
"Jangan pernah menyerah dengan keadaan, bila lelah rehatlah tapi terus melanjutkan hingga ketempat tujuan ingat tuhan berserta mu" Rendra.
Saat ini Candy sedang menghadap dosen untuk konsultasi penyelesaian skripsinya di kampus dan kebetulan juga teman-temannya juga hadir di kampus, walau dari segi usia berbeda tapi Candy nyaman dekat dengan mereka saat berkumpul.
"Lucu...deh si mungil.." ucap salah satu rekan dokter senior yang sama-sama satu angkatan mengambil spesialis"Jadi kepengen mencubit gemes " ucap yang lain juga ikutan.
"Hebat...anak kecil bisa bikin anak kecil" goda yang lain dengan tawa menggoda Candy.
Candy hanya tersenyum membalas godaan temannya tampa ada kesal apa lagi sakit hati.
"Akhirnya selesai juga" gumam Candy dalam kesendiriannya melangkah menuju luar kampus, tiba-tiba benda pipinya berdering dan terlihat nomor suami tersayang.
★★"Assalamualaikum, mas.."(Candy menjawab panggilan telpon).
★★"Waalaikum salam, maaf mba ini Panji" (Panji menjawab).
★★"Iya...mas Panji, ko telpon mas dra ada sama mas Panji" (tanya Candy penasaran dengan rasa khawatir dengan suaminya).
★★"Maaf mba...,ada dimana ya.?".(Panji ga ingin Candy khawatir).
★★"Aku ada di depan gerbang kampus...memang ada apa ya?" (Candy makin dibikin penasaran juga khawatir).
★★"Mba jangan kemana-mana nanti ada yang jemput ajudan Kapten "(ucap Panji ke Candy).
★★"Iya,tapi aku harus dinas ke rumah sakit" (ujar Candy pada Panji).
★★"Ya...itu lebih baik, ya...sudah begitu saja mba,assalamualaikum" ( Panji tidak menjelaskan).
★★"Waalaikum salam, ada apa ya"(Candy masih bingung dan banyak pertanyaan muncul di benaknya).
Tampa menunggu lama mobil yang di tunggu datang yang dibawa oleh ajudan Rendra yang sudah Candy kenal.
Ajudan Rendra turun memberikan hormat santun dan membukakan pintu mobil dan mempersilakan Candy masuk ke dalamnya.
"Mas...ada apa sih sebenarnya bikin aku jadi khawatir aja" Candy tanpa basa basi langsung memulai bertanya ke ajudan Rendra.
"Maaf mba saya tidak bisa jelaskan hanya di perintahkan untuk menjemput mba saja" jawab ajudan Rendra ke Candy yang meminta di panggil mba tidak mau di panggil ibu.
"Ya....sudah.. tapi hati-hati ya jangan ngebut bawa mobilnya" ujar Candy masih penasaran.
"Siap mba" ajudan Rendra memulai menjalankan laju mobil menuju ke rumah sakit.
Di tempat lain tepatnya rumah sakit, Panji yang sibuk memperhatikan gerbang masuk untuk menjemput kedatangan Candy, dikejutkan dengan kedatangan pasien ibu hamil yang menggendong anaknya berdarah di bagian tangan dan kakinya.
__ADS_1
"Mas...tolong anak saya.." ucap ibu hamil itu dengan suara tangisnya mengkhawatirkan kondisi anaknya.
"Ya...bu mau di bawa ke mana ini" ucap Panji yang mengantikan menggendong anak ibu itu.
"Mas...tolong ke ruangan UGD aja" ujar salah satu suster yang mengantar Panji ke ruangan yang di sarankan.
"Dok..tolong anak saya" ucap ibu hamil itu ke seorang dokter yang kebetulan dia Rena yang berjaga di UGD.
"Mas...tolong dibawa ke tempat itu" ucap Rena ke Panji yang menggendong anak ibu itu.
"Mas...tolong keluar dulu temani saja istri mas biar dia tenang" ujar Rena menjelaskan tapi membuat Panji bingung dengan ucapan Rena.
"Maaf...dok...itu...bukan.." belum selesai Panji menjelaskan Rena sudah berlalu meninggalkan Panji.
"Ya...sudah...lah"ucap Panji keluar ruangan.
"Terimakasih ya...mas" ucap ibu dari anak yang Panji tolong.
"Sama-sama...maaf saya harus pergi karena ada yang penting" Panji menjelaskan ke ibu itu.
"Ya...Mas sekali lagi terimakasih" ucap ibu itu ke Panji yang melangkah meninggalkannya.
Candy sendiri sudah berada di dalam ruangan dimana Rendra harus di rawat di karenakan selama ditempat dinas muntah tanpa henti, membuat Rendra lemas dan membuat kawan satu timnya khawatir dan berinisiatif membawanya ke rumah sakit.
"Assalamualaikum, oh...maaf..jadi ganggu ya...saya di luar aja deh Kapt" ucap Panji yang baru masuk ke dalam.
