Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
110


__ADS_3

"Dalam cinta tubuh ketulusan, bukan paksaan agar merasa tenang di dalamnya, sebab tanpa ketulusan akan banyak perselisihan di dalamnya" Candy.


Sore ini Candy belum kembali ke rumah Mama Rendra tapi mampir terlebih dahulu ke rumah dinasnya, saat akan masuk ke dalam rumah dinasnya beberapa istri rekan dinas suaminya menyapanya walaupun mereka tidak satu devisi dengan Rendra.


"Bu dokter sudah baikan..." sapanya yang terdengar ramah, tapi buat Candy yang saat ini masih sensitif terdengar menyakitkan dirinya.


Candy hanya memberikan senyum tanpa menjawab, tanpa diduga Tazkia datang membawakan makan yang dibuatnya tadi pagi.


"Mba...aku bawain ini...pasti Mba suka" ucapnya ingin menggalikan pembicaraan.


"Maaf...bu...saya masuk dulu..."ujar Candy yang di gandeng oleh Tazkia yang sangat sayang seperti suaminya siapa lagi kalau bukan bocil.


Candy menikmati makanan yang di bawakan Tazkia tapi sesaat darinya terdiam yang membuat Tazkia bingung.


"Ada...apa Mba...aku lupa Ainun sama siapa dia pulang" ucapnya dengan tangan mencari sesuatu didalam tasnya.


Benda pipi yang di carinya sudah ada ditanganinya dan tanpa menunggu lama, dia berbicara dengan seseorang yang Tazkia sangat di kenalnya.


★★ "Assalamualaikum...Ma...Can..pulang bareng Mas..apa Mas menitip pesan ke Pak supir untuk jemput Ainun.." ucap Candy ke Mama Rendra.


Entah apa yang Mama katakan ke Candy, Tazkia tidak mendengarnya hanya sahutan pendek terdengar dari Candy Tazkia dengar.


★★ "Terimakasih...Ma..., Assalamualaikum " ucap Candy sebelum menutup teleponnya.


"Gimana...Mba..." tanya Tazkia ke Candy yang masih ada di dekatnya.


"Sudah di jemput supir kata Mama dan Ainun lagi tidur siang" balas Candy ke Tazkia yang ingin Candy kembali ke rumah dinas.


"Mba...kapan di sini lagi Ki...kangen bareng Mba" ucap Tazkia dengan tersenyum ke Candy.


"Mba...ikut kata Mas Rendra aja" ujar Candy dengan membalas senyuman Tazkia.


"ngomong-ngomong si kecil sudah bisa apa?" tanya Candy yang sudah lama tidak bersama dengan istri kawan suaminya.


"Alhamdulillah sudah pintar..dan mulai jalan walaupun masih jatuh bangun" ujar Tazkia menjelaskan perkembangan anaknya.


"Sekarang..mana anaknya..?" tanya Candy yang senang ada teman ngobrol.


"Di rumah bunda tadi di jemput sama bunda pagi-pagi" jawab Tazkia ke Candy yang menurut Tazkia, Candy tidak terlihat seperti pernah sakit.


"Oh...iya tadi kita ada acara ya..." ucap Candy dengan memegang kepalanya.


Kita tinggalkan sejenak Tazkia dan Candy yang berbincang seputar anak-anaknya, ditempat yang tidak jauh dari kediaman rumah dinas Rendra tepatnya ruangan Panji yang sekarang sedang menginterogasi ajudannya.

__ADS_1


"Gimana ada yang salah dari istrimu?" tanya Panji yang sekarang tidak sendiri tapi ada Farel juga beberapa kawan devisi Panji.


"Siap...Let.., saya sudah tanya dan informasi yang saya dapat isteri saya membicarakan kesehatan istri Kapten Rendra himawan wijaya" ucapnya dengan sedikit bersalah terdengar dari nada suaranya.


"Apakah...sopan menurut kamu?" tanya Panji dengan mata menatap serius ke ajudannya.


"Siap...Let...tidak sopan...saya sudah menegurnya..." ucap ajudan Panji dengan terdengar serius.


"Untuk saat...ini saya maafkan dan jangan kamu ulangi lagi beritahu buat yang lain juga tanpa terkecuali....ingat" ucap Panji dengan kalimat penuh penekanan.


"Siap...Let...mohon maaf...atas kelancangan istri saya.." ucap ajudan Panji yang merasa malu karena ulah isyrinya.


"Mintalah maaf...ke Kapten dan istrinya...aku malu..seperti tidak bisa mendidik kalian" ucap Panji dengan tangan mengusap muka dengan kasar penuh penyesalan.


"Siap...akan saya laksanakan" ucap ajudan Panji dengan memberikan hormat terlebih dahulu lalu berpamitan ke ruangan Rendra.


Rendra sendiri sudah tidak di ruangannya lagi tapi sudah di rumah dinasnya, untuk menjemput Candy kembali ke rumah Mama, tapi saat akan menutup pintu ajudan Panji langsung memberikan hormat dan ingin menyampaikan sesuatu yang menurutnya tidak baik di luar rumah.


Rendra mempersilahkan ajudan Rendra masuk dan duduk di ruang tamu yang ditemani Candy duduk sebelahnya.


"Saya...memohon maaf atas sikap yang di lakukan istri saya kepada istri Kapten..mohon maafkan saya dan istri saya...Kapt" dengan tangan seperti orang memohon maaf ajudan Panji terlihat bersungguh-sungguh.


Candy yang tidak mengetahui apapun dan tidak merasa dirinya jadi bahan pembahasan orang lain hanya diam, namun hati kecilnya merasa bersalah sudah menjadikan suaminya bahan pembicaraan yang menambah beban suaminya.


