Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
61


__ADS_3

"Aku yakin Allah merencanakan sesuatu yang terbaik untuk ku" Candy.


Candy memandangi suami tercintanya yang telah bersiap mengunakan seragam dinasnya yang terlihat gagah tanpa berkedip, dari kepala hingga ujung kaki dilihatnya tanpa ada yang tertinggal sejengkal pun.


"Honey..." sapanya masih terdengar lembut tidak pernah berubah Rendra memandang Candy yang memandangnya.


Tidak terdengar sahutan dari mulutnya hanya matanya sudah meneteskan bulir bening yang tidak berijin, tangan Rendra menghapus bulir bening itu.


"Mohon ijinkan mas...berdinas dengan tenang janganlah bersedih seperti ini" Rendra terlihat tegar didepan istrinya.


Tangan Candy memeluk satu tangan suami tercintanya hingga bulir bening membasahi lengan seragamnya, tangisnya sangat terisak karena sesak di dadanya yang tertahan.


Jam sudah menunjukkan waktu berkumpul untuk keberangkatannya ke Lanud yang telah di tentukan waktunya.


Keduanya saat ini berada di kediaman ayah Candy, Candy yang ditemani mas Dimas akan mengantar berserta keluarga kecilnya melepas keberangkatan Rendra yang sudah bersiap untuk keberangkatannya.


Celoteh yang keluar dari mulut mungil Nisrina yang mendominasi tidak mampu mengusir rasa haru Candy yang tak mau melepaskan tangannya dari lengan Rendra setelah upacara pelepasan yang membuat Rahma ikut larut dalam haru Candy begitu juga mas Dimas yang tidak tega melihat Candy yang tidak bisa menahan isak tangisnya.


Tangisan dan pelukan perpisahan dari istri, anak, orang tua dan kerabat melepaskan kepergian abadi negara ini, begitu juga tim Rendra yang saling memberikan salam perpisahan kepada kerabat dan istri.


"Jaga kesehatan...jangan cape-cape" ucap Ifan ke istrinya dalam pelukannya yang terisak, hanya anggukan yang diberikan sebagai jawaban.


"Mas..aku titip honey...maaf merepotkan" Rendra yang masih menggandeng tangan Candy menghadap mas Dimas.


"Tenang akan aku jaga sebagaimana ku menjaganya seperti dahulu" tangan mas Dimas menepuk pundak Rendra menenangkan.


"Honey...jaga kesehatan dan do'akan mas selalu" tangan Rendra menepuk punggung tangan Candy, Candy sendiri tidak bisa berkata-kata.


"Mba...tolong hibur honey, ya..cantik"Rendra dengan senyuman menyapa Nisrina dan Rahma, hanya anggukan yang Rahma berikan.


"Mas...berangkat dulu honey...mas,mba" Rendra dengan langkah tegapnya meninggalkan Candy dan keluarga mas Dimas, sesaat langkahnya terhenti menengok ke belakang melihat Candy yang masih mematung memandang kepergian Rendra.


"Ayo...Kept.." ucap Alfa dengan tangannya mengisyaratkan untuk cepat masuk dalam pesawat.


Kepergian Rendra membuat Candy banyak diam di dalam kamarnya hingga membuat Ayah ikut prihatin dengan kondisi Candy saat ini.


"Cantik...ko...murung sih"sapa Ayah yang masuk kedalam kamar Candy tanpa disadari Candy.


"Can..kangen Mas..Rendra yah" Candy memeluk satu tangan Ayahnya yang masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Cantik Masmu juga ga akan mau meninggalkanmu cantik, tapi ini tugas do'akan saja biar dia sehat dan kembali tanpa kurang satu apapun" ucap Ayah mengusap lembut kepala Candy dengan rasa sayang.


"Can..tahu ini tugas...Can hanya rindu" Candy masih memeluk tangan Ayahnya.


"Sibuk kan...dirimu insyaallah akan sedikit berkurang"Ayah masih mengusap kepala Candy.


"Do'akan Mas..Rendra ya..yah" Candy dengan manja meminta ke Ayahnya.


"Tanpa Cantik minta Ayah do'akan" Ayah sudah duduk sejajar dengan Candy di ujung tempat tidur Candy.


"Insyaallah...Can...akan menyibukkan diri" ujar Candy menghadap Ayahnya.


Suara kecil membuat Candy tersenyum dengan langkah kaki mungilnya memasuki kamar Candy, dan di sambut Kakeknya dengan tangan tuanya.


"Aduh cucu..kakek" tangannya meraih tangan kecil yang mendekat.


"Cantiknya...sayangnya ante" ucap Candy ke Nisrina yang makin lucu.


