
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi temanmu adalah pilihanku, tapi jatuh cinta denganmu di luar kemampuanku" Rendra.
Rendra tidak seperti biasanya menghabiskan pagi ini untuk berolahraga seorang diri tapi mengajak serta anak dan istri tercintanya.
"Pa...Ainun cape..."ucap Ainun yang menghentikan langkah kakinya dengan napas terengah dan terlihat lelah.
"Sini sayang...biar Papa melanjutkan larinya" ujar Candy yang menghampiri Ainun untuk beristirahat di pinggir lapangan.
"Hai..cantik.." sapa Panji menyapa Ainun yang bersama Candy di pinggir lapangan melihat Rendra masih melanjutkan larinya.
"Ayo...sayang.."ajak Panji ke Rena yang hanya ingin jalan santai saja untuk saat ini.
"Ga...Mas biar sama Ainun aja di sini" balas Rena yang berdiri di dekat Ainun juga Candy.
"Cantik...sapa Ifan yang seorang diri datang ke lapangan, tidak dengan jagoan dan istrinya.
"Mas...mana jagoan..." tanya Rena dengan melihat sekitarnya, sedangkan Candy hanya memberikan senyuman saja ke Ifan.
"Tadi malam jagoanku demam"ujar Ifan yang akan memulai aktifitas paginya.
Kawan satu tim Rendra sedang melakukan aktivitas rutinnya, tapi belum semuanya hadir diantaranya Farel dan Alfa.
"Kemana ya...bocil tumben...belum muncul " ucap Panji disela larinya bertanya ke yang lainnya.
"Mungkin kesiangan...sebab semalam dia ke rumah Kia..." ujar Rendra menjelaskan kemana Alfa semalam.
"Serius...Kapt...berani juga tuh bocah" ujar Ifan yang menurutnya Alfa hebat berani memulai untuk hal yang bersifat pribadi.
"Salut...gue...ga menyangka hebat...hebat" ucap Panji yang mulai berlari kecil untuk mengatur napasnya.
"Hallo...cantik.." sapa Alfa yang tersenyum ke Ainun yang malu menyembunyikan mukanya di balik tubuh mungil Mamanya.
Alfa yang langsung menyusul kawan timnya ke lapangan yang lain sudah bermandikan keringat, berbeda dengan Alfa yang masih terlihat segar sehabis mandi pagi.
"Cie...cie yang lagi berbunga-bunga" goda Panji ke Alfa yang tersenyum memamerkan giginya yang rapi.
"Apaan sih...bang" ujar Alfa yang terlihat polos memberikan jawaban malu.
"Siap kita kawal menuju halal nih.." ucap Rendra dengan menepuk pundak Alfa yang merapikan tali sepatunya.
"Alhamdulillah...secepatnya sih pengennya" ujar Alfa yang sudah meninggalkan rekannya untuk berlari mengelilingi lapangan.
"Papa...ayo..." teriak Ainun dengan tangan meminta Rendra mendekat ke arahnya.
"Ayo...kesayangan sudah minta ditemani" ucap Rendra dengan melangkah ke arah Ainun yang bermain di pinggir lapangan.
__ADS_1
"Pa...Ainun boleh ga minta itu" Ainun menunjukkan penjual makanan yang berjajar di pinggir lapangan khusus weekend.
"Tanya Mama ya..sayang..." Rendra memberikan tanda ke Candy di diperbolehkan atau tidak, Candy mengantar Ainun ke penjual makanan itu dan di lihatnya ternyata diperbolehkan dan tangan Ainun membawa beberapa makanan itu.
"Yang ini buat tante..." ucap Ainun memberikan makanan ke Rena, dan Rena menerimanya.
"Terimakasih...cantik, baiknya" ujar Rena mengusap kepala Ainun yang tertutup hijab.
"Ko...tante aja, buat om mana" goda Panji ke Ainun yang malu melihat ke Candy yang melihat ke Ainun.
"Tangan Ainun ga bisa bawanya om.." jawabnya polos yang membuat Panji tertawa.
"Sayang kapan beri aku yang kaya gini" ucap Panji ke Rena yang membuat Candy malu.
"Yang kaya gini" ucap Rena polos menunjukkan makanan yang di berikan oleh Ainun, tapi membuat Panji jadi gemes.
"Yang itu mah beli aja sama itu..tu..abang-abangnya"ujar panji gemes memandang Rena yang menikmati jajanan yang diberikan Ainun.
"Bukan...ga peka cuma ingin mengoda...itu kode-kode sudah siap"ujar Ifan ke Panji dan jelas sekali Rena tersedak yang membuat Panji menepuk punggung Rena dan memberikan minuman ke Rena.
"Kata Papa kalau makan jangan bicara tante" ucap Ainun dengan polosnya yang membuat semua yang ada tertawa membenarkan ucapan Ainun.
"Iya..ya tantenya bandel ga dengarin kata Papa ya...cantik" ucap Alfa yang baru saja duduk ikut bergabung.
"Hoi...cil, gimana penerimaan keluarga Kia.." tanya Ifan ke Alfa yang masih mengatur napasnya.
"Ya...gitu deh gimana..." tanya Panji yang penasaran ga mengerti maksud dari ucapan Alfa.
"Kapt...ternyata keluarganya ga beda sama Papa Mama Kapt, ya..segokil anaknya...gitu apa lagi abangnya konyol abis" ucap Alfa yang merasa gembira dalam hatinya yang sekarang dia rasakan.
