Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
120


__ADS_3

" Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang menyayangimu, kau akan menyesalinya saat dia pergi...semua tidak akan bisa kembali begitupun waktu tidak akan bisa berpihak pada kita" Rendra.


Sudah beberapa bulan ini Rendra kembali menempati rumah dinasnya karena dia ingin memfokuskan mendidik karakter Ainun yang sudah mulai duduk dibangku sekolah menengah pertama yang berarti masuknya masa balig seorang anak perempuan, Rendra ingin Ainun jadi gadis mandiri sebab selama di rumah mamanya, mama sering memanjakannya.


Seperti siang ini Ainun pulang sekolah dalam keadaan sakit yang biasanya dirasakan perempuan saat hari pertama datang bulan dan ini untuk pertama Ainun mendapatkannya.


"Hai...cantik...baru pulang" sapa ajudan Rendra ke Ainun yang terlihat pucat, keduanya kebetulan bertemu di gerbang masuk rumah dinas.


Ainun tidak memberikan jawaban hanya tersenyum yang dipaksakan karena menahan sakit di perutnya.


"Cantik...you...ok" tanya ajudan Rendra lagi dengan memegang pundak Ainun.


Ainun langsung ambruk tidak sadarkan diri yang membuat ajudan Rendra khawatir dan salah satu prajurit yang berjaga membantu mengangkat tubuh mungil Ainun.


Tidak berapa lama Rendra datang dan Ainun mulai sadarkan diri dan berbisik di telinga Rendra apa yang dirasakannya.


"Pa..perut Ai..sakit" ucapnya ke papanya yang membuat Rendra bingung sebab Candy sudah mulai berdinas lagi di rumah sakit.


Akhirnya Rendra membawa Ainun ke rumah dinasnya dan memberikan obat untuk mengurangi rasa sakit di perutnya.


Tapi belum juga Rendra menyiapkan obat untuk Ainun, Rendra dikejutkan dengan tangis Ainun yang membuat Rendra bingung harus berbuat apa.


"Pa..Ai..takut..." ucap Ainun yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Iya..sayang ada papa..sayang takut sama apa" tanya Rendra yang bingung.


"Ada..kecoa..mana...mana" Rendra mencari-cari kedalam kamar mandi, tapi yang di cari tidak terlihat oleh Rendra.


"Ai..takut.." Ainun sedikit malu berucap ke papanya, Rendra bertambah bingung.


"Ada..apa dengan anak gadisku.." gumam Rendra berbicara seorang diri.


Ainun masih menahan sakit juga malu tapi apa harus bagaimana mengatakannya sebab dia sendiri bingung tidak mengerti.


Rendra mau tidak mau akhirnya menghubungi Candy dan menjelaskan keadaan Ainun, Candy yang bingung mendengarkan penjelasan dari Rendra akhirnya meminta Ainun yang menjelaskan ke Candy tentang sakit yang dirasakan dan rasa takut yang dia maksud.


Setelah mendengarkan penjelaskan dari Ainun dan Candy pun mengerti,kini giliran Candy yang menjelaskan ke Ainun dan apa yng harus Ainun lakukan.


Candy juga menjelaskan sakit yang diderita Ainun ke Rendra agar tidak khawatir dan Rendra pun mengerti hanya saja Rendra belum percaya anaknya sudah masuk balig.


"Sayang..sekarang sudah mengertikan.." ucap Rendra dengan mengusap kepala Ainun yang malu melihat papanya.


Ainun hanya mengangguk tidak menjawab hanya malu yang nampak terlihat dihadapan papanya.

__ADS_1


"Sayang...artinya semakin dewasa jadi harus bisa membedakan mana yang baik dan tidak..dan harus semakin taat dalam ibadah..Ainun sayang papakan..jadi anak..yang sholeha ya...sayang" Rendra mengusap kepala Ainun dan menciumnya.


Sepeninggal papanya Ainun hanya merenungkan ucapan papanya, sebaliknya Rendra dalam ruang dinasnya termenung memikirkan betapa susahnya menjadi seperti ayah Candy (mertuanya) yang harus mengurus Candy seorang diri tanpa pendamping disaat anak gadisnya mendapatkan hal-hal yang berhubungan dengan wanita.


Rendra semakin mengagumi sosok ayah seperti ayah Candy yang belum tentu semua orang bisa melakukannya.


Pasti banyak hal yang perhubungan dengan perempuan yang harus dijelaskan ke anak gadisnya tapi beliau bisa mendidiknya hingga jadi wanita hebat dan dipertemukan dengan dirinya, sesekali Rendra tersenyum sendiri bila mengingat dirinya dipertemukan dengan wanita hebat yang sekarang menjadi teman berbagi dalam segala hal.


"Cie...cie...senang betul..." goda Panji yang masuk tampa salam terlebih dahulu.


"Masuk...bro.."Rendra mempersilahkan Panji masuk ke ruangannya.


"Ada yang bikin seneng..nih.." ujar Panji lagi yang masih penasaran.


"Kita..makin tua ya...sedangkan kita berpikir sama aja..tapi kalau lihat anak baru kita menyadarinya..mereka sudah tumbuh besar.." ucap Rendra berbincang santai.


