Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
128


__ADS_3

"*Dahulu k**amu bukan bagian dari diriku sebelum menjadi isteriku tapi sekarang kamu bagian dari jiwaku, sakitmu sakitku juga senangmu segalanya bagiku, dukamu jadi laraku, temaniku hingga menutup mata*" Rendra


Sesuai janjinya Rendra kepada papanya untuk menghadiri acara relasi papanya yang ditemani Candy yang sekarang sudah bersiap diri keduanya sangat serasi menggunakan baju senada untuk warnanya sesuai keinginan Rendra.


Seperti biasa Rendra tidak ingin Candy terlihat berhias berlebihan sebab Rendra lebih menyukai Candy yang natural, menurut Rendra kecantikannya akan lebih terlihat.


Setelah berpamitan kepada mama papa juga keduanya buah hatinya, keduanya tidak diantar oleh sopir keluarga mama papa Rendra.


Keduanya ingin lebih berduaan menurut Rendra akan lebih nyaman untuk keduanya, seperti saat ini Rendra yang suka mengoda Candy dengan candaan yang membuat Candy dibuat malu hingga memerah kedua pipinya.


"Honey...mas liat..makin cantik aja..sih.." ucap Rendra mengoda dengan memegang tangan Candy sedang tangan satunya memegang kemudi.


"Mas..perhatikan depan.." pinta Candy yang malu dengan melihat depan jalan.


"Ok..bidadari surga mas.." balas Rendra yang terdengar lembut.


"Mas..." Candy makin dibuat malu oleh Rendra sebab terlihat Candy menunduk menghindari pandangan mata Rendra.


Saat ini keduanya sudah berada ditempat pertemuan relasi kerja papa Rendra sebenarnya tidak banyak yang Rendra kenal hanya beberapa saja yang pernah diperkenalkan oleh papanya itupun diperkenalkan di acara yang diadakan oleh keluarga kecil Rendra seperti acara aqikhah buah hatinya dikediaman rumah papa Rendra beberapa tahun yang lalu.


Rendra yang terbiasa bertemu banyak orang dan lebih cepat menempatkan diri walaupun dalam lingkungan baru lebih terlihat santai berbeda dengan Candy yang terlihat gugup dan gelisah, Rendra dapat merasakan dengan cengkeraman tangan Candy saat digandeng Rendra menandakan Candy tidak nyaman di situasi ini.


"Honey...ok.." tanya Rendra setengah berbisik dengan lebih mendekat ke Candy.


Candy tidak menjawab hanya memandang wajah tampan suaminya dengan tersenyum tipis serta tertahan.


"Kalau Honey...tidak nyaman..kita kembali.." pinta Rendra untuk membatalkan menghadiri pertemuannya.


"Mas...jangan Can..hanya gugup..sedikit.." Candy berusaha menyakinkan suaminya bahwa dirinya baik-baik saja.


"Sedikit..ini.." Rendra mengoda Candy dengan menunjukkan tangan Candy yang semakin erat dan sedikit berkeringat seakan tidak ingin lepas dari gandengan tangan Rendra.


"Mas.." Candy seakan bermanja ke Rendra seakan meminta perlindungan darinya.


"Ok..siap mengawal.." goda Rendra agar Candy tidak gugup lagi.


"Mas...." ucap Candy dengan mencubit tangan Rendra mesra.


"Maaf..Honey..." Rendra masih menggandeng Candy memasuki gedung.


Di pintu masuk terlihat meja untuk mengisi buku kehadiran tamu dengan ramah beberapa wanita seperti menjelaskan dan memberikan sesuatu benda seperti chip sebagai tanda menempati tempat sesuai nomor yang tertera di chip tersebut Rendra yang mewakili keluarga besar Wijaya terlihat cukup menjadi pusat perhatian beberapa wanita yang memberikan chip sedikit berbisik mereka bergosip tentang siapa Rendra dan nama besar Wijaya yang disandangnya.


"Oh..ini penerus..group Wijaya.." ujar wanita cantik berbisik ke temannya.


"Cukup smart..handsome.." balas yang lain berbisik.


Rendra yang seorang Kapten yang memiliki pendengaran yang sangat peka hanya bisa menahan senyumnya, dia tidak membutuhkan sanjungan dari orang yang menurutnya asing apalagi saat ini dia bersama orang terkasihnya tidak sedikitpun rasa ingin menghianati hatinya.


Setelah menerima chip Rendra hanya memberikan senyum tipisnya tanda terima kasih tidak lebih dengan satu tangan masih melingkar di pinggang Candy menandakan dia sudah di miliki seseorang.


