Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
138


__ADS_3

"Jadilah sangat sibuk mengembangkan dirimu sendiri sehingga kamu tidak punya waktu untuk mengkritik hidup orang lain" Rendra.


Selepas sholat subuh berjamaah keluarga kecil Rendra berjalan-jalan mengitari lingkungan pondok pesantren, hawa sejuk udara pagi masih terasa segar buat mereka yang biasa menghirup polusi udara tanpa disadari oleh mereka.


Sapaan hangat dan sopan dari santri yang kebetulan berpapasan yang akan menjalani kegiatan rutin pagi hari.


"Segarnya..udara..disini.." ucap Ainun kepada semuanya.


"Iya..segar..banget.." tambah Candy dengan merentangkan tangannya.


Rendra yang melihat tingkah kedua bidadarinya hanya tersenyum, maklum saja udara yang keduanya nikmati memang berbeda, maklum saja disini tidak ada polusi dan banyak tumbuh pepohonan yang menjadi sumber oksigen.


Waktu bergulir seperti sangat cepat hingga tiba makan pagi, keluarga Rendra bersama pak kyai juga istrinya yang sudah menyiapkan menu yang cukup sederhana tapi bukan masalah bagi keluarga kecil Rendra beserta ajudan dan sopir mama Rendra.


Selepas makan pagi Ainun dan Candy membantu merapikan beberapa piring juga sisa piring yang berisikan makanan sehingga membuat nyai panggilan untuk istri pak kyai tidak enak hati.


"Sudah biar..nanti santri yang membantu merapikan" ucap nyai dengan tangan melarang keduanya merapikan isi meja.


"Ga..apa-apa nyai.." balas Candy dengan tersenyum ramah.


Ainun yang mencuci piring di dapur, Candy sendiri merapikan meja makan beserta kursinya.


Nyai yang melihat Ainun begitu cekatan, dibuat terkesima sebab anak gadis dijaman seperti ini sudah termasuk jarang yang mau sibuk di dapur apa lagi Ainun anak seorang yang memiliki karir yang cukup disegani, tapi tidak menurut Ainun sudah terbiasa melakukan kegiatan ini, hingga nyai menggodanya.


"Sudah..cantik pandai lagi berbenah..mau jadi menantu..nyai.." ucap nyai dengan tersenyum tapi terdengar oleh Ainun dan Candy yang sedikit terkejut.


Dalam benak Candy bukannya nyai dan pak kyai tidak memiliki anak yang ia dengar dari Rendra, tapi saat ini yang ia dengar sedikit aneh atau ia salah dengar.


Yang membuat Ainun aneh lagi kenapa mulut dan hatinya seakan satu frekwensi bukan untuk ingin menyenangkan tapi seperti yakin saja bahwa ucapan nyai itu terbaik untuk dirinya yang baru mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Atas saat ini.


"Kalau..itu yang terbaik buat Ai..nyai" ucap Ainun sopan dengan memberikan senyum manisnya membuktikan dia yakin dengan pilihan nyai.


"Ainun..harus lihat dulu..anak nyai baru setuju.." ujar nyai seperti ingin Ainun yakin ini terbaik buatnya.

__ADS_1


"Pilihan..nyai pasti terbaik..buat Ai.." ucap Ainun lagi tidak ada perdebatan.


Nyai sangat senang mendengar tiap jawaban dari mulut Ainun yang sopan yang menurutnya sudah cantik, menghormati orang tua, pintar, pandai mengurus rumah lagi apalagi ini sudah lebih dari sempurna menurutnya, sholeha banget dimata nyai yang baru pertama bertemu dengannya.


Nyai seperti yakin Rendra dan Candy sudah pendidikannya dengan sangat baik dari segi agama maupun ilmu pengetahuan juga intelektual hingga membentuk pribadi yang baik untuk anak gadis seumuran Ainun yang masih labil.


Sedikit berbeda dengan Candy yang takut dengan jawaban Ainun yang disampaikan ke nyai sebab ini terlalu dini menurut Candy yang sudah orang dewasa yang penuh pertimbangan baik dan buruknya.


Nyai seperti tahu ketakutan yang Candy maklum saja Ainun anak gadis yang baru abg yang umumnya baru mengenal cinta monyet harus dihadapkan dengan pilihan perjodohan yang bukan lagi jamannya.


"Tenang..aku ga mengharuskan Ainun menyetujui keinginanku.." ucap nyai yang umurnya hampir seumuran dengan mas Iqbal.


"Ga..aku takut saja..Ainun..mengecewakan mba.." ucap Candy beralasan yang sudah akrab dengan nyai yang memintanya memanggil dirinya mba.


"Aku..tahu..inshaallah..anak gadismu akan jadi pribadi yang baik..dimata orang banyak.." Nyai seperti meyakinkan Candy yang tertunduk.


Waktu bergulir begitu cepat hingga harus ada perpisahan keluarga kecil Rendra dengan pak kyai yang membuat Azlan sedikit protes ke Rendra yang masih ingin berlama-lama ditempat yang baru baginya.


"Ade..masih mau disini?" tanya Rendra dengan mengusap kepala dengan rasa sayang.


"Iya..tapi sama papa..mama juga.." ujar Azlan dengan manja yang membuat Ainun ingin menggodanya.


