
"Aku tahu aku memiliki kekurangan, begitu juga dengan dirimu karena itu tuhan hadirkan dirimu untuk melengkapi kekurangan itu" Rendra.
Sesaat kita tinggalkan keharmonisan keluarga kecil Rendra yang menurut pandangan mata kawan satu timnya keluarganya ideal, yang berlimpah kasih sayang sehingga membuat yang ada di dekatnya ikute merasa nyaman.
Didepan gerbang rumah mewah dan megah Alfa menghentikan motor kesayangannya, untuk menyakinkan dirinya pantaskan dirinya untuk menjadi pendamping dari anak pemilik istana megah ini yang hampir seperti dalam cerita-cerita yang wah..., dengan sedikit keberanian dia ingin membunyikan bel rumah mewah dan megah itu hanya berpasrah dengan apa yang akan terjadi.
Dalam benaknya dia berpikir untuk seorang Rendra ini pantas sebab keduanya memiliki kesamaan dari status keluarganya yang sama-sama pebisnis, dia juga baru tahu setelah acara pernikahan Rendra dan Candy, sebab selama itu Rendra tidak pernah menunjukkan siapa keluarga besarnya yang ternyata keluarga yang terkenal di kotanya karena memiliki bisnis yang tidak hanya satu tapi di berbagai bisnis.
Lamunan Alfa di kejutkan dengan suara sopan seseorang yang berseragam putih hitam, dengan senyum ramahnya mempersilakan Alfa masuk dan memarkirkan kendaraannya, beliau berusia hampir seperti pamanku di kampung menurut Alfa
"Silakan...den sudah ditunggu tuan" ucapnya denga jari jempol menunjuk sopan ke arah yang di perintahkan tuannya.
Setelah memarkir motor miliknya Alfa berjalan dengan segenap keberaniannya untuk memantapkan niatnya.
"Assalamualaikum..."ucap Alfa berdiri didepan pintu masuk yang terlihat kokoh dan terlihat ukiran memenuhi daun pintunya.
"Waalaikum salam...masuk nak, ayo" ucap Ayah Tazkia ramah dan tidak menampakkan dirinya memiliki segalanya.
"Silakan..."dengan tangannya menyalami Alfa dan Alfa membalasnya dengan sopan ke Ayah Tazkia.
"Perkenalkan saya...Prasetyo Ayah Kia..." ucap Ayah Kia yang mempersilahkan Alfa duduk.
"Saya Alfa Surya Nugraha..." ujar Alfa yang telah duduk di kursi yang besar dan sangat nyaman.
"Nak...Alfa, saya ucapkan banyak terimakasih sudah menolong Kia...maaf saat di rumah sakit nak Alfa masih belum sadar" ucap Ayah Kia menyampaikan rasa terimakasih ya ke Alfa yang sudah menyelamatkan anaknya.
"Sama-sama...Pak, itu sudah jadi tugas saya" ujar Alfa merendahkan diri dan dengan senyum ramah Alfa tunjukkan.
Tidak berapa lama Ibu Tazkia dan abangnya menghampiri keduanya yang masih membahas kasus penculikan Tazkia.
Mereka memperkenalkan diri begitu juga dengan Alfa memperkenalkan dirinya, ibu Tazkia mempersilahkan Alfa menikmati makanan dan minuman yang disuguhkan olehnya, Alfapun menikmati apa yang disuguhkan oleh ibu Kia.
Penilaian tentang keluarga Tazkia di luar perkiraan Alfa ternyata mereka sangat ramah dan hangat tidak terkecuali abang Tazkia yang pengusaha muda, dia sosok yang sangat humoris tidak nampak orang yang menakutkan atau merendahkan orang dari status dan dari kalangan mana.
"Ki...sudah banyak cerita siapa nak Alfa" ujar Ayah Tazkia yang terlihat membanggakan seorang Alfa yang di kenal anaknya.
"Saya...buka siapa-siapa Pak.." ujar Alfa merendahkan diri dihadapan keluarga Tazkia.
Saat semua terdiam menikmati makanan yang disuguhkan di meja, Alfa memberanikan diri menyampaikan niatnya.
__ADS_1
"Maaf...Pak...sebelumnya...sebenarnya saya datang kesini bermaksud melamar secara pribadi untuk meminta Tazkia putri bapak untuk menjadi pendamping hidup saya dan saya memberanikan diri mungkin terdengar sangat lancang, maafkan saya yang tidak tahu diri ini"ucap Alfa dengan tegas dan tanpa ada niat mempermainkan.
