Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
223


__ADS_3

..."Tuhan memberikan cinta dengan cara yang sederhana, tapi kenapa kita mempersulit cinta itu dengan memaksakan diri untuk datang diwaktu yang tidak tepat dan dengan orang yang tidak tepat" Rendra....


Suasana villa yang sejuk membuat Allea betah hingga tidak terucap dari bibirnya untuk meminta kembali pada Azlan ke rumah dinasnya, seperti malam ini langit penuh dengan bintang begitupun dengan cahaya bulan yang cukup terang sebab bulan dalam bentuk purnama.


"Maaf..bulan cantik kamu kalah ya..dengan gadis..di samping ku.." seru Azlan pada bulan yang membuat Allea protes.


"Mana..gadis.." tanya Allea pada Azlan yang punya penjelasan.


"Ini..masih gadis kan.." Azlan menunjuk Allea dan memang dirinya masih gadis dalam status sudah bersuami.


"Ko..bisa.." tanya balik Allea pada Azlan yang siap menjawab pertanyaan Allea.


"Memang sudah diapain sama mas..baru di cium dan di peluk benarkan.." seru Azlan yang sebenarnya hanya ingin menggoda.


"Ih..mas..terus diapain..lagi memangnya.." Allea memukul manja dada Azlan.


"Ha...ha..mau tahu aja.." dengan tawanya Azlan menggoda Allea yang sembunyi di dada Azlan dengan malu.


"Kenapa..qalbii..." seru Azlan yang tertawa makin menggoda.


Allea tidak mau menunjukkan mukanya yang memerah karena malu dipandang Azlan, tawa Azlan berhenti dan tidak lama Allea kembali duduk seperti semula hanya lebih diam hanya Azlan yang masih senyum-senyum sendiri.


Angin malam makin terasa menusuk kulit, Azlan meminta Allea masuk tapi rasanya belum terlalu malam bila keduanya tidur.


Azlan bercerita tentang banyak hal, tapi dari cerita yang Azlan ceritakan tidak ada yang menceritakan sosok gadis manapun, sehingga membuat Allea penasaran dan bertanya pada Azlan.


Azlan menjelaskan hanya satu gadis yang pernah hadir di dalam hidupnya itupun dalam mimpinya yang membuat Allea terlihat ada rasa cemburu sebab terlihat Azlan sangat mencintai gadis itu, dari caranya menceritakan gadis itu yang sepertinya meninggalkan kesan mendalam serta dari sinar matanya yang terlihat mengagumi gadis itu.


"Cantik..mas.." tanya Allea penasaran pada Azlan.


"Pastinya..mana ada gadis tampan.." balas Azlan santai tapi membuat Allea mencubit Azlan tepat di pipinya.


"Ih..serius.." rengek Allea pada Azlan yang sepertinya tahu Allea cemburu.


"Ih..qalbii cantik..puas.." Azlan menatap bola mata Allea yang sepertinya dia marah pada dirinya sendiri karena sudah membiarkan Azlan yang baik hanya mendapatkan balasan cinta bertepuk sebelah tangan darinya.


"Mau tahu..kelanjutannya ceritanya.." tanya Azlan yang sebenarnya berniat baik tapi belum juga Azlan melanjutkan ceritanya Allea sudah menangis di dada Azlan.


"Mas..jahat.." ujarnya dengan terisak.


"Ko jahat.." seru Azlan yang tahu Allea cemburu.


"Masih menyimpan rasakan sama gadis itu.." dalam isaknya Allea masih bisa berkata.


"Masih..lah..kalau ga mana mungkin mas mau menikahinya.." Azlan memperjelaskan siapa gadis itu sebenarnya.

__ADS_1


Allea tersadar ternyata Azlan menceritakan kisah cintanya dengan dirinya, bukan dengan gadis manapun dan Azlan kembali menceritakannya dari awal hingga saat ini.


