Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
93


__ADS_3

"Indahnya hidup bila memiliki teman yang selalu memberikan semangat saat kita tidak berdaya, padahal dia sendiri menyembunyikan beban yang sangat berat dengan senyum tulusnya dia tunjukkan bahwa semua akan baik-baik saja, indahnya persahabatan ini" Rendra.


"Alfa...awas...Alfa..bangun..Alfa..bangun..Alfa" teriak Rendra dengan keras terdengar dalam tidurnya seperti sangat khawatir.


Suara teriakan Rendra mengejutkan Candy yang tidur disampingnya dengan tangannya Candy mengguncangkan tubuh gagah suaminya dengan suaranya yang lembut membangunkannya dari mimpi buruknya hingga mengigau.


"Mas..tenang, Mas.."ucap Candy mengusap kepala Rendra yang basah karena berkeringat dan terlihat jelas sangat lelah seperti habis berlari jauh bukan sedang tertidur.


"Astagfirullah...ya..Allah..lindungi Alfa" ucap Rendra dengan napas yang masih belum teratur dan mengusap mukanya kasar.


"Minum dulu...biar tenang Mas" Candy memberikan gelas berisikan air putih untuk menenangkan Rendra dari mimpinya.


Candy hanya menatap suaminya yang sudah lebih tenang dan mengusap punggungnya masih dalam diam diantara keduanya.


"Sudah lebih tenang Mas..." tanya Candy dengan muka khawatir dia tunjukkan.


Rendra hanya mengangguk tanda sudah dalam keadaan lebih baik dan tenang.


"Syukurlah kalau Mas...sudah baikan" ucap Candy dengan memeluk satu tangan Rendra dengan tersenyum senang.


"Mas...mimpi apa sih, bikin Can...takut tahu" ujar Candy masih memeluk Rendra dengan suara manja ke Rendra.


"Soal mimpi apa biar Mas...yang tahu yang jelas ga baik, biar kita do'akan saja itu tidak terjadi...ok, Honey" ucap Rendra dengan mencium ujung kepala Candy.


"Mas berharap dia...baik-baik saja" ucap Rendra lagi tapi tidak di mengerti oleh Candy tapi sudahlah menurut Candy yang tahu siapa suaminya.


"Masih terlalu malam tidurlah" ujar Rendra menarik tangan Candy dengan lembut untuk tidur kembali disampingnya.


Rendra mengusap lembut kepala Candy yang mendekap tubuh gagah Rendra aroma tubuh Candy seperti candu buat Rendra menurutnya menenangkan pikirannya.


Keduanya terlelap dalam malam yang masih belum ingin menyibakkan tabirnya agar bisa beristirahat untuk memulihkan staminanya agar lebih bersemangat menyambut sang surya yang tanpa lelah bersinar memberikan hangatnya keseluruh penghuni bumi.


Di belahan bumi lainnya yang saat ini ada rasa suka cita karena telah melewati masa kritisnya siapa lagi kalau bukan Alfa si bocil kesayangannya tim Rendra.


"Oh...jadi harus bidadari ya...yang bangunin tidur loe...pangeran tidur" ujar Panji dengan mengacak kepala Alfa yang sudah duduk di tempat tidurnya.


Alfa hanya nyengir kuda masih saja jadi bahan candaan walaupun dalam kondisi baru sadar tapi Alfa tahu itu salah satu cara mereka menyayanginya.


"Cepet...sehat lagi gue sudah bernadar bila loe..sembuh gue traktir makan duren sepuas loe" ucap Farel dengan mengusap tangan Alfa yang masih di pasang jarum infus.


"Makasih...bang sudah bikin khawatir" ucap Alfa menundukkan wajahnya yang merasa terbebani olehnya kawan satu timnya.


"Ga...ga ada terimakasih loe..sudah melakukan yang terbaik...bro" ucap Ifan menyemangati Alfa untuk cepat pulih.


"Cie...Cie...seperti bidadari sudah mulai simpati sepertinya" goda Farel membuat Alfa terkejut tapi malu dengan menyembunyikan muka polosnya.


"Serius...bro " Panji penasaran dengan apa yang baru saja di ucapkan Farel.

