Pemilik Mata Indah

Pemilik Mata Indah
174


__ADS_3

..."Berdo'a itu ibadah, dikabulkan itu hadiah, belum dikabulkan berarti pahala berlimpah jadi jangan pernah menyerah untuk berdo'a kepada Allah" Rendra....


Di lorong rumah sakit Andika berlahan melepas genggaman tangan Ainun dan tanpa malu Andika meminta maaf lebih dulu pada Ainun sebab tanpa seijinnya menggenggam tangan Ainun.


"Ai..maaf..tanpa..seijin..Ai.." ucap Andika ingin meminta maaf tapi Ainun lebih dulu menutup mulut Andika dengan jarinya agar tidak melanjutkan ucapannya.


"Maaf..maaf..terus lebaran masih lama..Ai..mengerti kak..Ai..yang berterimakasih..kak..tahu apa yang Ai butuhkan.." ucap Ainun masih berjalan santai di lorong rumah sakit.


Saat di tempat parkir Ainun melihat benda pipinya banyak chat yang terkirim dari keluarganya yang menanyakan keberadaan dan apakah dirinya minta di jemput, Ainun berinisiatif menelepon mamanya.


★★ " Assalamualaikum..ma.., Ai..ga bisa pulang ke rumah takut kemalaman..Ai..langsung ke kosan aja..ya.. salam buat..papa plus nenek juga kakek Ai..minta maaf " ucap Ainun pada mamanya.


Ainun masih mendengar suara dari seseorang yang jauh disana yang di sebutnya mama.


"Assalamualaikum..dah..ma..i love you ma.." ujar Ainun membalas ucapan mamanya dan mematikan benda pipinya, tapi ke usilan Andika mulai sebenarnya itu suara hatinya.


"i love you to" ujar Andika membelokkan motornya.


"Apaan sih..kak.." balas Ainun malu masih berdiri disamping motor Andika.


"Maaf..mau diantar kemana..nih tuan putri.." pinta Andika dengan tersenyum.


"Maunya..kemana..ya.." Ainun hanya bercanda sebab kejadian tadi membuat otaknya lelah.


"Maunya..mah..kehatimu.." goda Andika entah kenapa bila bersama Ainun ada saja bahan untuk menggoda Ainun.


"Kakak..tapi Ai..laper.." terdengar serius di telinga Andika yang membuatnya iba apalagi Ainun berucap seperti anak kecil yang meminta dan terlihat benar-benar lapar.


"Ayo..mau makan apa.." balas Andika serius tidak ingin orang yang di dekatnya kelaparan.


"Terserah kakak..Ai..ikut aja.." ucapnya dengan muka polosnya.


Andika seakan tahu semua tempat makan yang enak, nyaman dan yang paling penting nyaman di kantong sebab dia tahu Ainun akan sama dengan dirinya, disini salah satu tempatnya.



Tidak jauh tempatnya dan benar dugaannya sesampainya ditempat yang di tujuh Ainun tanpa malu mengakui Andika pintar memilih tempat begitu juga dengan menunya sesuai lidah Ainun pokoknya enak kata Ainun.


"Kak..ko tahu sih..tempat ini.." puji Ainun dengan menikmati makanan penutup berupa puding.


"Namanya juga bujangan..Ai.." jawab Andika yang sudah selesai makan.


"Oh..jadi kalau bujangan tahu semua gitu.." balas Ainun yang tidak mau matanya bertemu dengan milik Andika.


"Ga juga..yang jelas harus sesuai kantong.." ucapnya dengan memelankan suaranya.


Ucapan Andika membuat Ainun tersedak hingga mencari minuman miliknya.


"Kenapa..Ai.." tanya Andika khawatir.


Hanya gelengan kepala yang Ainun berikan sebab Ainun sedang minum dan menikmati lagi sisa makanannya.


"Mau..tambah lagi.." tanya Andika dengan serius pada Ainun.


"Kak..perut Ai..tidak sebesar orang luar sana.." jawab Ainun yang tidak terbiasa makan banyak.


"Terus..mau apa..lagi.." tanya Andika pada Ainun yang menikmati pemandangan alam sekitar tempat makan.


