
"Tahukan kamu saat aku menginginkan untuk tersenyum dalam kedamaian, aku sangat tahu apa yang dapat aku lakukan, ialah dengan menutup mata dan mulai memikirkan mu" Rendra.
Rasa hati ingin menolak tapi kewajiban seorang tentara adalah mengemban tugas negara di atas kepentingan yang lain.
Rendra menundukkan wajahnya dengan lemas di ruang dinasnya, ajudannya hanya terdiam melihat itu.Tarikan napasnya nampak jelas keresahan ada dalam hatinya, yang jelas dirasakannya.
"Tolong...siapkan persiapan keberangkatan ku" perintah Rendra ke ajudannya.
"Siap...Kapt " jawab ajudan Rendra dengan hormat melangkah ke luar.
Rendra masih termenung seorang diri memikirkan Pemilik mata indah yang akan ditinggalkannya untuk tugasnya yang sangat jauh di negeri orang sebagai Pasukan Perdamaian Dunia yang diperbantukan di negara konflik memang ini bukan tugas pertama Rendra di negara yang berkonflik tapi saat ini berbeda ada hati yang akan ditinggalkannya.
"Siang...Kapt"ucap Farel yang akan siap menerima tugas dari Rendra yang terlihat murung.
"Siang..." balas Rendra terlihat malas menjawab salam dari Farel.
"Rasanya...ingin menolak tugas ini" ucap Rendra yang masih ingin menikmati kebersamaan dengan Candy yang sudah hampir memasuki satu tahun.
"Apalagi...aku Kapt tinggal tunggu hari kelahiran putra kami" Ifan yang baru masuk ruangan Rendra terlihat sedih nampak jelas dari wajahnya yang sendu.
"Kalian bersyukur masih sendiri...tidak terbebani orang terkasih" ucap Rendra masih dengan malas berkata-kata.
"Tapi...Kapt kita ga selamanya sendiri terus kepengin juga berkeluarga" Panji yang sudah duduk ikut menjawab.
"Ya...ini tugas tapi harus ada yang di korban kan"Ifan menepuk pundak Panji.
"Aku...jadi ingat ibu" Alfa dengan menunduk duduk di antara mereka.
"Bocil....kangen emak ya..." goda Panji ke Alfa yang masih menunduk.
"Kita berharap berangkat sehat untuk pulang sehat juga" Rendra dengan sedikit bersemangat berucap.
"Mba..Can sudah tahu Kapt" tanya Panji je Rendra yang memainkan alat tulis.
"Belum...nanti pulang dinas baru ku sampaikan" Rendra berucap ke kawan timnya dengan sedikit ragu.
"Sesedih inikah...berpisah dari orang yang kita sayang" tanya Alfa ke Rendra yang terlihat kurang semangat.
"Aku menanti saat bersamanya itu perlu banyak perjuangan sedangkan saat baru bersamanya harus terpisah waktu yang tidak sebentar belum lagi yang akan di hadapi disana kita belum tahu medan nya" Rendra dengan jelas menjelaskan.
"Gimana...istri siap di tinggalkan" tanya Rendra ke Ifan yang dari tadi sama galaunya dengan Rendra.
__ADS_1
"Dengan berat hati siap berangkat dan siap di tinggalkan" ujar Ifan nampak ada beban di wajahnya.
Semua terdiam dengan pikiran masing-masing tugas kali ini sangat terbebani tidak seperti biasanya merasa bersemangat dalam mengemban tanggungjawab sebagai abdi negara yang siap ditugaskan dimana dan kapanpun.
Sore menjelang malam ini serasa mendung seakan tahu apa yang sedang dirasakan Rendra yang tidak semangat memasuki rumah dinasnya yang disambut istri tercintanya, ucapan salam yang tidak bersemangat dan langkah kaki yang terlihat lelah.
Candy menghampiri setelah membalas salam dari suami tercintanya, saat akan diciumnya punggung tangannya tapi sudah dipeluk terlebih dahulu oleh Rendra dengan erat seakan tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Mas...ada apa Can..tidak bisa bernapas" ucap Candy terbata-bata karena napasnya sesak.
"Maaf..Honey" tangan Rendra melepaskan pelukannya berganti menciumnya hingga tidak berhenti membuat Candy bingung.
Candy membiarkan apa yang di mau Rendra tapi ada rasa yang aneh yang dirasakannya dengan sikap yang di lakukan Rendra.
"Honey...."Rendra mengajak Candy duduk sejajar dengan dirinya.
"Ya..mas Can...ada disini" ucap Candy ke Rendra dengan menatap wajahnya tanpa berkedip.
"Honey...tahu tugas mas kan"tanya Rendra seakan ada rasa sedih yang dirasakannya.
Anggukan kepala Candy yang menjadikan jawaban tapi dengan serius masih menatap wajah suaminya yang masih ingin berbicara dengannya.