Didalam gedung terlihat sekali manusia seperti dikotak-kotakan sesuai kastanya ini bukan hal yang nyaman buat keduanya yang lebih cenderung menganggap semua sama dimata tuhan.


Rendra hanya bersalaman dengan orang yang dikenal menurutnya, sebab dia lebih melihat orang-orang yang hadir tersenyum palsu hanya sebatas keakraban rekan bisnis bukan persaudaraan.

__ADS_1


Belum lagi mata wanita-wanita yang nakal seperti tahu mana yang berkelas mana yang bukan dengan pandangan tajam sedikit menggoda membuat Rendra sedikit memalingkan muka atau lebih tepatnya mengalihkan pandangan.


Tanpa terasa sudah dilewatinya beberapa susunan acara yang sebenarnya Rendra sudah tidak betah untuk berlama-lama ditempat seperti ini.


Candy yang masih setia menemani Rendra meminta ijin ke Rendra untuk ke toilet karena sudah tidak kuat menahan buang air kecil yang sudah sedari tadi ditahannya, dia pikir acaranya tidak begitu lama ternyata di luar dugaannya, menurutnya melakukan tindakan operasi tidak selama menghadiri acara yang diminta oleh papa mertuanya.


Toilet saat ini bukan saja buang hajat tapi juga tempat bergosip wanita-wanita yang Candy sendiri bingung untuk menilainya, mereka seakan mencari tahu siapa yang saat ini yang menjadi kandidat penguasa terkenal di saat ini, seperti mereka ingin mengincarnya.


Terdengar seseorang membicarakan keluarga besar Wijaya yang berarti keluarga besar suami Candy.


"Ses...denger-denger yang mewakili group Wijaya putranya..katanya cakep..loh..boleh..dong" salah satu dari wanita bertanya ke yang lain.


"Dengernya sih..gitu.." balas yang lain yang tidak tahu ada istri Rendra.


"Tapi..katanya sudah punya istri..loh.." ujar yang lain menambahkan.


"E..lah..kayak ga seperti biasanya..istri..mah dirumah disinikan bujangan.." timpal yang lain dengan gaya menggoda.


"Paling bisa deh..jeng.." canda yang lain membalas dengan tawanya.


"Jeng..tahu siapa istrinya..." salah satu dari mereka bertanya ke Candy yang kebetulan akan mencuci tangan.


Entah keberanian dari mana Candy seperti ada suntikan yang menguatkan dirinya harus menunjukkan sesuatu yang harus di perjuangankan bahwa ini waktunya dirinya mempertahankan miliknya.


"Saya..kenal.." jawab Candy tegas tanpa merasa takut.


"Seperti..apa dia jeng.." rasa penasaran salah satu dari mereka.


"Oh..dia...dia seorang dokter anestesi..katanya dia sangat galak..saya dengar pernah ada yang menggoda suaminya..langsung dibius dengan dosis cukup tinggi hingga mendekati kemantianya karena over dosis.." ujar Candy sedikit gemetar takut ketahuan kalau dirinya sebenarnya istri Rendra itu.


"Serius..jeng..jadi serem...dapat suaminya belum mati..iya..ih.." ujarnya dengan merapikan dandanannya.


"Serem...amat..tapi suaminya..ko bisa hidup sama istri kayak gitu.." balas yang lain membuyarkan suasana.


"Namanya juga menjaga suaminya...mungkin kalau sama suaminya mah...lembut kali jeng.." ujar yang lain yang membuat Candy sedikit tenang.


"Udah..ah...yang jelas..batalin..niat itu..kita cari yang lain saja..yang istrinya..mau aja di bohongin.."ucap yang lain meninggalkan toilet.


"Mari..jeng.." balas yang lain berpamitan.


Candy yang masih di kamar mandi sedikit lemas dan hanya bisa menatap diri di cermin besar yang terpangpang nyata gambar dirinya.


"Tuhan...keberanian dari mana hingga aku bisa berkata selancar itu didepan wanita-wanita yang jelas-jelas ingin menggoda suamiku" Candy berkata seorang diri.


Entah ke berapa kalinya Candy membasahi mukanya untuk menyadarkan dirinya bahwa itu nyata dan yang dilakukan itu sudah benar, hingga benda pipi miliknya menerima panggilan masuk.


★★"Ya...mas.." ucap Candy ke seseorang yang menghubunginya.


★★"Honey...dimana mas khawatir.." terdengar Rendra mengkhawatirkan Candy yang belum kembali dari toilet yang menurutnya sudah terlalu lama.


★★"Iya..mas..sebentar lagi Can..ke tempat mas.." balas Candy dan menyudahi teleponnya.


