
"Dalam setiap baris kata dalam setiap nama mengandung sebaris harapan dan do'a tulus pada sang pencipta dari si pemberi nama agar esok hari nanti tumbuh sesuai harapan dan keinginan itu pastinya " Candy.
Sosok yang menjadi komandan tim misi lapangan sudah bersiap dengan segala atribut yang dia kenakan juga sudah mengantongi sejumlah data yang akurat tentang semua yang berkaitan dengan misi ini tampa ada kebocoran data, dan misi ini akan dijalankan menjelang malam agar bisa menekan sedikit korban warga sipil yang tidak bersalah.
Dia adalah Andika Satria Bimantara (lelaki yang tinggi detajatnya pembela penguasa udara yang ramah), nama ini diberikan almarhum ayahnya sebelum meninggal itu yang dia tahu.
Persiapan sudah lengkap begitu juga personil yang dilibatkan terlihat begitu gagah, personil yang dilibatkan cukup banyak dengan kemampuan yang cukup diandalkan dan orang pilihan yang diturunkan kali ini.
Tempat yang mereka gunakan sebagai gudang di sekitar penumpukan peti kemas hingga bisa mengelabuhi orang sekitar yang tidak akan menduga di tempat itu tersimpan senjata ilegal yang akan diperjualbelikan dengan bebas.
Senjata yang diperjualbelikan berbagai jenis sesuai pesanan pembeli juga ada juga yang belum dipesan tapi sudah tersedia barangnya.
Sudah hampir dua minggu Andika tidak pergi ke kampus untuk saat ini tapi pihak kampus tahu kalau Andika seorang tentara khusus, hingga bila ada tugas yang melibatkan dirinya pihak kampus memberikan toleransi khusus untuk dirinya, begitu juga dengan tugasnya -sebagai asisten dosen diberikan kebebasan disesuai waktunya yang Andika mampu memenuhi tugas itu.
Untuk Ainun sendiri sudah mulai praktek langsung di rumah sakit, hingga jarang ke kampus ketemu Intan saja jarang sekali karena tugas jaga di atur oleh pihak rumah sakit.
Di rumah sakit Ainun banyak sekali yang mengaguminya bukan karena paras cantiknya saja sikap ramah dan sopan yang Ainun tunjukkan membuat rekan dokter menyukainya, sehingga banyak yang menggodanya.
"Sayang..ya..anak saya..baru saja nikah..kalau belum..saya mau kamu jadi menantu..saya.." ujar salah satu dokter pada Ainun.
"Dok..berarti..saya bukan yang terbaik itu.." balas Ainun sopan.
"Oh..iya..ya bener juga.." ujarnya dengan tersenyum.
Berbeda dengan salah satu pasien yang sudah tahu lagi sakit sempat-sempatnya menggoda Ainun yang kebetulan menemani salah satu dokter memeriksa pasien.
"Dok..kalau tiap memeriksa..dokternya semua seperti ini..saya cepet sembuh..deh.." ujarnya dengan konyol.
"Itu..bukan sakit..tapi kamu meriang.." ujar dokter senior pada pasiennya.
"Ko..meriang..dok.." balasnya dengan memikirkan apa yang dokter senior ucapkan.
"Ya..merindukan kasih sayang emang..dasar..jaga mata..nanti bisa keluar..melotot terus.." dokter senior mengusap muka pasien yang langsung gelagapan.
"Et...deh..dokter..ga pengen pasiennya cepat sembuh apa.." protesnya dengan mulut ngedumel.
Dan masih banyak lagi pembahasan yang berurusan dengan Ainun pokoknya tidak pernah akan habis cerita bila melihat paras ayu Ainun yang makin dewasa dengan kepribadian yang makin sholeha.
Waktu berkumpul dengan keluarga sudah jarang Ainun lakukan hingga membuat Ainun merindukan keluarganya terutama mamanya yang selalu mengingatkan kesehatannya selama praktek dirumah sakit, tapi keluarga mengerti kesibukan Ainun dan bukan maunya Ainun juga seperti ini.
Siang ini Ainun berniat ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan wanitanya yang sudah mulai menipis stoknya, sebenarnya malas tapi kalau nanti tiba waktunya di butuhkan terus kehabisan siapa yang mau di mintain tolong pikirnya.
"Intan..intan..mau bareng ga..aku mau..ke supermarket.." panggil Ainun di depan kamar Intan.
Hingga beberapa kali tidak ada sahutan dari dalam akhirnya Ainun membuka pintu betapa terkejutnya Ainun melihat Intan tergolek pingsan di lantai dengan badan yang panas setelah Ainun rabah.
Hari ini hari libur penghuni asrama biasanya pulang atau jalan sesuka hati yang jelas asrama sepi, Ainun masih dalam paniknya keluar gerbang untuk meminta tolong pak satpam tapi ini yang bikin Ainun kesal pak satpam pun pergi entah kemana.
