Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
236


__ADS_3

..."Berubah untuk jadi baik bukan berarti harus menunggu nanti, lebih cepat lebih baik kita tidak tahu sampai kapan Allah memberikan kesempatan kepada kita selagi masih ada kesempatan segeralah " Rendra....


Kerinduan pada abi uma pada keluarga kecil Andika sepertinya akan terobati sebab Andika dan keluarga kecilnya ada kesempatan untuk berkunjung ke tempat dimana abi uma berada.


Si kembar yang belum pernah berkunjung ke tempat abi uma begitu antusias sebab Andika banyak bercerita bagaimana keadaan disana seperti gunung, sawah dan pemandangan alam yang indah dan masih alami begitu juga orang-orang sekitar dan penghuni pondok pesantren yang Andika ceritakan tanpa ada yang ditambahkan dan tidak ditutup-tutupi semua apa adanya biarlah si kembar yang menilai itu yang Andika pikirkan.


Rencana ini tidak hanya keinginan keluarga kecil Andika saja ternyata papa Rendra dan Azlan juga ingin turut serta, siapa yang akan menolak menikmati pemandangan indah alami ramah penghuni pondok serta kehangatan orang sekitar menambah keinginan siapapun untuk kembali ke tempat penuh pesona itu.


Sesuai kesempatan mobil berjalan beriringan Andika bersama keluarga kecilnya begitupun Rendra, Candy dan Azlan bersama keluarga kecilnya.


Sepanjang jalan si kembar menikmati pemandangan jalan yang dilalui, banyak hal yang di tanyakan keluar dari mulut mungilnya membuat bundanya merasa lelah dan kehabisan kata untuk menjawabnya.


"Sayang istirahat dulu..ya sebab perjalanan masih jauh.." pinta Nasyauqi yang sebenarnya merasa lelah menjawab pertanyaan si kembar.


Andika hanya tersenyum melihat tingkah si kembar juga Nasyauqi, memang benar kedua buah hatinya memang terlampau kritis untuk ukuran anak seusianya ada saja rasa penasaran yang terlontar dari pikirannya yang perlu dijawab secara ilmiah dan masuk akalnya bila belum sesuai dengan harapannya dia akan terus bertanya hingga merasa puas dengan jawaban yang dimintanya.


"Tuh..anak mas..sudah pinter melebihi ayahnya.." seru Nasyauqi dengan muka sebelnya.


"Iya..anak mas bareng sama ruhi.." goda Andika dengan tangannya mengusap tangan Nasyauqi agar sabar menghadapi ulah si kembar yang sudah terlelap dalam mimpinya di kursi belakang.


"Macet ya..mas.." tanya Nasyauqi pada Andika sebab mobil papanya di depan berhenti.


"Kurang tahu..ruhii..tapi ko papa berhenti ya ada apa..?" ucap Andika dengan menghentikan mobilnya berlahan.


Tidak lama Azlan turun dan menghampiri mobil Andika terlihat wajah cemas dari Azlan tapi tidak begitu mengkhawatirkan.


"Mas..ada kecelakaan di depan sepertinya mobil ambulan belum datang baru ada mobil polisi saja.." ujar Azlan menjelaskan.


"Oh..pantas macet.." balas Andika dengan santai.


"Tapi ko papa turun sih dek..?" tanya Nasyauqi penasaran pada Azlan.


"Takut orang yang kita kenal kata papa sebab nomor mobilnya seperti papa kenal..gitu mba.." Azlan menjelaskan pada Nasyauqi.


Tidak lama Rendra melambaikan tangannya seperti berharap Andika dan Azlan mendekat ke arahnya, sepertinya penting sebab Rendra terlihat serius terlihat dari raut wajahnya.


Andika dan Azlan menghampiri Rendra, Nasyauqi tetap didalam mobil bersama si kembar begitupun dengan Candy, Allea dan Mika tetap didalam mobil.


Sungguh bukan pemandangan yang indah yang dilihat ketiga laki-laki gagah itu, ternyata mobil yang mengalami kecelakaan adalah mobil Gladis entah dengan siapa lagi yang jelas ada tiga orang, hanya satu orang yang masih terlihat sadar yang satu sudah tidak bernyawa dan untuk Gladis sendiri masih bernapas tapi Rendra meyakini dia juga dalam keadaan sakratul terlihat dari luka yang dideritanya dan darah yang banyak mengalir dari tubuhnya.


Rendra tidak dapat menolong sebab sudah ada pihak polisi ditempat kejadian, menurut Rendra mereka yang lebih berwenang dalam hal ini.