"Ih...mas jahat..jahat..sama Al.." dengan memukul tangan Azlan dan saat itu Azlan memegang tangan Allea untuk berhenti memukulnya mata keduanya bertemu dengan sadar keduanya melakukan ciuman yang saling membalas hingga melampaui batas tapi Azlan masih sadar untuk meminta Allea berwudhu dia takut keduanya melakukannya diluar batas lebih dalam hubungan suami istri dalam keadaan tidak berwudhu.


Azlan tidak mau gegabah dalam hal ini dia harus bertanya terlebih dulu sebab tidak ada yang tidak mungkin dalam hubungan pasti ada pembuahan apakah Allea sudah siap.


"Bener nih..sudah siap..nanti hamil..loh.." Azlan kali ini serius berkata.


Allea mengangguk tanda setuju akan akibat dari perbuatan keduanya, Azlan bukan ragu tapi masih menjaga perasaan Allea agar nyaman terlebih dahulu berada di dekatnya.


Ada kata yang tidak dapat di ucapkan oleh keduanya yang jelas Azlan hanya bisa berucap " terimakasih..qalbii.." dengan berbisik di telinga Allea yang sudah membersihkan diri tertidur dalam balutan selimut tebal di malam dingin ini, Azlan menghadiahkan ciuman di kepala Allea yang tidak tertutup selimut dengan rambut tergerai sedikit basah.


Rutinitas Azlan disepertiga malamnya saat ini dia dalam do'a khusyunya berharap di berikan hal-hal yang baik dalam kehidupannya, terdengar adzar subuh berkumandang dari masjid yang cukup jauh dari villa milik kakeknya.


"Qalbii..ayo..sudah subuh.." ucap lembut Azlan yang melihat Allea sepertinya terlalu lelah.


"Iya..mas..aduh.." rintih Allea merasakan tubuhnya yang sepertinya remuk.


"Kenapa.." tanya Azlan yang tahu penyebabnya.


"Ga..tahu ko Al..merasa letih banget ya.." balasan Azlan hanya tersenyum dan mengusap kepalanya yang tidak tertutup hijab saat ini.


"Nanti juga terbiasa.." ujar Azlan yang membuat Allea menutup mulutnya mengerti penyebabnya karena itu.


"Biar Al..sendiri.." ujar Allea dengan sedikit pelan melangkah.


"Aduh.." ucapnya pelan seperti menahan sakit.


"Biar mas bantu..ya.." pinta Azlan memegang tangan Allea.


"Biar mas Al..sendiri.." Allea menunduk meninggalkan Azlan dengan malu.


"Kenapa juga harus malu..qalbii..udah tahu juga dan dirasakan juga.." gumam Azlan berdiri di depan pintu kamar mandi.


Allea dengar semua ucapan Azlan dengan memperhatikan bagian tubuhnya dia menutup matanya ternyata Azlan sudah melihat semua bagian dari tubuhnya, semakin malu Allea dan berteriak di kamar mati.


"Ih...kenapa sih..." teriaknya yang membuat Azlan membuka pintu kamar mandi.


"Auuw.." Allea meraih handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Maaf..ada apa qalbii.." dengan polosnya Azlan bertanya pada Allea.


"Ada..mas..kenapa masuk.." omel Allea yang hanya balasan senyum dari Azlan yang merasa tidak berdosa, yang kembali keluar dari kamar mandi merasa menang banyak.


Tidak lama Allea yang sudah bersiap sholat subuh masih dengan rasa malu memandang Azlan, tapi tidak dengan Azlan yang makin ingin menggodanya.

__ADS_1


Selepas sholat subuh berjamaah keduanya berjalan kaki menikmati daerah villa yang masih bersuara sejuk, sapaan ramah dari penduduk asli yang akan menuju kebun yang tidak jauh dari rumahnya.


"Betah disini...qalbii.." tanya Azlan pada Allea.


"Betah cuma..dingin bikin males keluar kamar.." Allea menjelaskan yang sebenarnya.


"Enak..dong tidur..terus.." balas Azlan yang menggandeng tangan Allea.