"Tunggu ya..tan..aku cari bantuan dulu.." Ainun masih dalam paniknya keluar asrama hingga ke jalan depan asrama, aplikasi car juga susah didapatnya begitu juga kendaraan yang lain.
"Apa..semua penduduk bumi dibikin hilang..hingga aku yang masih di bumi.." gerutu Ainun sambil menatap benda pipinya.
Hanya mobil tentara yang lewat beberapa kali hingga Ainun nekat mengambil inisiatif berdiri di tengah jalan dan teriakan seseorang mengejutkan seluruh tentara yang duduk di belakang, karena mobil berhenti mendadak.
"Hai..neng kalau mau bunuh diri..jangan dijalan..sayang cantik-cantik stress.." ucapnya dengan kesal.
__ADS_1
Salah satu tentara bertanya pada yang lain yang kebetulan duduk didepan untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Ada..apaan sih..bikin kaget aja.." tanyanya dengan penasaran.
"Itu..ada cewek cantik mau bunuh diri.." jawabnya yang membuat seluruh tentara turun termasuk Andika.
"Hai...jangan nekat..kamu masih muda..cantik lagi.." ujar salah satu tentara menenangkan Ainun.
"Maksud bapak apa ya..saya hanya mau minta tolong teman saya sakit..." memang dasar Ainun anak tentara dia membalas ucapan tentara itu dengan tegas.
"Saya kira mau bunuh diri he..he..maaf..neng.." dengan tanpa berdosa tentara itu cegar-cegir.
"Bapak kira saya gila ya saya masih waras makanya menghentikan mobil bapak karena teman saya sakit.." balas Ainun lagi lebih menjelaskan maksudnya.
"Ada..apa..ini.." tanya Andika tegas pada tentara yang di tugaskan membawa mobil.
"Siap..Let..nona ini hendak minta tolong temannya sakit katanya.." bawahan Andika menjelaskan maksud Ainun menghentikan mobil.
"Hai..kamu.." Andika memandang Ainun yang terlihat panik.
"Kakak..teman Ai..sakit..ga ada yang bisa menolong Ai..untuk membawanya kerumah sakit..tolongin Ai...kak.." Ainun terus saja berkata yang membuat Andika gemas melihatnya sebab baru kali ini dia melihatnya banyak bicara.
"Ok..dimana teman kamu.." tanya Andika yang sudah digandeng tangannya oleh Ainun yang membuat Andika deng..deng ser.."Ada..apa nih.." gumamnya dalam hati.
"Ayo..kak..Intan ada dikamarnya.." ajak Ainun yang tanpa sadar menggandeng tangan Andika untuk masuk kedalam kamar Intan.
"Ga..apa-apa..nih..saya masuk kedalam.." tanya Andika yang asrama putri tidak mengijinkan lelaki masuk.
"Ini..darurat boleh atau tidak aturan boleh di langgar.." ujar Ainun yang membuat Andika tersenyum.
Tiap baris kata yang keluar dari mulut Ainun seperti menghilangkan rasa lelah yang dirasakan Andika yang baru saja menjalankan misinya yang banyak korban dari pihak lawan dan keberhasilan untuk kerja tim yang dipimpin olehnya.
"Ga..papa nih..kakak gendong.." tanya Andika pada Ainun.
"Ga..apa..apa..lah terus Ai..gitu yang harus gendong..tega ya..kakak sudah dari tadi kali kakak Ai..menolongnya..kalau Ai..bisa" ucap Ainun dengan mengekor dari belakang.
"Hey...hey..ko..laki-laki masuk asrama." protes pak satpam.
"Bapak kemana aja..sih..ini darurat Intan sakit.." jawab Ainun yang mengikuti Andika masuk kedalam mobil milik tentara.
Sirene mobil dinyalakan menandakan darurat hingga tidak butuh waktu lama Intan sudah tiba di rumah sakit dan langsung masuk UGD, rekan-rekan Andika langsung pulang tapi tidak dengan Andika yang menemani Ainun hingga menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Dan hasilnya Intan terkena kram perut akibat dari menstruasi yang dialaminya dan sudah di pindahkan ke ruangan inap hingga dia sadarkan diri.
"Saya..pulang dulu..untuk berganti pakaian..nanti saya temani kamu..disini.." Andika meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu.
"Iya..kakak..terimakasih..tapi kakak kalau tidak bisa ke sini ga apa-apa..biar saya sendiri saja..bukannya kakak masih harus dinas.." Ainun seperti tahu bagaimana tugas tentara pikir Andika.
"Saya..free.kok.. sebentar..tidak lama..mau saya bawakan..apa.." tanya Andika dengan menunggu jawaban dari Ainun.
"Ga..minta dibawain apa-apa..cuma hati-hati di jalan.. dan cepat kembali.." balas Ainun yang membuat Andika tersenyum senang.
"Siap..laksanakan..assalamualaikum.." ucapnya tegas tapi masih terdengar lembut.