Kelurga Tazkia terkejut dan sekaligus senang sebab selama ini pacar-pacar Tazkia hanya mempermainkan anaknya dan lebih tepatnya memanfaatkan status siapa orangtua Tazkia.
"Apa yang nak Alfa sampaikan itu benar adanya" ujar Ayah Tazkia seperti tidak percaya mendengarnya.
"Ya...dengan kesungguhan dan segenap hati saya sampaikan niat baik ini" ucap Alfa lagi dengan memperlihatkan muka seriusnya.
"Dan saya tidak menjanjikan kemewahan yang seperti bapak miliki untuk membahagiakan putri bapak tapi akan saya usahakan semampu saya memenuhinya" ucap Alfa yang terdengar menyakinkan orangtua Tazkia bahwa menunjukkan Alfa bertanggung jawab untuk anaknya nanti.
"Ki...Ki...sini sayang..." teriak Ibu Tazkia yang terlihat sangat senang mendengar keseriusan Alfa melamar putrinya.
Tapi situasi ini membuat Alfa bingung, apa yang dilakukannya sudah benar atau membuat keluarga Tazkia merasa terhina sebab Alfa bukan siapa-siapa.
"Kenapa..ko jadi bengong..."ujar abang Tazkia ke Alfa yang masih bingung.
"Maaf...bukan maksud saya merendahkan keluarga bapak dengan maksud yang saya sampaikan ini" ucap Alfa yang takut meredakan orangtua Tazkia.
"Bukan...begitu..., kami senang kamu berani menyampaikan maksud baik kamu, dan kami tidak merasa di rendahkan ko" ujar abang Tazkia menenangkan Alfa.
Tazkia yang baru turun dari lantai atas rumahnya bersama keponakan dan kakak iparnya menyapa Alfa yang terlihat malu tapi sebenarnya senang, dalam hatinya untung tadi orang yang mau dilamar belum turun kalau ada di dekatnya bisa mati gaya deh...
"Boleh saya tanya nak Alfa, bukannya nak Alfa belum lama mengenal Ki..., apa ini sudah membuat nak Alfa yakin dengan Ki..."tanya Ayah Tazkia yang tahu belum lama anaknya mengenal Alfa.
"Insyaallah saya yakin..dan tidak ada keraguan sedikitpun"ucap tegas Alfa menyakinkan.
"Ya...sudah silakan tanyakan langsung ke Kia...kita semua akan menghormati keputusannya" ucap Ayah mempersilahkan Alfa menyampaikan maksudnya ke Tazkia.
"Bismillah...Tazkia Zianisa putri bapak Prasetyo bersediakan menerima pinangan dari saya Alfa Surya Nugraha untuk menjadi pendamping hidupku selama-lamanya" ucap Alfa tegas tidak terdengar keraguan dari tiap kata yang di ucapkannya.
"Yah...gimana...nih.." ujar Tazkia yang malu walaupun hatinya sudah yakin untuk seorang Alfa yang baru beberapa kali di temuinya.
"Gimana sih...de..kamu yakin ga..."goda abang Kia ke Kia yang malu jadi pusat perhatian semuanya.
Tazkia memeluk tangan kakak iparnya seperti meminta keyakinan darinya, dan mata ibunya memberikan tanda menyetujui pilihannya.
"Saya ga ingin Ki...menerima karena terpaksa sebab dalam rumah tangga tidak ada pemaksaan, saya ingin kita berjalan bersama dalam menjalankan kehidupan rumah tangga kita nanti tanpa ada salah satu dari kita dalam keterpaksaan akan tidak nyaman nantinya" ucap Alfa menjelaskan dan berharap Tazkia menerima alasan yang Alfa sampaikan.
"Tu...de...jujur saja sama hatimu"ujar kakak ipar Tazkia menyemangati Tazkia.
__ADS_1
"Ingat loh... Ki...ini tidak datang dua kali, yakinkan hatimu" ujar Ayah dengan mengoda Tazkia.
"Awas...ya..kalau nanti ujung-ujungnya nyesel" ujar abang Kia yang masih ingin mengoda Tazkia yang akhirnya mengangguk tanda malu menerima.
"Hore...bilang aja mau gitu aja susah banget sih..., malu-malu ujung-ujungnya mau...hu..hu" ucap abang Tazkia mengacak rambut Tazkia gemas.
