Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
22


__ADS_3

Di Ruangan Rendra


Sore menjelang malam ini, ruangan Rendra masih terdengar gelak tawa, dari kelima lelaki berbadan tegap itu,yang masih setia menemaninya tampa memperhatikan waktu sudah bergulir menuju ke peraduannya .


Candy yang telah menyelesaikan tugas jaganya,sekarang akan memenuhi janjinya untuk ke ruangan Rendra,namun dari luar ruangan sudah terdengar suara kelima lelaki yang masih dengan canda tawa yang menurut Candy sangat menggangu pasiennya,sebenarnya ia ingin membatalkan janji untuk menemui Rendra tapi tak enak hati.


Candy pun memutar otaknya, timbul ide jailnya untuk memberikan sedikit gertakan tema-teman Rendra, bukan Candy berniat jahat tapi Rendra harus istirahat untuk pemulihan kesehatannya.


"Assalamualaikum, sore menjelang malam" ucap Candy sopan tapi tegas.


kelima lelaki itu bersamaan menjawab salam Candy dengan sopan.


"Waalaikum salam, sore menjelang malam juga, dok " ucap mereka bersamaan.


"Maaf...saya mengganggu, saya mau melakukan tugas saya"ucap Candy sopan tapi dengan muka jutek.


Tapi memang susah teman-teman Rendra yang punya sifat suka-suka gue masih aja santai ga bergeming dari tempatnya, walaupun ada seorang dokter.


"Hallo...dokter cantik..."Farel mengeluarkan jurus tebar pesonanya.


Candy hanya tersenyum kecil terus melangkah dengan pasti langsung ketempat Rendra berbaring.


"Maaf...saya akan memeriksa bapak" ucap Candy dengan tatapan mata yang kesal.


Rendra tersentak kaget sebab Candy yang tadi pagi sangat sopan dan ramah, dari nada suaranya ada kemarahan juga kesal.


Candy berpura-pura memeriksa Rendra, dan bukan waktunya Candy memeriksa, saat keduanya tidak berjarak.


"Maaf...apakah teman kak tidak tahu, kalau kak perlu istirahat " ucap Candy penuh penekanan yang hanya Rendra yang mendengarnya.


"Saya...pulang ya...kak ga nyaman disini "ucap Candy lagi lebih terdengar dingin.


"Istirahat...atau saya kasih obat tidur" perintahnya penuh amarah Candy masih dengan suara yang hanya di dengar oleh Rendra.


Rendra hanya mampu membalas dengan Anggukan kepala dan tersenyum datar kepada Candy.


"Cie...cie...dok, kok ngomongnya bisik-bisik sih" Panji melihat ada yang aneh di keduanya.


"Ikutan...dong, kok yang sakit aja...yang di bisik-bisik...mau dong..."goda Farel ke Candy yang semakin kesal di goda.


Candy tidak mempedulikan candaan Farel untuknya, dia berusaha santai walaupun sangat kesal ke Farel yang terus menggodanya.


Dengan tampa berbasa basi lagi Candy melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Rendra dan teman-teman yang menurutnya tidak sopan.


"Maaf...pasien harus istirahat "ucap Candy tegas, sambil berlalu pergi, sebelum keluar dari pintu, tampa berpamitan.


Candy hanya menggelengkan kepala pertemanan yang aneh, menurutnya yang tidak memperhatikan kondisi temannya.

__ADS_1


"Bisa...galak juga tuh...dokter...untungnya cantik...tapi bikin gemes...pengen gue kantongin...bawa pulang.." ucap Farel masih dengan muka tergoda.


Bikin yang lain ketawa dengan omongan Farel yang ga bisa melihat cewe cantik sedikit saja.


"Yo...pulang gue ngantuk "Alfa pura-pura mengguap tanda mengantuk.


"Yo...nanti sih cantik balik lagi gue..nanti tambah cinta dah.." Farel makin halu bikin yang lain geleng kepala.


"Dasar...buaya..."Panji menepuk pundak Farel.


"Dari pada buayi ..."ucap Farel asal ngomong.


"Sapa...tuh..." ucap Alfa polos yang ingin mencari tahu.


"Au....ah..."jawab Farel tanpa dosa.


"Dasar...."ucap Panji berbarengan dengan Alfa yang tahu kebiasaan Farel.


Teman satu tim Rendra tidak bermalam di rumah sakit, Rendra hanya sendirian di ruang rawat, agar bisa beristirahat untuk kesembuhannya.


Candy mendapatkan panggilan darurat sebab dokter yang berjaga berhalangan hadir ada urusan keluarga yang mendesak, sedangkan jam menunjukkan jam 01.35 dini hari.


Candy selalu siap sedia kapan pun, tidak ada pembatasan waktu untuknya, karena jarak rumah dinas tidak berapa jauh dari rumah sakit saat dia berjalan tergesa masuk ke dalam ruangan UGD untuk langsung menemui pasien juga memeriksanya dan siap mengambil tindakan selanjutnya.