"Waalaikum salam.." balas Ainun yang ditinggalkan Andika diruangan bersama Intan yang masih belum sadarkan diri dengan tangan dipasang infus.
Tidak berapa lama Intan sadarkan diri dan bertanya dimana dirinya berada saat ini, Ainun menjelaskan dan benar Intan sedang datang bulan dengan rasa sakit yang sangat dia rasakan.
__ADS_1
"Assalamualaikum.." Andika memberi salam dengan membuka pintu, yang membuat Intan terkejut sebab ada laki-laki masuk kedalam ruangannya yang tidak dikenalnya.
"Maaf..tan..ini..kak Andika yang menolong kamu ke rumah sakit maaf saya lupa ngomong sama kamu.." Ainun menjelaskan dan Intan mengerti.
"Kamu..sudah makan.." tanya Andika sama Ainun yang masih setia menemani Intan.
"Belum.." dengan senyum malu Ainun berucap.
"Ai..sudah sana..makan dulu..saya ga apa-apa ko..sendiri.." pinta Intan pada Ainun yang sudah menolongnya.
"Bener..ga apa-apa..saya tinggal.." tanya Ainun pada Intan yang seperti tahu Ainun ingin berbicara berdua dengan Andika.
"Iya..ga apa-apa.." balas Intan dengan tersenyum seperti ikut senang.
Keduanya menuju kantin rumah sakit untuk memenuhi isi perutnya yang belum terisi dari siang tadi karena panik melihat kondisi Intan.
"Kamu..mau pesan apa.." tanya Andika pada Ainun dengan menunjukkan beberapa menu yang tertera dalam daftar menu.
"Saya..mau ini..kak..dan minumnya..ini.." Ainun menunjukkan gambar dalam menu.
Andika yang memesankan pesanan untuk keduanya dan saat ini kedua menunggu pesanannya datang.
"Oh..ya..boleh saya..tanya siap namamu..rasanya tidak enak kalau saya selalu memanggilmu..kamu.." tanya Andika dengan sopan pada Ainun.
"Oh..iya..maaf kakak..kenalkan..saya Calmera Marhel Ainun Anindya..biasa di panggil Ainun.." Ainun memperkenalkan diri.
"Nama yang indah penuh makna.." ujar Andika yang seperti tahu arti namanya.
"Terimakasih..papa yang kasih nama..bukan datang dengan sendiri.." balas Ainun dengan santai yang membuat Andika tersenyum.
"Oh..iya kenalkan saya..Andika Satria Bimantara..panggil saja Andika.." ucap Andika dengan senyum mengembang.
"Tapi rasanya tidak sopan..bila panggil nama..Ai..panggil kakak saja..ya.." pinta Ainun yang sudah memulai menikmati makanan yang dipesannya.
"Tapi..saya bukan kakak kamu Ai.." ujar Andika dengan sopan.
"Ya..udah jadi..kakak.Ai..aja.." ujar Ainun dengan santai.
"Kalau jadi suami..saja gimana.." Andika langsung tembak kesasaran.
"Ha...ha..mana..pantas kak..pasti ada yang lebih baik dari Ai.." ujar Ainun padahal dalam hatinya meleleh " Tuhan..haruskah secepat ini..kalau kirim malaikat tak bersayap..padaku.." dalam batin Ainun berkata.
"Ai..kamu gadis pertama yang telah mengisi relung hatiku" ucap Andika dengan menunjukkan gambar diri Ainun yang dulu saat perpisahan di cafe.
"Kakak..kena pasal..loh perlu Ai laporkan ke polisi..bukankah itu hal yang privasi..tanpa seijin pemiliknya lagi.." ucap Ainun dengan menjelaskan.
"Maaf..maafin aku..sebab kamu berbeda..dan sudah mencuri perhatianku.." ujar Andika tanpa takut Ainun marah tapi dia sudah jujur pada Ainun tentang perasaannya.
"Kak..Ai..ingin menyelesaikan kuliah Ai..tanpa ada gangguan..soal rasa untuk saat ini kita berteman saja dulu.." ucap Ainun tidak ingin memberikan harapan pada Andika yang jelas-jelas dia ingin lulus kuliah tepat waktu.
"Ok..tapi kakak ga mau berteman..kakak mau Ai..jaga hati Ai..hingga tiba waktu yang tepat aku meminta pada orang tuamu..gimana.." pinta Andika yang seperti dia tidak ingin melepaskan Ainun.
"Gimana ya..kak..soal hati Ai..bisa jaga tapi soal meminta sama papa..apa kakak akan berani.." tanya Ainun dengan serius.
"Lelaki ditolak itu wajar..yang penting sudah ada usaha.." ujar Andika serius berucap.
"Yang jelas kita saling support saja saat ini..hingga waktu yang tepat.." seru Ainun dan disanggupi oleh Andika.
__ADS_1
Ini awal keduanya saling mengenal secara personal dan saling support dalam study dan karir keduanya, sedangkan soal hati biarlah disimpan dalam-dalam untuk hadir diwaktu yang tepat.