Terlihat sekali Rendra mengkhawatirkan Candy, saat Candy sudah duduk didekatnya Rendra langsung memegang tangan Candy dan mendekat dan berbisik "kenapa lama sekali mas..takut terjadi apa-apa dengan Honey.." bisik Rendra pelan dengan muka sedikit tegang.

__ADS_1


"Antri..mas..maklum kalau cewek..lama di toiletnya.." balasnya pelan hingga hanya kedua saja yang mendengar.


Rendra yang sudah tidak betah berada di ruangan ini meminta undur diri lebih awal denga alasan ada keperluan lain, Rendra berpamitan kepada relasi papanya yang dikenalnya dengan sopan dan balasan mereka menitip pesan salam untuk papanya.


Di dalam mobil mewah milik Rendra lebih banyak memperhatikan Candy yang banyak diam hanya sesekali membuang napas kasar yang Rendra tahu ada beban yang dipendam dalam dirinya.


"Honey...ada..apa..mas mau..Honey..berbagi dengan mas.." pinta Rendra dengan mengusap pipi Candy lembut.


"Mas..." ucap Candy tanpa melanjutkan ucapanya Rendra yang tahu Candy saat ini dalam keadaan tidak nyaman akan tidak baik bila harus bertemu keluarganya.


Akhirnya Rendra membanting setirnya ke arah jalan lain bukan jalan pulang, dia memilih restoran yang privasi untuk dirinya dan Candy, bukan untuk dinner tapi untuk Candy berbagi dengannya apa yang saat ini dirasakan dalam dadanya.


Candy yang bingung hanya bisa menatap Rendra dan hanya bisa mengikuti kemana suaminya akan membawanya, yang pasti Rendra tidak akan membuatnya tidak nyaman.


Di sinilah tempat pilihan Rendra yang membuat Candy terkesima yang selalu saja kejutan Rendra berikan untuknya.



"Mas..untuk apa kita kesini.." tanya Candy polos dan bingung.


"Hanya ingin...berduaan saja.." jawab Rendra santai agar Candy tenang.


"Mas..anak-anak juga papa.." Candy seperti memikirkan orang rumah.


"Tenang..mba Ayu sudah ada di rumah...mama.." Rendra mempersilahkan Candy duduk.


Tidak beberapa lama menu yang Rendra pesan datang, kedua menikmati menu itu dengan bincang santai.


Hingga menu penutup datang dan menikmatinya dengan santai Rendra seperti menyelidik apa yang sebenarnya yang Candy sembunyikan dari dirinya.


"Mas..akan..sering..ya..menghadiri pertemuan seperti ini.." tanya Candy seperti ingin jawaban jujur dari Rendra.


"Kalau boleh mas jujur..mas ingin menolaknya kalau saja bukan untuk menyenangkan papa.." Rendra menjelaskan apa yang dirasakannya.


"Ko..gitu..mas.." Candy penasaran dengan penjelasan Rendra.


"Mas..tidak.nyaman disana...sepertinya semua hanya basa basi tidak senyaman di kedinasan..malah lebih serem.." ujar Rendra seperti melihat hantu saja.


"Sebegitu meriahnya ko..malah serem..sih..mas" balas Candy yang masih bingung.


"Wanitanya...ih..bikin mas takut..sangat berani..menggoda padahal tangannya digandeng seseorang..aneh.." ucap Rendra yang tidak kuat menahan emosinya.


"Ha...ha..jagoan ko takutnya sama cewek penggoda.." Candy tertawa dengan menutup mulutnya.


"Mas..ga tergoda Honey..cuma mas ga suka wanita yang seperti ulat keket nempel sana nempel sini..ga jelas.." Rendra menunjukkan tidak sukanya.


"Apalagi tadi mas..di toilet..." Candy menceritakan kejadian di toilet.


"Siut..suit..hebatnya..istri..mas..jangan kasih ampun...orang yang mau ambil posisi Honey..mas dukung dan mas juga tidak akan tergoda sama cewek yang suka tebar pesona yang jelas-jelas sudah ada stempel pemiliknya.." Rendra memeluk Candy yang menurutnya Candy hebat berani mempertahankan dirinya untuk tetap berada di sisinya tanpa memberikan kesempatan orang lain mengambil posisi itu.


"Terimakasih..love you..Honey.." ucap Rendra mencium bibir Candy dengan lembut dan balasan dari Candy membuat keduanya tenang.


"Can..sayang mas.." balas Candy mendekap Rendra dengan hangat.

__ADS_1


Rasa yang keduanya miliki dalam ikatan halal semakin erat dari hari ke hari terutama untuk Candy semakin tumbuh saja cinta di hatinya teruntuk Rendra yang terlebih dulu mencintainya.


__ADS_2