
"Yakinlah kebahagian itu akan datang padamu hanya saja seberapa sabar kita menanti momen itu tiba" Candy.
Waktu yang bergulir begitu cepatnya hingga momen-momen indah masa kecil buah hati Rendra dan Candy sudah terlewati kini kenangan itu tersimpan dalam anggang keduanya.
Ainun yang sudah akan memasuki bangku kuliah saat ini menikmati momen perpisahan dengan kawan-kawan dekatnya, semuanya cewek dengan acara diadakan salah satu kafe sederhana di sore hari ini.
Candaan dan tawa mereka lepas mengenang tiap momen baik lucu maupun kejailan diantara mereka, Ainun yang lebih membatasi diri dalam pergaulan sesuai ajaran agama dan kedua orang tuanya.
Tanpa disadari oleh mereka ada sepasang mata yang memperhatikan Ainun, dia duduk seorang diri menikmati segelas kopi kekinian dengan satu menu yang lain menemaninya, sesekali dia menunduk bila melihat Ainun tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangannya hingga tidak terlihat olehnya.
Menurutnya Ainun berbeda dengan yang lain, padahal semua yang hadir cewek cantik dan modis walaupun berbalut gamis dan hijab tidak menutupi kecantikan mereka, tetapi menurutnya ada sesuatu yang istimewa yang tidak dimiliki oleh teman Ainun dan hanya ada pada diri Ainun saja.
Ada rasa yang berbeda yang dia rasakan saat matanya tanpa sengaja melihat Ainun tersenyum kepada temannya, senyumnya seakan menghangatkan relung hatinya dan ini pertama kalinya dirinya merasakan itu.
"Ya..Rabb..inikan..jawaban atas do'a ku selama ini..tapi siapakah dia.." dalam diam seorang pemuda mencuri pandang ke Ainun.
Ainun sendiri tidak merasa dirinya saat ini jadi pusat perhatian seseorang yang duduk tidak jauh dari dirinya juga teman-temannya.
Tiap kali ada yang lucu Ainun tertawa dengan menutup pandangan juga mulutnya hingga membuat seseorang itu gemas dibuatnya "Ih..kamu..lucu sih" ujarnya pelan tanpa ingin mencuri gambar diri Ainun dengan santainya dia mengambil gambar Ainun yang menutup wajah imutnya.
Dengan tawa yang dia tahan melihat hasil fotonya yang tanpa ijin memilik wajah imut itu yang masih memperhatikan tapi pura-pura tidak menikmati wajah imut Ainun.
Ainun dan kawan-kawannya adalah anak jaman milenial yang hobi foto-foto dengan gaya yang paling lucu sampai paling jelek diabadikan berhubung mereka cewek semua jadi mereka bebas bergaya tanpa ada batasan.
Tapi sosok misterius itu tetap menilai Ainun berbeda dengan kawan-kawannya yang terkadang menghilangkan urat malunya, Ainun sendiri terkadang harus dibujuk agar mau mengikuti maunya mereka yang tanpa memikirkan rasa malu.
"Aku..bagian yang memegang kamera aja..ya.." pinta Ainun yang tidak mau ikut serta.
"Ga..asyik..Ai..." protes salah satu teman Ainun dengan menarik tangan Ainun.
"Aku..ga bisa.." ujar Ainun yang tidak ingin melakukan hal yang menurutnya kurang sesuai dengan pribadinya.
"Ai..loe..gaya bebas aja..deh..yang penting..kita kompak gitu.." tambah yang lain dengan menyakinkan Ainun.
__ADS_1
Ainun mau tidak mau menuruti apa maunya kawan-kawan Ainun, seperti Ainun ingin menyenangkan kawan-kawannya yang akan berpisah untuk melanjutkan studi yang berbeda dengan dirinya.
Mereka saat ini menikmati beberapa menu makanan dan minuman kekinian dan mereka masih saja tidak menyadari seorang pemuda yang bertubuh atletis wajah tampan, cool tapi terlihat sopan dan tidak genit, masih memperhatikan salah satu dari mereka.
Ainun sendiri berjanji kepada orang rumah akan pulang sebelum maghrib, sopir yang menemaninya masih setia menunggu di tempat parkir mobil.
"Ai..loe..dijemput.." tanya salah satu teman Ainun yang membawa motor sendiri.
"Ga..aku..diantar supir..itu ada di parkiran " jawab Ainun dengan menunjukkan tempat mobilnya diparkiran.
Tidak beberapa lama mereka membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing begitu juga Ainun yang akan menaiki mobil mewah milik kakeknya.
"Rasanya..tidak mungkin..dia anak orang berada.." batin seorang pemuda yang terpesona dengan kepribadian Ainun.
Mobil mewah yang membawa Ainun meninggalkan kafe itu juga meninggalkan pemuda yang sudah menaruh hati ke Ainun tanpa diketahui oleh Ainun.
Raut wajah polosnya yang baru merasakan rasa yang berbeda dalam hatinya, berharap tidak bertepuk sebelah tangan tapi dia tetaplah dia yang tidak mengenal kasih sayang orang tua, hanya kasih orang tua angkatnya yang tulus dia rasakan hingga saat ini.