"Ga..lah cape..tidur terus.." ujar Allea dengan memberikan senyum ramah pada orang yang lewat menyapa keduanya.


"Orang tidur..emang kerja.." jawab Azlan dengan langkah pelan mengikuti langkah Allea.


"Ya..jelas..cape kalau tidur..terus.." Allea dengan argumennya.


Tanpa terasa langkah kaki keduanya sudah sampai di depan gerbang besar villa milik kakeknya.


Sarapan pagi yang keduanya lakukan saat ini bersama asisten villa yang sudah tidak malu lagi berbeda dengan waktu awal-awal mereka masih enggan makan bersama dengan alasan tidak pantas.


Hawa sejuk yang membuat bunga-bunga tumbuh subur di villa ini, yang terawat dengan baik juga oleh asisten villa kepercayaan nenek kakek Azlan.


"Tenang..qalbii jangan syirik sama..wangi bunga..tetap harum..qalbii ko.." goda Azlan pada Allea yang mencium salah salah satu bunga yang mekar.


"Ih..siapa juga yang mau disamai sama bunga.." protes Allea pada Azlan yang mendekat ke arahnya.


"Apa..bedanya..bunga sama qalbii.." goda usil Azlan pada Allea.


"Ga..tahu.." jawab Allea singkat pada Azlan.


"Kalau bunga di petik..kalau qalbii..di cubit.."Azlan mencubit hidung Allea lembut yang membuat Allea mengejar Azlan lari terlebih dulu.


"Ih..mas..jail..deh awas..ya.." teriak Allea yang mengejar Azlan yang tanpa keduanya tahu asisten villa ikut tersenyum melihat tingkah keduanya yang romantis.


Karena cape keduanya berbaring bersama di hamparan rumput yang cukup luas tapi terawat rapi, dengan tangan saling menggenggam.


Rasa nyaman yang keduanya rasakan saat ini, setelah sekian lama keduanya terpisah jauh itu rencana tuhan yang terbaik untuk mencairkan gunung es yang ada di hati Allea.


Ternyata panas mentari tidak selamanya membuat kita kepanasan, dibalik panasnya yang terik itu terdapat sejuta manfaat bagi manusia salah satunya mencairkan gunung es di hati Allea maaf salah ya..


Kehangatan sikap Azlan yang mencairkan gunung es yang ada di hati Allea yang terluka karena terlalu dalam, walaupun Azlan hadir bukan di waktu yang tepat tapi kesabaran serta keyakinan yang kuat yang membuat Allea menyadarinya ada seseorang yang pergi menyakitinya hingga terluka dalam tapi tuhan juga mengirimkan seseorang yang lain datang menjadi penyembuh luka itu.


Ternyata buah kesabaran Azlan tidak sia-sia, terbukti Allea makin membuka hatinya untuk seorang Azlan yang terlihat sangat tegas tapi tidak dengan orang terkasihnya dia bisa menangis bahkan bisa berucap lembut untuk membuat nyaman orang terdekatnya agar selalu berada di dekatnya.


Bukan berarti mengalahnya seorang lelaki di depan pasangannya dianggap lelaki takut istri tapi berharap tidak ada perdebatan yang tidak bermutu di keduanya hanya ingin ada cerita indah di perjalan hidupnya dengan orang teristimewa bukan kerasanya hati yang akan membuat bahtera rumah tangganya hancur hanya karena riak kecil yang seharusnya diangggap tidak harus ada.


Sesuai ajaran tuhan yang diyakininya perlakukan pasanganmu dengan lemah lembut maka akan ada balasan lemah lembut darinya untukmu, karena pasanganmu bukan berdiri di belakang lelaki hebat tapi berdiri sejajar dan bersama melangkah yang berarti tidak ada yang lebih dominan dalam rumah tangga tapi masing-masing memegang tanggungjawabnya tanpa saling mencampurî tapi saling membantu melengkapi kekosongan itu.

__ADS_1


__ADS_2