"Mas...ditugaskan di negara berkonflik kurang lebih satu tahun...maafkan mas...Honey harus mas tinggalkan " Rendra mendekati Candy dan memeluknya tanpa di sadari keduanya meneteskan air mata seakan tidak ingin terpisahkan.
"Honey...maafkan mas" Rendra yang biasanya tegas tidak tahan melihat Candy menangis dalam pelukannya.
Perpisahan ini bukan hal mudah buat keduanya masih dalam tangisnya Candy menatap wajah gagah suami tercintanya.
"Mas...akan pulang untuk ketemu Can..kan" ucapannya dalam tangisnya Candy bertanya ke Rendra.
"Ya... honey,mas...akan pulang buat honey " Rendra mengusap air mata yang jatuh dari mata Candy tangan Candy menghapus air mata Rendra yang tidak kalah menetes lebih deras.
"Mas...Can,sayang mas.." Candy memeluk Rendra semakin kencang tangis Candy.
"Mas tahu..honey,mas...juga sangat sayang dan cinta honey" Rendra makin memeluknya dengan rasa haru yang sangat dirasakannya.
Keduanya masih dalam tangis harunya akan perpisahan yang akan di hadapi keduanya, air mata keduanya seakan tidak mau berhenti menetes mengeluarkan beban hati keduanya yang tidak tertahankan dirasakan dalam dadanya.
"Honey...jika ingin di rumah ayah atau rumah orang tua mas...mas ijinkan" ujar Rendra yang sudah mulai membaik dalam rasa harunya.
"Terus...disini..bagaimana" balas Candy ke Rendra dengan masih membersihkan air matanya.
__ADS_1
"Ada ajudan mas...yang akan mengurusnya honey tidak perlu khawatir" ucap Rendra menenangkan Candy.
"Nanti Can,pikirkan mas...yang jelas...Can,akan merindukan mas...jika disini sendiri"Candy menetes air matanya lagi.
Rendra makin bersalah meninggalkan Candy dalam tugasnya kali ini, orang yang sangat dicintainya terlihat terluka di tinggalkan olehnya.
"Mas...antar ke rumah ayah saja sebelum keberangkatan mas dinas mungkin akan lebih baik honey di sana...ada si cantik yang menjadi hiburan" Rendra berusaha menghilangkan kesedihannya dengan menghibur Candy padahal dirinya lebih sedih lagi yang sangat di masakannya.
"Mas...cepat pulang ya..." ucap Candy terdengar manja ditelinga Rendra.
"Secepatnya mas...akan pulang jika tugas sudah selesai"ujar Rendra sedikit senang Candy manja dengan tangannya memeluk satu tangan Rendra.
"Mas...akan rindu serindu-rindunya ke honey " ucap Rendra mengusap kepala Candy yang tertutup hijab.
"Kalau boleh...menolak mas akan menolak tugas ini " ujar Rendra yang terdengar tegas di telinga Candy.
"Mas...Can ga mau, Can...jadi penghalang mas dengan kewajiban mas"ujar Candy mengatakan dengan memberikan semangat ke Rendra.
"Honey...terimakasih sudah mau mengerti dunia mas" Rendra mencium kening Candy mesra.
Malam ini terasa sepi, Rendra memandang langit malam usai melaksanakan sholat malamnya, tangan lembut istrinya memeluknya dari belakang tubuh Rendra.
"Honey...sudah bangun"sapa Rendra sambil memutar tubuhnya hingga berhadapan.
"Mas...."hanya mengangguk Candy ke Rendra.
"Saat seperti ini yang akan mas rindukan" ujar Rendra menangkup wajah imut Candy dengan mesra dipandanginya wajah imut miliknya.
"Can...juga" dengan muka malu Candy berucap, mata Rendra memandang kedalam mata Candy yang indah dengan sejuta pesonanya.
"Mas....." ujarnya mengharapkan Rendra berhenti memandangnya.
"Biarkan mas...menikmati mata indah ini untuk beberapa saat"ucap Rendra tanpa memperdulikan Candy yang lelah menahan sakit kakinya karena berjinjit karena Rendra lebih tinggi.
"Mas...Can...cape" ucap Candy dengan nada memelas dan minta menyudahi, Rendra dengan singap menggendong dan Candy duduk dipangkuan Rendra yang saling berhadapan.
"Jangan malu lihat...mas" Rendra sedikit memerintah tapi juga menggoda Candy.
Keduanya saling memandang banyak kata tapi tidak terucap hanya mata dan hati keduanya yang berkata, akhirnya Rendra berucap.
"Honey....kamu segalanya untuk mas" ucap Rendra mencium lembut kening Candy dan didekapnya tubuh mungil itu.
__ADS_1
Candy tahu Rendra sangat mencintai dan menyayanginya dan dalam diri Candy sudah mulai bunga cinta itu bermekaran sebagai bukti ada rasa yang mulai tumbuh untuk seorang Rendra, akan ada rasa kehilangan saat kepergian Rendra disaat rasa itu mulai tumbuh, dan sudah mulai nyaman ada di dekatnya.