"Maunya..bobo manis.. besok masuk pagi.." ucapnya tanpa berpikir ingin menggoda.


"Mau..dong..jadi temannya.." balas Andika asal ngomong aja.

__ADS_1


"Ih..kakak.." ucap Ainun dengan suara sedikit terdengar.


"Oh..ga boleh..ya..maaf.." Andika yang akan membayar makanan.


"Kak..boleh kali ini Ai..yang bayar.." pinta Ainun dengan sopan.


"Ga..Ai..biar kakak.." ujar Andika dengan tegas.


"Ai..ga boleh ya..berbagi..Ai..dapat uang saku..dari pak de..kak" Ainun beralasan agar Andika mau bergantian membayarnya.


"Ga..Ai..biar itu Ai gunakan buat yang lain..ok " Ainun tidak ingin berdebat dengan Andika untuk hal yang sepele.


Ainun tahu lelaki yang bertanggungjawab tidak ingin terlihat tidak mampu di depan wanitanya, itu seperti prinsip papanya.


Tidak beberapa lama Andika kembali dan mengajak Ainun keluar dari tempat yang telah membuatnya kenyang.


"Mau..kakak antar kemana lagi tuan putri.." tanya Andika pada Ainun yang terlihat sangat lelah.


"Maunya..pulang ke tempat kos kak.." jawab Ainun dengan sedikit lemas.


"Ai..sakit.." tanya Andika pelan untuk memastikan keadaannya.


"Ga..cuma Ai..cape..kakak semalam jaga sampai pagi..belum tidur.." jawab Ainun dengan lemas.


"Kakak..rasa ga aman kalau pulang ke tempat kos..ke asrama aja ya..besok baru kakak antar pagi-pagi ke rumah sakit..gimana.." tanya Andika memberi jalan keluar.


"Ya..udah.." dengan lemas Ainun naik ke motor Andika.


Dan tidak berapa lama Ainun sudah didepan gerbang asrama putri, dan berpamitan masuk begitu juga dengan Andika langsung berpamitan pulang.


"Ingat..istirahat dan besok..kakak jemput..ok.." ucap Andika sebelum pergi.


Andika hanya tersenyum melihat tingkah Ainun yang selalu menyenangkan bila bersamanya.


Dalam Asrama Intan terkejut melihat Ainun yang akan masuk kamarnya, dan langsung menghadangnya.


"Ai..gue..mau banyak tanya sama kamu.." tanya Intan sepertinya memaksa.


"Tunggu tan..aku mandi dulu..bau..nih..bau.." alasan Ainun yang sepertinya Intan percaya.


Dalam kamar Ainun tersenyum menang, dia langsung membersihkan diri dan bersiap untuk sholat sebelum rasa kantuknya datang.


Selepas sholat pintu kamarnya diketuk yang pasti Intan yang masih penasaran dengan Andika, menurut Ainun wajar sebab Intan tahu dirinya selama bersamanya dalam satu asrama pula tidak pernah melihat lelaki yang dekat dengan Ainun selain dua orang yang dikenalnya.


Intan masuk dan langsung ikut renbahan di kasur Ainun bersebelahan dengannya.


"Ai..jujur yang gue..dengar di rumah sakit itu benar.." tanya Intan penasaran.


"Menurut..kamu.." Ainun balik tanya pada Intan yang membuat Intan mencubit hidung Ainun.


"Intan....apa yang kamu liat..ya..itu adanya.." jawab Ainun memegang hidungnya.


"Jadi itu yang selama ini kamu sembunyikan dari mereka.." tanya Intan lagi dengan mengharapkan Ainun menjelaskan.


"Ga..bisa..tan di sembunyiin..orangnya gede.." jawab Ainun yang membuat Intan kesal.


"Ai..besok..besok gue ga mau bantu kamu.." balas Intan ingin keluar dari kamar Ainun.


"Jangan ngambek nanti jadi cantik.." goda Ainun yang membuat Intan balik lagi.


"Salah..Ai..kebalik tahu.." balas Intan kembali duduk di ujung tempat tidur Ainun.