"Waalaikum salam, dari mana sih...untung ajudan ku bisa antar honey tega ya..." ujar Rendra sedikit sewot ke Panji.
"Maaf...bro..tadi ada ibu yang minta tolong anaknya berdarah-darah...udah gitu dokternya mengira aku bapaknya itu anak dan tampa mau mendengarkan dulu penjelasan gue" Panji menjelaskan ke Rendra.
"Memang udah pantas ko jadi bapak harusnya mah" ucap Rendra dengan tawanya menjahili Panji.
"Terus...terus belum puas, bukannya terimakasih udah di tolong malah hobi jatuhkan harga diri terus" Panji dengan bersandar di kursi membalas ucapan Rendra.
Candy menutup mulutnya dengan tangannya karena tawanya tidak ingin terlihat oleh Panji, Rendra yang melihat tingkah Candy ikut tersenyum karena Rendra tahu Candy akan malu sebab ada orang lain selain suaminya.
"Ih...gue jadi obat nyamuk deh..mendingan gue di luar aja ya..." Panji yang bangun dari duduknya tapi seorang dokter masuk dan yang masuk adalah Rena.
"Can...bawa pulang aja tuh motor miliknyaas loe" ucap Rena tanpa melihat Sekitarnya.
"Maunya...gitu" balas Candy ke Rena yang tahu Rendra tidak sakit.
"Sebenarnya obatnya cuma disayang sama loe..Can" Rena menjelaskan ke Candy, Rendra hanya tersenyum mendengar ucapan Rena memang benar selama di dekat Candy Rendra tidak merasakan mual juga pusing.
__ADS_1
"Ren...kenalin temanku" ucap mas Rendra ke Rena menunjuk ke Panji yang dari tadi hanya jadi pendengar.
"Rena Oh...ya...maaf tadi aku salah tidak mendengar penjelasan bapak" ucap Rena dengan tangan menangkup di dada tanda bersalaman.
"Panji...ga..apa, maaf jangan panggil bapak sebab belum jadi bapak-bapak" ucap Panji konyol ke Rena dengan tangan seperti yang Rena lakukan.
"Kata siapa belum jadi bapak-bapak, sebentar lagi bakal jadi bapa dari anak-anak kalian" ujar Rendra menggoda Panji dengan tertawa jail.
"Apaan..sih bro" ujar Panji yang malu di goda Rendra.
"Bener ga mau...ni, Ren...Panji ga mau katanya" Rendra makin menggoda Panji, Rena sendiri hanya tersenyum bingung belum paham maksud Rendra apa.
"Ga...gabgitu..bro...maksudnya" Panji dibikin salah tingkah oleh Rendra yang tanpa basa basi.
"Oh...jadi mau, bilang dong jangan mau tapi malu" Rendra masih menggoda Panji yang sudah mati kutu di depan Rena oleh ulah Rendra.
"Mas...kasihan mas Panji jadi malu" ujar Candy ke Rendra yang masih tersenyum memperlihatkan tingkah Panji yang terlihat kaku dan bingung.
"Udah...kenalan dulu aja tapi ga pakai lama, ajak keluar bro"Rendra menyuruh Panji mengenal Rena lebih dulu.
"Ren...ajak mas Panji makan siang dulu tuh kasihan dia belum makan tuh" ujar Candy ke Rena yang berdiri berdampingan dengan Panji.
"Oh...gitu ya...ayo...Mas sekalian aku juga belum makan"ucap Rena santai tidak ada maksud lain.
"Bener nih mau makan bareng" ujar Panji yang sudah menaruh rasa suka ke Rena karena menurutnya asyik pembawaannya.
"Can...Mas...aku ke kantin dulu ya..."ucap Rena yang melangkah keluar ruangan rawat Rendra.
"Bro...Mba gue juga keluar dulu" Panji melangkah mengekor di belakang Rena.
"Jagain anak orang jangan dirusak" Rendra masih menggoda Panji dengan tawanya.
"Boro-boro mau ngerusak towel dikit aja gue takut di suntik mati duluan, sebab ini wilayah kekuasaannya" Panji balas godaan Rendra dengan langkahnya keluar ruangan Rendra.
"Mas...iseng aja deh" ucap Candy mengusap lembut pipi Rendra.
"Honey...mas pulang aja ya...ga enak di sini"Rendra meminta pada Candy dengan muka memelas.
"Iya...tapi mas bener pengen pulang" tanya Candy yang memastikan ke Rendra keadaannya.
"Mas ga apa-apa ko Panji aja yang sok khawatir" ujar Panji menjelaskan kondisinya ke Candy.
"Mas...tapi dengan mas di sini Panji dan Rena jadi bisa kenalan" ucap Candy memandang Rendra dengan penjelasan yang bikin Rendra tersenyum penuh arti mengerti.
__ADS_1
Jalan tuhan memang paling baik tapi kita manusia yang terkadang menyalahkan tuhan yang tidak mengabulkan harapan dan keinginan kita, banyaklah bersyukur dengan jalan dan rencana tuhan sebab dia terbaik yang menentukan segalanya.