Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
116


__ADS_3

"Pernah kita mendengar curahatan seseorang dengan rasa sedihnya dia berkata, "coba kamu jadi aku sebentar saja", apa yang kamu dapat ambil dari curahatan itu satu yang pasti tiap jiwa memiliki ujian sesuai kadarnya tidak lebih dan tidak kurang jadi nikmati saja hidup sebagai perjuangan untuk hidup lebih baik lagi" Rendra.


Saat ini Rendra sedang berharap-harap dengan cemas karena menanti kelahiran bayi mungil yang akan Candy lahirkan, bayi mungil itu akan lahir dengan jenis kelamin laki-laki sesuai harapan Candy yang ingin ada pelindung buat Ainun suatu saat nanti.


"Tenang...Mas..semua akan baik-baik saja.." ucap Candy yang menahan mulas di perutnya karena proses pembukaan jalan bayi lahir.


"Honey...kalau bisa tergantikan biar Mas yang akan menanggung rasa sakit itu..." ucap Rendra yang mengusap punggung Candy dengan sabar.


"Mas...mungkin hanya Mas...yang seperti ini tidak dengan yang lain..." ucap Candy yang tahu bagaimana para Ayah yang menemani persalinan kebanyakan tidak sabar lebih cenderung panik sendiri.


"Kaya...ga tahu suamimu...Can..." ujar Mas Rudi yang kebetulan ada jadwal dinas dan berniat menemui keduanya.


"Dra...inshaallah..Can..kuat dan bisa melalui prosesnya" ucap Mas Rudi lagi ke Rendra yang masih mengusap punggung Candy yang terlihat tenang.


"Aku...ga tega Mas...liatnya.." ucap Rendra dengan memandang Candy.


"Kalau ga tega jangan...bikin anak..." ujar Rena yang kebetulan akan memeriksa Candy.


"Apaan...sih Na..." ujar Candy yang malu ke Mas Rudi juga Rendra.


"Apa..ada yang salah..." seru Rena dengan tangan memeriksa kondisi Candy.


"Ga...ada yang salah...sih" ucap Mas Rudi yang berpamitan meninggalkan ruangan Candy.


"Mas...satu jam lagi akan lengkap pembukaannya...sabar" ujar Rena dengan memberikan kode ke Candy untuk bersiap.


Rena meninggalkan Candy dan Rendra yang masih berbincang ringan untuk mengalihkan rasa sakit yang Candy alami.


"Honey...boleh Mas tahu harapan apa yang Honey inginkan buat baby boy nanti" tanya Rendra yang menyuapi Candy buah.


"Ga..banyak hanya ingin berguna untuk agama, bangsa, juga keluarga yang paling penting bisa menjadi pelindung untuk Ainun dikemudian hari" ucap Candy yang menurut Rendra sangat dalam maknanya.


Semakin mendekati kelahiran Candy semakin merasakan sakit yang sangat dia rasakan hingga tubuh mungilnya bermandikan keringat, Rendra yang masih setia disampingnya terus memberikan semangat.


Walaupun didalam ruangan Candy tetap berjalan-jalan santai agar mempercepat proses pembukaan, dengan setia Rendra menggandeng Candy yang hanya berputar-putar di ruangan dan sesekali Candy menghentikan langkahnya menahan sakit dari perutnya.


"Siap...berjuang..." tanya Rena yang menyemangati Candy yang sudah tidak dapat berkata-kata hanya senyum yang tertahan di perlihatkan.

__ADS_1


"Mas...biar..Can...sama Rena saja..." ucap Candy yang terdengar pelan di telinga Rendra.


"Honey...biar Mas...tetap disini ya..." ucap Rendra memohon ke Candy.


Candy tidak dapat berdebat dengan Rendra karena semakin sakit yang Candy rasakan, Rena yang tahu Candy semakin kesakitan bersiap menjalankan tugasnya dibantu salah satu bidan yang sudah siap menjalankan tugasnya.


"Ok...pembukaan lengkap...Can...kita do'a dulu ya..." pinta Rena semua yang ada dalam ruangan persalinan berdo'a untuk kelancaran kelahiran baby boy.


Candy yang sudah siap mengumpulkan tenaga ekstra untuk proses kelahiran baby boynya.


Akhirnya tangis baby boy mungil itu pecah tapi yang paling seru, sebelum menangis baby boy lebih dulu buang air kecil yang membuat Rena tertawa menggoda baby boy Candy.


"Eee....jadi pengen cepat keluar..karena kebelet pipis..." ujar Rena saat mengambil tubuh mungil itu, yang buang air kecil terlebih dulu dari pada menangis.


Rendra yang masih menemani Candy tidak berhenti tersenyum menyaksikan momen langkah itu, Candy yang sedikit lemas hanya memandang tidak banyak bicara.


Rena merasa ada yang aneh dari proses kelahiran ini sebab Candy makin lemas sebab banyaknya darah yang keluar, Rena cepat mengambil tindakan dengan meminta bantuan Rendra


"Mas...bisa tolong..aku..." ucap Rena yang sedikit menjauh dari Candy.


