
...Pesan ayahku "Jika masanya telah datang dimana akan datang seseorang yang memintamu menjadi pasangannya lihatlah dia berkawan dengan siapa, dimana tempat favoritnya dan seberapa dekat dirinya dengan-Nya bila semuanya mengarah pada kebaikan maka jangan pernah menolaknya " Candy....
Ainun hari banjir ucapan selamat dari keluarga besarnya baik yang tinggal di dekatnya maupun yang diluar kota seperti anak dari kakak mamanya yang anaknya tinggal di luar kota bukan hanya lewat ponselnya ucapan itu disampaikanya hingga buket bunga juga mereka kirimkan baik ke asrama maupun rumahnya hingga asrama di penuhi buket bunga bikin giri penghuni asrama tapi Ainun seperti biasa bagi yang menginginkan buket bunga miliknya silakan ambil yang penting dia sudah membaca ucapannya bukan tidak menerima tapi ingin berbagi kebahagian saja itu lebih baik menurutnya.
Yang dia harapkan sekarang do'a tulus dari semuanya terutama dari papa mamanya dan keluarga besarnya yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun.
gedung yang besar saat ini penuh sesak dengan mahasiswa yang akan menghadiri wisuda tentu saja bersama walinya baik orang tua maupun orang yang fi minta mewakili.
Terasa bahagia terpancar dari wajah orang tua yang hadir menyaksikan putra putrinya sudah sampai pada tahap ini.
Begitu juga dengan Rendra dan Candy yang seperti baru kemarin mengajari Ainun belajar mengenal angka dan huruf kini sudah akan seperti dirinya jadi orang dewasa dengan profesi sama dengan mama tercintanya.
Apalagi yang membanggakan Rendra dan Candy putri semata wayangnya jadi lulusan terbaik di angkatannya, Rendra tidak bisa menyembunyikan rasa bangga hingga ujung matanya terlihat air matanya.
"Mas..mas..kita terlewat menyayanginya.." ujar Candy mengusap punggung tangan Rendra yang tersenyum pada belahan jiwanya yang menghadiri wisuda putrinya.
Acara berlangsung hingga sore hari, selesai sesi foto-foto papa mama tercintanya memintanya pulang bersamanya tapi Ainun menjelaskan besok akan ada keperluan di kampus untuk kepentingan pengurusanan Interntsip dan lanjut PTT (seperti ikatan dinas).
Asrama sore ini terlihat ramai sebab ada acara makan-makan dari keluarga besar Ainun membawakannya sebagai bentuk syukur terdengar tawa dari dalam asrama hingga suara salam dari luar tidak terdengar.
"Maaf..mas..kalau lagi kumpul-kumpul seperti itu.." satpam menjelaskan dan masuk memanggil seseorang yang ingin di temui tamunya.
Ainun berjalan beriringan dengan satpam dengan sedikit terkejut siapa yang datang menemuinya ingin rasanya dia berteriak kekencang-kencangnya sebab senang orang yang di diharapkannya hadir dengan teringat yang terlihat mengucur deras membasahi wajahnya.
"Assalamualaikum..Ai..selamat ya..maaf terlambat..dan ponsel kakak mati.." ucapnya lembut terdengar dengan menyerahkan buket yang cukup sederhana tapi ini paling indah menurut Ainun.
"Waalaikum salam..kak..tidak ada yang terlambat..untuk ucapan selamat..kak.." Ainun menerima buket yang tampak jelas apa isi buket bunga itu.
"Maaf..kakak ga kasih boneka yang besar sebab nanti ga bisa dipeluk kalau rindu..dan untuk coklat obat galau biar kembali tenang..buat bunganya biar selalu berbunga-bunga hatinya.." goda Andika yang masih terlihat lelah karena langsung ambil langkah seribu selesai menyelesaikan laporannya.
"Kakak.." balas Ainun malu hingga lupa menyuruh Andika duduk.
"Kakak..serasa lagi upacara berdiri terus.." sindir Andika dengan pura-pura mengangkat kakinya cape.
"Maaf..ya..silakan duduk..Ai..ambil minum dulu..ya.." ucap Ainun masuk.
Dalam ruangan terdengar godaan dari penghuni asrama pada Ainun hingga ruangan dimana Andika duduk sebagai tamu.
__ADS_1
"Cie..cie..yang arjunanya datang..." canda salah satu penghuni asrama.
Suara Ainun tidak terdengar membalas tapi yang terdengar suara yang lain menambah ramai asrama.
"Duh yang lagi seneng.." goda yang lain yang sama tidak ada balasan dari Ainun yang hanya tersenyum membawakan air putih keluar kamarnya.
"Di minum kak.." pinta Ainun pada Andika dengan tersenyum malu sebab baru pertama kalinya.
"Terimakasih..kakak..minumnya.." ujar Andika menerima segelas air dari Ainun.
"Bismillah.." ucapnya sebelum meminumnya.
Andika sepertinya haus hingga air satu gelas itu ludes tidak setetes pun tersisa hanya candaan yang dia ucapkan setelah berucap.
"Alhamdulillah.." Andika menaruh gelas di meja yang ada di dekatnya.
"Berasa seperti jadi suami yang pulang kerja disambut istri tercinta.." ujarnya yang membuat Ainun tidak bisa berkata hanya tertunduk malu.
"Maaf..hanya itu yang bisa kakak..kasih.." Andika tertunduk seperti dia ingin menyenangkan Ainun tapi waktu yang belum berpihak padanya.
"Ini..sudah..lebih dari cukup..kak.., kak..ada disini itu sudah jadi kado terindah buat Ai.." Ainun berucap dengan tertunduk malu.