"Bilang aja..de..ga mau ditinggal gitu aja susah.." Ainun yang menggoda bersembunyi di balik tubuh gagah papanya.


"Iya..tapi bener..ade betah disini.." seru Azlan yang tumben tidak ingin membalas godaan Ainun.


"Ya..sudah lain waktu kita kemari lagi..ok..sayang.." ucap Rendra menyenangkan Azlan yang sekarang sudah tersenyum senang.


Saat akan berpamitan beberapa santri membawakan hasil kebun sebagai oleh-oleh kampung walaupun sekedarnya yang membuat Rendra sedikit terkejut dan merasa terbebani.


"Pak kyai..ini jadi merepotkan..saya pribadi hanya ingin bersilaturahmi.." ucap Rendra sopan dengan senyum tidak hilang dari bibirnya.


"Tidak merepotkan kebetulan lagi panen..tapi ini hanya oleh-oleh kampung.." balas pak kyai dengan menjelaskan.

__ADS_1


"Terimakasih..saya terima ini..maaf sudah banyak merepotkan.." ucap Rendra lagi dengan memeluk pak kyai untuk berpamitan.


"Jangan bosan..datanglah..kembali pintu pondok selalu terbuka.." ujar pak kyai dengan menepuk tangan Rendra.


Begitu juga dengan Candy berpamitan kepada pak kyai juga nyai yang tidak kalah memeluk dengan hangat Candy yang senang mendapat kunjungan dari Candy yang jadi teman ngobrolnya selama Candy ada dipondoknya.


"Sering-seringlah kemari..aku senang..kalian mau mampir ke pondok kami yang jauh ini.." nyai seperti meminta, Candy sendiri hanya tersenyum dan mengangukan kepalanya seperti menyetujuinya.


Kedua buah hati Rendra tidak lupa juga bersalaman untuk berpamitan ke pak kyai juga nyai dan pelukan hangat untuk keduanya dari pak kyai untuk Azlan dan Ainun sendiri dipeluk cium oleh nyai yang sepertinya nyaman dengan keberadaan dirinya selama disini.


Keluarga kecil Rendra sudah menikmati perjalanan pulang, Azlan yang meminta duduk dibelakang sudah tertidur pulas hanya Ainun yang masih membaca buku yang cukup serius hingga tidak memperdulikan kedua orang tuanya yang duduk didepan saling bercerita yang sesekali tertawa kecil mungkin ada yang lucu yang keduanya omongin.


Candy sedikit banyak sudah bicara tentang apa yang diucapkan nyai tentang keinginannya menjodohkan Ainun dengan anaknya menurutnya yang masih belum dikenal baik oleh Rendra maupun Ainun sendiri.


"Gimana..mas..menurut mas.." tanya Candy dengan menyuapi suaminya makanan kecil.


Rendra terdiam beberapa saat sebab mulutnya mengunyah makanan, dengan sedikit tarikan napas mengingat anak gadisnya masih bau kencur belum tahu banyak bagaimana nanti berumah tangga itu.


"Mas..akan cari tahu banyak siapa yang disebut anak terlebih dahulu oleh nyai..selebihnya Honey..siapkan mba untuk jadi pribadi yang pantas untuk seseorang itu..kalau memang..dia pantas untuk mba mas akan mengapresiasi keinginan nyai kalau tidak kita cari alasan yang cukup masuk akal juga untuk kebaikan..mba dimasa depannya.." Rendra sepertinya sudah berpikir beberapa langkah kedepan yang akan diambilnya untuk kebaikan Ainun nanti.


"Iya..mas..Can..yakin..mas pasti memberikan yang terbaik buat..mba.." Candy dengan tersenyum senang mendapat penjelasan dari Rendra.


"Soal..nambah..gimana.." goda Rendra mengalihkan perhatian Candy.


"Mas..ih..yang ini belum selesai..udah bikin Can.." belum Candy menyelesaikan ucapannya Rendra sudah mencubit lembut hidung Candy yang langsung memprotes manja ke Rendra.


"Mas..ih.." protes Candy yang hanya tawa kecil Rendra berikan.


Candy malu digoda saat ini karena ada buah hatinya yang akan melihatnya, tapi tidak dengan Rendra yang menurutnya biar anaknya melihat kedua orang yang harmonis bukan untuk hal yang aneh-aneh hanya memberikan contoh bahwa candaan manja dalam keluarga itu perlu agar hubungan kedekatan mereka semakin terjalin dan semakin dekat bukan untuk mencontohkan hal yang vulgar.


Sentuhan, candaan akan menambah keintiman dalam hubungan berumah tangga tidak harus dengan hal yang vulgar saja, ini juga salah satu contoh agar ada kedekatan bukan hanya suami istri saja tapi dengan buah hatinya juga.


Sebab Rendra tahu waktu buat dia dengan keluarga sangat langka dan mahal kalau saja dinilai dengan nominal jadi saat ada kesempatan dimanfaatkan sebaik mungkin agar lebih berkualitas buat dia dan keluarganya dan lebih menambah kedekatan diantara mereka hingga tidak sungkan untuk berbagi dalam hal apapun.

__ADS_1


__ADS_2