
"Sembunyikan luka hatimu, agar orang labih menggenalmu orang yang kuat biarlah tuhan yang tahu tentang luka hatimu, karena hanya Dialah yang mengobati luka hati itu" Rendra.
Dugaan Alfa ternyata tidak meleset dia begitu dinantikan kedatangannya dengan tanpa basa basi Farel meninju tangan Alfa walaupun hanya becanda, sebenarnya rasa khawatir yang mereka semua rasakan bukan marah.
"Bocil...kemana aja...hey..."Farel dengan pura-pura marah ke Alfa yang masih memegang baju pesanan Panji.
"Maaf...bang...tadi ada yang meminta pertolonganku" ujar Alfa yang ingin menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya.
"Ah...alasan aja...loe" balas Farel masih dengan kepura-puraannya marah ke Alfa.
"Benar...bang..kapan gue pernah bohong" ujar Alfa lagi tidak mau disalahkan.
"Hai...bocil siapa yang minta tolong sama loe sampai loe berani meninggalkan tugas loe" ucap Ifan bertanya ikut menjailin Alfa yang masih merasa bersalah.
"Jangan loe..bilang dia cewe.."ucap Panji yang masih ikut duduk bersantai.
"Emang kalau cewe kenapa bang.." Alfa merasa semakin bersalah dengan polosnya bertanya.
"Oh...jadi cewe yang loe tolong...pasti cewe cantik ya..." ucap Ifan semakin ingin Alfa merasa bersalah.
"Maaf...bang iya...cewe cantik lagi" jawab Alfa polos dengan makin menunjukkan rasa bersalahnya.
"Oh...jadi kalau jelek loe ga mau tolong gitu" ucap Panji dengan senyum jailnya makin membuat Alfa terpojok bersalah.
"Bukan...begitu bang...tapi cewe cantik itu yang meminta tolong bukan cewe jelek yang meminta tolong" Alfa menjelaskan apa yang baru di lakukannya tanpa bermaksud memilih untuk membantu orang lain.
"Itu...namanya rezeki kamu" Rendra menepuk pundak Alfa dengan tawanya yang membuat yang lain ikut tertawa melihat muka polos Alfa yang masih merasa bersalah.
"Sudah...lah...tak apa kami hanya mengkhawatirkan keberadaanmu saja" ucap Rendra lagi dengan mengacak kepala Alfa agar cepat sadar dari candaan kawan satu timnya.
"Ya...elah...bang bikin gue merasa bersalah saja" ujar Alfa membuang napas kasarnya menghilangkan beban hatinya.
"Lagian perginya sampe lama banget khawatir tahu...kita-kita" ujar Panji yang menyuruhnya mengambil pesanannya.
"Boleh...dong cerita sedikit" pinta Rendra ingin tahu alasannya kenapa Alfa sampai terlambat pulang.
Dengan tanpa ragu Alfa menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya selama perjalanan mengambil pesanan Panji tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan dalam menceritakan peristiwa yang baru dilewatinya dari pagi hingga menjelang siang.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia jodoh mu" Rendra merangkul pundak Alfa yang baru saja menceritakan peristiwa yang baru di laluinya.
"Ah...Kapt bisa saja..." balas Alfa yang merasa semua hanya kebetulan tidak lebih.
"Kalau kamu yakin...dan dia sendiri sudah merasa nyaman kenapa tidak...tidak ada yang tidak mungkin" ucap Rendra lagi dengan suara yang tidak biasanya serius dalam pembahasan yang santai.
"Kamu suka ga..." tanya Panji dengan senyum mengoda Alfa agar mau terbuka dengan perasaannya ke kawan satu timnya.
"Suka lah...bang...dari pertama kali melihatnya dia cantik dan....mempunyai mata seperti Mba Candy juga Ainun" ujar Alfa yang malu dan takut ke Rendra khawatir dikira dia naksir istri Kaptennya.
"Ha...ha...serius..loe.." ucap Farel dengan tawa ga percaya sebab dia yang pertama kali melihat Candy yang pemilik mata indah itu saat Rendra terluka dalam menjalankan tugasnya.
"Serius bang...bukan berarti gue...punya rasa ya...Kapt sama Mba Can..." ujar Alfa dengan menaruh rasa hormat ke istri Kaptennya.
"Santai aja...memang hanya isteriku saja yang punya mata indah itu, ya...terserah Allah mau kasih ke siapapun" ucap Rendra menjelaskan kebenaran yang sebenarnya.
"Betul..betul..betul"ucap Panji mencairkan suasana yang mulai ada yang sedikit sensitif.
Kawan satu tim semua tahu bagaimana Rendra sangat mencintai dan menyayangi Candy yang sekarang telah menjadi istrinya sebab pencarian dan penantian yang sangat lama yang harus Rendra lakukan untuk menjadikannya seorang istrinya sekarang ini, jadi wajar bila Rendra sedikit posesif untuk semua yang berurusan dengan Candy.
