Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
176


__ADS_3

..."Setiap orang mengalami proses yang berbeda-beda begitu juga dengan ku, karena Allah tahu itu kemampuan ku bertahan maka selalu bersyukur adalah jalan terbaik buat ku" Candy...


Bersyukur adalah kata yang tepat untuk seorang Indra saat ini sebab apa yang kurang darinya istri sholeha dia punya anak yang lucu serta sehat baru saja di miliki, karir didunia medis baru saja dia rintis di tambah keluarga besar yang selalu mendukungnya dalam hal apapun.


Hari ini hari yang tepat bagi Indra untuk berbagi kebahagian itu bukan hanya dengan keluarga besarnya saja tapi juga dengan kaum duafa juga anak panti dan tetangga terdekat juga handai tolan serta kawan karibnya.


Hari ini dia ingin syukuran atas kelahiran putranya yang akan di beri nama Akhtar Narendra Bagaskara (Lelaki terpilih berjiwa kuat, bijaksana bersinar laksana matahari), Indra beserta Nisrina berharap putranya kelak menjadi anak yang sesuai dengan namanya.


Beberapa keluarga besarnya yang jauh sudah hadir tapi keluarga besar yang inti sudah beberapa hari disibukkan dengan persiapan acara ini seperti biasa pihak WO milik Rendra yang menyiapkan semua persiapan ini baik dari dekorasi, katering yang menu utamanya pastinya dengan kambing di acara aqikah ini, tapi ada menu lain buat yang tidak ingin menikmati kambing yang pihak WO siapkan.



Acara dibagi dua sesi untuk acara inti berlangsung dari pagi di khususkan untuk pengajian di hadiri oleh pengajian ibu-ibu, anak yatim juga duafa agar lebih nyaman buat keluarga juga putra pertama Indra.


Untuk siang menjelang sore bebas dalam artian siapa saja baik kolega, keluarga jauh, tetangga maupun kawan yang jelas orang yang mengenal kedua keluarga besar Indra dan Nisrina.


Seperti biasa Ainun datang terlambat sebab dia harus jaga dulu hingga pergantian jaga baru dia bisa datang ke tempat acara, Ainun hanya kebagian acara jelang sore hari menurut keluarga dia datang itu sudah suatu anugrah sebab dia benar-benar sibuk dan tidak ingin sampai menunda KOAS apalagi harus bareng adik kelas tidak protesnya.


Setelah bercengkrama dengan keluarga besarnya Ainun memilih untuk duduk di dekat Nisrina yang menggendong Akhtar, dia mengusap lembut tangan kecil Akhtar begitu juga dengan jari-jarinya sesekali memberikan senyum menggoda Akhtar.


"Dek..kamu kenal ga tuh..sama yang baju batik..itu..sebab dia dari tadi melihat kesini terus seperti melihat kamu..dek.." seru Nisrina setengah berbisik pada Ainun.


"Mana..ada yang kenal..sama aku mba..memang ini acaranya siapa..mas sama mba ga mungkin lah.." jawab Ainun yang terlihat manis mengunakan gamis hijau toska bunga-bunga kecil dengan hijab polos berwarna sama dengan gamisnya.


Ainun masih sibuk menggoda Akhtar yang menurut lebih menarik dari pada tamu yang datang, sepertinya acara ini menurut Ainun membosankan tapi kehadirannya disini untuk melengkapi kebahagian mas Indra dan mba Nisrina yang bukan sekedar saudara tapi sudah seperti kakak buat Ainun.


"Dek..itu orangnya ke sini.." seru Nisrina pada Ainun yang langsung pandangannya ke depan.


Ternyata ada dua sosok yang dia kenal tapi posisinya berbaris ke belakang, Ainun lebih memilih yang baris belakang yang dia sapanya.


"Hai..kak.." sedikit berteriak Ainun menyapanya sebab terhalang seseorang.


Yang lucunya yang barisan paling depan merasa disapa Ainun mengangkat tangannya balas menyapa tapi apa yang didapat Ainun menghampiri orang dibelakang yang langsung terlihat akrab keduanya.


"Hai..Ai..libur.." balasnya ramah seperti biasanya.


"Ga..baru pulang jaga..kok..kakak ada disini..?" tanya Ainun yang sepertinya tidak percaya.


Rafiq yang kebetulan tadi sosok yang paling depan masih berdiri diantara keduanya, Andika yang terkenal ramah langsung memperkenalkannya pada Ainun, padahal keduanya sudah kenal itupun Ifat yang memaksanya.


"Oh..iya..Ai..ini..kenalkan...teman kuliah kakak.." ucap Andika sopan pada keduanya.


Rafiq dan Indra teman kuliah, Indra dan Andika lulus lebih cepat dan langsung masuk AKMIL sedangkan Indra langsung ke amerika mengambil jenjang pendidikan lanjutannya, baru Rafiq mengusik masuk AKMIL, secara pangkat kedinasan Andika diatas Rafiq.

__ADS_1


"Rafiq.." ucap Rafiq tersenyum ramah diperlihatkan sebaris giginya.


"Ainun.." Ainun tidak memperkenalkan nama lengkapnya dengan menundukkan pandangan.


Indra datang dan langsung merangkul adik kecilnya yang sekarang sudah gede cantik lagi, dengan candaan khas Indra seperti biasa.


"Hai..sudah menikmati makanan..maaf ala..kadarnya.." ujar Indra seperti biasa dengan gaya khas Indra.


"Oh..ya..terimakasih sudah menyempatkan hadir..maaf aku..lupa kenalkan..ini ade..cantik saya.." ucap Indra serius.


"Sudah..kenal.." ketiganya kompak bersamaan yang membuat Indra tertawa.