__ADS_1


"Mama seperti banyak kasih info ke ortunya bidadari, jangan...jangan" ucap Ifan menghibur Alfa yang masih malu tapi sebenarnya dia senang mendengar itu.


"Cil...loe..suka ga sebab ortunya kayaknya suka sama loe, apalagi setelah kejadian ini" ujar Ifan lagi ingin mendengar pernyataan dari Alfa yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena grogi.


"Mana pantas bang...gue...cuma apa.." ujar Alfa merendahkan diri dan merasa tahu diri siapa dirinya yang bukan siapa-siapa.


"Tapi loe sudah dua kali...loe di pertemuan kan dalam keadaan yang sama, ortu Kia...banyak cerita ko" ucap Ifan menyakinkan Alfa yang masih duduk ditempat tidurnya.


"Oh..gue..baru..tahu..jadi Kia gadis yang loe tolong waktu itu"ucap Panji yang baru paham.


"Kalau anaknya yakin plus ortu merestui loe mau nolak " Ifan dengan semangat menyakinkan Alfa agar yakin akan jodohnya.


"Kalau gue jadi loe..ga pake lama"ujar Farel dengan tersenyum penuh pesona play boynya diperlihatkan yang spontan bikin yang lain ngemes-ngemes gimana gitu.


"Apa...sih yang loe tolak liat kucing di pakein rok loe juga bakal demen " ucap Panji dengan meninju tangan Farel pelan mengoda.


Serentak tawa mereka pecah membuat seisi ruangan ramai untungnya Alfa sudah di pindahkan ke ruangan rawat.


"Hus...berisik..yang sakit harus cepat recovery...Mas" ucap Rena yang akan memeriksa kondisi Alfa yang ikut tersenyum.


"Maaf...dokter cantik"ujar Panji yang menghampiri istrinya dan mencium pipinya lembut, dan bikin yang lain bersorak.


"Woi...woi...jangan bikin ngiri...apa" ucap Farel dengan tawa konyolnya membuat yang lain tak mau kalah mengoda Panji dan Rena.


"Ini bukan tontonan anak di bawah umurkan..uie...uie" ucap Ifan pura-pura menutup mata Alfa dengan tangannya.


"Gue...jadi malu.." ucap Panji yang masih mendekap bahu Rena yang hanya tersenyum melihat kekonyolan kawan suaminya.


"Sore...Semuanya" sapa Tazkia kesemuanya yang ada di dalam ruangan.


"Sore...Kia masuk.." ucap Ifan mewakilkan semuanya yang senyum-senyum mengoda Alfa yang malu terlihat.


"Mudah-mudahan yang sakit cepat sehat sebab ada vitamin yang lebih cepat bikin sehat"ujar Ifan menepuk pudak Alfa menggodanya.


"Apaan sih..bang"ujar Alfa malu di goda oleh kawan satu timnya.


"Kita kasih kesempatan buat yang jadi vitamin untuk menyembuhkan" ucap Panji yang akan melangkah ke luar ditemani istrinya yang tersenyum mendengar ucapan konyol suaminya yang di barengin tawa Ifan dan Farel mengoda Alfa dan Tazkia.


Sepeninggal kawan satu timnya Alfa di bikin mati gaya harus mulai dari mana sebab belum lama kenal dengan Tazkia.


"Makasih ya...Mas..udah tolong Ki.." ucap Tazkia memulai pembicaraannya yang melihat Alfa diam hanya tersenyum.


"Itu sudah bagian dari tugas Mas...Ki" ucap Alfa merendahkan dirinya yang menurutnya itu kewajibannya bukan beban.


"Tapi...karena Ki...Mas jadi..."Tazkia tidak melanjutkan ucapannya sebab jari Alfa sudah menutupinya agar tidak melanjutkan ucapannya, kebetulan Tazkia duduk di sebelah Alfa.


"Mas..."Tazkia malu diperlakukan seperti itu menurutnya Alfa tidak seperti beberapa lelaki yang pernah di kenal selama ini.

__ADS_1


"Mungkin ini sudah jalannya...Ki.., oh..ya..sama siapa kesini" ucap Alfa yang khawatir ada apa-apa nantinya.


"Sama sopir Mas..."ucap Tazkia tahu Alfa mengkhawatirkan dirinya.