"Iya..kak..oh..iya kapan kakak sampai, sampai lupa..nanya" ucap Ainun menutup mulutnya.
"Memang kalau sudah berdua kita lupa ternyata banyak telinga yang ikut mendengar.." Andika tahu penghuni asrama bersembunyi di balik pintu juga tirai.
Mereka yang merasa buru-buru keluar dari persembunyiannya dengan pura-pura mengambil apa yang jelas hanya alasan saja, Ainun juga Andika tersenyum melihat tingkah penghuni asrama yang kepo siapa yang saat ini Ainun temui.
"Ai..lucu..ya..teman-temannya.." ujar Andika sepertinya tahu apa yang penghuni lakukan saat ini bersama Ainun.
"Apa..rencana selanjutnya..Ai.." tanya Andika yang ingin secepatnya meminta kepastian dari Ainun.
"Yang jelas PTT..kak..belum tahu dimana penempatannya " Ainun menjelaskan program yang akan diambilnya.
"Memang ga bisa kita terikat dulu baru PTT.." tanya Nadila dengan serius.
Sesaat Ainun diam tapi buka tidak menerima hanya apakah papanya akan menerima orang pilihannya, sebab selama ini dirinya selalu menurut apa maunya orang tua tapi bukan dirinya tidak diberikan kebebasan tapi pilihannya selalu diberikan arahan mana yang terbaik itu maksudnya dan selama ini juga semua pilihan orang tuanya tidak ada yang merugikan dirinya dan semuanya merasa semua baik-baik saja sesuai alurnya.
"Ai..Ai..ragu ya..sama kakak.." tanya Andika pelan tanpa memaksa.
__ADS_1
"Ragu..ga lah..kak hanya saja ga enak aja.. masa harus terpisah..biar Ai..selesaikan tugas Ai..selebihnya Ai..ikut kata kakak.." Ainun seperti menjelaskan.
"Ai..kelamaan.." pinta Andika dengan serius.
"Kak..hati Ai..masih disini..ga kemana-mana.." Ainun menunjukkan letak jantungnya yang membuat Andika tersenyum.
Ainun sebenarnya dilema untuk menyampaikan apa yang Ainun rasakan sebab selama ini dia nyaman dengan semua yang ada dan kedua orang tuanya memberikan kebebasan buatnya.
"Tenang..Ai..kakak ga memaksa..ko kalau Ai..maunya seperti itu kakak..ngerti ko..Ai.." balas Andika yang melihat Ainun seperti melamun.
Sebenarnya Andika hanya memancing Ainun apakah Ainun ada rasa seperti dirinya, Andika sendiri pertama kali melihat Ainun dan Ainun gadis pertama yang mengisi relung hatinya.
Begitu juga Ainun dia tidak pernah senyaman ini bersama lelaki untuk pertama kalinya, dengan lelaki lainnya dirinya hanya sebatas formal tidak lebih baik pada Fatur juga Rafiq sedangkan pada Ifat sudah seperti kakak baginya.
"Kak..ga takut..papa galak..loh.." goda Ainun pada Andika yang menikmati makanan kecil yang Ainun sajikan.
"Ai..selama kita ga melakukan kesalahan kenapa harus..takut..pokoknya kakak..ga takut.." Andika santai menjawab pertanyaan dari Ainun.
"Ga..takut..di tolak.." tanya Aini lagi dengan serius terdengar
"Wajar..Ai..lelaki ditolak.." jawab Andika dengan menjelaskan.
"Terus mau menyerah gitu.." tanya Ainun lagi seperti sedang menguji Andika.
"Ga..lah orang tua kita pernah muda..ga langsung jadi orang tua..pasti beliau punya pertimbangan yang masuk akal..misalnya kakak terlihat tidak bersungguh-sungguh...atau hal lain.." Andika menjelaskan yang masuk akal.
"Terus..kalau masih menolak gimana.." Ainun masih bertanya kembali.
"Ga..menyerah selama bukan anaknya yang menolak.." Andika pasang muka menggoda dengan memandang Ainun.
"Ih..kakak.." seru Ainun menutup mukanya dengan batal kursi yang tersedia.
"Bener..lah..kalau anaknya yang nolak mana bisa yang ada malah ter..pak..sa.." Andika berucap dengan mengejanya.
"Menikah..karena paksaan akan susah di pertahankan bila suatu saat ada badai yang menerjang..tapi ada juga yang salah satunya sudah lebih dulu mencintai sedangkan yang satunya lagi mulai belajar mencintai itu lebih indah lagi sebab yang keduanya tunjukkan ya..diri mereka yang apa adanya tanpa ada kebohongan..tapi yang seperti ini biasanya agama yang jadi dasar..keduanya berkomitmen..dalam artian kita dipertemukan karena Allah dan disatukan juga atas ijin Allah dalam menjalankannya juga karena Allah.." Ainun terdiam mendengar penjelasan dari Andika.
Sebenarnya cinta itu sederhana tapi manusianya yang membuat ribet dan ego juga gengsi yang lebih menguasi kedua insan hingga badai tidak terelakkan.
Sesuatu kalau saja sesuai porsinya akan enak begitu juga dengan rasa cinta yang hadir pada waktu yang tepat, seorang imam tahu apa kewajiban dan haknya begitu juga dengan seorang makmum kapan harus memenuhi kewajiban dan juga hambatan perlu ingat jangan tertukar kedudukannya.
__ADS_1
Akan nyaman kehidupan bersama dan tidak ada yang mendominasi dalam sebuah ikatan itu, walaupun sesulit apa pun semuanya akan dengan mudah dijalani bersama.