Tidak lama mobil ambulan datang, satu persatu korban dibawa mobil ambulan dan tanpa diduga Gladis seperti meminta Rendra dan kedua putranya mendekat.


"Maafkan...saya..om.." dengan terbata-bata dan sedikit terdengar Gladis berucap dengan memohon permintaannya di kabulkan.


Belum sempat Rendra membalas ucapan Gladis, terlihat darah keluar dari mulutnya sepertinya Gladis memuntahkan isi perutnya dan seketika itu juga dia menutup matanya.


Seorang perawat ambulan memeriksa kondisi Gladis dan tidak lama perawat menutup muka Gladis yang menandakan dia telah tiada, Rendra dan kedua putranya tertunduk seperti memberikan penghormatan terakhir padanya.


Memang sudah tidak ada kemarahan apa lagi dendam di hati Rendra yang ada hanya kasihan kapada Gladis diusianya yang seharusnya masih memiliki potensi jadi orang lebih baik, disini dia harus keluar dari jalurnya.


Apalagi sekarang kalau tidak salah dengar Rendra mengetahui kabar papinya Gladis baru saja meninggal, bisa jadi Gladis makin jauh keluar dari jalur untuk jadi lebih baik yang jelas semua akan kembali kepada pribadi dan keluarga tolak ukur awal akan di bawa kemana amanah dari tuhan yang telah dititipkan pada kita selaku orang tua.


Sebelum ketiga pria gagah itu meninggalkan tempat kejadian Rendra meminta pada Andika agar mau memaafkan Gladis begitupun Azlan diminta oleh Rendra memaafkan juga mengikhlaskan semua yang telah Gladis lakukan pada Nasyauqi sebab hanya tuhan yang berhak menghakimi seseorang dari perbuatannya apalagi orang tersebut telah berpulang pada pemiliknya.


"Mintakan maaf juga pada istrimu agar mengikhlaskan..biarkan dia berpulang dengan damai.." pinta Rendra pada Andika.


"Iya..pa..nanti akan Andika sampaikan.." dengan melangkah menuju mobil miliknya.

__ADS_1


Begitupun Rendra dan Azlan sudah menaiki mobil dan siap melanjutkan kembali perjalanan untuk menuju pondok.


Andika menyampaikan amanah dari Rendra pada Nasyauqi, bukan marah atau menghakimi dengan cacian tapi rasa bela sungkawa dan prihatin yang Nasyauqi tunjukkan dan tanpa terasa air mata menetes dari sudut matanya.


"Kasihan ya..mas mba Gladis harus seperti itu hidupnya..selamat jalan mba semoga di pertemukan amal kebaikan mba.." ucap lirih dari mulut Nasyauqi.


"Semua akan bermuara pada apa yang kita tanam itulah yang kita tuai..ruhii.." balas Andika ada rasa tenang yang terucap dari bibir Andika.


Memang bukan takut istrinya akan kembali menjadi korban Gladis tapi susah untuk diungkapkan dengan kata-kata bagi orang yang pernah merasakan kehilangan, rasa was-was itu seakan terus menghantui bila tidak ada di dekatnya.


Tapi sekarang ada ruang yang seperti menguap setelah kepergian seseorang itu, bukan berarti mengharapkan orang itu tiada tapi beban itu seperti terlepas bebas begitu saja setelah kepergiannya.


Seiring do'a keluarga besar Rendra mengahantarkan kepergian Gladis sebenarnya dia dalam tahanan kota sebab dia sudah mengaku pernah melakukan kejahatan kepada pihak kepolisian.


Mungkin tuhan punya rencana lain untuknya yang jelas keluarga Farel sudah mengetahui dari pihak kepolisian siapa pelaku kejahatan pada putrinya dan motifnya apa, sedikit banyak orang-orang jadi sedikit memberikan jarak pada Rafiq yang sebenarnya tidak terlibat, karena nama Rafiq turut terbawa.


Rafiq sendiri sepertinya tidak lagi jadi pribadi yang banyak di idolakan dia lebih fokus pada kedinasan saja selebihnya dia masih menikmati kesendiriannya entahlah apa yang membuatnya enggan untuk kembali berumah tangga.


Candy sebagai orang tua dari putri yang pernah di lukainya dia terlihat turut berbela sungkawa, ada rasa prihatin dari hatinya bila mengingat Gladis pada hal dia cantik tidak ada yang kurang darinya hanya salah asuhan dari orang tua yang sibuk dengan urusannya hingga melupakan buah hatinya yang sebenarnya membutuhkan kehadirannya disaat-saat dirinya butuh dukungannya.