"Mas...tolong cari bantuan...Can..pendarahan jadi butuh darah..tolong Mas...carikan golongan darah yang sama dengan Can...secepatnya ya Mas..." ucap Rena yang kembali merapikan Candy yang masih terlihat lemas.


Rendra yang masih setia disamping Candy yang masih terlihat lemah dengan tangan terpasang beberapa selang infus ada cairan bening yang keluar dari selang kecil itu tapi ada juga yang merah yang membuat Rendra khawatir.


Kawan satu tim Rendra sudah berada di rumah sakit dan membawa beberapa prajurit yang bergolongan darah yang sama dengan Candy.


"Kapt...kita ada sepuluh anggota yang sudah siap diambil darahnya" ucap Panji yang menenangkan Rendra.


"Terimakasih...bro.." Rendra sudah mulai terlihat tenang.


"Santai...bro, loe..selalu ada buat kita...sekarang waktunya kita bantu loe..." ujar Panji yang menepuk pundak Rendra.


Rendra menemui prajuritnya yang telah memberikan darah untuk istri tercintanya untuk memberikan ucapan terimakasihnya, tapi tanpa sepengetahuan kawan satu timnya Rendra memerintahkan orang kepercayaan di perusahaan miliknya untuk menyiapkan beberapa lembar uang dan bingkisan yang cukup mewah isinya menurut isi kantong ajudan Rendra yang di tugaskan membagikan kepada prajurit yang telah membantu istrinya.


Menurut Rendra tindakan yang mereka lakukan tidak bisa dibalas dengan semua yang Rendra berikan hanya sebagai ucapan terimakasih tidak lebih dan tidak ada maksud lain.


Rumah sakit saat ini dipenuhi kiriman ucap selamat untuk keluarga Rendra dari beberapa kolega yang Rendra kenal tapi juga dari keluarga Papa yang siapa yang tidak mengenalnya.

__ADS_1



Pihak rumah sakit sampai di buat bingung karena tiap sudut ruangan rumah sakit di penuhi bingkisan ucap terimakasih yang indah juga terlihat mahal, sebenarnya Rendra tidak mengharapkan ini semua dia lebih suka mereka memberikan do'a untuk baby boynya yang belum di berikan nama olehnya.



Tampa sengaja Rendra mendengar perbincangan dua suster yang kebetulan lewat di hadapan Rendra yang berjalan baru saja membeli keperluan Candy.


"Bagus-bagus ya...bingkisannya..kayaknya mahal...tapi sayang..nanti dibuang begitu saja.." ujar salah satu suster.


"Kalau di bagikan...ke anak-anak panti pasti senang...deh" ucap salah satunya.


Rendra yang mendengar terbersit dalam pikirannya ada benarnya juga sebab semua ini akan ditinggalkan begitu saja, mungkin pihak rumah sakit akan membuangnya hingga jadi tidak bermanfaat.


Rendra langsung mengambil inisiatif menghubungi ajudannya agar selepas dinasnya untuk datang ke rumah sakit dengan membawa mobil yang terbuka untuk memberikan semua bingkisan ke panti yang dekat dengan rumah sakit tapi tidak hanya itu Rendra juga membawakan keperluan yang lain untuk panti itu.


Bukan saja ajudan yang di bikin salut tapi juga Candy yang semakin dibikin terkesima dalam banyak hal selalu saja ada kejutan-kejutan yang membuat Candy makin ingin selalu ada di dekatnya.


"Terimakasih..Honey..sudah memberikan kegembiraan di kehidupan Mas jadi berwarna"ucap Rendra mencium ujung kepala Candy yang menyusui baby boynya.


"Sama-sama...Mas..sebenarnya Mas...yang selalu membuat Can..jadi wanita yang paling beruntung"ujar Candy dengan menatap lembut suami tercintanya yang duduk didekatnya.


"Ga..bakal habis...kalau kalian selalu...saling memberikan sanjungan"ucap Mas Rudi yang tahu bagaimana Rendra yang sangat mencintai dan menyayangi Candy.


"Mas...masuk...Mas.." ucap Rendra ke Mas Rudi yang masuk tanpa mengucap salam.


"Maaf...langsung masuk sebab Mas liat pintunya terbuka"ujar Mas Rudi yang ingin memberikan selamat untuk keduanya.


"Selamat...ya..kalian berdua hebat sudah sepasang" ucap Mas Rudi yang menepuk pundak Rendra.


"Terimakasih...Mas...ya..alhamdulillah Mas.." ucap Rendra ke Mas Rudi.


Candy sendiri hanya memberikan senyum ke Mas Rudi yang baik walaupun dia sebagai kakak ipar dari Rendra.


"Lekas pulih...ya..Can..."seru Mas Rudi ke Candy yang hanya menganggukan kepalanya.


"Ok...sekali lagi selamat ya..."ucap Mas Rudi yang akan meninggalkan keduanya karena masih harus ke ruangan operasi karena ada jadwal operasi.

__ADS_1


Rendra yang mengusap lembut ujung kepala Candy dengan sayang tanpa berkata-kata, begitulah keduanya terkadang hanya saling memandang tapi itu sudah mewakili segalanya tanpa harus terucap dari bibirnya mungkin ini yang dinamakan bahasa kalbu.


__ADS_2