Sosok misterius ini telah lulus dari sarjananya dan sudah lulus juga dari AKMIL tapi sedang menjalani studi strata duanya ( S2) melalui jalur beasiswa.
Menurutnya biarlah semua akan jadi kisah yang indah yang akan disimpannya dalam hatinya dan berharap dia adalah jodohnya.
Ainun sendiri sudah disibukkan dengan beberapa pilihan tempat kos yang akan ditempatinya, karena dia sendiri sudah mengetahui dirinya sudah lolos masuk perguruan tinggi negeri melalui jalur rapotnya lewat sekolahnnya.
Ainun yang terbiasa dekat dengan keluarganya akan merasakan rasa yang berbeda saat jauh dari keluarganya, namun Candy yang sabar menjelaskan bahwa disana akan baik-baik saja dan akan terbiasa seiring dengan berjalannya waktu.
Hanya Rendra yang senang menggoda Ainun dengan candaannya yang membuat Ainun selalu merindukan sosok papa yang penyayang yang tegas tapi juga humoris.
"Mba..nanti jangan punya pacar..ya..biar papa yang cariin.." candanya yang membuat Ainun mengejarnya.
"Papa..ih.." protes Ainun yang mengejar Rendra yang tidak mau ditangkap Ainun.
"Ma..papa..tuh.." rengek Ainun yang memeluk Candy dengan napas belum teratur.
"Pa..pa..gitu..sih.." rengek Ainun lagi makin memeluk Candy.
__ADS_1
"Ih..mama kok mau sih..sama papa yang jail.." protes Ainun ke mamanya.
"Habis papa cakep.." ujar Rendra sendiri berucap dengan memeluk keduanya dengan tangannya.
"Hu..kepedean ya..ma.." ledek Ainun ke papanya yang masih memeluk keduanya.
"Mending..pede dari pada minder.." balas Rendra menggoda Ainun.
"Ih..papa..mama..kenapa ga cari yang lain aja..sih..kenapa harus papa.." ucap Ainun lagi ga mau kalah membalas godaan papanya.
"Kalau harus dengan yang lain mba ga ada.." jawab Candy apa adanya yang membuat keduanya tersadar.
"Bener..juga..ya..mba.." balas Rendra dengan mencium pipi keduanya.
"Papa..ih..bucin deh.." teriak Ainun yang lari meninggalkan kedua orang tuanya karena malu melihat kemesraan papanya ke mamanya.
"Mas..udah tahu ada anaknya..kebiasaan deh.." ucap Candy memerah pipinya karena malu.
Itulah Rendra yang selalu bersikap romantis ke Candy yang masih malu bila tidak berdua saja, menurut Rendra semua yang dilakukannya hanya spontan sebagai bentuk rasa sayangnya.
Sebenarnya Ainun senang melihat kedua orang tuanya sangat harmonis bahkan papanya tidak sungkan membantu mamanya dalam banyak hal hingga tidak terlihat siapa yang mendominasi dalam keluarganya, walaupun papanya imam keluarga tapi tidak merasa terbebani dengan urusan membantu pasangan baik urusan dapur, bersih-bersih hingga mendidik kedua buah hatinya.
Di luar rumah papanya terlihat tegas dan penuh wibawa tapi bila sudah berada dalam keluarganya dia tanggalkan kesan garang tapi terlihat tegas tapi dengan kasih sayang dan kelembutan yang terlihat dimata buah hatinya.
Terkadang papanya bisa menjadi kawan juga sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah Ainun dalam pertemanan dan fans Ainun yang sesekali mengganggu ketenangannya, dengan bijak memberikan masukkan yang baik tapi tidak mendominasi keinginannya.
Bersyukurnya Ainun memiliki orang tua yang lengkap dengan kasih sayang dalam membesarkan dan mendidiknya hingga membentuk Ainun jadi pribadi yang baik, baik dari segi agama juga berhasil dalam studi yang tidak kalah menakjubkan Ainun jadi pribadi sholeha diusianya yang mulai beranjak dewasa hingga banyak kaum adam meliriknya.
Tinggal dilingkungan berada tidak berarti Ainun jadi manja tapi lebih mandiri juga peduli sesama, sebab sesekali papanya melibatkan Ainun dan Azlan dalam membantu kegiatan panti yang papanya miliki.
Dengan sendirinya Ainun dan Azlan makin bersyukur dirinya dibesarkan dalam keluarga yang lengkap juga memiliki segalanya tanpa sedikitpun kekurangan, sikap rendah hati yang Candy ditanamkan pada diri Ainun juga Azlan yang pernah merasakan terpisah dari papanya walaupun hanya sesaat tapi bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan itu.
Dan sebagai bentuk syukurnya Ainun dan Azlan aktif di panti yang papanya miliki, tanpa menunjukkan dirinya pemilik panti, keduanya seperti keluarga bila datang ke panti merangkul yang seumuran dengannya dan menyayangi kepada yang lebih muda darinya.
Itulah sedikit banyak gambaran kedua buah hati Rendra dan Candy yang sudah mulai tumbuh sesuai dengan usianya yang di diimbangi dengan pemahaman agama agar menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab dikemudian hari itu harapan Rendra dan Candy.
__ADS_1