"Makin...pinter...aja nih anak" ujar Candy ke Ayah yang masih memangku Nisrina.


"Ya...siapa dulu Ayahnya" Mas Dimas yang masuk ke dalam kamar Candy.


"Oh...cuma Ayah aja gitu" Rahma yang datang sedikit sewot.


"Maaf...iya...bundanya juga" Mas Dimas merangkul Rahma yang tersenyum menghampiri anaknya.


"Can...mungkin ga akan bersedih ini kalau kamu ada anak"ucap Rahma yang mendekat ke Candy sedang Ayah sudah keluar dari kamar Candy karena ada telpon dari rekan kerjanya.


"Iya..kali ya..Mba.." Candy memandang Rahma dengan sedikit tenang.


"Apalagi kaya...gini..lucu" Mas Dimas yang menjawab dengan mengikuti setiap langkah anaknya yang tidak mau diam.


Suara kecilnya walaupun pun belum tertata jelas tapi mudah di pahami oleh orang didekatnya yang sangat dibikin gemas dengan tingkahnya yang bikin ketawa dan menghilangkan resah juga gelisah.


"Mas..Can...kangen" dalam batin Candy memandang langit malam sebelum tidurnya lewat jendela kamarnya.


Matanya memandang gambar dirinya yang dipeluk dengan mesra suami tercinta di layar benda pipinya, senyumnya terlihat mengingat situasi saat gambar itu diambilnya dengan malu dirinya menolak untuk di foto sekarang jadi pengobat rindu akan sosok yang ada di belakang dirinya dipeluk.


Sudah semakin larut malam ini tapi mata ini tidak kunjung mau terpejam, sudah beberapa do'a pendek di panjatkannya tapi masih saja belum bisa di pejamkan mata indah ini.

__ADS_1


Saat kantuk ini mulai di dirasakannya benda pipi itu berbunyi dan membuyarkan kantuknya, dengan malas benda itu diraihnya dan disentuh nya tanda menjawab panggilan itu, terlihat dari layar benda pipi itu sosok yang sangat dirindukannya.


"Honey...Mas...kangen" ucap Rendra setelah membalas salam dari Candy, seakan ingin menciumnya tapi jauh.


"Can...juga.."Candy meneteskan bulir beningnya menandakan rindu juga.


"Jangan nangis...Honey Mas..baik disini" Rendra tidak ingin membuat Candy khawatir.


Rendra menghibur Candy dengan menceritakan keadaan di daerah itu dan kondisinya sekarang.


"Honey anak-anak di sini lucu dan cantik loh"ucap Rendra yang masih ingin menghibur dengan tersenyum.


"Boleh..ga dibawa pulang satu" Candy membalas ucapan Rendra.


"Kalau...boleh Mas juga mau kasihan kebanyakan yatim Honey" ujar Rendra menjelaskan.


"Memang ga boleh"tanya Candy menanyakan ke Rendra dengan serius.


"Biasanya banyak prosedur yang harus di urus" ujar Rendra menjelaskan.


"Oh..seperti itu"Candy santai menjawab dengan sedikit mengerti.


"Paling gampang bikin sendiri Honey" goda Rendra ke Candy yang masih memandang ke benda pipinya.


"Maksud..Mas..Can..ga ngerti" Candy belum paham maksud ucapan Rendra.


"Kita bikin sendiri pasti akan lebih asyik dan pastinya lucu kaya Honey " ujar Rendra lebih menjelaskan ke Candy.


"Ih...Mas..terus kapan...."Candy memotong ucapannya ke Rendra.


"Yang jelas...tunggu Mas pulang...kita bikin ya..ok"Rendra seakan bersemangat.


"Ih...Mas..bukan itu" Candy terlihat malu nampak dari matanya menunduk.


"Oh...Kirain mau itu"Rendra tahu Candy akan malu bila membahas hal yang menurutnya tidak harus diucapkan.


"Tunggu kita punya waktu bersama yang banyak untuk berdua Honey" ucap Rendra yang masih ingin memandang Wajah cantik istrinya.


Tapi terlihat mata Candy yang mulai mengantuk dan Rendra tidak ingin Candy kurang istirahatlah karena dia juga harus berdinas dan menyelesaikan kuliahnya yang sudah mulai ujian semester limanya.

__ADS_1


"Honey istirahatlah biar Mas...yang akan mematikan dari sini" ucap Rendra yang masih ingin menikmati wajah imut istrinya saat tertidur.


Benda pipi itu masih menyala hanya Rendra yang terus bercerita seorang diri Candy sendiri sudah masuk dalam dunia mimpinya Rendra berharap mimpi yang indah yang akan di dapat oleh istri tercintanya dan ucapan selamat malam darinya dari jauh.


__ADS_2