jauh hanya tersenyum melihat tingkah Nisrina yang takut akan ditegur atasannya.


Hingga jam istirahat Nisrina tidak beranjak dari tempat duduknya saat ini seperti ada rasa bersalah dengan keterlambatannya, sebab dia tidak ingin kejadian ini berpengaruh pada penilaian laporannya di kampusnya.


Indra memerintahkan orang kepercayaan agar Nisrina tidak lagi merasa bersalah dengan keterlambatannya.


"Mba..Nis..maaf..sebelumnya..saya dengar mba terlambat ya..hari ini.." pura-pura menegur Nisrina.


"Maaf..ini untuk yang pertama dan terakhir pak" Nisrina dengan menunduk.


"Saya bisa memaafkan tapi atasan saya tidak walaupun mas Indra sudah menjelaskan alasannya..sebagai konsekwensinya mba Nis..harus menerima pekerjaan ini seterusnya walaupun sudah selesai dari tugas magangnya..bagaimana mba Nis.." orang kepercayaan Indra berinisiatif sendiri tanpa diketahui oleh Indra.


"Saya..tidak masalah tapi saya masih kuliah dan tidak mungkin harus hadir di kantor ini setiap hari..dan saya harus ijin terlebih dahulu dengan ayah saya" ucap Nisrina menyanggupinya sebab dia ingin lulus dengan nilai yang memuaskan dari magangnya.


"Tidak masalah kamu bisa kerja dari rumah..bila sempat sesekali bolehlah..ke kantor..soal gaji..nanti saya bicarakan lagi..bagaimana.." orang kepercayaan Indra meminta kepastian dari Nisrina.


"Saya setuju tapi saya..tetap akan meminta ijin terlebih dahulu kepada ayah saya.." Nisrina kembali menjelaskan.


"Ok..saya tunggu jawabannya sebelum kamu pulang.." pintanya yang membuat Nisrina terkejut.


"Kenapa harus secepat ini..pak.."pinta Nisrina dengan sedikit memikirkan.


"Sudahlah..pokoknya saya tunggu jawabannya.." ujarnya dengan melangkah meninggalkan Nisrina.


"Meminta persetujuan tapi kok memaksa..ya..aneh.." ucap Nisrina seorang diri.


Nisrina tanpa tunggu lama-lama menghubungi ayahnya, ayahnya mengerti maksud anaknya dan sebagi orang tua yang bijak dia menyerahkan keputusan kepada Nisrina hanya saja ada penekanan tidak mengganggu tugas kuliah Nisrina yang sudah mulai sibuk menggajukan skripsi.


Ayahnya percaya Nisrian bisa menjalankan tugas kuliah dan kerja kantornya, hanya saja ayahnya tidak ingin Nisrina terlalu sibuk hingga melupakan masa remajanya yang masih ingin bermain dengan kawan-kawannya sebab masa itu tidak akan terulang kembali.


Sore menjelang malam kesibukan kantor-kantor mulai ditinggalkan termasuk Nisrina yang sudah bersiap pulang tapi seseorang menunggunya.


"Gimana..mba..Nis.." tanyanya sopan meminta Nisrina memberikan jawaban yang menyenangkan hati seseorang.


"Ok..pak tapi..semua Nis kerjakan dari rumah sebab Nis harus mengerjakan tugas Nis juga.." ucapan Nisrina terdengar serius.


"Ok..kita sepakat..kita mulai selesai dari magang..disini..ok..mba Nis.." ujar orang kepercayaan Indra yang senang mendapat kesanggupan dari Nisrina.


Nisrina sudah meninggalkan kantor begitu juga karyawan yang lain tinggallah Indra dan orang kepercayaannya juga sekretarisnya yang bersiap pulang juga.


"Mas..kita sudah tidak harus mencari lagi akuntan untuk kantor kita.." orang kepercayaan Indra menjelaskan


"Baguslah..tapi secepat itu pak tampa saya tahu.." ujar Indra yang masih memeriksa file.


"Mas..sudah kenal..ko.." ucapnya yang membuat Indra menghentikan memeriksa filenya.


"Itu..loh mas..mba Nis.." ujarnya menjelaskan yang membuat Indra semakin diam, ini rencananya tapi sudah dengan mudahnya terealisasikan tanpa harus dirinya turun tangan memerintahkan.

__ADS_1


Apakah ini rencana tuhan untuk dirinya pikir Indra tapi semua yang terjadi di dunia ini tidak ada yang kebetulan semuanya rencana tuhan yang paling baik dalam mengatur kehidupan, satu langkah sudah tuhan berikan untuk Indra masih beberapa langkah lagi untuk meminta seseorang menjadikan dirinya pasangan yang halal.


__ADS_2