Tidak akan habis bila membahas sosok Gladis yang cantik terlahir dari keluarga berada di kelasnya yang terbilang kolongmerat, tapi dikehidupannya dia tidak bahagia dengan kemewahannya yang berarti mewah bukan ukuran orang bahagia atau tidak bahagia.


Tanpa terasa gerbang pondok pesantren nampak jelas di depan mata, abi yang datang menyambut dengan ramah seperti biasanya.


"Assalamualaikum..pak.." ucap Rendra pada pak kyai sebagai besannya.


"Walaikum salam..ayo..masuk..uma ada tamu agung nih.." balas pak kyai dengan memanggil istrinya.


"Aduh..ko ga kasih kabar uma dulu..biar uma lebih siapkan makanan.." seru uma dengan bersalaman pada tamunya.


"Sudah ga usah repot-repot uma..kami sudah bawa apa yang mau kita makan bersama.." ujar Candy masih memeluk uma sebab lama tidak berjumpa.


"Ini..jagoan sini abi do'akan dulu.." Mika digendong abi dan memanjatkan do'a untuk Mika agar jadi anak sholeh dan berguna bagi agama bangsa dan keluarga serta bermanfaat orang banyak.


"Eyang kakung..mas..ko ga dido'ain.." seru Arshaka pada abi Andika.


"Oh..iya eyang lupa sini.." abi memangku Arshaka dan membacakan do'a untuknya, semua tertawa mendengar ucapan Arshaka yang seperti tidak mau ketinggalan.


Begitupun Aisyah yang malu bertemu ruangnya tapi berangsur-angsur mau mendekat dan mau duduk di dekatnya.


Suasana sangat hangat anak-anak santri menikmati makanan yang Nasyauqi bawakan khusus dari toko kuenya mereka begitu menikmatinya.


Tidak kalah heboh si kembar jadi pusat perhatian yang menurut mereka sangat cakep dan cantik sampai-sampai mereka tidak percaya kalau ada sepasang anak kembar.


"Iki bening men..yo warna kulite.." ujar salah satu santri yang membuat Andika tersenyum.


"Mas..sabune opo..to..mas ben iso..resik kaya gono.." tanya yang lain pada Andika yang hanya bisa tersenyum.


Andika memaklumi semua tingkah anak santri yang sederhana dengan kepolosan mereka begitupun Nasyauqi hanya tertawa kecil melihat dan mendengar ucapan polos mereka.


Si kembar berlarian kesana kemari mengejar ayam, kambing juga naik sapi yang Andika mandikan di sungai kecil tidak jauh dari pondok, sungai yang terlihat bening airnya terlihat ikan kecil yang membuat Aisyah berteriak gembira.


"Ayah..itu ada ikan..tangkap ayah.." pintanya pada Andika dengan berteriak senang.


"Suka disini.." tanya Andika pada kedua buah hatinya.


"Suka..kita lama ya..yah..di sini.." ucap Aisyah dengan kakinya bermain air.


"Ayah ga bisa sayang ayah harus tugas.." balas Andika terlihat wajah kecewa dari Aisyah.

__ADS_1


"Ya..ayah.." seru Arshaka juga kecewa.


"Lain kali kita kesini lagi ok.." ucap Andika tidak ingin buah hatinya kecewa.


"Ye..janji ya..yah.." keduanya bersamaan berucap dengan muka senang.


"Ya..ayah janji.." Andika sangat senang buah hatinya merasa betah ditempat dimana dirinya dibesarkan.


Mungkin ini hal yang langkah buat si kembar udara yang segar, orang-orang yang bertegur sapa ramah, anak-anak santri yang hilir mudik membawa kitab dan ramah menyapa keduanya begitu juga suara lantunan ayat al-qur'an terdengar dari masjid besar yang tidak jauh dari rumah eyangnya.


Disini terasa kebersamaan dari orang-orang yang mengenal eyang juga ayahnya yang saling menyapa menanyakan kabarnya.


Yang jelas disini berbeda buat si kembar, lepas sholat magrib Arshaka masih ikut Andika juga Azlan yanng membantu mengajar anak-anak santri belajar di masjid, Aisyah sendiri sudah mulai mengantuk karena lelah dalam perjalanan dan bermain bersama anak santri juga ayahnya yang mengajaknya mengenal lingkungan pondok pesantren dan apa saja yang ada di lingkungan pesantren.