"Memang jodoh itu bener cerminan kita sih.." ucap Rendra yang melirik ke arah Candy yang tahu di curi pandang langsung membuang sorot matanya ke arah lain takut kawan Rendra tahu, tapi tidak buat seorang Rendra yang tersenyum senang tapi hanya senyum simpul yang dia tunjukkan.
"Emang gue...sama kaya Ki..." tanya Alfa polos seperti biasanya bertanya ke kawanan satu timnya.
"Loe...masih belum nyadar apa..loe yang suka ceplas ceplos dasar...bocil"ucap Panji dengan merangkul Alfa yang masih bingung.
"Sama...kaya Ki...langsung to the poin yang ga mau basa basi" ujar Ifan yang tahu sedikit tentang Tazkia.
Alfa malu setelah mendapatkan penjelasan dari kawan satu timnya, tapi mungkin benar apa yang mereka bilang tentang dirinya.
"Cie...cie.. siap..dong" ucap Ifan ke Alfa yang salah tingkah malu di goda kawan satu timnya.
"Jujur aja...bang gue minder sebenarnya, mereka serba ada sedangkan gue serba ga ada" ucap Alfa menundukkan mukanya.
"Woi...apa yang kamu ga ada aku siapin kalau memang untuk menunjukkan kamu juga punya kita-kita ko" tegas Rendra yang biasanya paling santai dan kalem membuat Candy menutup kuping anaknya.
__ADS_1
"Sorry...Papa ga marah ko sayang..." ucap Rendra memeluk Ainun yang langsung menyandarkan kepalanya didada Papanya.
"Gimana musuh...anaknya aja bisa langsung ciut" ucap Rena ke Rendra yang memberikan usapan di kepala Ainun.
"Gimana Mba kalau di ranjang...seganas singa apa selembut kapas"tanya Ifan jail ke Candy yang langsung malu tidak menjawab hanya menunduk.
"Woi...Woi banyak bocil disensor...lagian mau tahu aja"ucap Rendra yang masih memeluk Ainun yang makin nyaman didekap Papanya.
"Gimana sih bang...masih belum jelas apa, liat apa anaknya aja bisa senyaman itu apalagi Mamanya" Alfa yang merasa sudah pantas ikut bicara.
Semua tertawa seperti mengerti tapi tidak dengan Candy yang hanya tersenyum simpul malu walaupun kenyataannya benar tapi menurutnya ini hanya dia dan Rendra yang tahu.
"Santai...Can...biasa cowo mah gitu" ucap Rena yang sama seperti Panji sama gokilnya.
Candy hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa, Rendra hanya merasa kasihan ke Candy yang tidak biasa bercanda yang sifatnya privasi.
"Pa...kenapa om Alfa di panggil...cil" tanya Ainun yang polos ingin tahu.
"Apa...om Alfa kaya kancil yang di ceritain Kakek"ucap polos Ainun lagi masih ingin tahu.
Rendra tertawa mengingat Ainun masih belum paham untuk menerima penjelasan dari Rendra karena usianya.
"Sayang...om Alfakan orangnya lincah makanya di panggil cil gitu, sayang tahukan kancil gerakanya lincah"ujar Rendra menjelaskan yang membuat kawan satu timnya hebat bisa menjelaskan sesuatu sesuai usia lawan bicaranya.
Ainun mengerti dan mengangguk maksud dari apa yang dijelaskan Papanya.
"Pantas...kau mendapatkan kepercayaan jadi Kapten, serba bisa dari tugas dinas sampai menyenangkan pasangan yang jelas sudah bisa bikin junior lagi" ucap Panji yang sontak mendapatkan cubitan dari Rena yang membuat dirinya nyengir kuda.
"Bukannya loe juga tiap hari bikin..." ucap ifan yang hanya ingin menggoda Panji yang spontan bikin Rena mengeluarkan suaranya.
"Oi...oi sebegitu terbukanya kalian sampai urusan kasur di bahas" dengan tawanya Rena tanda tidak marah.
"Maaf sayang...maaf" ujar Panji yang sebenarnya hanya bercanda tanpa ada ingin membuat yang lain merasa malu atas ucapan Rena yang spontan menambah keakraban diantara semuanya.
"Gimana nanti ada Ki...ya.." ujar alfa seperti membayangkan kehadiran Tazkia.
"Yang jelas makin solid kita" ucap Ifan yang menunjukkan jempolnya.
"Ini kemana ya...buaya buntung.." ucap Panji menanyakan kehadiran Farel yang tidak memperlihatkan batang hidungnya saat ini.
Keberadaan Farel tidak diketahui oleh kawan satu timnya membuat khawatir tapi mereka lebih khawatir kalau Alfa yang tidak ada sebab mereka tahu Alfa terlalu polos dalam banyak hal terkecuali soal tugas kedinasan sebab semua ada aturan dan konteksnya.
Mereka akan cari tahu keberadaan Farel setelah mereka membersihkan diri dan melihat langsung di kediaman dinasnya terlebih dahulu.
Kebersamaan mereka cukup diacungi jempol oleh beberapa tim yang lain, tidak hanya solidaritas dalam kepentingan dinas saja tapi kekeluargaan yang selalu mereka tunjukkan juga tanpa membedakan dari usia sampai jabatan yang mereka sandang.
__ADS_1
★★ Note ★★
Boleh minta pendapatnya kepada pembaca, apakah sinopsis yang saya tulis sudah memenuhi unsur cerita, mohon masukannya terimakasih banyak atas dukungannya.