"Selamat ya...selamat datang di keluarga Prasetyo" ucap abang Tazkia yang memeluk dan menepuk punggung Alfa dengan senang.
Alfa masih belum percaya pinangannya diterima Tazkia dan keluarga besarnya, begitu Ayah Tazkia menyalami Alfa tanda menerima pinangan Alfa untuk putrinya, Alfa baru percaya dirinya telah diterima pinangannya oleh Tazkia dan keluarganya.
"Pak...saya akan secepatnya membawa orang tua saya untuk melamar secara resmi putri bapak"ucap Alfa yang tidak ingin memainkan perasaan Tazkia.
"Kami siap kapanpun...pintu kami terbuka, nak Alfa...jangan panggil bapak..bukan di kantor dan kamu bukan bawahan saya kamu anak mantuku" ucap Ayah Tazkia dengan senyum terlihat senang menerima Alfa, dan menepuk tangan Alfa sebaliknya Alfa mencium tangan Ayah Tazkia tanda hormat.
Ayah dan keluarga besar Tazkia memberikan kesempatan kedua insan ini untuk berbincang untuk menyampaikan apa yang akan mereka berdua rencanakan kedepannya.
"Terimakasih kasih...sudah menerima pinangan saya yang bukan siapa-siapa" ucap Alfa yang sekarang tidak malu malah terlihat memandang Tazkia.
"Oh...jadi Ki..harus menolak gitu karena Mas bukan siapa-siapa gitu" goda Tazkia yang sontak membuat Alfa mati kutu karena kekonyolannya.
"Bukan...bukan begitu sayang...jangan menolaknya juga" Alfa bingung apa yang harus dijelaskan ke Tazkia.
"Cie...cie udah berani panggil sayang" ujar Tazkia yang makin mengoda Alfa yang terlihat tegang.
"Mas...harus panggil apa dong..ga enak kalau panggil nama"ucap Alfa yang benar-benar di bikin mati gaya oleh Tazkia yang ternyata sangat asyik.
"Apapun itu Ki...senang ko Mas" ujar Tazkia dengan senyumnya dia perlihatkan.
"Sayang...Mas tidak menjanjikan kemewahan loh, tapi akan Mas penuhi semampu dan sebisa Mas" ucap Alfa ke Tazkia dengan serius memandang Tazkia yang ada di depannya.
"Mas...selama ini Ki...sudah cukup ko terpenuhi kebutuhan dari Ayah tapi bukan berarti Ki...memaksakan harus sama seperti kehidupan Ki...nanti bersama Mas..." ujar Tazkia meyakinkan Alfa yang sepertinya takut Tazkia kecewa saat bersamanya nanti.
"Sayang...penghasilan yang Mas...terima itu cukup hanya untuk makan kita sehari-hari saja loh...Mas...bicarakan ini biar Sayang ga kecewa nanti setelah bersama Mas"ucap Alfa ingin Tazkia tahu lebih awal tentang jumlah penghasilannya untuk kehidupannya kedepan.
"Mas...Ki...terima kasih Mas sudah terbuka lebih awal, dan soal materi Mas ga usah khawatir Ki...juga punya usaha jadi untuk hal yang jadi kebiasaan Ki...tenang sebab selama ini Ki...ga pernah minta sama Ayah dan bunda, uang kuliah dan jajan Ki...dari usaha Ki sendiri jadi santai ok...Ki mau menikah dengan Mas tapi ga mau jadi beban buat Mas...atau Mas mau kita bikin perjanjian" ucap Tazkia panjang lebar menjelaskan yang membuat Alfa merasa tidak enak tapi memberikan acungan jempol anak orang kaya tapi mandiri.
"Ga...gitu sayang maksud Mas...sayang bisa ga hidup dengan kesederhanaan sesuai dengan lingkungan kedinasan Mas gitu saja ga ada maksud lain apalagi mencampuri urusan bisnisnya sayang, Mas ga ada maksud" Alfa berucap seperti orang yang bersalah yang membuat Tazkia tidak enak hati seperti meredakannya.
"Maaf..." keduanya berucap bersamaan yang membuat keduanya tersenyum saling berusaha memahami walaupun baru awal tapi menurut keduanya berani minta maaf berarti akan ada kenyamanan disana.
__ADS_1
Malam semakin larut Alfa tahu diri dan mohon diri berpamitan kekeluargaan besar Takzia yang makin terlihat senang sebab Alfa tahu waktu tidak memanfaatkan kebaikan mereka walaupun sudah percaya pada Alfa.