Alhamdulillah ternyata tidak perlu ada tindakan selanjutnya, Candy merasa tenang, dengan kondisi pasiennya dan saat ini waktu menujukkan menjelang pagi tapi masih lama untuk masuk subuh.


Candy berniat untuk ke ruangan yang lain, tanpa di sadari ada yang mengikutinya dari belakang, Candy merasa ada yang mengikutinya Candy mempercepat langkahnya tapi dengan tubuh yang mungil tidak bisa mengimbangi langkah orang yang mengikutinya, dengan cepat langkah yang mengikutinya sudah menghadang tubuh mungil Candy, saat mulutnya akan bersuara untuk meminta tolong tangan kekar menutup mulutnya.


Dan bertapa terkejutnya Candy yang mengikutinya hanya tertawa kecil dan berbisik lembut di telinganya.


"Berisik...ada yang tidur...."Rendra berbisik di telinga Candy.


Tangan mungil Candy mencubit pas dipinggang dimana luka Rendra berada yang membuat Rendra sedikit merintih.


"Auw...sakit"Rendra pura-pura merintih.


"Maa....af Kakak ngagetin Can..."Candy membela diri dengan rasa bersalah.


"Ngapain...malam-malah sendiri ga baik tahu " Rendra mengkhawatirkan Candy.


"Ada...yang darurat harus ambil tindakan" Candy dengan muka terlihat ngantuk dan cape yang di tahan.


Mereka duduk di depan ruang tunggu pasien yang sepi, Candy berusaha menahan rasa kantuknya, sesekali mengusap tangannya karena rasa dingin AC juga udara menjelang pagi.


Rendra ingin rasanya menjadi sandaran untuk rasa kantuk Candy tapi tak ada keberanian, untuk melakukan itu.


"Kenapa, ga istirahat di kamar malah jalan-jalan" Candy sedikit sewot ke Rendra untuk menegurnya.

__ADS_1


"Cape...bosen...tidur trus "Rendra menjawab dengan senyum.


"Orang...sakit, ya...harus Istirahat bukan jalan-jalan"Candy menjawab santai.


"Habis...ga ada yang nemenin tidurnya " Rendra jawab dengan mengoda.


"kak....ih...apaan sih" Candy geli mendengarnya hingga hilang rasa kantuknya.


"Ini...beneran...loh..."Rendra makin jail.


Candy ga menjawab hanya diam, ga mau Rendra terus menjailinnya.


"Boleh ga jangan panggil pa, kakak" ucap Rendra dengan berharap ke Candy.


"Ko...gitu...trus apa dong "Candy binggung dengan apa yang di omongin Rendra.


"Aku...mau kamu panggil Mas,biar tambah dekat"Rendra meminta.


"Kita udah deket ko..."ucap Candy menjelaskan posisi duduk keduanya.


"Bukan seperti ini, tapi hubungan kita"ucap Rendra menjelaskan.


"Maaf...ka...eh...Mas saya ga mau pacaran" Candy yang tahu arah ke mana pembicaraan Rendra dan dengan tangan menunjukkan No Pacaran.


"Ya...ok..kapan kamu mau, aku melamar mu" Rendra serius dengan ucapannya.


"Mas...ga gitu maksud saya "ucap Candy mencari alasan.


"Ga gitu...gimana "Rendra meminta penjelasan.


"Ini perlu di omongin dulu gitu..."Candy tetap mencari alasan.


"Ini...lagi di omongin Honey " Rendra dengan suara lembutnya.


Candy terkejut Rendra memanggilnya dengan sebutan itu.


"Mas...kita baru bertemu dan mas belum tahu siapa saya dan bagaimana keluarga saya" Candy tetap mencari alasan.


"Aku..tak perlu siapa kamu, yang jelas aku mau kamu jadi pendamping hidupku Honey " Rendra makin serius dengan ucapannya.


"Tapi...mas harus cari tahu dulu siapa aku,aku ga mau mas menyesal di belakang "Candy berusaha Rendra menyerah.


"Ok ..akan aku cari tahu...tapi boleh aku meminta sesuatu darimu Honey " Rendra menarik napas halus .


"Asal...jangan yang aneh-aneh" Candy dengan rasa takutnya.


"Ga...aneh, maukah kamu jaga hatimu untuk ku" Candy menunduk malu mendengar ucapan Rendra

__ADS_1


Hanya anggukan kepala yang Candy berikan sebagai jawaban, Rendra mengepalkan tangan tanda terbalaskan "yes" ingin rasanya memeluk tubuh mungil Candy, bukan balasan yang akan di dapat malah kemarahan yang akan di dapat Rendra di singkirkannya dari pemikirannya itu jauh-jauh tunggu hinggawaktunya Halal.


__ADS_2