"Baru juga ketemu Kapt...belum tentu dia juga suka sama gue Kapt " Alfa tersenyum malu ke Rendra yang memandangnya.
Benda pipi Rendra bergetar menandakan ada panggilan masuk ke benda pipinya, tangannya memandang dengan serius tertera nama Komandannya, Rendra melangkah menjauh sementara dari kawan satu timnya untuk menjawab panggilan telponnya.
"Hey...cil...untung loe yang ngomong...kalau gue...ga tahu apa yang akan gue terima dari Kapten" Farel berucap dengan serius ke Alfa yang hanya senyum-senyum ga jelas.
"Ko...bisa ya...ada orang yang bucin abis kaya gitu, bikin gue ga habis pikir deh" ujar Ifan yang mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gue...juga bakalan lakukan hal sama kalau ceweknya kaya Mba Can...mah dia banyak nilai plusnya" ujar Panji yang membenarkan apa yang dilakukan Rendra itu pantas untuk mendapatkan seorang Candy.
"Yang paling gue...suka rasa malunya itu loh...ga ilang-ilang padahal kenal kita bukan baru"ucap Farel yang seperti mengingat tingkah malu Candy bila bersama kawan satu tim Rendra.
"Iya...bener biasanya cewe kalau kumpul bareng temen suaminya nyablak abis, cuek aja ikutan ngomong apa aja yang lagi di bahas sebaliknya dia hanya menunduk atau menyibukkan diri membaca atau melakukan apa gitu" Panji ikut menambahkan kebenaran sifat Candy.
"Kapt...memang ketiban bulan dia" ujar Ifan yang ikut membenarkan Rendra harus bersyukur memiliki Candy.
"Memang pasangan sempurna keduanya seperti tidak ada celahnya ya..." Alfa berucap masih menjadikan Rendra dan Candy seorang panutan untuk dirinya.
__ADS_1
"Mungkin hanya mereka yang pantas di bilang couple dari kedinasan kita" ucap Panji dengan senyumnya terlihat.
"Setuju gue..." ucap Farel dan Ifan pun mengangguk kepala tanda menyetujui juga.
"Apaan...sih...setuju...setuju aja" ucap Rendra yang sudah merapat ke kawan satu timnya.
"Harus pulang...Kapt" ucap polos Alfa yang ingin tahu apa pembicaraan via telpon tadi.
"Ga...lah bukan dari Honey tapi dari Komandan" ujar Rendra menjelaskan ke kawanan satu timnya.
"Dikirain dari Mba Can..." Panji berkata takut mengganggu waktu Rendra yang sekarang lebih banyak dirumah Mamanya belum kembali ke rumah dinasnya.
"Oh...iya...bro kalau perlu rumah pake aja...kunci ada di ajudanku ya..."ucap Rendra ke Panji yang masih ikut bercengkrama bersama.
"Ya...bro sebelumnya terimakasih banyak ya...nanti kalu mau dipakai gue cari ajudan loe" ucap Rendra masih dengan menikmati kebersamaan.
"Persiapan pesta pedang pora gimana.." tanya Rendra ke Alfa yang masih duduk diam menjadi pendengar.
"Siap...Kapt tinggal geladi resik yang terakhir" Alfa menjelaskan ke Rendra tentang kesiapannya.
"Ok...kalau semua sudah siap " Rendra tersenyum merasa semua sudah sempurna untuk kesiapan pesta pedang pora untuk Panji.
"Terimakasih sudah merepotkan" ucap Panji kesemua kawan satu timnya.
"Apaan sih...bukanya kemarin-kemarin aku banyak merepotkan kamu" balas Rendra ke Panji dengan menepuk punggung tangan Panji.
"Kita semua ga ada yang saling di repotkan yang ada saling meringankan " ucap Ifan yang merasa tidak terbebani tapi senang akhirnya kawannya melepaskan masa lajangnya.
"Iya...bro kita senang bisa jadi saksi pelepasan masa lajang loe" Farel ikut menambahkan ucapan Ifan.
"Tenang bang...gue siap ko...dan ada buat loe" ucap Alfa menghampiri Panji yang merangkul karena merasa bangga memiliki kawan satu timnya.
Rendra hanya memberikan senyum tanda ikut senang kesemuanya, oh...indahnya kebersamaan ini kalau bisa berharap jangan biarkan kebersamaan ini cepat berlalu, Rendra dalam diamnya berharap.
★★ Note ★★
Mohon maaf bila belum bisa memenuhi harapan pembaca sebab masih tahap belajar, dan saya secara pribadi mengucapkan terima kasih banyak untuk dukungannya buat yang sudah membaca novel saya.
__ADS_1