Selepas isya Andika masih mengajar anak-anak santri hanya Azlan yang pulang lebih dulu, Andika tahu pasti Azlan membantu Allea sebab kondisi Allea belum pulih betul rasanya tidak enak bila merepotkan Candy terus pikir Azlan selama dirinya ada kenapa bukan dirinya saja pikirnya.


Mampir jam sebelas Andika baru pulang ke rumah dengan menggendong Arshaka yang sudah terlelap dalam tidurnya yang membuat abinya sedikit proses pada Andika.


"Kenapa ga biarkan yang lain saja mengantikan mu mas..kasihan Arsha..jadi tidur di masjid.." seru abi dengan mengusap kepala Arshaka yang masih dalam gendongan Andika.


Dalam kamar Nasyauqi yang sedang merapikan posisi tidur Aisyah yang terlihat pulas.


"Waduh..jagoan ayah..sampai pulas.." seru Nasyauqi pada putranya.


"Gimana ga pulas..lari-lagian terus di masjid tidak bisa diam.." balas Andika menidurkan putranya disamping Aisyah.


Andika memandang Nasyauqi sangat dalam yang membuat Nasyauqi malu dan mengusap muka Andika agar menyudahi memandangnya.


"Apaan..sih..jangan mikir macem-macem..kita tidur bersama anak-anak..mas.." ucap Nasyauqi pelan.


"Ih..siapa juga yang mau itu..tapi kalau dikasih ga nolak sih.." goda Andika yang membuat Nasyauqi memukul lengan Andika pelan.


Suara dari uma menghentikan gurauan keduanya, dan membukakan pintu untuk uma masuk ke kamarnya.


"Mas..pindah saja..kamar depan biar kasurnya lebih besar kasihan kalian harus tidur disini.." Andika hanya minta persetujuan Nasyauqi dengan memandangnya.


"Gimana ruhii.." pinta Andika pada Nasyauqi.


"Iya..uma nanti bila dirasa harus pindah kita akan gunakan kamar depan uma..terimakasih uma sudah merepotkan.." balas Nasyauqi siapkan pada uma Andika.


"Kenapa harus sungkan ini rumahmu ndok.." balas uma dengan meninggalkan kamar Andika.


"Gimana.." tanya Andika dengan serius tapi ini membuat Nasyauqi bingung gimana apanya apa pertanyaan uma perihal kamar apa yang Andika bahas sebelum uma datang.


"Gimana apanya.." Nasyauqi dengan polosnya membalikkan pertanyaan Andika.


"Jangan mengalihkan persoalan..yang tadi.." goda Andika memang udara disini mendukung orang ingin tidur bersama karena dingin walaupun tanpa pendingin udara.


"Oh..kamar yang uma bilang..ya sudah kalau menurut mas harus pindah.." Nasyauqi dengan pandainya dia membalas godaan Andika sebenarnya keduanya tahu ini hanya godaan dari pasangannya untuk mencairkan suasana saja.


"Masa..sih ga paham.." goda Andika lagi dengan menyentuh ujung hidung Nasyauqi yang mancung.


"Mas..ga usah macem-macem apa..ih.." rengek Nasyauqi yang membuat Andika tertawa dan memeluknya dari belakang.


"Maafin mas..ga ko mas hanya bersyukur masih bisa bersama dengan ruhii..setelah kejadian itu.." ucap Andika yang masih memeluk Nasyauqi dengan hangat di malam dingin ini.


Nasyauqi hanya bisa terdiam dalam pelukan Andika, bila mengingat itu Nasyauqi seakan tidak percaya dirinya bisa kembali di satukan dengan sosok yang sabar dan sangat sayang padanya serta rasa pengertian dan pedulinya itu yang Nasyauqi kagumi dari Andika yang tidak seperti lelaki lain yang selama ini menyukainya tapi dia memiliki pesona yang tidak dimiliki lelaki lainnya yang menyukainya.


Andika pun sama mengagumi sosok putri sultan yang apa adanya lebih cenderung sederhana berbeda dengan wanita lainnya, yang lebih memilih penampilan dari pada kebaikan hatinya dan akhlaknya.

__ADS_1


Susah untuk keduanya yang selalu saja saling mengagumi bakalan tidak akan habis waktu untuk ucapan pujian dari keduanya yang saling memuji kebaikan yang tidak pernah di buat-buat serba apa adanya dan tidak ada tekanan dari siapapun, memang susah keduanya di pisahkan sudah seperti cauple kedua selain Rendra dan Candy.


__ADS_2