"Saya maafkan tapi...tolong jangan ulangi lagi kepada siapapun...dan beritahukan ke siapapun jangan membicarakan orang lain yang belum tahu kebenarannya...ingat itu" ucap Rendra yang sedikit penekanan karena ada Candy di sampingnya kalau saja tidak ada Candy di sisinya entah apa yang akan di terima ajudan Panji dan apa jadinya ajudan Panji


"Honey...kita pulang...atau mau tetap disini?" tanya Rendra yang sebenarnya enggan bertanya karena tidak tega melihat Candy jadi pendiam.


"Can...ingin ketemu Ainun Mas..." ujar Candy yang terdengar sangat lirih hampir tidak terdengar kalau saja tidak mengenal dekat Candy.


"Honey..." Rendra memeluk Candy dengan mesra hingga tubuh mungil Candy tertutup tubuh Rendra.


"Masih...siang...Kapt...jangan bikin syirik yang masing bujang nih..." ucap ajudan Rendra yang akan membersihkan rumah dinas Rendra sementara di tinggalkan Rendra.


"Maaf...bukannya tadi pagi sudah kau bersihkan" ucap Rendra ke ajudannya dan melepaskan pelukannya.


"Saya dua kali membersihkannya...Kapt " ucap ajudan Rendra yang malu tapi sudah terlanjur masuk kedalam rumah.


"Maaf...Mba.." ucapnya ke Candy yang tersenyum ke ajudan Rendra yang sudah seperti adik bagi Candy.


"Tak...apa, maaf Mba merepotkan kamu" ucap Candy yang mau bicara tanpa sungkan ke ajudan Rendra berbeda bila dengan kawan Rendra, Candy akan sengan.


"Saya...senang...Mba...mana keponakan kecil, saya ko ga lihat Mba" ucapnya dengan mata mencari Ainun yang suka sekali bila bermain bersama ajudan Rendra.

__ADS_1


"Ainun harus sekolah jadi tidak ikut...lain kali akan saya bawa.." ucap Rendra yang mengambil beberapa lembar uang merah jambu dari dompetnya.


"Buat...beli pulsa...telpon Mamamu" ucap Rendra yang menyelipkan uang kertas itu disaku kemeja ajudannya.


"Kapt...yang kemarin saya masih belum saya pakai..."ucapnya dengan tangan akan mengembalikan lembaran kertas berharga itu.


"Sudah...simpan saja...kamu kumpulkan kirim untuk menyenangkan Mama...ok" ucap Candy menepuk pundak ajudan Rendra yang selalu di repotkan Rendra.


Rendra dan Candy permisi akan meninggalkan rumah dinasnya, saat akan berpamitan ke ajudannya Rendra masih sempat mengoda ajudannya.


"Tahu...ga..kamu datang bukan di waktu yang tepat.., bikin menggantung momen indahku" ucap Rendra dengan senyumnya yang terlihat datar tapi ucapan Rendra buat ajudan Rendra bukan kesal tapi balasan mengoda.


"Ya...maaf..., besok ga lagi deh..." ucap ajudan yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ga...bakalan ada momen yang diatur..seperti maumu" ucap Rendra dengan tawa konyol ke ajudannya.


"Terus...gimana dong..." ujar ajudan Rendra yang ga kalah konyol dari Alfa.


"Lanjut...dirumah saja...."balas Rendra dengan diucapkan tanpa suara hanya kode..dengan tangan dan jarinya.


"Siap...86...deh.." balas ajudan Rendra yang tertawa puas terdengar yang membuat Candy berpikir apa ada yang lucu melihat dua orang di dekatnya.


"Apaan...sih yang lucu...asyik bener berdua" ujar Candy setelah Rendra didekatnya yang membukakan pintu mobil.


"Ga...tahu tuh..bocah ikut ketawa aja...biar dia seneng..." ujar Rendra yang ga ingin Candy mikir berat.


"Mas...tuh aneh deh...paling bisa bikin seneng orang dirinya sendiri kapan senengnya" ucap Candy ke Rendra yang sudah duduk disamping mobil mewah milik suaminya.


"Mas...sudah senang Honey..." ucap Rendra ke Candy dengan mengusap lembut tangan Candy yang memeluk satu tangan Rendra.


"Senang ...apa yang Mas...maksud senang" ucap Candy ke Rendra yang belum mengerti ucapan Rendra.


"Honey ada disamping Mas...saja sudah bikin dunia Mas bersinar apalagi Mas melihat Honey tersenyum tambah semangat hidup Mas" ucap Rendra tanpa bermaksud menggombal.


"Mas...kalau menggombal jangan sama Can..., Can ga bakal bisa di gombali" ucap Candy dengan mencubit pinggang Rendra.


"Honey...jangan cubit...cium aja lebih asyik...kali" ucap Rendra senang Candy membalas respon darinya.


"Bukannya...itu maunya...Mas..." ucap Candy dengan pura-pura membuang pandangan ke depan jalan yang dilaluinya.


"Siapa juga yang mau nolak di cium bidadari..."balas Rendra dengan tawa jailnya.


Kedaunya tertawa mendengar kata bidadari teringat dua orang yang dihukum Rendra tadi pagi karena mengagumi pesona Candy.

__ADS_1


Rendra sendiri bingung harus bagaimana bersikap dengan pesona yang di miliki Candy harus kan Candy jadi wanita yang disimpan dirumah saja tapi disisi lain Candy juga harus beraktifitas seperti orang normal lainnya.


"Tuhan..., nikmat mana yang kau dustakan, yang telah hamba terima dengan sesempurna ini" ucap Rendra dalam hatinya dengan mata menatap bidadari dunia yang nyata duduk disampingnya.


__ADS_2