"Bener...bro..kita pikir baru kemarin kita gendong..tahu-tahu udah mau sekolah...aja" seru Panji dengan tersenyum mengingat anak-anaknya.


"Jangan-jangan kita nanti cepat punya mantu deh.."ucap Ifan yang baru bergabung.


"Iya...ya...waduh..." Rendra seperti kaget memikirkan kata mantu.


"Santai aja..kali..bro" ucap Farel dengan Alfa masuk ke ruangan Rendra.


"Awas..ya..loe..bilang santai.." seru Panji yang tahu anak Farel semua perempuan.


"Ya..ga..gimana-gimana..setidaknya..kita harus mempersiapkan diri jadi orang tua yang..baik"ucap Ifan yang mempunyai dua jagoan.


"Emang..selama ini gue..kurang baik..gitu" ucap Farel dengan gaya jagoan bertolak pinggang.


"Ya..loe..udah baik..bang.." ucap Alfa dengan mengusap pundak Farel agar duduk.


"Busyet...dah..pede boros...ni.."ujar Panji dengan senyum konyol ke Farel yang tidak melihatnya.


Rendra hanya memperhatikan tingkah kawan satu timnya saat berdebat hal yang konyol yang saling tidak mau ada yang kalah selalu saja mau menang sendiri dengan pendapatnya yang menurutnya benar.


"Ngapa diem bae..Kapt.." ucap Alfa ke Rendra yang kaget ditepuk pundaknya.


"Ga...lucu aja liat kalian.." ucap Rendra datar tanpa ekspresi.


"Emang..kita badut..dikata lucu.." ucap Panji dengan tawa konyolnya.


"Ga...gitu..bro..." ucap Rendra yang mendengar bunyi benda pipinya tanda panggilan masuk.

__ADS_1


Rendra menjawab panggilan itu, sedikit kata yang terucap dari Rendra hanya anggukan kepala yang sering dia lakukan tanda mengerti atau mengiyakan.


Setelah mematikan benda pipi yang hampir semua orang miliki, Rendra berpamitan ke kawan satu timnya keluar ruangan untuk keperluan yang kawan satu timnya tidak mengetahui.


Saat ini Rendra sedang berbicara melalui benda pipi dengan seseorang yang sangat dekat hubungannya dengan Rendra.


Tidak beberapa lama Rendra masuk kembali ke dalam ruangannya untuk menemui kawan satu timnya.


"Maaf..bro..dari ada yang harus diurus" ucap Rendra yang kembali duduk diantara kawan satu timnya.


"Santai...kita semua tahu ko..." ucap Ifan ke Rendra yang merasa tidak enak.


"Ada..rencana liburan ke mana nih.." tanya Panji yang merasa bosan dengan rutinitas kerja.


"Enaknya..kemana.." balik bertanya Iran ke Panji yang diam seperti berpikir.


"Ke pantai...gimana.." ujar Farel yang terlihat bersemangat.


"Jujur...saja..aku..mah..yes..tapi anak-anak dan Honey harus ditanya dulu.." ucap Rendra yang selalu mendengarkan pendapat orang tersayangnya.


"Bro...sampai soal yang sepele...masih aja bucin..." ucap Farel menggoda Rendra.


"Biar mau di kata apa..aku senang..asalkan ada bersamanya.."ucap Rendra cuek terlihat santai.


"Bro..apa ga merasa di budakin gitu..." tanya Farel masih ingin diperjelas.


"Ga..ada..tuh..malah asyik..akan ada timbal balik ko..tanpa disadari..yang penting kita tulus melakukannya.." ucap Rendra skakmat Farel yang masih bingung.


"Bukannya kalau kita bucin..jadi keenakan...dia" ujar Farel lagi masih ga mau kalah.


"Eh..lah..bang..emang ga ada rasa sedikit sayang gitu...bikin istri senang.."ujar Alfa ke Farel dengan menepuk pundaknya.


"Bukannya...kalau kita perhatian dia juga bakal perhatian juga..bro" ucap Ifan ke Farel yang masih dengan pendapatnya.


"Bro...jangan-jangan loh..bikin anak..juga maksain bukan karena buah cinta..."ujar Panji yang terlihat serius ke Farel.


"Gila..loe..bini gue..denger bakal gue ga dikasih jatah..alis tidur di sopa.." balas Farel yang mulai mengakui dirinya juga bucin.


Kawan satu tim Rendra tertawa terbahak-bahak puas bikin Farel masuk ke perangkapnya sendiri.


"Bukannya..loe..lebih bucin..malah takut istri.." ucap Ifan menyindir Farel.


"Udah akui saja..ga usah malu..kali bro..."ucap Panji yang masih tertawa.

__ADS_1


Rendra hanya tersenyum dalam hati Rendra hanya bisa berkata "Apasih..yang ga buat orang tersayang" yang masih melihat tingkah konyol Kawan satu timnya.


Rendra akan lakukan apapun yang masih sebatas wajar untuk orang tersayang karena melihat mereka bahagia itu sudah anugerah buat seorang Rendra yang hanya mengenal cinta pertama.


__ADS_2