__ADS_1


"Katanya mau balik..malah duduk lagi..penasaran ya..nungguin..ya.." balas Ainun membuat Intan memeluk Ainun dan keduanya berguling ditempat tidur.


"Tan..apa yang kamu lihat dan kamu dengar sebagian kecil benar..selebihnya minta do'anya..ya.." ucap Ainun agar Intan tidak lagi penasaran.


"Terus gimana dengan Fatur dan Rafiq..Ai.." tanya Intan dengan serius.


"Kalau kamu ditanya jawab aja sesuai yang kamu lihat..itupun kalau kamu tega kalau ga tunggu aja surat undangan datang mengudang mereka.." Ainun dengan tertawa bebas hingga terlihat gigi rapinya.


"Ai..loe..tega ya.." seru Intan dengan menepuk pundak Ainun.


"Siapa yang tega..soal hati ga bisa di paksain..Intan.." Ainun menjelaskan dan Intan sedikit mengerti.


"Terus gimana Ai.." tanya Intan lagi masih bingung sepertinya.


"Ga..gimana..gimana jalani aja.." jawab Ainun santai dengan mata yang sudah berat menahan kantuk.


"Ai..tapi nanti kalau mereka ga percaya gimana.." tanya Intan lagi masih terlihat membutuhkan jawaban.


"Tan..terserah kamu..aku ngantuk.." balas Ainun yang memeluk bantalnya.


"Ai..Ai..ih..dasar ***** ( nempel molor)" Intan pun keluar dari kamar Ainun, yang sebenarnya Ainun pura-pura tidur sebab dia ingin cepat tidur besok harus KOAS pagi.


Dan membiarkan Intan dengan segala rasa penasaran dalam pikiran yang sudah numpuk tidak hanya tugas kuliah saja tapi juga dua penggemar Ainun tambah lagi satu lelaki baru yang belum banyak Intan tahu, terlalu banyak tugas di otak Intan yang jadi admin Ainun.


Baru saja Ainun menarik selimutnya sedikit menutupi kakinya, benda pipinya terlihat panggilan masuk dari papanya lewat VC.


★★ "Assalamualaikum..sayang.." ucap papanya yang ingin tahu keberadaannya.


★★ "Waalaikum salam..papa..cayang " balas Ainun dengan manja.


★★ "Loh..ko..di asrama kata mama mau ke tempat kos.." tanya papanya meminta penjelasan.


★★ "Tadinya..iya..tapi buku Ai..tertinggal dan takut kemalaman..besok aja..pa.." Ainun menjelaskan untuk meyakinkan papanya.


★★ "Oh..ya sudah cepat istirahat jangan cape-cape..assalamualaikum sayang..dah" ucap papanya sebelum mematikan benda pipinya.


Dan baru saja Ainun menaruh benda pipinya, kembali terdengar suara chat masuk dan dengan sangat terpaksa Ainun melihatnya.


~ Belum tidur..awas ya..besok kesiangan..


Sebenarnya Ainun tidak ingin membalasnya, tapi ko..dia tahu itu yang ada dalam benaknya.


~ Disitu juga sama ko belum tidur...(Ainun).


~ Banyak nyamuk..(Andika).


~ Lagian nyamuk di temani (Ainun).


~ Bener juga..terus Ai..mau jadi teman dekat biar nyamuk menjauh (Andika).


~ Tega amat Ai..di samain sama nyamuk (Ainun).


~ Ya..maaf..terus gimana mau jadi teman dekat (Andika).


~ Ga..ah..takut..(Ainun).


~ Ko takut..(Andika).


Ainun sudah terlelap hingga tidak membalas chat dari Andika dan sepertinya Andika tahu Ainun pasti sudah masuk alam mimpinya, dan hanya senyum seorang diri dia dikamar rumah dinasnya seorang diri membayangkan wajah ayu Ainun yang tertunduk malu dengan tersenyum manis padanya.


"Selamat tidur sayang mimpi yang indah seindah senyum manis yang selalu kau berikan padaku.." ucap Andika seorang diri yang bersiap untuk istirahat malamnya setelah berdo'a memeluk batalnya sebagai teman tidurnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2