"Masih..tinggal di asrama"tanya Alfa yang bingung harus ngomong apa jadi hanya bertanya yang menurutnya dia tahu.


"Ki..ga di asrama lagi setelah kejadian itu, Ayah juga Bunda ga di luar kota lagi" ujar Tazkia dengan muka terlihat masih takut mengingat kejadian itu.


"Maaf...kan Mas yang menanyakan itu membuat Ki..jadi mengingat kembali kejadian itu" ucap Alfa menenangkan Tazkia dengan mengusap punggungnya tanpa maksud lain.


"Ga...Mas..Ki..hanya marah sama orang yang bikin Mas...luka" Tazkia menundukkan wajah cantiknya mata indahnya mengeluarkan cairan bening yang melegakan dadanya.


"Ko...jadi nangis...Mas ga apa-apa ko..lihat nih" Alfa tanpa malu membuka baju pasiennya untuk menenangkan Tazkia yang mulai terisak.


"Ih...Mas...Ki...malu"ujar Tazkia yang tidak mau melihat tubuh gagah Alfa yang banyak disuka cewe.


"Oh...malu ya...kirain mau melihat lebih nyata lagi" ujar Alfa mengoda agar menyudahi tangisnya, Alfa senang berhasil membuat Tazkia menyudahi tangisnya.


Tazkia hanya tertawa kecil mendengar godaan dari Alfa, Alfa di mata Tazkia dikiranya orang yang jaim dan serius abis tapi ternyata konyol dan polos tanpa ada yang ditutupi apa adanya.


"Kenapa...bengong..ada yang aneh..." ujar Alfa memperhatikan seluruh tumbuhnya.


"Ga...Mas...Ki..kira Mas orang yang jaim ga tahunya asyik ya.." ucap Tazkia dengan malu mengungkapkan isi hati tanpa malu.


"Ya...inilah aku ga bisa jadi orang lain" ucap Alfa tanpa ingin ada yang di tutupinya.


"Ki...akan lebih suka Mas yang apa adanya.." ujar Tazkia makin malu memandang ke Alfa.


"Oh...jadi Ki...suka sama Mas..yang ga ada apa-apanya loh" ucap Alfa tanpa basa basi tembak langsung.


"Apaan sih...Mas Ki..jadi malu" ucap Tazkia yang lebih dulu membuka hati untuk Alfa.


"Sejak kapan Ki...suka sama Mas" tanya Alfa yang ga mau nunggu lama-lama.


"Dari pertama Ki...minta tolong sama Mas, Ki...yakin Mas orang baik dan beda dari siapapun"ujar Tazkia yang tidak malu mengutarakan isi hatinya.


"Terimakasih sudah...menyukai Mas...tapi Ki yakin ga sama Mas" tanya Alfa ke Tazkia yang masih malu memandang Alfa.


"Boleh tanya Mas...sendiri bagaimana ke Ki..." tanya Tazkia ke Alfa yang menginginkan apa yang dirasakannya dan berharap Alfa memiliki rasa yang sama dengannya.


"Mas..boleh jujur Mas suka mata Ki...yang sama seperti seseorang yang Mas kagumi dari pribadinya yang sangat baik, keseluruhan Mas suka tapi Mas tahu diri siapa Mas setelah tahu siapa Ki..." Alfa merendahkan diri siapa dirinya.


"Soal pertanyaan Mas...tadi Ki...yakin Mas imam yang baik buat Ki di masa depan..., soal status itu milik Ayah Bunda Mas..Ki ga punya apa-apa..hanya cinta dan kesetiaan yang Ki punya"Tazkia menundukkan kepalanya malu berani menyatakan keinginannya.


"Jadi kita berjuang bersama nih.." ujar Alfa yang tanpa malu menatap mata indah milikTazkia yang hanya tersenyum dengan kepalanya mengganguk tanda setuju.


"Eah.....kita berjuang bersama siap" ujar Alfa membuat Tazkia tertawa geli melihat tingkah konyol Alfa.

__ADS_1


Selamat Alfa...berjuanglah untuk masa depan yang lebih baik meraih bahagia seperti yang lain, dalam bahtera rumah tangga yang banyak riak dan gelombang di depan untuk selalu bisa melewatinya.


__ADS_2