"Boleh..naksir tapi ada syaratnya..bersaing secara sehat..dan penentunya sudah jelas..masnya lah.." ujar Indra seperti biasa menggoda Ainun.


"Mas..Ai..bukan barang..Ai..punya hati..hu.." Ainun meninggalkan ketiganya yang masih tersenyum melihat Ainun ngambek di goda Indra.


Ainun kembali duduk bersama dengan Nisrina, Akhtar yang tertidur di pangkuan terlihat damai membuat Ainun gemas menciumnya berulangkali.


Rafiq menghampiri Ainun yang masih di dekat Nisrina, entah apa tujuannya yang jelas Ainun terlihat tidak nyaman.


"Maaf..boleh saya duduk disini.." tanya Rafiq sopan pada keduanya.


"Ya..ya..silahkan " jawab Nisrina sopan berhubungan dia teman suaminya.


"Alhamdulillah..." jawab Nisrina lagi dengan mengusap Akhtar lembut.


"Sudah beberapa bulan..mba.." tanya Rafiq lagi yang membuat Ainun bosan.


Sebelum Nisrina menjawab Ainun lebih dulu berpamitan pada Nisrina dengan alasan ingin kebelakang.


"Mba..Ai..kebelakang dulu ya..ga kuat..nahan.., maaf.." ucap Ainun sekalian berpamitan pada Rafiq dengan pura-pura ramah tersenyum.


"Hai..dek..mba..gimana nih.." Nisrina juga pura-pura kerepotan memegang Akhtar.


"Maaf..ya..mas..saya tinggal dulu.." dengan sopan Nisrina berpamitan menyusul Ainun.


Di ruang berbeda tepatnya didalam ruangan keluarga Nisrina dan Ainun berbincang sebab Nisrina sepertinya tahu Ainun tidak nyaman dengan kehadiran Rafiq.


"Kenapa sih..mba di tinggalkan.." rengek Nisrina pada Ainun yang duduk di kursi ruang keluarga.


"Malas..aja..apa juga perlunya tanya-tanya seputar anak ga jelas.." Ainun ngedumel seorang diri.


"Apalagi mba..kalau sendiri apa..nanti mas Indra ga sedikit cemberut kirain ada apalagi kenal juga ga.." balas Nisrina dengan memandang Ainun dan keduanya kompak tertawa yang maksudnya "kasihan..deh..dicuekin" dalam batin keduanya masih dengan tawa tanpa bicara.

__ADS_1


Keduanya kompak untuk urusan selera apa pun, hingga satu sama lain tidak bisa dipisahkan walaupun tidak harus diucapkan tapi seperti tahu apa yang keduanya rasakan.


"Mba..sini Ai..gendong..cape ya.." pinta Ainun yang melihat Nisrina seperti lelah.


"Terimakasih..kamu memang ade paling pengertian.." Nisrina memberikan Akurat untuk digendong Ainun.


Ainun memilih taman yang sore ini terlihat rindang semilir angin sore terasa nyaman untuknya yang menggendong Akhtar, sapaan seseorang membuat dirinya terkejut.


"Sudah pantas jadi uma..tuh.." seru Andika yang menghampiri Ainun.


"Akan tiba..saatnya.." jawab Ainun dengan menggoda Akhtar.


"Kapan..kakak..secepatnya membawa abi sama uma ke rumah.." ucap Andika dengan berdiri di belakang Ainun.


"Kakak..Ai..mau..selesaiin kuliah dulu.." suara Ainun terdengar seperti manja di telinga Andika.


"Kelamaan..nanti direbut orang lagi.." goda Andika dengan menggoda Akhtar.


"Main..rebut-rebut aja..emang Ai..apaan tenang aja..jodoh..mah ga kemana kak.." Ainun menyakinkan Andika.


"Kalau di jodohin..gimana.." Andika bertanya pada Ainun.


"Kakak..kali yang mau di jodohin.." Ainun balik tanya pada Andika.


"Dulu..ya..sebelum ketemu seseorang.. terus kakak bilang sama abi kalau kakak sudah punya seseorang yang ada di hati..tapi jauh mata.." Andika menyentuh ujung hidung Ainun.


"Tuh..kan bukan..Ai..yang di jodohkan.." ujar Ainun malu dan pura-pura mencium Akhtar.


"Dek..enak banget..di cium..bidadari surga.." goda Andika lagi yang membuat Ainun makin malu.


"Apaan sih..kak.." balas Aini yang ga mau dipandang Andika.


"Dek..anteng..banget..sih.. padahal anginnya dingin tapi dia ga rewel ya..Ai.." tanya Andika pada Ainun.


"Memang..Akhtar anaknya anteng..kak.." balas Ainun menjelaskan.


"Jangan-jangan dekapan Ai..menghangatkan Akhtar maka dia anteng.." ucap Andika dengan santai.


Ainun memilih tidak menjawab sebab tahu Andika suka sekali membuatnya senang dengan cara apapun dan di kesempatan apapun selama bisa dia akan lakukan.


Dan ada dua pasang mata yang melihat penuh tanya pada hatinya dan salah satunya Rendra yang bertanya dalam diamnya " bersama siapa Ai..berbincang..mungkin itu famili yang dari papa yng belum ketemu aku.. biar lah lagian cuma berbincang" gumamnya dalam hati Rendra yang saat ini ikut menerima tamu kolega dari papanya.


Dan sepasang mata lagi Rafiq yang sedikit cemburu melihat kedekatan keduanya seperti sudah sangat akrab pikirnya hampir seperti melihat Ainun dan Ifat kalah itu tapi ini lain dia Andika teman semasa kuliahnya dulu bersama Indra, sedikit banyak dia sudah kalah langka dengan Andika itu yang sekarang dia rasakan.

__ADS_1


__ADS_2